
Merasa tak berguna jika berdiri terlalu lama di depan pintu, Eril membawa diri lebih masuk hingga ke dalam jantung kamar. Berdiri menyapukan mata di sekelilingnya. Kamar super besar dengan segala fasilitas yang terlihat berkelas.
Membandingkan dengan kamar yang dimiliki di rumah kontrakan. Kamar sempit namun terasa sangat lapang. Sebab ada Evan di sana bersamanya. Ah,, Evan,,, rasanya sudah sangat rindu lagi...
Tidak ingin kembali menangis. Eril menyapukan pandangan cepat-cepat. Mengamati dinding yang bercat putih bersih. Gorden di balkon warna putih dan berlapis warna hitam. Pembaringan super lebar dan nampak nyaman dengan segala perlengkapan cover yang bermotif garis-garis dwi warna, putih dan hitam berselang seling nampak garang namun menyenangkan.
Kamar milik siapa ini, sepertinya milik laki-laki. Tidak ada satu pun penanda identitas pemilik kamar yang terpajang di sana. Bisa jadi milik Benn...
Apa warna hitam dan putih adalah warna kegemaran Benn? Warna saja atau motif garis-garisnya, atau kedua-duanya?
Hampir sama dengan motif bergaris-garis kesukaannya. Tak peduli warna apa pun , yang penting corak bergaris-garislah motif favorit Eril.
Ceklerk,,!
Niat untuk menyisir kamar mandi diurungkan, bunyi pintu terbuka cukup membuatnya berdebar dan was-was. Cemas jika pemilik kamar ini benar-benar Benn dan lelaki itu masih melanjutkan kemarahan seperti panggilannya pada Eril siang tadi.
Dan orang yang sedang membuka pintu terkunci itu memang adalah Benn. Mungkin benar jika kamar ini adalah miliknya.
"Benn,," sebut Eril saat lelaki itu berjalan mendekat.
"Benn, apa ini kamar kamu,,?" tanya Eril
Lelaki bervisual sempurna, serasi antara wajah tampan berkulit putih dengan badan tegap atletis menjulang, memandang tajam pada Eril.
"Benn, kenapa begitu cepat aku dijemput?" Eril kembali bertanya lembut pada Benn.
Lelaki yang masih berbaju kerja formal dengan stelan jas warna hitam itu tidak menjawab. Hanya terus memandang Eril dengan tangan kanan yang mulai bergerak melepas kancing-kancing di baju kerjanya. Melakukan begitu santai tanpa malu segan sedikit pun di depan Eril.
Seperti itulah Benn. Kebiasaan di depan wanita-wanitanya beberapa tahun lalu terbawa abadi hingga sekarang. Melepasi baju dengan tenang di depan wanita dan tidak peduli itu siapa. Dan tentu saja hal itu membuat si ibu muda jadi salah tingkah dan jadi merasa malu sendiri.
"Bertukar bajulah yang sopan, Benn. Pergilah ke kamar mandi,,!" seru Eril sambil berbalik badan meski sebenarnya agak lambat.
Benn telah mencampak jas dan kemeja ke tepi ranjang dengan kasar. Menyisakan singlet putih yang masih melekati tubuh kencangnya yang kekar. Dan Eril berbalik saat Benn melepas ikat pinggang dari celananya.
"Kenapa berpaling, jangan sok suci lah, Ril,,!" tegur Benn pada Eril yang hanya menunjukkan punggung cantiknya membelakangi Benn.
"Jujur saja, sudah berapa kali kau pergi kencan dengan polisimu itu? Pasti kau juga sudah melihat tubuhnya, kan? Apa uang yang diberi nya masih kurang? Dan sekarang kau mendapatkan uang lagi dariku?" pertanyaan Benn terdengar sangat dingin. Namun telah memanaskan telinga dan dada perempuan di depannya.
Eril merasa suara Benn begitu dekat. Mungkin lelaki itu telah berjalan lebih maju lagi mendekatinya. Merasa begitu emosi, tidak peduli lagi akan rasa malu segannya pada Benn.
"Jangan memfitnah sesukamu, Benn. Jika yang kau tuduhkan itu benar, untuk apa aku susah-susah mengikatkan hidupku denganmu. Meski ini pura-pura dan hanya enam bulan, kurasa punya suami bermulut lada sepertimu pasti akan sangat menyiksaku..!!" Eril telah berbalik, dan menyembur sengit pada Benn.
Benn terkejut, tidak menyangka jika Eril begitu lantang menyanggahnya. Wajah menggemaskan yang sedang menyala dan berapi itu begitu dekat di dagunya. Dan tidak menyangka jika wajah yang begitu dekat itu telah membuat dadanya lebih cepat lagi berpacu.
Merasa sedang tidak nyaman sendiri, Benn bergerak mundur menjauh dari Eril. Terdiam tidak menyahut. Namun dengan arrogant justru kembali melanjutkan membuka celana panjang dan melepas sisa kaos dalamnya di depan Eril. Melempar asal baju yang dipegangnya ke ranjang, menyusul baju-baju lain yang telah lebih dulu dilempar ke sana. Dan itu adalah rutinitas Benn selepas pulang kerja.
"Benn,,," gumam Eril termangu dan merasa was-was dengan lelaki yang hanya terdiam namun berkelakuan meresahkan seperti itu.
Benn terus membungkam. Hanya melirik Eril sekilas, kemudian berjalan santai menuju kamar mandi dengan hanya berboxer ria. Benn begitu percaya diri memamerkan tubuh luar biasanya itu pada Eril.
Perempuan yang tak sadar telah lupa bernafas dan hanya menahannya saja di dada, kini telah melepasnya keluar kuat-kuat. Baginya lelaki pemilik kamar itu telah berbuat begitu vulgar di depannya. Sedang mereka belum ada ikatan apa pun yang halal. Tidak mungkin jika Benn tidak memahami hal seperti itu. Dia sengaja melakukan di depan matanya.
Tidak tahu harus berbuat apa, Eril menuju sofa dan duduk diam menyandar di sana. Perjumpaan dengan Benn sekaligus kelakuannya barusan, justru membuat ibu muda itu terlupa sebentar dengan rasa sedihnya. Lupa sejenak dengan bayang anak yang seperti terus melekati sejak keluar dari rumah. Kini berganti dengan rasa resah memikirkan kelakuan apa lagi yang akan ditunjukkan Benn padanya.
🌶
Lelaki di bawah guyuran deras shower telah beberapa kali mengibas-ngibas rambutnya yang penuh dengan air. Menyebarkan perciknya ke seluruh dinding dan penjuru kamar mandi.
Merasa tidak mengerti dengan reaksi dirinya. Reaksi saat wajahnya begitu dekat dengan wajah gadis calon istri pilihan dari iklan. Dada yang berdegub lebih laju dari sebelumnya. Ini adalah fakta yang cukup mengejutkan. Mengingat selama ini Benn merasa mati rasa dengan mana-mana pun wanita.
Ada rasa sesal dengan kata-kata pedas yang baru di ucapkan. Yang pasti telah membuat gadis itu sudah sakit hati padanya sekarang. Dan bisa jadi Eril juga sedang membencinya.
Merasa kesal sendiri telah bersikap berlebihan. Sedang Eril memang belum ada ikatan apa pun bersamanya. Masih berhak untuk gadis itu bergembira di luaran sana. Hanya sebab gadis itu telah menerima uang muka pembayaran darinya.
Arrhgghh... Benn merasa dirinya mejadi insan yang begitu kikir di dunia. Tapi Benn hanya merasa tidak mampu mengendalikan diri tiba-tiba di depan gadis itu. Merasa tidak suka jika mengingat gadis yang akan dinikahi sedang akrab dengan polisi muda yang nampak tampan dan gagah.
Tapi.... Arrhgghh..!!! Benn juga merasa menjadi lelaki paling lemah di dunia. Benn sangat merutuki sakit disfungsi yang sedang dideritanya. Merasa dirinya adalah pria paling tidak berguna di seluruh jagad raya..!