
Benn kembali memberi dessah errang panas di tubuh Eril yang sambil terus melengkung menggeliat di bawah cumbuannya. Begitu lama yang bahkan telah membuat wanita itu terbang mengawang beberapa kali.
Benn memanjakan Eril dengan caranya yang lain tapi bukan dengan tembakannya. Mengabaikan rintih sang istri agar Benn menggunakan cara sebagaimana lelaki yang sesungguhnya.
Benn merebah lelah di samping Eril saat baru saja selesai menerbangkan sang istri untuk kesekian kalinya. Dibalik rasa malu dan tak berdayanya, Benn merasa bahagia luar biasa. Meski begitu lama bermain-main, kepalanya terasa baik-baik saja kali ini. Bahkan tubuh pun merasa lebih lega dan tenang. Rasa nyaman yang biasa ada saat selesai bercinta. Hanya saja Benn memang tidak mendapat puncak sensasinya. Cukup merasa puas telah membuat Eril melayang bahagia. Merasa dirinya menjadi aneh kali ini.
Memandang redup mata sayu di sampingnya dengan tatap ingin tahu dan menunggu. Bagaimana reaksi kecewa sang istri setelah kegiatan panas mereka pagi ini. Meski Benn telah mengantar Eril terbang melayang beberapa kali. Garis kecewa di wajah sang istri tetap saja terlihat.
Benn sangat mengerti dan bahkan sudah menduga. Eril pasti akan kembali kecewa di akhir permainan mereka. Namun dirinya telah siap bersikap terbuka dan menanggung malu setelahnya. Hanya berharap agar reaksi yang Eril tunjuk tidak sampai menghina dan mencela dirinya.
"Benn,," Eril memandang dengan tatapan yang sayu. Benn telah kembali memeluk erat tubuh polosnya.
"Katakan, Eril. Apapun yang ingin kau katakan dan apa saja yang kau pikirkan." kata Benn. Merasa siap dengan apapun reaksi istrinya.
"Benn, kamu tidak menikmatinya? Kamu tidak mendapat apa-apa? Kenapa,?" tanya Eril dengan suara yang serak. Wanita itu sedang merasa lemas tanpa daya. Benn telah memporandakan jiwa raganya pagi ini. Tetapi...
"Kamu ingin tahu? Bersiaplah untuk mengerti. Pahamilah diriku apa adanya, Eril,?" ucap Benn. Melonggor pelukan dan melepasnya. Memegang tangan Eril dan membawa dekat ke tubuhnya di bawah sana. Tangan itu terkejut dan terasa tegang. Namun menurut saat Benn memasukkan tangan lembut itu ke dalam boxer miliknya yang masih melekat tidak pernah dilepas. Benn memegangkan miliknya pada sang istri.
Dadanya laju berdebar saat memandang wajah Eril yang tadi tegang, kini telah berkerut dahi nampak heran.
"Bagaimana? Paham,?" tanya Benn menunggu dengan resah. Bagaiamana reaksi Eril saat paham dan mengerti.
"Beeenn,,,, kamu,,, kamu,, itumu tidak bisa berdiri,?" tanya Eril dengan wajah tegang tak percaya. Dan terlihat shock saat Benn menganggukkan kepalanya.
"Iya, Ril. Aku mengalami disfungsi." Benn menerangkan lebih jelas.
"Maksudmu, inimu impoten, Benn,?" detail Eril.
Benn tidak menjawab. Namun agak pias dan meringis saat Eril bertanya itu sambil merapatkan pegangannya di bawah sana. Bahkan kini Eril telah menggerakkan tangannya.
"Sakit, Eril. Nyeri. Diamkan tanganmu. Aku hanya merasa sakit dan nyeri," rengek Benn. Tapi membiarkan tangan itu dan tidak menepis. Wajah putih yang memerah membuktikan bahwa justru hanya rasa sakit nyerilah yang sedang dirasanya.
"Benn, hanya sakit?" tanya Eril dengan iba sambil melonggarkan tangan.
Benn mengangguk dan kembali memeluk sangat erat. Mata lelaki itu kembali berair. Mungkin sedang merasa sedih bercampur malu.
"Sudah lama, Benn?" tanya Eril dengan lembut. Masih tidak menyangka dengan kelemahan Benn yang baru diakui padanya pagi ini.
"Sangat lama cobaan kamu, Benn. Sudah berobat atau terapi,?" tanya Eril hati-hati.
"Aku sampai tidak tahu. Apa lagi yang harus aku lakukan," jawab Benn.
"Tidak mencoba berobat dengan bermacam teknik di luar negeri?" tanya Eril lagi.
"Sudah, ke Jepang. Saat mula-mula aku sakit dulu." terang Benn.
"Apa Leehans dan Desta, tahu,,?" sambung Eril.
"Tidak. Hanya Daniel yang tahu. Dialah dokter spesialisku. Bahkan orang tuaku juga baru saja tahu belakangan ini. Saat aku akan menikah denganmu." Benn menjelaskan.
"Lalu, Benn. Kenapa kamu sering membawa lelaki? Kamu jadi terkena rumor itu," keluh Eril. Tangannya masih terparkir rapat di bawah sana. Dan Benn membiarkannnya.
"Aku merasa nyaman saat sedang dipijat oleh mereka, Eril. Tubuhku sering merasa berat dan sakit. Dan aku kecanduan pijatan mereka," terang Benn.
"Apakah sama dengan pijatanku, ?" tanya Eril bersemangat.
"Kenapa, kau ingin memijatku menggantikan para pemijat itu? Sayangnya pijatanmu hanya membuatku geli. Ingin mesum mesra saja denganmu," Benn tersenyum. Menciumi rambut Eril. Merasa bahagia. Mendapat lega luar biasa setelah Eril mengetahui segalanya. Tanpa ada ucapan dari sang istri yang menyinggung perasaan. Dan merasa tidak ada beban lagi di kepalanya.
"Benn, apa yang kamu rasa saat kamu menyudahi, sedang itumu tidak fungsi," Eril masih terus merasa iba.
"Aku akan sangat sakit kepala. Nyeri. Dan aku perlu pijatan," terang Benn.
Eril terdiam sesaat, mengingati perilaku Benn yang sering menyudahi sentuhannya dengan sangat tiba-tiba. Kini rasanya jadi iba dan paham.
"Benn, apa semenjak begini, kamu pernah mencobanya dengan wanita lain ,?" tanya Eril menyelidik tiba-tiba.
"Tidak, Eril. Aku benar-benar sudah tidak ingin mengulangi hal bodoh itu." Benn memberi satu jawaban. Tanpa berkata jika hanya pada Eril lah dirinya merasakan nafsu dan hasrat.
"Eh, Benn. Apa sekarang kepalamu tidak sakit? Kamu nampak biasa, tadi Benn,," Eril terheran. Pagi ini Benn telah menyentuhnya dengan cara yang jauh berbeda. Setidaknya telah bertanggung jawab dengan sedikit berkorban. Eril merasa lebih iba lagi pada Benn.
"Itulah, Eril. Kali ini kepalaku tidak sakit. Dan aku merasa puas. Meski aku tidak mampu, tapi aku bisa menyenangkanmu," ucap Benn menepikan rasa malu. Merasa gembira melihat wajah cantik itu nampak tersipu dan merona. Kepala kecil itu tengah merapat di dadanya. Dengan tangan halus yang masih juga menyandar di sana. Benn tersenyum bahagia.