
Jeff menghentikan langkah Nirmala. Dia berdiri tepat di samping Nirmala. Sebagai anak baru, dia belum mengenal Nirmala, semakin dia menghentikan justru Nirmala akan melawannya.
"Anak pembantu tidak perlu ikut campur. " Kata Jeff sambil meluruskan salah satu tangannya tepat di hadapan Nirmala.
Nirmala meraih tangan Jeff dan menggigitnya lalu lari menuju ruang BK. Dia lari sambil menahan sakit di kakinya. Sementara itu Jeff yang mendapatkan gigitan dari Nirmala juga merasa sedikit sakit.
"Au ...." Jeff merasa kesakitan.
"Untung saja tidak berdarah, awas kau anak pembantu, tidak akan aku lepaskan, lihat saja nanti." Gumamnya sambil menahan rasa sakit.
Dia terlihat sangat kesal atas apa yang dilakukan oleh Nirmala. Tapi dia merasa bingung dengan perasaan dan hatinya yang justru seperti sedang berbunga-bunga bahagia.
Apa-apaan ini, kenapa aku justru merasa senang mendapat gigitan dari serigala kucing betina itu. Awas saja kau Nirmala, aku pasti akan memberi perhitungan, liat saja nanti. Aku akan menggigitmu lebih dari yang kamu lakukan ini.
Jeff menahan sakitnya sambil terus memperhatikan Nirmala yang berlari keruang BK.Akhirnya, Nirmala sudah sampai di ruang BK. Anah melihat Nirmala datang menemuinya.
"Nirmala." Kata Anah kaget melihat Nirmala datang ke ruangan BK.
"Anak pembantu itu lagi." Kata salah satu murid yg duduk diruang BK bersama Anah.
Mendengar Salsa menghina Nirmala, Anah kembali mengacak rambut Salsa. Salsa terlambat untuk membalas karena pada saat dia mau mengacak rambut Anah, tiba-tiba guru BK datang.
Baru saja guru BK itu duduk, beliau di kejutkan oleh kehadiran Nirmala yang berdiri di depan pintu ruangan.
"Siapa kamu?" tanya guru pembimbing diruangan itu.
"Saya Nirmala Pak, saya yang bersalah bukan teman saya," kata Nirmala.
"Anak pembantu itu bodoh sekali." gumam murid yg duduk di sebelah Anah yaitu Salsa.
Guru pembimbing tidak menghiraukan pengakuan Nirmala karena saat kejadian yang membuat keributan adalah Anah dan Salsa.
"Kamu jangan mengganggu pekerjaan saya, cepat kembali ke kelas" perintah guru itu sambil menunjuk ruang kelas.
Nirmala balik badan dan berjalan menuju ke kelas.
"Eh, tunggu dulu, kembali," guru itu memanggil Nirmala kembali.
Nirmala berbalik arah menemui guru itu. Guru pembimbing melihat luka di kaki Nirmala, kaki nya berdarah akibat jatuh di tanah yang berbatuan kerikil.
"Kenapa dengan kaki kamu?" tanya guru pembimbing.
"Itu karena ...." Anah berusaha menjawabnya tapi mulutnya di tutup oleh Salsa.
Anah menjadi tidak bisa melanjutkan bicaranya.
Nirmala menoleh ke arah Salsa, tapi Salsa langsung mengancamnya dengan kode mata melotot dan tangan mengepal. Itu mengisyaratkan agar Nirmala tutup mulut dan tidak memberitahukan siapa yang sudah membuatnya terluka.
Nirmala diam tapi bukan karena takut, dia sama sekali tidak takut dengan ancaman temannya itu. Tapi Nirmala juga tidak mau menambah masalah semakin panjang dengan menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Anah kecewa karena Nirmala tidak mau menceritakan kejadiannya, akhirnya dia yang angkat bicara.
"Nirmala berdarah karena perbuatan Salsa, Pak" Anah menyela pembicaraan dan melepas tangan Salsa yang barusan menutup mulutnya
"Kau ini bicara apa, aku tidak melakukan apa-apa." Kata Salsa membela diri.
"Sudah-sudah, kalian ribut saja. Anah, Salsa! kalian pak guru hukum untuk membersihkan gudang, sekarang!" Pak guru mulai marah.
"Pak ,jangan donk Pak." Salsa memohon.
"Sekarang, cepat!" Pak guru semakin bersungut-sungut.
"Nirmala, luka mu harus segera di obati, kamu bisa ke UKS sekarang."
"Baik Pak."
Nirmala berjalan menuju ke UKS, ternyata Jeff mengikutinya secara sembunyi-sembunyi. Nirmala merasa ada yang mengikuti, tapi setiap kali menoleh ke belakang, dia tidak melihat siapapun. Sesampainya di UKS, petugas Kesehatan sekolah langsung mengobati lukanya. Nirmala semakin yakin ada yang mengikutinya. Setelah mendapat pengobatan, Nirmala segera bergegas ke kelas. Dia merasa merinding karena sedari tadi seperti ada orang yang mengikutinya.
Sesampainya di kelas, dia duduk sendiri karena Anah sedang di hukum.
Tidak lama kemudian guru kelas datang.
"Hari ini Ibu akan memberikan tugas kelompok kepada kalian, 1 kelompok berisi 3 orang." Kata Bu guru.
Murid-murid sibuk mencari kelompok masing-masing, banyak murid perempuan yang ingin menjadi kelompok Jeff, tapi Jeff menolaknya. Mereka tidak bisa memaksa dan memilih kelompok lain. Nama-nama kelompok di kumpulkan dan Ibu guru mulai membacakan nama-nama dari masing-masing kelompok tadi.
"Nirmala, kenapa kelompok mu hanya dua orang saja?" tanya bu guru.
"Sudah tidak ada lagi bu guru," jawab Nirmala.
"Oh begitu, lalu Jeff, kenapa kamu tidak masuk ke dalam kelompok?" Tanya Ibu guru kepada Jeff.
"Ibu guru, saya lebih suka mengerjakannya sendiri," jawab Jeff dengan santai.
"Ini tugas kelompok, kamu harus bekerjasama dalam kelompok." Bu guru mengingatkan kepada Jeff.
"Begini saja, karena kelompok Nirmala hanya terdiri 2 orang, maka kamu masuk kelompoknya saja."
Bu guru kembali duduk ke kursi dan mengecek kembali nama-nama kelompok.
Jeff masih tidak mau menerimanya, sedangkan Nirmala hanya diam saja. Bu guru mulai membagikan tugasnya kepada masing-masing kelompok.
"Hari ini cukup belajarnya, sampai jumpa besok pagi, jangan lupa kerjakan tugasnya secara berkelompok, kalian harus kompak, mengerti?" Bu guru menutup proses belajar untuk hari ini.
Anak-anak berhamburan keluar kelas satu persatu, tinggallah Nirmala dan Jeff.
"Sepulang sekolah kita kerjakan tugasnya di restoran Aksara sekalian makan siang," kata Jeff.
"Kenapa diam? tidak usah khawatir begitu, aku yang akan membayarnya." lanjut Jeff
Tiba-tiba Salsa dan Anah datang ke kelas, mereka terlihat sangat lelah setelah mendapat hukuman dari guru BK.
"Kau mau aja anak pembantu ini masuk ke restoran ayahku ,Jeff? yang benar saja. Restoran ayahku hanya untuk orang-orang yang punya uang, bukan orang miskin!" Salsa mendorong Nirmala.
Nirmala diam tidak membalas, Anah rasanya ingin membalas mendorong Salsa. Tapi Salsa sudah pergi lebih cepat.
"Memangnya ada tugas apa Mala?" Anah yang masih tidak mengerti, bertanya kepada Nirmala.
"Tugas kelompok dan kita satu kelompok dengan Jeff." jawab Nirmala.
"Benarkah?" Anah terlihat berbunga-bunga.
"Kalo begitu ayo kita cepat pulang, Mala". Anah menarik tangan Mala agar bisa secepatnya pulang.
Anah mengajak Mala untuk naik mobil bersamanya agar bisa cepat kembali kerumah dan berpakaian paling indah agar terlihat menarik di mata Jeff. Biasanya Nirmala suka naik ojek setiap berangkat dan pulang sekolah, hanya kadang-kadang saja di jemput pakde slamet.
Anah teman terdekat di sekolah Nirmala sama sekali tidak tahu kalo Nirmala adalah satu-satunya pewaris tunggal harta kekayaan Wicaksana pengusaha yang kaya raya. Nirmala adalah anak kandungnya, bukan anak pembantunya. Tapi Nirmala tidak mau membahasnya, biar lah semua temannya mengira kalau dia anak pembantunya.
"Terimakasih Anah sudah mengantar aku pulang, sampai jumpa di restoran." kata Nirmala.
"Nirmala, tunggu" Anah memanggil Nirmala dan menghentikan jalannya.
"Ada apa?" tanya Nirmala
"Tidak perlu bertemu di restoran, aku akan menjemputmu disini, kau tunggu aku disini nanti ya." Anah terlihat sangat bahagia.
"Baiklah." Jawab Nirmala singkat.
Sesampainya dirumah, Nirmala langsung mencuci kaki dan tangannya, tak lupa juga dia cuci tangan. Bi Sona sudah menyiapkan makan siang yang lezat.
"Hari ini Mala makan siang di luar ya Bi, ada tugas kelompok dan harus dikerjakan bersama kelompok, Mala akan mengerjakan tugas itu di restoran sekalian makan siang di sana." Nirmala menjelaskan kepada Bi Sona.
Restoran Aksara adalah restoran yang sangat mewah, di sana ada ruangan-ruangan khusus untuk pertemuan. Banyak siswa-siswi dari kalangan atas yang memang sering kesana untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah karena di lengkapi dengan fasilitas seperti di ruang kelas tapi dengan meja kursi yang terbatas. Tidak sebanyak seperti di ruang kelas sekolahan.
Nirmala sudah siap untuk ke resto, tentu saja memakai baju yang sederhana tapi terlihat sangat mewah dan mahal. Orang tuanya selalu membelikan barang-barang mewah untuk Nirmala.
Sesuai perjanjian, Nirmala menunggu kedatangan Anah di depan pintu gerbang rumahnya. Anah masih belum kelihatan. Jelas saja, itu karena Anah sedang bingung mau memakai baju yang mana, mau menggunakan aksesoris seperti apa agar terlihat menarik.
Handphone Anah berdering. Ada panggilan masuk dari Nirmala.
"Tunggu sebentar Mala." dengan cepat dia menjawab telepon Nirmala, lalu mematikan teleponnya.
Sudah 2 jam lamanya Nirmala menunggu sahabatnya itu.
"Kalau tahu selama ini, tadi aku makan saja masakan bi Sona." kata Nirmala dalam hati.
Beberapa menit kemudian.
"Akhirnya datang juga." Nirmala melihat mobil Anah melaju dari arah kejauhan menuju ke lokasinya.
"Maaf Mala, ayo masuk." Anah membuka kaca mobil dan menyuruh Anah masuk.
"Pak, jalan cepat ya, biar cepat sampai" Anah menyuruh supirnya untuk berjalan lebih cepat.
"Bagaimana penampilan aku Mala?" Tanya Anah kepada Mala.
"Kamu cantik." jawab Nirmala.
"Wow Nirmala, baju yang kamu pake, ini kan baju limited edition, ini baju yang waktu itu aku ingin membelinya tapi kata papahku itu sangat mahal, kamu dapat darimana? apa kamu memakai baju anak majikan kamu?" Panjang lebar Anah menanyakan perihal baju.
"Kamu ini bicara apa? ini baju biasa saja, mungkin hanya mirip." Nirmala mencoba meyakinkan Anah.
Anah yang memang tidak terlalu pintar itu berfikir mungkin benar, hanya mirip saja.
"Ya ampun macet." Anah mulai panik.
Sementara di resto, Jeff sudah lama menunggu. Jeff ingin sekali menelpon Nirmala tapi dia tidak mau menjatuhkan harga dirinya, dia tidak ingin jika Nirmala sampai berfikir bahwa dia ingin segera bertemu.
"aaah, biar sajalah." Jeff sedikit kesal menunggu kehadiran Nirmala.
Dia sudah menyewa ruang khusus untuk belajar, tapi karena tidak sabar menunggu. Jeff kemudian keluar untuk melihat-lihat sekitar. Karena jalan tidak hati-hati, Jeff menabrak seseorang, Kevin.
Kevin kini sudah menjabat sebagai presdir di perusahaan milik papinya. Kebetulan, dia sedang mengadakan rapat di restoran Aksara.
"Sorry, sorry." Kevin meminta maaf karena dia tidak sengaja menabrak Jeff.
Mereka saling bertatapan, Kevin seperti tidak asing dengan wajah Jeff, wajahnya mirip seseorang yang pernah dia lihat sebelumnya. Kevin mencoba mengingat-ingat.
"Jeff, kamu Jeff kan adiknya Chika? wah kamu sudah besar ya sekarang? apa kau masih ingat aku, tentu saja tidak ingat ya?" Kevin mencoba membuka percakapan.
"Iya aku Jeff, tapi kamu siapa?" tanya Jeff penasaran.
Tiba-tiba ponsel Kevin berdering, rekan kerjanya sudah menunggu. Dia pun mengatakan kepada Jeff, agar bicara lain waktu karena dia sedang buru-buru. Saat Kevin pergi, tiba-tiba Nirmala dan Anah datang.
"Kalian lama sekali," gerutu Jeff. Jeff langsung mengajak Anah dan Nirmala untuk menuju ke ruangan yang sudah dia persiapkan.
"Kita makan saja dulu, menunggu kalian membuatku lapar." masih menggerutu.
Jeff memilih menu makanan favorit nya, begitu pun dengan Anah. Berbeda dengan Nirmala, dia tidak memilih menu makanan favoritnya, tapi dia memesan menu yang paling mahal di restoran itu.
"Anak pembantu ini, menyebalkan sekali, dia memesan menu yang paling mahal." Jeff masih menggerutu.
Dalam hati, Nirmala sangat senang karena dia bisa memesan makanan yang paling mahal itu, sengaja untuk memberi pelajaran pada anak murid baru yang sombong itu.
"Ya ampun, Mala. Kamu memesan makanan yang paling mahal?" Anah kaget bukan kepalang.
"Tenang saja Anah, Jeff kan anak orang kaya, dia pasti membawa kartu debit milik ayahnya" jawab Nirmala.
"Ini bukan kartu debit ayahku, ini milik ku sendiri." jawab Jeff kesal.
Tidak lama kemudian, menu yang dipesan datang. Mereka makan bersama, Jeff sesekali melirik ke arah Nirmala.
"Anak pembantu itu, bagaimana bisa dia tercipta sangat cantik." Jeff mengakui kecantikan Nirmala dari dalam hatinya.
Sementara itu, Nirmala dengan penuh syukur menikmati makanan yang paling lezat. Anah yang terlihat berbunga-bunga bukannya makan malah terus memandangi wajah Jeff.
"Anah, memandang wajahnya tidak akan membuatmu kenyang." kata Nirmala
"Siapapun yang melihat wajahku pasti akan terpesona." Jeff mulai sangat kepedean.
"Kalian berdua kenapa senang sekali ribut, kita kan satu kelompok, seharusnya kita saling mendukung satu sama lain." Anah berkata-kata seperti gadis yang polos.
Selesai makan, mereka melanjutkan dengan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru di sekolah. Nirmala yang memang murid paling pintar di sekolah itu terlihat sangat serius. Sedangkan Anah masih saja terus memandangi wajah Jeff, dia bahkan berusaha untuk lebih dekat duduk di samping Jeff.
"Akhirnya selesai juga." kata Nirmala.
"Hah cepat sekali kita mengerjakannya," sahut Anah.
Anah masih ingin berlama-lama mengerjakan tugasnya. Sebenarnya Jeff juga masih ingin berlama-lama agar bisa dekat dengan Nirmala.
"Kita koreksi dulu sekali lagi." kata Jeff.
"Iya benar, jangan buru-buru. Kita koreksi dulu." Anah mendukung ucapan Jeff.
"Iya baiklah"." jawab Nirmala pasrah.
Nirmala fokus mengkoreksi jawaban tugas kelompok itu, tapi Jeff justru terus memandangi wajah Nirmala. Jantungnya terasa berdetak begitu kencang dan hatinya sangat berbunga-bunga.