Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
55. Terapi Terbaru


Sang dokter androlog memandang si pasien dengan pandangan yang aneh. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Hanya baru saja si pasien menegur agar jangan nama istri orang yang disebut.


"Bersiap Benn, akan kusebut lagi satu nama. Ini hanya nama mantan saja Benn, jangan mikir yang tidak-tidak, mikir yang iya-iya tuh perlu juga. Dan satu lagi, kau harus jujur." pesan Daniel sebelum memulainya kembali.


"Dengar dan fokus,Benn," ucap dokter Daniel. Bersiap menyebut seseorang lagi.


"Desta," sebut Daniel dengan cepat. Tak ada reaksi di grafik kurva. Namun belum sempat menunggu, Benn telah bergerak dan membuka matanya dengan cepat. Ada bayang kesal di wajah tampannya.


"Yang benar saja, Dan. Mana bisa nama dia kau masukkan ke dalam bayang peraga. Dia sudah jadi istri Leehans."


"Sadar, Daniel.. Apa kau sendiri yang tak bisa move on,?" Benn menyandar punggung di sofa dengan alat EKG khusus yang masih tertempel di dadanya.


Memperhatikan wajah Daniel, dokter duda yang tampan itu nampak sangat kusut.


"Dan, ke sinilah.. Kamu saja yang kutempel alatmu. Aku ingin tahu reaksimu lewat alat ini saat kusebut nama Desta." kata Benn sambil pura-pura akan melepasi alat di dadanya.


"Sorry, Benn. Aku tak tahan jika tak bergurau denganmu. Kita start lagi lah,!" Daniel nampak meraup wajahnya. Mengerjapkan mata berkali-kali. Ada lelah di matanya.


"Benn, enam bulan lagi. Jika kau dah cerai dengan istrimu. Kenalkan dia padaku. Barangkali aku tertarik dengan jandamu," ujar Daniel tiba-tiba. Benn tercengang dan menyambut dengan tawa terbahaknya. Hingga alat yang menempel lekat di kulit dada terlepas begitu saja.


"Ha..ha..ha..Obsesi sangat kau dengan tiap mantanku, Dan,! Dulu kau minat sangat dengan Desta. Dan sekarang, dengan Eril.. Istriku?! Ha,,ha,,ha,, Kau ingin kucarikan istri kah, Dan? Sudah terlalu lama kau ini menjomblo!" Benn tertawa lagi hingga matanya berair.


"Ha..ha..ha..Terserah anggapanmu, Benn. Anggap saja begitu. Tapi yang jelas mereka berdua kan tidak kau sentuh?!" Daniel pun tertawa. Heran sendiri dengan kekonyolan dirinya.


"Kau ini diam-diam dokter mesum ya, Dan. Awas kau jika tak sungguh-sungguh mengobatiku,!" seru Benn menahan tawanya.


"Sudah kuberi nama-nama androlog di Jakarta yang recomended, kau menolaknya. Salahmu sendiri. Tapi sakitmu ini payah, Benn. Segala upaya yang kuberi untukmu adalah yang terbaik dan mutakhir. Dengan metode terbaru dari Jepang. Tapi tak ada efek apapun di itumu. Kurasa kau ini sedang kena kutuk, Benn. Kau pergilah berhaji ke Mekah saja. Berdoa di sana. Minta ampun padaNya sungguh-sungguh. Uangmu banyak itu buat apa?!" rutuk sang dokter pada si pasien.


"Kita mulai lagi, Benn." sambung Danil sambil membetulkan pemasangan alat di dada Benn.


Kamar itu hening sejenak. Daniel memperhatikan Benn yang tengah memejam dengan wajah yang mulai nampak tenang.


"Semua nama yang telah kusebut tak kau respon dengan baik, Benn. Hanya tinggal satu nama yang belum aku sebutkan. Dan itu pasti berefek untukmu." kata Daniel serius.


"Bersiap, Benn. Kau pasti suka kusebut nama ini."


"Erill..!!" sebut Daniel dengan lantang.


Memperhatikan Benn seksama. Wajah putih itu sedikit memerah. Disertai bunyi dering nyaring dari EKG. Dengan gravik kurva yang berlenggok zig zag dan tinggi. Juga ada lampu indikator warna merah yang menyala penuh-penuh.


"Dah lah tuh, Benn. Jelas-jelas istrimu yang akan jadi obatmu. Tapi entah kapan. Nafsu sangat kau dengan Eril. Sampai alatku menyala merah penuh-penuh. Ha..ha..ha..," Daniel merentang tangan tinggi-tinggi dan tertawa.


"Mudah-mudahan obat ini nanti berfungsi, Benn. Semoga itumu bisa siaga," sambung Daniel setelah habis tawanya. Mengeluarkan sebuah botol kaca berisi lima buah kapsul dari dalam tasnya.


Daniel berdiri dan menuju wastafel. Mencuci bersih tangannya di sana. Lalu mengeringkan di hand dryer yang menempel di samping atas wastafel.


Dengan cekatan membuka kapsul dan menumpah seperempat isi kapsul ke dalam sendok. Melarutkannya dengan air mineral dan mengaduk dengan stick khusus hingga larut.


"Minum Benn. Ini ramuan mujarab termutakhir di Jepang. Tapi bukan kimia keras, ini safety Benn. Jika memang sembuh, ya sembuh. Jika enggak, angkat tangan aku, Benn. Pergilah umroh sana," terang Daniel.


"Berapa lama,?" tanya Benn. Memandangi isi sendok yang sudah dipeganginya.


"Lima belas menit lagi jika no effect, ku tambahkan dosis. Hingga dua kali tambah dosis. Langkah terakhir,,, dengan tambahan itu, Benn,, vacuum," Daniel mengacak rambutnya. Sangat iba dengan Benn.


"Dah, minumlah. Santai-santai sambil video call sama istrimu. Kutinggal mandi,," kata Daniel sambil menyodor minuman product Jepang.


Daniel menyambar handuk dan meluncur ke kamar mandi. Pria itu memang baru saja mendarat di tanah air dan langsung mengabari si pasien untuk segera datang menemui. Si pasien keberatan jika sang dokter yang datang ke tempatnya.


Sedang Benn nampak berkomat kamit penuh khidmat sambil memandangi sendoknya. Lelaki yang nampak segar bugar dan sehat wal afiat itu tengah memanjat doa untuk kesembuhan dirinya. Meski setengah putus asa, tetap sangat besar harapan Benn untuk sembuh dengan cepat.


🌶🌶


Hingga dosis sudah diberikan tiga kali, tetap tak ada reaksi. Benn nampak loyo. Sama lesu dengan miliknya yang lunglai.


"Benn. Ini adalah product rahasia yang hanya di apply langsung oleh para androlog di Jepang. Ini sebagai bahan racik rahasia yang akan diresepkan dalam bentuk farmasi lain. Dan kuberi untukmu yang Ori, Benn. Tapi tak sedikit pun bermanfaat untuk itumu."


"Bahkan pernah kami ujikan pada lansia Jepang berusia hampir seabad yang sudah tidak punya fantasi ranjang sama sekali. Berhasil Benn. Itunya berfungsi, padahal lansia itu tidak berhasrat. Bayangkan. Ada apa denganmu, Benn,,?!" sambung Daniel terheran.


"Apa mencoba ruqyah ke orang pintar? Aku yakin, kau ini sedang ada masalah pribadi yang serius, Benn," seloroh Daniel sambil mengacak rambut basahnya.


"Atau bagaimana jika istrimu saja yang ngasih terapi,? Mintalah rutin mengurut atau memegangi itumu. Tiap pagi terutama." ucap Daniel dengan mimik yang serius.


"Aku malu, Dan,,!" sahut Benn frustasi.


"Masalahnya hubunganku dengan dia itu rumit. Kami menikah bukan sebab menjalin kasih. Bukan cinta. Kami sama sekali tidak saling mengenal sebelumnya. Kau pikir jujur tentang penyakitku ini tidak malu?" sambung Benn. Nampak jelas bayang putus asa di matanya.


"Lalu, bagaimana? Vacuum,,?" tanya Daniel dengan pelan dan ragu. Benn memandang bingung, dan kemudian menggeleng.


"Aku pun sudah menyimpan vacuum sendiri. Aku pesan darimu dulu. Tak guna juga. Ingin kubuang saja." Benn berkata tanpa daya.


"Jangan dibuang. Sini aku jualkan ke pasienku. Lumayan, bisa kau buat beli tiket ke Jepang bolak-balik dengan istrimu," terang Daniel. Benn memejam mata tidak menanggapi. Tidak berminat saat ini.


"Dan, apa kau lelah? Ayolah kita keluar, kita ikut jamaah sekalian makan malam," ajak Benn tiba-tiba. Ingin bersantai dengan sahabatnya. Daniel memandang terheran.


"Kau benar-benar tobat sekarang,?" tanya Daniel hampir tertawa dan sambil berdiri.


"Hentikan ejekanmu padaku." sahut Benn dengan wajah suntuknya.


Benn juga ikut berdiri. Meraih kunci mobil dan ponselnya yang sengaja dimatikan. Mengikuti Daniel yang sudah berjalan menuju pintu untuk keluar dari kamar.