
Hari sudah pagi, hari ini Nirmala sudah bersiap untuk berangkat ke Sekolah, seperti biasanya Nirmala lebih suka berangkat naik ojek daripada di antar oleh pakde Slamet menaiki mobil mewah milih ayahnya, Wicaksana.
Dengan naik ojek, ke sekolah akan lebih cepat sampai karena bisa melewati jalan-jalan tikus di ibu kota. Jika naik mobil, maka harus bersabar dengan kemacetan lalu lintas yang tak bisa di hindarkan. Nirmala sudah sampai di kelas, tapi masih belum banyak yang datang. Nirmala hanya melihat Tirta dan Bharata yang sedang duduk di meja. Sangat tidak sopan dan tentu saja itu perilaku yang tidak patut untuk dilakukan, tapi Tirta selaku anak pemilik sekolah ini selalu merasa berkuasa atas apapun yang ada di sekolah.
"Wah putri cantik rupanya sudah datang," Tirta mulai pembicaraan.
Nirmala hanya diam.
"Dia diam seperti belum sarapan," Kata Bharata.
"Mau aku traktir?" Tirta mencoba mendekati Nirmala.
"Tidak usah, aku sudah sarapan."
"Tidak usah malu-malu," Bharata ikut campur.
"Bharata, kau jangan menggodanya, ayo kita keluar saja," Tirta mengajak Bharata keluar.
Pagi ini di ruang kelas benar-benar sepi. Sepertinya Nirmala datang terlalu pagi. Sebentar dia duduk, sebentar dia berdiri menunggu kedatangan siswa yang lainnya. Waktu masih menunjukan pukul 06.30 wib. Nirmala ingin ke perpustakaan tapi petugas juga belum ada satupun yang datang sehingga ruangan itu masih terkunci.
Nirmala memutuskan untuk jalan-jalan sekeliling sekolah, dia berjalan menunduk hanya melihat ke arah bawah seperti orang yang sedang mencari barang hilang. Hampir saja dia menabrak seseorang, tapi insiden itu dengan cepat terelakan.
"Kalo jalan pake mata," Jeff menunjuk ke arah bola mata Nirmala.
Setiap kali bertemu dengan Jeff, Nirmala selalu merasa dalam masalah. Apapun kejadiannya, Jeff pasti akan mengeluarkan kata-kata yang tidak menyenangkan, sangat berbeda dengan Tirta. Tirta sama sekali tidak pernah mengganggunya.
Nirmala pergi tanpa menanggapi kemarahan Jeff. Selang beberapa menit, Anah sampai di sekolah, dia melihat Jeff sedang berjalan menuju ruang kelas. Dengan cepat Anah menyapanya.
"Selamat pagi Jeff," Anah pasang muka termanis.
"Selamat pagi Anah,"
"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Anah.
"Wajahku memang seperti ini,"
"Oh, iya." Anah diam tidak berani berkata-kata lagi.
Jeff dan Anah sudah berada di ruang kelas. Dari kejauhan Nirmala terlihat berjalan bersama Tirta, Jeff melihatnya dengan sangat jelas.
"Kalau ada yang berani mengganggu mu, kamu bilang saja sama aku," Kata Tirta.
"Terimakasih Tirta, kamu sudah banyak membantu, aku takut tidak bisa membalas kebaikanmu."
"Tidak masalah, tidak usah dipikirkan. Aku senang bisa membantumu."
Nirmala terdiam dan tersenyum.
Dari dalam kelas, Jeff yang melihat adegan itu merasa tidak suka. Pada saat yang sama, Bharata masuk kedalam kelas dan duduk di belakang Jeff. Jeff menoleh ke belakang, ke arah Bharata.
"Ada hubungan apa Tirta dengan Nirmala?"tanya Jeff.
"Mereka pacaran," Anah menyela pembicaraan Bharata dan Jeff.
Anah benar-benar tidak sopan. Tidak seharusnya dia menyela pembicaraan orang lain, apalagi kata-kata yang di ucapkannya itu tidak benar.
"Anah, kau ini bicara apa?" Bharata sedikit kesal.
Jeff juga mulai kesal lalu berteriak "kalian berdua, diam!".
Bel berbunyi tanda masuk kelas. Semua siswa masuk kedalam ruang kelas masing-masing tak terkecuali Nirmala dan Tirta yang sedari tadi berada di luar. Tirta duduk tepat di belakang Nirmala, sedangkan Jeff duduk tepat di belakang Anah.
Jeff dan Tirta sebenarnya masih ada ikatan keluarga, mereka saudara sepupu. Ayahnya Tirta dan Ayahnya Jeff kakak beradik. Tapi hubungan keduanya Tirta dan Jeff tidak terlalu baik, apalagi sejak ayahnya Tirta diketahui punya wanita idaman lain dan menikahi wanita pelakor itu. Tirta jadi jarang di ajak oleh ayahnya ke acara-acara keluarga. Itulah sebabnya Tirta juga jarang bertemu dengan Jeff.
Tidak terasa jam sekolah berakhir, semua siswa berhamburan keluar ruangan. Anah pulang di jemput oleh supirnya, sedangkan Nirmala berjalan kaki menuju ke halte. Nirmala sendirian menunggu bus di halte, memang tidak ada murid satu pun dari sekolah Nirmala yang menggunakan transportasi umum itu. Mereka semua anak-anak orang kaya yang terbiasa Naik mobil.
Tiba-tiba Jeff datang dan menyerahkan buku PR.
"Kerjakan! kerjakan semua soal-soal itu," Perintah Jeff
"Aku akan membayarnya, tenang saja,"
"Aku tidak butuh uangmu,"
Nirmala mengembalikan buku PR Jeff, bersamaan dengan itu, bus yang di nantikan juga telah tiba. Nirmala naik bus dan melambaikan tangan kepada Jeff dengan mimik wajah yang meledek.
Nirmala mencari tempat duduk, dia duduk di samping jendela. Bus melaju kencang tapi tiba-tiba supir mengerem dan turun dari bus, dia menyuruh semua penumpang untuk turun. Rupanya bus yang di tumpangi Nirmala mengalami masalah, untung lah supir cepat mengetahuinya sehingga tidak menyebabkan kecelakaan.
Jeff yang pulang naik motor, melihat ada keramaian di depannya, orang berkumpul di samping bus. Dia ingat bus itu adalah bus yang di naiki oleh Nirmala. Jeff mencoba mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi, ia memarkirkan motornya di pinggir jalan di bawah pohon yang rindang. Tidak menunggu waktu lama, Jeff menemukan Nirmala ditengah kerumunan.
"Nirmala, apa yang terjadi?" tanya Jeff.
"Jeff, kamu kok bisa ada disini?"
"Jawab saja pertanyaan ku, apa yang terjadi disini?" Seperti biasa, Jeff yang tidak sabaran mulai kesal.
"Ban bus nya bocor, jadi kami semua disuruh turun dan harus menunggu bus berikutnya datang,"
"Berapa lama kira-kira bus berikutnya datang?"
"Mungkin sekitar 30 menit,"
"Kamu kenapa masih disini?" lanjut Nirmala.
"Kamu mengusirku?" tanya Jeff
"Tidak, aku hanya bertanya, kenapa kamu masih disini?"
Jeff tidak menjawab pertanyaan Nirmala. Dia menggandeng tangan Nirmala dan menyeberangi jalan raya menuju motornya yang dia parkir di pinggir jalan.
"Ayo naik, aku akan mengantarmu pulang. Tenang saja, aku tidak akan minta bayaran."
Nirmala terlalu lama berfikir, Jeff tidak mau membuang waktu, dia menarik paksa tas Nirmala. Saat Jeff mengambil tas Nirmala, Jeff melihat gantungan kuci love yang dia berikan semalam. Jantung Jeff tiba-tiba berdetak sangat kencang.
"Cepat naik, ayo," Jeff memaksa.
Nirmala akhirnya menyetujui keinginan Jeff naik motor bersama.
"Nanti malam, malam minggu kan?" Tanya Jeff
"Iya,"
"Kamu ada acara?"
"Tidak ada,"
"Kalo begitu, sekarang kita ke butik di depan restoran aksara,"
"Untuk apa?"
"Nanti kamu juga tahu."
***
30 menit kemudian
"Kita sudah sampai, ayo masuk,"
Nirmala masuk ke butik bersama Jeff, tapi mereka tidak bertemu dengan pemiliknya ataupun anaknya. Di butik hanya ada pelayan toko saja. Jeff memanggil salah satu pelayan di toko itu.
"Mba, aku mau membeli beberapa baju yang cocok untuk teman ku ini, apa boleh di coba dulu bajunya?"
"Boleh, mari silahkan," Pelayan toko mempersilahkan.
Nirmala mulai mencoba baju satu persatu, sedangkan Jeff menjadi penilainya apakah baju itu cocok untuk Nirmala atau tidak. Lagaknya sudah seperti dewan juri. Sambil mencoba baju satu persatu, Nirmala masih berfikir bagaimana mungkin Jeff punya uang untuk membeli baju-baju ini sedangkan dia masih sekolah.
Kemarin Jeff sudah mentraktirnya makan, membelikan keychan dan hari ini dia berniat membelikan baju untuk nanti malam. Tapi jika Nirmala menolak pemberiannya, itu hanya akan jadi masalah lagi. Nirmala lebih memilih untuk menuruti kemauan Jeff saja daripada dapat malasah. Entah nanti malam apalagi yang akan Jeff berikan untuk Nirmala.