
Tempat wisata pertama yang akan di kunjungi adalah Kota Lama Semarang. Kota dengan pesona bangunan-bangunan masa lalu yang begitu indah. Suasana yang terasa tidak begitu padat penduduk dan bangunan-bangunan kuno seperti di belanda sehingga banyak orang menyebutnya Little Netherland mencerminkan masa lalu yang menakjubkan. Sampai saat ini kawasan kota lama masih terus menghadirkan pesona yang elok dan sangat sayang bila di lewatkan saat berada di Semarang.
Nirmala terlihat berjalan sendirian menyusuri jalanan tua yang bersih dan memanjakan mata. Terlihat bangunan-bangunan tua di sisi kanan dan kirinya. Dia memilih untuk sendirian setelah kejadian yang kemarin. Kata-kata sahabatnya, masih terdengar jelas di telinga nya, dia berusaha melupakannya dan memaafkan sahabatnya itu. Bagaimana bisa seorang sahabat yang selama ini dekat mengatakan hal yang tak pantas hanya karena mencintai seorang laki-laki.
Terkadang cinta memang bisa merubah hati seseorang. Seseorang yang awalnya baik menjadi jahat dan bisa juga merubah seseorang yang tadinya jahat menjadi sangat manis seperti gula aren. Begitu pikir Nirmala sambil terus berjalan menikmati keindahan panorama di Kota lama.
Tak ada seorang pun di depan atau di belakang Nirmala, jalanan begitu sepi. Sahabatnya yang sedang di mabuk asmara tentu lebih senang jika berada di samping idaman hatinya itu.
Dalam kesendiriannya, Nirmala teringat akan Kevin. Dia teringat juga oleh kata-kata yang dia ucapkan kemarin, bagaimana kalau Kevin sampai mendengarnya, sedangkan apa yang dia ucapkan itu hanya lah ucapan yang tidak benar adanya layaknya daun kering yang berguguran, jatuh beterbangan tertiup angin, tidak berdaya. Dia bahkan merasa tidak ada getaran cinta pada siapapun termasuk Kevin. Hati dan pikirannya masih ingin fokus belajar, tidak ingin memikirkan cinta atau pacar.
Entah darimana asalnya, berita itu sudah meluas hingga sampai ke telinga Salsa. Salsa yang memang sedari dulu sangat membenci Nirmala, bertambah lagi kebenciannya mendengar gosip yang beredar. Kevin berpacaran dengan Nirmala, itulah berita terhangat yang sedang populer rame di bicarakan oleh teman-teman sekolah Nirmala.
Kevin adalah alumni dari sekolah itu, dari dulu dia sangat di kagumi, walaupun sudah lama lulus tapi ketenaran nya masih belum ada yang bisa menandingi. Cerdas, tampan, berbakat dan terlahir dari keluarga kaya tentunya. Sifatnya yang ramah juga memberi nilai plus membuat orang susah untuk melupakannya.
Salsa sudah mengenal Kevin sejak dia pertama kali masuk ke sekolah itu. Saat itu, Kevin menjadi tamu undangan dalam acara penerimaan siswa baru. Sejak saat itulah Salsa bermimpi bisa menjadi tuan putri pangeran tampan, Kevin.
"Aku harus menemui Nirmala, akan ku beri dia pelajaran," Salsa terlihat sangat marah.
Salsa tidak tahan mendengar gosip yang sedang menjadi trending topik di sekolahnya itu, dia sangat terbakar api amarah. Salsa pergi mencari Nirmala. Ruby yang mengetahui kemarahan temannya itu serta merta mencari Jeff, Ruby yang peka dengan perasaan orang lain tahu kalo Jeff yang selalu terlihat cuek dan suka menghina Nirmala itu sebenarnya tidak membencinya melainkan justru sebaliknya.
"Jeff ... " Ruby terengah-engah menemui Jeff.
"Cepat ikut aku, nanti saja ceritanya, cepat ikut," Ruby mendesak Jeff agar ikut tapi Jeff tidak bergerak dari kursi nya.
"Ini tentang Nirmala," Ruby melanjutkan ucapannya.
Seketika Jeff langsung bangun. Ruby dan Jeff berlari, mereka mengejar Salsa yang sedang mencari Nirmala. Anah yang sedang asyik memilih cindera mata tidak melihat Ruby datang dan membawa pergi Jeff.
***
"Nirmala,!" Teriak Salsa.
Nirmala menoleh ke arah Salsa, di belakang Salsa nampak Jeff dan Ruby sedang berlari menuju ke arahnya pula. Pasti Salsa akan berbuat nekat lagi padanya. Bukan sekali dua kali, Salsa selalu saja tidak pernah berhenti mengganggu. Tapi Nirmala tidak pernah takut menghadapi Salsa, dia hanya tidak suka keributan sehingga memilih untuk diam.
Salsa sekarang berada tepat di hadapan Nirmala. Salsa benar-benar sangat marah dan dia sudah tidak tahan untuk melayangkan tangannya hendak menampar Nirmala. Nirmala secara spontan menutup wajahnya, memalingkan pandangannya agar tamparan Salsa tidak mengenainya. Namun tangan Salsa tercegat di udara, seseorang telah menghalangi niatnya. Dia menoleh ke belakang untuk melihat siapa sosok yang berani menggagalkan niatnya itu.
"Jeff ... ! Lepaskan tanganku!" bentak Salsa terlihat sangat emosional.
Jeff melepaskan tangan Salsa.
"Jangan mengotori tanganmu dengan orang rendahan seperti dia, anak pembantu itu bukan level mu," Jeff melirik ke arah Nirmala.
"Kau benar," kata Salsa.
"Awas kau!" Salsa menunjuk ke arah Nirmala.
Mereka kemudian pergi. Salsa masih saja menoleh ke arah Nirmala. Ruby berjalan di samping Jeff meninggalkan Nirmala sendirian. Ruby terus memandang wajah Jeff yang terlihat merah padam.
"Betapa menyakitkan cinta itu, menyeramkan. Iiih ...." Ruby berbicara dalam hati memandang Jeff yang menakutkan. Dia merinding seperti baru saja melihat hantu.
"Sebaiknya aku tidak usah jatuh cinta," Ruby melanjutkan perkataannya di dalam hati.
Kini di sudut jalan kota lama, Nirmala kembali berjalan sendirian. Meskipun tadi dia mendapat hinaan dari Jeff tapi kata-katanya itu sudah terbiasa dia dengar. Tidak terlalu menyakitkan bila di bandingkan dengan kalimat Anah yang kemarin.
"Mala, aku minta maaf atas kata-kata aku yang kemarin, kamu masih mau menjadi temanku kan?"
"Aku sudah melupakannya, kamu tidak perlu minta maaf," kata Nirmala
Anah mengucapkan terimakasih dan memeluk Nirmala. Anah juga punya kejutan yang bagus untuk sahabatnya itu. Sebuah gantungan kunci berbentuk boneka barbie. Anah tau sahabatnya itu menyukai boneka, jadi dia pikir untuk memberinya gantungan kunci berbentuk boneka yang cantik. Nirmala pasti suka, pikirnya.
Nirmala senang dengan pemberian sahabatnya itu dan berterimakasih, tapi kenapa harus gantungan kunci dan barbie. Itu mengingatkan pada Kevin sekaligus Jeff. Nirmala memandangi gantungan kunci dan seperti orang melamun.
Tiba-tiba telepon Nirmala bergetar, Nirmala sengaja mematikan nada dering nya dan hanya mengaktifkan getar. Anah berbuat tidak sopan, dia mengintip panggilan dari siapa, ternyata itu dari Kevin.
"Hallo Kevin," Nirmala memulai percakapan dengan Kevin.
"Cie ...." Anah mulai menggoda Nirmala.
Anah terus saja menggoda Nirmala sampai Nirmala selesai bertelepon dengan Kevin. Nirmala kemudian membalas godaan Anah dengan memukulnya menggunakan bantal. Mereka melewati malam dengan bahagia, Anah pun tak mau kalah. Dia membalas dengan memukul bantal pula ke arah Nirmala, mereka saling pukul dan tertawa.
"Sudah cukup Mala, aku menyerah," Kata Anah sambil terus tertawa.
Nirmala yang melihat temannya bahagia pun ikut bahagia. Akhirnya dia bisa melihat keceriaan dari sahabatnya lagi. Malam semakin larut, Anah sudah tertidur sangat lelap, sedangkan Nirmala masih terjaga, dia masih belum bisa tidur.
Akhirnya Nirmala keluar dari kamarnya, padahal dia sudah memakai piyama. Nirmala hanya ingin keluar menghirup dan menikmati indahnya malam. Tidak jauh-jauh dia keluar, masih di sekitar kamarnya saja.
Kamarnya yang terletak di lantai 3 memudahkan dia untuk melihat-lihat pemandangan lalu lintas di ibu kota jawa tengah. Terlihat lampu-lampu mobil dan motor berkelap-kelip seperti bintang di langit. Seseorang datang mengagetkan.
"Sedang memikirkan Kevin?" tanya seseorang yang kini terlihat oleh Nirmala, tidak lain adalah Jeff.
Nirmala terkadang bingung, Jeff bisa terlihat sangat manis tapi terkadang terlihat menakutkan.
"Tidak," Jawab Nirmala singkat.
"Kenapa masih belum tidur?" Tanya Jeff lagi.
"Setiap kali seseorang mengalami kecemasan, sistem saraf simpatik yang mengendalikan mode darurat akan aktif. Mereka jadi tidak bisa tidur karenanya, itu menurut ahli neuropsikologi Amy Serin, mungkin Nirmala sedang memikirkan sesuatu, benarkan Nirmala?" Tirta tiba-tiba menyela pembicaraan mereka.
Nirmala dan Jeff bersamaan menoleh ke belakang.
"Boleh kan, aku bergabung?" lanjut Tirta.
Jeff terlihat sangat kesal dengan kehadiran Tirta. Kenapa Tirta selalu datang di saat yang tidak tepat. Mereka bertiga berdiri sejajar, Tirta terlihat memegang cangkir kopi, dia begitu menikmati tegukan disetiap kopinya.
"Maaf, aku tidak membuatkan untuk kalian," sambil menyeruput kopinya dia melanjutkan kata-katanya.
Jeff dan Nirmala masih terdiam, sedangkan Tirta terus saja berbicara. Malam semakin larut, Nirmala mulai mengantuk. Dia mengucapkan selamat malam dan sampai jumpa besok kepada kedua temannya itu.
Nirmala masuk ke dalam kamar, sesuatu tidak terduga terjadi saat Nirmala sudah menutup pintu kamarnya. Tirta dengan sengaja menumpahkan kopinya ke baju Jeff.
"Maaf, sengaja." Sambil berlalu meninggalkan Jeff.
Jeff ingin sekali memukul Tirta tapi dia pikir ini sudah larut malam, tunggu saja waktu yang tepat.
"Akan ku hajar dia." Jeff mengumpat didalam hati sambil mengepalkan tangannya.