Getaran Hati Nirmala

Getaran Hati Nirmala
Kabur dari Rumah Sakit


Selesai melakukan perawatan wajah di salon, Anah bergegas menuju ke rumah sakit untuk menemui Jeff. Hatinya terasa dag dig dug tidak karuan, rasanya sudah tidak sabar untuk bisa segera berjumpa dengan sang pujaan hati.


Jeff, aku akan datang. Aku akan menemanimu di rumah sakit. Aku akan selalu ada untukmu dan tak akan pernah berpaling walau sejauh apapun kamu menghindar.


Anah duduk di mobilnya dan meminta supir pribadinya agar jalan lebih cepat.


"Pak, bisa lebih cepat tidak?"


"Bisa Non."


Tidak lama kemudian, Anah sampai di rumah sakit. Dia menanyakan kepada perawat dimana pasien yang bernama Jeff di rawat. Setelah mendapat petunjuk dari perawat, Anah langsung menuju ke ruang perawatan dimana Jeff berada di sana.


Tok ... Tok ... Tok ...


Anah mengetuk pintu.


"Masuk." Jawab Chika yang sedang duduk menemani Jeff.


"Apa aku mengganggu?" tanya Anah.


Jeff melihat Anah datang dan wajahnya terlihat tidak suka. Padahal Anah sudah berdandan secantik mungkin untuk bisa membuat Jeff senang.


"Tidak, sama sekali tidak." Jawab Chika.


Sangat mengganggu. Batin Jeff.


"Ayo kemari." Chika memanggil Anah agar bisa lebih dekat.


Anah mendekat dan meletakan buah-buahan di atas meja.


"Kamu Anah kan?" Tanya Chika sambil memegang bahu gadis itu.


"Iya kak."


"Kamu cantik sekali, iya kan Jeff?" Chika menoleh ke arah Jeff.


Jeff menghela nafas tidak menjawab pertanyaan kakaknya.


"Jeff, kakak mau pulang dulu ya? Nanti Mami sama Daddy yang jagain kamu pas malamnya."


"Lagi pula sekarang kamu ada yang jagain juga kan?"


"Iya terserah kakak aja, hati-hati di jalan." Kata Jeff.


Chika kemudian meraih tasnya dan bergegas pulang kerumah. Dia berpamitan dengan Anah.


"Anah, tolong jaga Jeff ya? Kakak pulang dulu."


"Iya kak."


Sekarang hanya ada Jeff dan Anah di ruangan itu.


"Bukannya kamu lagi sakit?" tanya Jeff.


"Oh, aku sudah sembuh." Jawab Anah.


"Syukurlah." Ucap Jeff.


Anah duduk di samping Jeff dan menawarkan bantuan, apakah Jeff mau makan buah atau tidak. Tapi Jeff tidak mau menerima bantuan apapun darinya. Jeff merasa sangat terganggu, apalagi hanya berdua saja di ruangan itu.


Kalau sama Nirmala sih aku mau saja, tapi kalau sama nenek sihir ini ... Kadang aku bingung sama Nirmala. Kenapa dia tidak berteman dekat saja dengan Ruby, kenapa dia justru memilih nenek sihir sebagai teman dekatnya. Batin Jeff.


"Jeff, kamu mikirin apa?" tanya Anah.


"Tidak ada."


Mereka diam dalam keheningan. Jeff berharap Anah akan cepat-cepat pulang.


Kenapa Jeff selalu bersikap dingin sama aku. Padahal kalau sama Nirmala dia cerewet dan hangat sekali. Batin Anah.


***


Di rumah Nirmala.


Sore itu Nirmala sudah selesai mandi, sebelum maghrib tiba, dia ingin menikmati jalan-jalan sore sekedar menghilangkan penat. Dia berjalan pelan keluar dari perumahan mewah itu. Rumahnya tidak begitu jauh dari pintu keluar masuk perumahan. Dia berjalan seorang diri. Dia terus berjalan perlahan hingga sampai di depan pintu keluar masuk perumahannya, terlihat ada sebuah Taman kecil dengan pepohonan yang rimbun. Banyak muda-mudi yang duduk sambil makan cemilan di sana, ada pula yang hanya duduk-duduk santai sambil memainkan gitar.


Sepertinya aku kenal dengan orang yang sedang memainkan gitar gitu.


Nirmala mencoba mendekati orang itu. Ternyata itu Tirta dan Bharata.


"Tirta." Sapa Nirmala.


"Nirmala, kamu ada disini? Sejak kapan?"


"Barusan, kamu suka main gitar ya?" tanya Nirmala.


Tiba-tiba Bharata yang duduk di samping Tirta merebut gitar dari tangannya. Bharata ingin menunjukan kalau dia juga bisa memainkan gitar seperti Tirta. Tirta memang terkenal sebagai sosok yang romantis, dia jago bermain gitar, dia bisa menyanyikan lagu-lagu yang manis dan romantis dengan suara yang merdu di iringi petikan gitar.


Bharata tidak ingin kalah darinya, dia memegang gitar dan mulai memetiknya. Nirmala tentu berharap dia bisa memainkannya sambil menyanyi lagu-lagu romantis seperti Tirta. Romantis seperti di sinetron-sinetron yang biasa dia tonton. Tapi boro-boro lagu romantis, petikannya saja sudah membuat siapapun yang mendengar akan merasakan sakit kepala yang luar biasa. Bukannya jadi baper ala anak-anak muda jaman now, orang yang mendengarnya sudah bisa di pastikan malah jadi pengen lempar sepatu ke arahnya.


Tirta tertawa.


"Sudah hentikan Bharata." Kata Tirta.


"Liat wajah Nirmala."


Tirta tertawa lagi. Melihat wajah Nirmala yang tersenyum seperti menahan sakitnya telinga.


"Maaf Bharata, tidak bermaksud begitu." Ucap Nirmala.


Tirta masih terus tertawa.


Bharata merasa kesal lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Nirmala ingin mengejarnya tapi Tirta menahannya.


"Biarkan saja, dia tidak akan marah." Kata Tirta menenangkan Nirmala yang merasa bersalah.


Nirmala duduk kembali di samping Tirta. Wajahnya menunduk. Tirta seperti sudah tahu apa yang sedang di pikirkan Nirmala.


Jangan pernah sia-siakan kesempatan yang ada di depan mata. Akan sangat membosankan kalau sampai kau menyesalinya nanti. Dia menasehati dirinya sendiri dalam hati.


"Perasaan bahagia yang muncul karena cinta memang tidak mudah untuk dijelaskan, tapi bukan berarti tak bisa dirasakan. Seperti perasaan cinta yang tidak terlihat tapi bisa di rasakan. Ada yang bilang rasa bahagia itu seperti kupu-kupu yang beterbangan dalam pandangan mata mu. Ada juga yang mengungkapkan perasaannya itu seperti melihat makanan favorit nya, ingin langsung menyantapnya." Kata Tirta mulai mengeluarkan kata-kata ajaibnya.


"Aku bukan sedang bahagia apalagi jatuh cinta, lagipula kalimat kamu itu susah di mengerti." Kata Nirmala.


"Itu kata-kata untuk diriku sendiri karena aku sedang bahagia dan jatuh cinta." Kata Tirta.


"Oh begitu." Ucap Nirmala.


"Ya seperti itulah perasaanku saat ini, sangat bahagia ada kamu di samping ku." Kata Tirta.


Nirmala hanya menanggapinya dengan santai, dia tidak pernah memasukan kata-kata gombalan dari Tirta ke dalam hatinya.


"Aku tahu kamu orang yang tidak pernah serius, bahkan terhadap masalah mu sendiri. Kau pandai bersandiwara dan menyembunyikan sesuatu." Kata Nirmala.


"Syukurlah kalau kamu tahu itu."


"Apa kau tahu kalau Jeff sekarang di rumah sakit?" tanya Nirmala lagi.


"Aku tahu." Jawab Tirta singkat.


"Kamu tahu tapi kenapa tenang-tenang saja, bukan kah kalian bersaudara?"


"Iya, kami memang bersaudara tapi hanya sebatas ikatan darah. Tidak pernah ada kecocokan di antara kami."


"Kenapa bisa begitu?"


"Ya ... Memang begitulah kenyataannya."


Tirta kemudian beranjak berdiri di ikuti oleh Nirmala.


"Mau es krim?" tanya Tirta.


Nirmala belum menjawab, tapi Tirta sudah menuju ke tukang es krim dan membeli 2 buah es krim coklat. Bharata tiba-tiba saja mendekat dan merebut es krim di tangan Tirta yang hendak di berikan untuk Nirmala.


"Ah ... Bharata."


"Tidak masalah Tirta." Kata Nirmala sambil melempar senyum tipis.


"Masalahnya bukan itu, masalahnya uangku sudah tidak ada lagi."


"Tidak apa-apa, aku pulang dulu ya?" Nirmala berpamitan untuk pulang dan mulai meninggalkan Tirta.


"Oke, bye." Jawab Tirta sambil melambaikan tangannya.


Nirmala berjalan pulang kerumah, sementara Tirta menghampiri Bharata dan bercanda dengan menononjok kepala sahabatnya, hanya menonjol pelan saja.


"Kau ini mengganggu kesenanganku."


"Hah ... Sudahlah, ayo kita pulang."


Tirta merangkul sahabatnya sambil menikmati es krim. Sepanjang perjalanan mereka terlihat sangat akrab dan bahagia.


***


Malam pun tiba, Nirmala sudah bersiap di meja belajarnya untuk mengerjakan sedikit tugas dari sekolah. Sementara Anah masih di rumah sakit bersama dengan Jeff.


"Sudah malam kenapa kamu belum pulang?" tanya Jeff.


"Orang tua mu belum datang, nanti kalau mereka sudah datang. Aku baru akan pulang."


Tiba-tiba pintu ruangan Jeff terbuka, nampak sepasang suami istri berjalan menghampiri Jeff.


"Eh ... Ada yang menemani?" Mereka melihat Anah.


"Selamat malam, om tante." Anah menyambut kedatangan orang tua Jeff.


"Kalau begitu aku pulang ya Jeff."


"Loh, tante sama om baru datang kok sudah mau pergi."


"Iya maaf tante, soalnya sudah malam. Permisi om, tante."


"Jeff, aku pulang ya."


"Iya, hati-hati di jalan."


Orang tua Jeff kemudian bertanya kepada Jeff, bahkan ibunya mengira kalau Anah adalah pacarnya Jeff. Walaupun Jeff menyangkal, ibu nya terus saja menggoda anak laki-laki nya itu.


Anah menuju ke mobilnya dan masuk ke dalam, duduk kemudian menutup pintu mobil itu.


"Jalan Pak." Perintah Anah.


"Baik Non."


Dia meminta agar supirnya tidak membawanya pulang kerumah tapi mampir sebentar kerumah Nirmala. Ada yang ingin Anah bicarakan dengan sahabatnya itu.


Sementara itu, Nirmala di rumah sedang fokus mengerjakan tugas-tugas sekolah. Tiba-tiba ponselnya berdering.


Anah.


Nirmala langsung mengangkatnya, belum sempat mengucapkan salam. Anah sudah buru-buru minta Nirmala untuk keluar dan menemuinya di depan pagar.


"Keluar temui aku di depan pagar, cepatlah aku tidak punya banyak waktu." Kata Anah kemudian langsung mematikan ponselnya.


Nirmala merapikan buku-bukunya lalu berjalan dari kamar menuruni tangga dan sampailah dia di depan pintu pagar.


"Anah." Sapa Nirmala.


Anah terlihat sangat marah dan tidak suka melihat kehadiran Nirmala.


"Nirmala, aku minta mulai sekarang jauhi Jeff."


Setelah mengatakan itu, Anah langsung pergi tanpa permisi. Anah memang kalau sedang marah sulit untuk mengendalikan emosinya. Nirmala sangat mengerti perasaan sahabatnya itu. Dia pasti merasa cemburu karena Jeff sudah menolongnya. Anah pun berlalu dengan mobilnya. Nirmala kembali masuk ke rumahnya.


Anah kalau cemburu selalu seperti itu, tapi paling tidak lama juga dia akan baikan. Aku hanya harus menunggu waktu saja. Anah sudah sering bersikap seperti itu.


Nirmala kembali ke kamarnya, matanya sudah sangat mengantuk. Dia segera menyelesaikan tugas-tugas sekolah karena matanya sudah tidak bisa di ajak bekerjasama. Selesai mengerjakan tugas, dia mencuci muka dan gosok gigi, lalu bergegas tidur.


***


Ke esokan harinya di sekolah, guru meminta agar semua teman sekelas Jeff membesuk Jeff di rumah sakit dan setelahnya boleh langsung pulang kerumah masing-masing, tidak ada kelas. Hari ini Tirta dan Anah masuk sekolah. Tirta menyaksikan Anah dan Nirmala yang saling diam tanpa tegur sapa. Dia merasa tidak ada yang aneh, karena hal itu biasa terjadi. Itulah sebabnya, Tirta selalu bilang kalau Anah itu merepotkan, Anah bukan teman yang baik. Tentu saja dia bisa bilang seperti itu karena dia memiliki teman dekat yang sangat baik seperti Bharata.


Semua murid sudah berkumpul, jam sekolah hari ini di tiadakan khusus untuk kelas Nirmala karena mereka akan membesuk Jeff. Jarak rumah sakit dengan sekolah tidak jauh, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke sana. Kini mereka sudah sampai di lokasi di mana Jeff di rawat.


Mereka masuk ke ruangan itu, tapi tidak boleh masuk semua sekaligus. Sebagian berada di luar dan secara bergantian mereka setor muka. Kecuali Nirmala, Nirmala ikut membesuk tapi dia tidak masuk menemui Jeff. Sedangkan Anah, dia justru masuk lebih dulu bersama guru wali nya.


Jeff menunggu Nirmala datang, tapi justru Anah yang muncul. Setelah itu secara bergiliran teman-temannya menjabat tangannya dan memberi do'a agar lekas sembuh. Jeff masih berharap akan tiba giliran Nirmala, tapi dia tak kunjung masuk. Giliran yang terakhir, Tirta dan Bharata kali ini yang masuk.


"Hanya luka ringan." Kata Tirta saat melihat kondisi Jeff.


"Semoga lekas sembuh Jeff." Kata Bharata.


"Terimakasih." Jawab Jeff.


Setelah itu, Tirta dan Bharata pamit keluar. Jeff masih menunggu Nirmala tapi percuma saja. Nirmala sama sekali tidak berniat untuk menemuinya.


Sebelum Tirta sampai ke pintu, Jeff memanggilnya.


"Tirta."


"Apa?"


Tirta berhenti melangkahkan kakinya tanpa menoleh.


"Titip salam untuk Nirmala."


"Hah ... Hanya kali ini saja akan aku sampaikan." Tirta menghela nafas dan melangkah pergi.


Pintu ruangan itu tertutup lagi dan kini Jeff sendirian. Tirta dan Bharata adalah orang terakhir yang membesuknya. Mereka sudah tidak boleh masuk lagi karena jam besuk sudah habis. Jeff memejamkan matanya untuk sekedar menenangkan batinnya yang mulai bergejolak.


Terbayang wajah Nirmala yang selalu tersenyum. Dia ingin bertemu dengannya walau hanya sesaat. Kejadian yang membawanya berbaring di rumah sakit tak pernah terduga, bahkan tak pernah terpikir sebelumnya jika akan ada kejadian seperti itu. Kejadian yang membuat Jeff semakin ingin selalu berada di samping Nirmala.


Aku tidak pernah tahu se istimewa apa dirimu hingga membuat aku begitu cepat jatuh cinta. Bahkan kau pernah bilang cinta anak SMA hanya cinta yang tidak ada maknanya, belum saatnya. Tapi itu tidak menyurutkan niatku. Aku mencoba menerima semua rasa itu sendirian walau mungkin perasaanmu berbeda, hingga duniaku saat ini rasanya jatuh terlalu dalam bersama bayangmu.


Aku juga tidak pernah tahu mengapa hatiku ingin selalu memelukmu? Bayangmu selalu hadir disetiap pikiranku dan merindukanmu telah menjadi candu bagiku. Sepenting itu kamu bagiku, tapi jadi apa aku di hatimu? Bahkan hari ini kamu tidak datang sekedar melihatku. Sedetik saja untuk melihatku dan menenangkan batinku.


Dalam kondisi mata terpejam, dalam keheningan ruang perawatan. Tiba-tiba ponselnya berdering. Hanya ada pesan singkat yang masuk. Dia membuka pesan itu, sangat singkat hanya bertuliskan kata maaf.


Maaf.


Pesan singkat dari Nirmala. Jeff mencoba menelpon Nirmala tapi tidak di angkat, berkali-kali tetap saja tidak di angkat. Bahkan sekarang malah di nonaktifkan. Jeff tidak mengerti mengapa Nirmala melakukan hal itu padanya, sedangkan dia berbaring di rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.


"Mungkin Kevin yang melarangnya. Laki-laki buaya itu." Batin Jeff merasa kesal.


Tiba-tiba Jeff melepas dengan paksa selang infus yang di tangannya. Diam-diam dia mengendap-endap untuk kabur dari rumah sakit. Rencananya berhasil dengan mulus, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Dia pergi naik ojek dan menuju ke rumah Nirmala.


Sementara itu, orang tua Jeff di kagetkan karena mendapati anaknya tidak berada di kamarnya. Ibunya berteriak histeris memanggil suster dan juga dokter. Tidak ada yang bisa memberi keterangan, mereka tidak ada satupun yang mengetahui perihal menghilangnya Jeff.


Orang tua Jeff sangat kecewa dengan pelayanan di rumah sakit tersebut karena tidak bisa menjaga anaknya dengan baik. Tiba-tiba ada pesan singkat masuk ke handphone ibunya Jeff. Pesan singkat dari Jeff.


Mami tidak perlu khawatir, Jeff akan pulang nanti malam. Mami selesaikan saja biaya administrasi nya.


"Jeff, kamu ini memang susah di atur." Gerutu ibunya.


Ibunya menyelesaikan masalah biaya perawatan Jeff, sementara itu Jeff sudah sampai di depan rumah Nirmala. Di sana ada pohon rimbun yang biasa Jeff pergunakan untuk memarkir motornya, tapi kali ini dia tidak memakai motornya. Entah ada dimana motornya sekarang, dia tidak pernah memperdulikannya. Dia duduk di bawah pohon itu seperti anak jalanan yang tidak terurus. Tapi wajahnya yang terlihat tampan dan kulitnya yang bersih menjadi pusat perhatian setiap ada orang yang lewat.


Dia menunggu kepulangan Nirmala, dia yakin sebentar lagi Nirmala akan pulang karena biasanya jika ada teman sekelasnya yang sakit, kelas akan di bebaskan dan bisa pulang lebih awal. Benar saja, belum lama dia menunggu, Nirmala pulang naik ojek.


Jeff, apa yang dia lakukan di sini. Batin Nirmala saat melihat Jeff.


Jeff memanggil Nirmala dan mencoba menghentikan langkahnya.


"Kenapa tidak ikut membesuk ku tadi?" Tanya Jeff.


"Maaf Jeff, sebaiknya kamu pulang saja." Kata Nirmala sambil masuk ke rumahnya tanpa memperdulikan perjuangan Jeff untukbisa bertemu dengannya.


Jeff terdiam sejenak. Hatinya remuk pecah berkeping-keping, tapi dia mencoba menerima kenyataan.


Aku tidak kaget melihat tingkah mu yang seperti itu, kamu sudah biasa membuat ku kecewa, sekali lagi kamu mengecewakanku saat ini. Aku tidak akan pernah membencimu, aku hanya membenci kenyataan bahwa aku menempatkan diri pada posisi yang harus dikecewakan terus menerus. Haruskah aku berhenti mengejarmu?


Tiba-tiba perut Jeff berbunyi, dia merasa lapar. Untung saja masih ada banyak uang di dompetnya. Selain uang saku sekolah yang dia kumpulkan, dia juga baru saja mendapat uang dari sekolah. Dia mencari taksi minta di antar ke butik depan restoran aksara. Sesampainya di sana, Jeff mengganti bajunya dan membuang baju dari rumah sakit itu. Dia terlihat sangat sehat, selesai membayar pakaian yang di pakai nya, dia menyeberang jalan raya menuju ke restoran aksara. Dan duduk sendirian lalu memesan makanan dan minuman.


Secara tidak sengaja, Ruby dan Salsa melihatnya.


"Bukankah itu Jeff?" tanya Ruby kepada Salsa sambil menunjuk ke arah Jeff yang kini sedang duduk menunggu pesanan nya.


"Iya benar." Kata Salsa.


Mereka kemudian berjalan mendekati Jeff.


"Bukankah tadi kamu masih di rumah sakit, kok bisa ada di sini?" tanya Salsa tiba-tiba.


"Aku bosan." Jawab Jeff.


"Di rumah sakit memang membosankan." Kata Ruby.


"Apa kau kabur?" Salsa mulai curiga.


"Aku tidak ingin membahasnya." Kata Jeff.


"Baiklah." Ucap Salsa.


Tidak lama kemudian, makanan dan minuman yang Jeff pesan sudah siap di sajikan. Salsa dan Ruby yang masih memakai seragam sekolah dan belum selesai makan, kemudian mengambil makanannya dan pindah ke meja Jeff. Kini mereka makan bersama.