
Bocah tampan yang kian damai saat memejam mata, telah diselimuti rapat-rapat sebatas leher oleh ibunya. Pemilik kamar begitu over cold menyalakan mesin pendingin udara di ruangan.
Eril nampak resah menunggu Benn keluar dari dalam kamar mandi. Ingin menanyakan baju miliknya yang pernah ditinggalkan hari itu.
Lelaki yang lama ditunggu hanya lewat begitu saja saat sudah keluar dari kamar mandi. Menyisakan aroma wangi sabun dari bekas kelebat tubuhnya. Dan nampak acuh pada ibu muda cantik yang berdiri menghadang di depan.
"Benn, kenapa kamu ini suka mendadak menjemputku? Aku kan tidak siap.. Aku tidak punya baju ganti, Evan pun juga tidak ada baju. Bahkan susu, minyak angin, semua tidak bawa. Dia masih bebi, rawan ditempeli kuman dan virus. Ah, kamu ini, Beenn,," protes damai Eril sambil mengikuti Benn di belakangnya.
Lelaki itu berhenti di depan cermin, menyisir rambut lebatnya yang baru saja dicuci. Dan hanya diam tanpa menanggapi ucapan Eril.
Perempuan itu mendengus kesal dengan sikap Benn yang acuh dan abai padanya.
"Benn, apa kamu tahu, baju yang kupakai sebelum menikah? Di mana,, aku ingin ganti baju. Baju yang kupakai ini seperti lengket dan ditempeli aroma mall. Nggak nyaman banget, Benn,," terang Eril dengan mengubah topik pembahasan.
"Carilah di almari," sahut Benn sambil meletak sisir dan berbalik memandang Eril tiba-tiba.
Eril terpaku kaget dan melebarkan dua matanya. Lelaki menawan itu memandang dengan mata meredup. Seperti sedang sengaja memamerkan ketampanan dirinya setelah merasa sempurna menyisir rambut.
"Aku ingin mandi,Benn,," pamit Eril buru-buru dan salah tingkah. Merasa sikap Benn yang seperti itu, pasti sedang ada maksud tersembunyi di kepalanya.
"Usia berapa tahun, anakmu?" tanya Benn tiba-tiba. Eril berbalik melihat Benn yang nampak bertanya serius.
"Tiga tahun. Kenapa, Benn,,?" tanya Eril menyelidik.
"Mandilah,," jawab Benn dengan mendekati Eril tiba-tiba.
Tangan Benn mengulur ke punggung Eril dan mendorongnya maju perlahan. Lelaki itu mulai menampakkan keusilannya kembali.
"Eh, Benn,,! Kamu jangan mendorongku seperti ini.! Bisa tersungkur aku nanti, Benn,!" Eril maju dan menepi menghindar. Berjalan melesat meninggalkan Benn yang sedang tersenyum di belakangnya.
Eril menuju ruang tukar baju dan masuk ke dalamnya dengan cepat. Hanya ada satu almari super besar di sana. Almari dengan sisi pintu di sebelah, hanya menyimpan baju lelaki. Dan baju-baju rapi dan wangi itu tentu saja milik Benn.
Eril mencoba membuka di sisi yang sebelah lagi. Deretan baju kerja milik Benn, juga sangat wangi. Tergantung rapi dan berjajar berurutan.
Hati ibu muda itu merasa lega dan gembira. Di antara deret baju kerja lelaki, ada baju-baju perempuan dengan model yang menyolok dan tergantung sangat rapi juga . Berukuran mini-mini dan pasti akan terlihat seksi jika dipakai. Itu adalah lingerie dalam kotak-kotak yang ditinggalkan di kamar pengantin di hotel. Lengkap dengan set dalammannya sekali yang digantung menyatu. Bagaimana Benn membawanya ke sini? Ibunya,,? Ah, entahlah..
Eril menyambar dress baju yang jauh lebih sopan dan baju itulah yang sedang dicarinya. Melepasi set dalaman dari gantungan dan segera meluncur ke kamar mandi. Merasa sangat tidak nyaman dengan aneka bau mall yang menyelubungi badannya.
Meja makan mungil di sudut kamar dekat balkon itu sering tidak berguna. Benn lebih suka menggunakan meja sofa untuk meletak segala makanan yang diantar oleh pegawai dapur di gedung utama.
"Eril, jika sudah, ke sinilah!" panggil Benn saat Eril nampak berkelebat keluar dan selesai dari mandinya.
"Iya, Benn. Sebentar,," sahut Eril terdengar patuh pada panggilan Benn. Ibu muda itu sedang merapikan rambutnya.
Eril berkerut dahi mendapati di meja ada beberapa makanan. Benn meletak ponsel dan meminta Eril untuk duduk.
"Makanan darimana malam-malam begini, Benn. Kamu beli online?" tanya Eril sambil duduk di seberang depan Benn. Lelaki itu lalu memegang piring yang sudah diisinya dengan makanan.
"Apa dia yang masak?" tanya Eril.
"Hanya malam saja, jika diminta. Saat siang, orang dari resto Irawan yang suplai," terang Benn. Lelaki itu sudah mulai menyendok dan mengunyahnya.
"Apa tiap hari, kamu makan malam-malam begini, Benn?" tanya Eril terheran.
"Tidak. Jika mendesak dan ada tamu saja,," jawab Benn santai.
"Tamu,,,?" gumam Eril lirih. Merasa dirinya pun juga tamu.
"Sudah. Makanlah,," sahut Benn cepat. Tidak ingin menanggapi ucapan Eril yang lirih itu.
Eril hanya diam. Tidak ada nafsu makan dari perut dan mulutnya. Sesekali menoleh ke arah ranjang. Balita lelakinya masih lelap tanpa pergerakan sedikit pun. Lalu kembali menatap pada Benn. Lelaki yang dipandang terlihat lahap makan.
"Benn,," panggil Eril ragu-ragu pada Benn. Benn memandangnya seksama. Mengacuhkan sendok makan di tangan.
"Ada apa, Ril,,?" tanya Benn penuh simak. Lelaki itu terlihat memperhatikan tiba-tiba. Sikap acuh dan abai, entah dia sangkutkan sementara di mana..
"Benn, sebenarnya aku tidak tenang. Evan itu perlengkapannya ribet. Sekarang aku tidak membawa sebijii pun. Padahal, perutnya itu sedang kosong juga, Benn. Tapi dia sudah terlanjur tidur begitu,," keluh Eril nampak galau. Meluahkan beban hatinya pada Benn. Dengan anggapan lelaki itulah penyebab beban mendadaknya.
"Anakmu sedang tidur. Lupakan sebentar. Makanlah dengan tenang. Perutmu juga harus diisi," sahut Benn tanpa merasa bersalah.
"Kamu tidak pernah merasa bagaimana menjadi seorang ibu, Benn. Mana bisa lupa, mana bisa tenang." sungut Eril semakin tak ada nafsu makan.
"Orang suruhanku sebentar lagi datang. Membawakan barang-barang baby untuk anakmu. Tunggu saja sambil makan." ucapan Benn mengejutkan. Lelaki itu kembali melanjutkan makannya.
"Apaa,,,?! Yang betul, Benn,,?!" seru Eril. Memandang Benn dengan mimik herannya.
"Heemm,," sahut Benn sambil mulutnya terus mengunyah.
"Orangmu itu bawa apa saja, Benn,,?" tanya Eril tanpa segan.
"Baju, " sahut Benn pendek.
"Baju saja,,?" kejar Eril tak tenang.
"Aku tak tahu. Yang kubilang, baju dan segala kebutuhan anak balitamu." terang Benn yang terlihat bingung juga.
"Makanlah,, nanti jika ada yang penting dan tidak dibeli. Kau sebut-sebut saja namanya. Biar dia pergi lagi," kata Benn menambahkan.
"Iyalah, Benn. Kuharap meski malam, dia mendapat semuanya. Terimakasih ya, Benn,," ucap Eril sambil tersenyum manis pada Benn. Menampakkan gigi berlebihnya yang sebelah. Benn terdiam tak mengangguk. Seperti ada yang sedang dipikirkan.
Respon Benn yang terus diam, tak lagi diambil berat. Eril tidak peduli dengan sikap Benn yang suka berubah sesukanya. Karena itu sudah biasa, Benn memang demikian.
Eril Mengambil piring dan mengisi dengan sedikit nasi serta sayur lauk yang juga tak kalah sedikit nya.