
Kevin dan Nirmala yang menghilang dari pandangan Jeff pergi ketempat yang berbeda. Mereka keluar dari kegelapan akurium besar itu dan naik mobil pergi suatu tempat. Saat sudah berada di dalam mobil, Nirmala mengirim pesan singkat kepada Jeff.
Tolong jaga Anah baik-baik ya Jeff, aku pergi bersama Kevin.
"Dasar Nirmala, pergi se enaknya saja. Menyebalkan." Gerutunya.
Anah yang melihat wajah Jeff memerah menjadi penasaran dan bertanya, "ada apa?".
"Nirmala sudah pergi." Jawab Jeff dengan sangat lesu. Dia kemudian mencari tempat untuk sekedar duduk dan bersandar.
Anah mencoba menghiburnya dengan duduk di sampingnya dan memberikan senyuman yang menawan.
"Tidak apa-apa Jeff, aku tidak akan meninggalkanmu." Kata Anah.
Jeff hanya menoleh tanpa berkata-kata. Dia merasa tidak bersemangat, tapi mau bagaimana lagi. Nirmala sudah pergi bersama Kevin.
***
"Kevin, kita mau kemana?" tanya Nirmala setelah memasukkan handphone nya ke dalam tas.
"Terserah kamu saja, kamu mau kemana?" tanya Kevin sambil menyetir mobilnya.
Nirmala berpikir sejenak, dia tidak punya tempat yang ingin di tuju. Tapi dia ingin makan mie kuah. Beberapa hari yang lalu, Tirta pernah mengajaknya makan di restoran mie, kala itu untuk pertama kalinya Nirmala masuk ke restoran itu dan mencicipi mie kuah. Ternyata Nirmala menyukai kelezatan rasa dari mie kuah tersebut.
"Bagaimana kalau kita makan mie?" Nirmala memberikan pendapatnya.
"Boleh juga, mau makan dimana?" tanya Kevin.
Nirmala kemudian menunjukkan lokasi restoran itu. Walaupun kenangan pahit bersama Tirta terbenam disana, tapi kelezatan rasa mie nya tidak bisa menahan dia untuk tidak mencicipinya lagi. Mereka pun pergi kesana.
Tidak lama kemudian, akhirnya mereka sampai di restoran mie tersebut. Kevin memesan mie goreng cah udang, sedangkan Nirmala memesan mie kuah dengan telur.
Sangat sederhana, tapi lebih menyenangkan makan bersama Kevin daripada Tirta. Batinnya.
Makanan yang mereka pesan akhirnya datang juga. Nirmala terlihat tidak sabar, setelah membaca do'a dia langsung bersemangat menghabiskan mie kuahnya. Begitupun dengan Kevin, tidak lebih dari sepuluh menit, Kevin sudah menghabiskan makanannya.
"Kevin, kalau kurang bisa tambah lagi." Kata Nirmala.
"Ya ampun, aku yang membayarnya kenapa jadi kamu yang mengaturnya?" Kata Kevin sambil tersenyum sumringah dan menggoda Nirmala.
Nirmala tersenyum dan tersipu malu. Tidak lama kemudian dia pun menghabiskan makanannya. Saat baru selesai makan, Nirmala mendengar suara azan duhur. Dia lalu meminta izin kepada Kevin untuk melaksanakan kewajibannya terlebih dahulu, sementara itu Kevin bisa duduk di tempatnya menunggu sampai Nirmala selesai melaksanakan sholat.
"Kevin, kamu gak masalah kan aku tinggal dulu." Kata Nirmala berpamitan kepada Kevin.
"Silakan, Mala. Aku tunggu di sini ya." Jawab Kevin.
"Okey." Jawab Nirmala.
Nirmala mulai mencari tempat sholat di restoran tersebut. Dia menanyakan lokasinya kepada pelayan.
"Maaf mba, mushola nya dimana ya?"
"Oh, di sebelah sana kak." Jawab pelayan itu sambil menunjuk ke arah lokasi yang Nirmala cari.
Nirmala berjalan menuju ke mushola, tapi pertama-tama dia masuk ke toilet wanita sebelum akhirnya mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat. Dia terbiasa membawa mukenah saat pergi jalan-jalan sehingga dia tidak perlu antri untuk menggunakan mukenah yang di sediakan di restoran tersebut.
Restoran memang menyediakan mukenah tapi jumlahnya tidak banyak, sedangkan pengunjung yang datang untuk sholat jumlahnya bahkan melebihi kapasitas mushola tersebut. Untunglah Nirmala bisa mendapatkan barisan sholat saat baru masuk, jadi tidak perlu mengantri dengan pengunjung lainnya.
Selesai sholat, dia segera keluar dari mushola. Tanpa sengaja, dia bertemu dengan Tirta.
"Mala." Panggil Tirta kemudian mendekati gadis itu.
"Bagaimana? Apa kamu mau menikah denganku? Ah, maaf aku tidak sabar mendengar jawabannya." Kata Tirta.
"Tirta, apa kamu sudah pikun? Aku kan sudah bilang tidak mau." Kata Nirmala dengan sedikit berbisik.
Dia tidak mau orang di sekitarnya mengira kalau mereka ada hubungan serius, sedangkan wajah mereka terlihat masih remaja. Masih belum pantas untuk menikah, menurut pandangan Nirmala.
"Kenapa kamu bisik-bisik?" tanya Tirta penasaran.
Nirmala tidak menjawab, dia kemudian melangkah pergi meninggalkan Tirta dan menemui Kevin. Tirta tidak mengejarnya karena dia sedang ada urusan bersama teman-teman komunitasnya. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.
"Siapa gadis itu?" tanya temannya.
"Dia gadis yang aku ceritakan itu." Jawab Tirta.
"Pantas saja kau tergila-gila."
Tirta hanya tersenyum lalu kembali berkumpul bersama teman-teman komunitasnya. Hari ini mereka berencana untuk mengadakan santunan di salah satu panti asuhan. Tirta sebagai ketua dari komunitas tersebut meminta agar semuanya bisa berkumpul di aula restoran sebelum ia pergi ke panti asuhan.
Tirta memberikan salam pembuka kegiatan tersebut dan memberikan sambutan.
"Keutamaan dan pahala seseorang yang membantu anak yatim begitu besar. Seperti hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa mereka yang menyantuni anak yatim akan memperoleh kedudukan tinggi di surga dan dekat dengan Allah SWT. Menanggung anak yatim berarti memperhatikan dan mengurusi semua kebutuhan hidupnya, mulai dari kebutuhan sandang, makanan dan minuman, hingga pendidikannya."
Tirta memberikan sambutan yang begitu panjang hingga hampir lima belas menit berlalu. Setelah selesai memberikan sambutan, mereka mulai tampak sibuk melakukan berbagai hal yang sudah di bebankan kepada masing-masing anggota. Sedangkan untuk pergi ke panti hanya di wakili oleh Tirta.
Akhirnya Tirta pergi ditemani Bharata. Jika setiap kali balapan Tirta tidak mengajak Bharata, lain halnya dengan komunitas peduli yang dia dirikan, dia mengajak Bharata masuk kedalam komunitasnya itu.
Mereka kemudian naik motor menuju ke panti asuhan yang telah di tunjuk. Tidak berapa lama mereka sudah tiba di lokasi dan segera masuk untuk menemui pengasuhnya. Tidak di sangka, saat Bharata melewati salah satu ruangan dia mendengar suara seorang gadis sedang mengajar. Dia merasa mengenali suara itu. Dan ia pun berhenti, dia menyuruh agar Tirta berjalan lebih dulu.
Bharata beberapa kali mengucek matanya untuk memastikan bahwa penglihatannya itu tidak salah. Seorang gadis yang sedang mengajar melihat Bharata di depan pintu, lalu ia menghampirinya.
"Kamu ngapain disini?" tanya nya.
"Ruby, kamu Ruby ya? Wah kamu kelihatan beda sekali." Puji Bharata.
Tirta yang berjalan sudah agak jauh dari Bharata menoleh kebelakang karena temannya tak kunjung menyusul. Saat menoleh, dia mendapati Bharata sedang mengobrol dengan Ruby, Tirta kemudian menghampiri mereka.
Ada Ruby ternyata. Batin Tirta.
Ruby melihat Tirta mulai mendekati mereka. Lalu dia menyapanya.
"Hai, Tirta. Kamu ngapain disini?" tanya Ruby.
"Tidak ada, bay the way Ruby. Kamu terlihat lebih cantik dengan hijab itu." Puji Tirta.
"Ehem ...." Bharata berdehem.
"Terimakasih." Ucap Ruby.
"Oh ya, kamu belum jawab pertanyaan aku. Kalian ngapain disini?" tanya Ruby penasaran.
Saat Bharata mau menjawabnya, tiba-tiba Tirta memintanya untuk diam.
"Kami hanya sedang melihat-lihat." Jawab Tirta sambil tersenyum ramah menyembunyikan maksud dan tujuan kedatangannya.
"Oh, begitu. Kalau begitu aku kembali ke kelas dulu, maaf ya permisi, assalamua'laikum." Kata Ruby sambil membalikkan badan.
"Ruby, kamu mengajar disini?" tanya Bharata.
Ruby menoleh dan menjawab, "iya."
Bharata nampak senyum-senyum seperti orang kasmaran. Tirta kemudian mengingatkan tujuannya kembali, dia harus segera menyerahkan uang santunan dari teman-teman komunitasnya.
"Bharata, ayo." Ajak Tirta.
Bharata masih saja belum beranjak dari depan ruangan Ruby, dia tidak bisa mengalihkan pandangannya. Ruby terlihat lebih cantik, dia juga cukup piawai dan mampu menguasai anak-anak di ruangan tersebut.
Setelah menyerahkan uang santunan, Tirta segera berpamitan. Dia melewati ruangan Ruby mengajar dan sempat melihat ke ruangan tersebut, tapi Ruby sudah tidak ada.
"Ruby sudah tidak ada." Kata Bharata sesaat setelah melihat ruangan itu kosong.
Anak-anak pun sudah tidak ada di kelasnya. Bharata kemudian berjalan bersama dengan Tirta mulai keluar melewati pintu pagar panti. Dan mulai menaiki motor yang di parkir di bawah pohon beringin di samping bangunan panti asuhan tersebut. Bukan hanya motor mereka yang terparkir di sana, masih banyak motor pengunjung panti lainnya.
Padahal di dalam panti juga terdapat tempat parkir khusus, tapi untuk orang-orang semacam Tirta, parkir di luar akan lebih nyaman dan memudahkan saat akan pulang. Baru beberapa meter mereka berjalan, Tirta mendadak menghentikan laju motornya. Dia melihat gadis berhijab yang tak lain adalah Ruby. Tirta pun menghampirinya.
"Assalamua'laikum bu guru." Sapa Tirta dengan nada yang lembut tapi entah apa maksudnya. Dia menyapa Ruby dengan sebutan bu guru.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Ruby.
"Sedang menunggu siapa di sini? Mau bareng nggak?" ajak Bharata.
"Tidak usah. Terimakasih." Jawab Ruby singkat.
"Kalau begitu, kami duluan ya?" Ucap Tirta.
"Assalamua'laikum." Tirta dan Bharata mengucapkan salam kembali lalu melajukan motornya.
Tirta mulai membayangkan kalau saja Nirmala juga memakai hijab, pasti akan terlihat lebih cantik. Tapi sayangnya Nirmala hanya memakai hijab saat bulan puasa saja. Itu pun karena pesantren kilat di sekolah.
"Ah, Nirmala. Kamu seharusnya tahu kalau menutup aurat itu kewajiban seorang muslimah." Batinnya.
Tirta yang lahir dari keluarga super rumit itu ternyata tidak seperti yang banyak temannya sangkakan. Dia terlihat berandalan dan tidak karuan, tapi ternyata di kedalaman hatinya dia berusaha menjaga ketaatan pada agamanya. Mungkin ini yang banyak di katakan orang, 'jangan menilai buku dari sampulnya'. Pepatah itu pantas untuk menggambarkan seorang Tirta.
Kehidupan yang di alaminya justru mendorong dia untuk lebih dekat dengan Tuhannya. Dia memang bukan tipe orang yang suka mengeluh akan keadaan. Dia lebih senang menyimpannya sendiri dan mengadukannya kepada Allah pada waktu sholat.
Tirta masih melajukan motornya bersama dengan Bharata dan pergi ke suatu tempat.
"Kita mau kemana?" Tanya Bharata yang merasa temannya sudah melewati restoran tempat favorit biasa mereka makan.
"Perpustakaan." Jawab Tirta dengan jelas.
"Kenapa tidak makan dulu, aku kan lapar." Kata Bharata.
"Kau ini, makan saja yang dipikirkan. Sebentar lagi kita ujian, kamu harus banyak belajar dan kurangi makan."
"Kalau tidak makan, aku tidak bisa konsentrasi belajar." Bharata tetap pada keinginannya.
Akhirnya untuk menuruti temannya itu, dia mulai pelan melajukan motornya sambil menengok ke kanan dan ke kiri berharap menemukan warung bakso. Setelah menemukannya, Tirta segera menghentikan motornya dan mencari tempat parkir.
"Kita makan disini saja." Kata Tirta.
Warung bakso pinggir jalan. Mereka kemudian makan disana.
"Kamu sudah habis dua mangkok. Masih saja kurang?" Kata Tirta melihat temannya sedang menghabiskan mangkok bakso yang ketiga.
Bharata tidak menanggapi temannya dan melanjutkan makan. Tirta nampak geleng-geleng kepala dan menghela napas.