Getaran Hati Nirmala

Getaran Hati Nirmala
Terjebak Macet


Ah, Nirmala … wajahnya yang selalu membuatku kesal tapi menjadi sesuatu yang paling ingin terus kulihat. Senyumnya, cara bicaranya, bahkan mimik cemberutnya. Semuanya indah di pandangan mataku. Anak pembantu itu benar-benar menyihir dan sangat menarik perhatianku. Jika aku terus bersamanya, aku takut tidak bisa mengendalikan diri.


Mendadak Jeff melepaskan pegangannya pada Nirmala. Dia merebut kertas perjanjian itu, merobeknya dan menghamburkan ke udara. Jeff pergi meninggalkan Nirmala tanpa sepatah kata pun. Di surat perjanjian itu tertulis Jeff akan meminta maaf kepada Anah jika Nirmala mau meninggalkan Kevin.


Menurut Jeff, Nirmala dan Kevin benar-benar berpacaran. Padahal kenyataannya tidak begitu. Jeff ingin mereka berpisah karena dia tidak ingin kakaknya terluka. Jeff tahu kalo kakaknya sangat menyukai Kevin. Walaupun Jeff tidak menyukai Kevin, tapi demi kakaknya dia akan menepis rasa tidak sukanya itu. Dan satu-satunya penghalang hanyalah Nirmala.


Nirmala mulai berjalan pulang, dia mencoba menghentikan taxi yang lewat tapi tak ada satupun yang mau berhenti. Dia terus berjalan sendiri menuju arah kerumah yang masih sangat jauh, tiba-tiba pandangannya tertuju ke suatu tempat. Dia melihat ada seorang anak kecil yang sedang menangis dan berteriak minta tolong, dia mencoba mendekati anak itu.


Alangkah terkejutnya Nirmala, seorang anak kecil menjadi korban tabrak lari tapi tak ada satu pun orang yang menolongnya. Tak ada satupun motor atau mobil yang melintas. Dalam kebingungan, Nirmala teringat akan Jeff. Nirmala yakin Jeff masih belum jauh. Nirmala menelepon Jeff dan Jeff langsung mengangkatnya.


Tidak lama kemudian Jeff sudah di lokasi Nirmala. Mereka membawa anak itu ke rumah sakit terdekat dan menyuruh anak satunya lagi untuk menghubungi orang tuanya. Anak kecil itu berlari, pulang menemui orang tua korban.


Syukurlah anak dari korban tabrak lari itu bisa di selamatkan. Kini dia sudah bersama dengan orang tuanya. Nirmala terus memandangi anak itu yang sedang di suapin buah jeruk oleh Ibunya. Nirmala menatap tajam dari jendela rumah sakit. Jeff tidak mengerti kenapa Nirmala sangat tertarik dengan pemandangan seperti itu.


"Ayo aku antar pulang, matahari sudah mulai tenggelam," Jeff menawarkan diri untuk mengantar Nirmala pulang.


"Iya,"


Mereka naik motor bersama lagi. Sesekali mereka saling lihat-lihatan di spion, terkadang Jeff juga sengaja ngerem mendadak.


Suasana semakin gelap, jalanan justru semakin padat. Macet pun tak bisa terhindarkan.


"Sama sekali tidak ada yang bergerak," Jeff mengatakan itu sambil menoleh ke belakang.


Nirmala hanya diam.


"Langitnya indah sekali ya, bertabur bintang," Kata Jeff


Nirmala hanya menjawab : "Iya."


"Kalau kita terjebak macet sampai pagi, apa ibumu gak akan marah?" tanya Jeff.


"Macet tidak akan selama itu," kata Nirmala.


"Aku berharap kemacetan ini tidak akan berakhir agar aku bisa terus bersamamu," Jeff mulai merayu Nirmala.


Nirmala hanya diam. Dia berfikir kalau Jeff memang menderita kelainan jiwa. Terkadang dia sangat kasar, tapi terkadang manis sekali.


"Tuhan ... aku ingin macetnya lebih lama lagi,!" Jeff berteriak lalu tertawa.


Nirmala merasa sangat malu dan memukul Jeff dari belakang.


"Dasar gila," Nirmala mulai hilang kesabaran.


"Pukul lagi aja, aku suka," Jeff mulai senyum-senyum.


"Dasar orang tidak waras," Nirmala benar-benar mulai kesal.


Kalau saja di jalan itu ada angkot atau bus, Nirmala akan memilih untuk turun dari motor orang gila itu. Untunglah macetnya sudah mulai teratasi, pelan-pelan kendaraan yang ada di depannya mulai melaju satu persatu. Akhirnya mereka pun terbebas dari kemacetan.


Jam menunjukan pukul 21.00 waktu Indonesia bagian barat. Nirmala sudah sampai dirumah, dia mengucapkan terimakasih tapi Jeff malah meminta lebih. Akhirnya Nirmala memberikan tendangan ke kaki Jeff. Dan masuk ke pintu gerbang rumahnya, Nirmala sudah memasuki rumahnya.


"Dasar tidak tau berterimakasih," Jeff bergumam sendiri.


Saat Jeff menyalakan motornya, tiba-tiba dia mendengar sebuah panggilan.


"Jeff ...!"


Jeff menoleh ke arah suara itu berasal. Gelap dan samar-samar, setelah dekat barulah terlihat dengan jelas. Ternyata yang memanggilnya itu Kevin.


"Ternyata kau," Jeff berkata sedikit kesal.


"Kenapa kau ada disini?" tanya Jeff lagi.


Kevin hanya tersenyum, sepertinya Jeff masih belum tahu kalau Kevin tinggal bersebelahan dengan rumah Nirmala.


"Hanya jalan-jalan malam saja," Kevin yang begitu ramah, terus menebar senyuman walau Jeff terlihat sangat jutek.


"Kamu sendiri, sedang apa disini?" Tanya Kevin.


"Aku baru saja mengantar pacarku pulang," Kata Jeff.


"Oh, siapa?" Tanya Kevin.


"Nirmala." Jawab Jeff


Jeff ingin melihat reaksi Kevin. Jeff berharap dengan begitu, Kevin akan cemburu dan bertengkar hebat dengan Nirmala, lalu mereka putus. Jeff ingin mereka segera putus.


Sayangnya, Kevin sama sekali tidak terlihat marah atau cemburu, dia tetap menebar senyuman termanisnya.


"Oh, begitu. Jadi lah kekasih yang baik dan setia untuk Nirmala, dia anak yang baik" Kevin mengatakan itu sambil terus menebar senyum.


Jeff menjadi semakin kesal karena idenya tidak berhasil membuat Kevin marah ataupun cemburu.


"Kau tidak cemburu?" Tanya Jeff


Tentu saja dia tidak cemburu, dia kan buaya. Di luar sana masih banyak wanita simpanan nya.


Pikiran Jeff mulai mengacau. Dia selalu berfikir yang tidak-tidak mengenai Kevin.


"Kenapa aku harus cemburu?" tanya Kevin.


"Bukankah kau pacarnya Nirmala, kau tidak cemburu kalau pacarmu berkhianat? aku memacari pacarmu " Jeff terlihat semakin kesal.


Kevin tertawa.


"Kamu ini lucu sekali Jeff, kalau kamu sudah tau Nirmala pacar aku, kenapa masih menggodanya dan memacarinya? kamu tidak khawatir di anggap sebagai perusak hubungan orang lain?"


Jeff mulai kehabisan kata-kata. Dia merasa kesal dan pergi meninggalkan Kevin.


"Hati-hati Jeff, salam untuk Chika!" Kevin berteriak.


Sebenarnya mereka itu pacaran atau tidak.


Jeff bertanya-tanya dalam hati, ia melajukan motornya dengan kecepatan yang tidak biasanya. Dia ingin segera sampai dirumah. Baru saja dia sampai di rumah, teleponnya berdering.


Anah menelepon.


"Hallo Anah, ada apa lagi?"


"Jeff, besok bagaimana kalau kita jalan-jalan?"


"Maaf Anah, tidak bisa,"


"Kenapa tidak bisa?"


"Kalau aku bilang tidak bisa ya tidak bisa."


"Sudah ya, aku capek mau tidur," Jeff menutup teleponnya.


Tidak apa-apa walaupun hanya sebentar, mendengar suaranya saja sudah membuat ku bahagia. Jeff benar-benar pangeran tampan idaman para wanita. Aku pasti bisa mendapatkannya.


Anah yang masih saja terobsesi oleh ketampanan Jeff dan terus membayangkan wajah pria yang penuh pesona itu. Dia sering membayangkan kalau saja mereka menikah pasti akan sangat indah.


Beberapa bulan lagi kelulusan, kalau saja Jeff melamarku pasti aku sangat bahagia.


Anah masih saja berkhayal membayangkan Jeff akan melamarnya. Sementara Jeff yang sekarang berada di kamarnya pun sedang berkhayal. Dia selalu teringat dan terbayang-bayang wajah Nirmala. Dia ingin cepat-cepat lulus sekolah, kuliah dan bekerja agar bisa secepatnya melamar Nirmala.


Dia tidak ingin kalau Nirmala menikah dengan orang lain, apalagi dengan Kevin yang dia anggap sebagai buaya darat. Khayalannya itu terlalu jauh mengingat dia masih duduk di bangku SMA.


Jeff mulai bersiap untuk tidur tapi semakin dia memikirkan Nirmala, membuatnya semakin tidak bisa memejamkan mata. Dia sedang di mabuk asmara, cinta monyet anak SMA. Sesekali dia juga senyum-senyum sendiri di kamarnya. Dia berharap bisa mengungkapkan perasaannya sesegera mungkin dan Nirmala mau menerimanya.


Dia tidak peduli kalau orang menganggapnya sebagai perusak hubungan Kevin dan Nirmala karena memang itu yang dia inginkan. Agar Nirmala dan Kevin putus.


Jeff tidak sepeka Ruby maupun Tirta. Dia sama sekali tidak tahu kalau apa yang pernah dikatakan Nirmala tentang hubungannya dengan Kevin hanyalah bohong belaka.