Getaran Hati Nirmala

Getaran Hati Nirmala
Bermain Bola Basket


Nirmala kembali tersenyum.


"Aku terpesona pada permainan basketmu. Saat kamu berada di lapangan basket, kamu mampu menguasai permainanmu dengan baik, kamu sungguh berbakat." Jawab Nirmala.


"Sungguh? Apa benar kau hanya terpesona dengan permainan basket ku?" tanya Tirta penuh selidik.


"Ah, sudah lah. Lupakan saja, aku telah salah menilaimu. Aku pulang dulu." Kata Tirta lagi.


Ia bangkit lalu berjalan perlahan menjauhi Nirmala. Nirmala kembali tertegun, ia tak menyangka Tirta begitu tersinggung atas pernyataannya tadi.


"Hati-hati." Ucap Nirmala.


Tirta tidak menjawab, dia hanya mengangkat tangan kanannya itupun tanpa menoleh kebelakang.


Nirmala kemudian masuk kedalam rumahnya dan melangkah menuju ke kamarnya, langkahnya gontai menaiki tangga. Sesampainya di kamar, dia melanjutkan kembali hapalan biologinya, kali ini dia tidak menghapal di meja belajar melainkan di atas kasur hingga tak terasa ia tertidur berbantal buku bacaannya.


***


Ke esokan harinya ...


Udara hangat di pagi hari seolah memeluk tubuh langsing Nirmala menemani perjalanannya ke sekolah. Ia menghirup udara dalam-dalam dan menikmati sejuknya udara setelah beberapa menit berada di dalam bus. Akhirnya dia sampai di sekolah, dia masih terbawa suasana kenikmatan udara hangat pagi hari. Memang seperti biasa, Nirmala lebih suka pergi ke sekolah naik bus atau ojek. Jarang sekali naik taksi atau mobil pribadi milik ayahnya.


Perlahan Nirmala mulai melangkahkan kakinya melewati pintu gerbang sekolah. Murid-murid lainnya juga nampak melewati pintu gerbang tersebut. Nirmala melangkah dengan senyum yang selalu mengembang. Wajahnya nampak berseri-seri cantik bak seorang dewi. Baru saja dia sampai di kelasnya, tiba-tiba bel berbunyi tanda masuk sekolah. Seorang guru tampak memasuki ruang kelasnya.


"Selamat pagi anak-anak." Sapa seorang guru yang berada di dalam kelas, murid-murid terlihat berdiri rapi dan memperhatikannya.


Secara serentak murid-murid menjawab salam gurunya.


"Selamat pagi Pak guru." Jawab murid-murid sambil berdiri, kemudian mereka duduk kembali setelah guru itu mempersilakan.


Sebelum membaca absen, guru itu mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kelas. Kemudian matanya berhenti pada bangku Nirmala dan juga Bharata.


"Bharata, kemana teman sebangkumu, Tirta? Apakah dia tidak masuk lagi?" tanya guru itu.


"Sepertinya Tirta tidak masuk lagi Pak." Jawab Bharata.


Tirta memang terkenal sebagai anak yang jenius tapi dia sering sekali membolos sekolah. Dia tidak pernah membuat masalah di sekolah, tapi di luar sekolah kabarnya dia suka berkelahi dan tawuran dengan anak dari sekolah lain. Padahal dia murid yang berprestasi, rangkingnya selalu bagus di kelasnya, selain itu dia juga selalu menjadi andalan tim basket di sekolah.


Tirta sepertinya bukan anak yang suka belajar di dalam kelas. Dia tidak nampak serius setiap kali guru memberi pelajaran, tapi anehnya dia sangat jenius dan selalu mendapat peringkat kelas ketiga setelah Ruby, tentu saja peringkat pertama selalu di raih oleh Nirmala.


"Nirmala, Anah juga tidak nampak hari ini, kemana dia?" tanya guru itu kepada Nirmala.


"Anah sakit Pak." Jawab Nirmala singkat.


"Saya tidak suka dengan pemandangan kursi-kursi yang kosong, Darren kamu pindah duduk bersama Bharata. Dan kamu Jeff, duduk di samping Nirmala, kelas akan segera saya mulai."


Jeff mengangguk dengan penuh semangat dan segera duduk di samping Nirmala. Diam-diam Jeff melirik ke arah Nirmala yang duduk di samping kirinya. Ia tersentak kaget saat tiba-tiba Nirmala menoleh ke arahnya lalu kembali memperhatikan guru. Tapi biarpun sempat kaget dengan pandangan Nirmala tadi, dia masih belum berhenti mencuri-curi pandang gadis di sisi kirinya itu.


Dia tidak fokus pada pelajaran yang di sampaikan gurunya melainkan hanya fokus menatap Nirmala saja. Dia merasa sangat beruntung bisa duduk di sebelahnya. Duduk sebangku dengan gadis manis pujaan hatinya tentulah membuatnya merasa sangat beruntung. Hari ini Jeff merasa sangat bersyukur karena Anah tidak masuk, begitu pula dengan Tirta. Takdir benar-benar sedang berpihak padanya.


Baru kali ini dia bersyukur Tirta tidak masuk sekolah, biasanya dia selalu mengandalkan Tirta dalam setiap tugas sekolahnya. Walaupun terkadang mereka ribut. Tirta memang tidak pernah pelit membagi jawaban tugas untuk teman-teman sekelasnya. Dan Jeff yang tidak pernah serius belajar, selalu menyontek hasil pekerjaan Tirta.


Nirmala memang gadis yang manis, aura nya positif sehingga banyak orang menyukainya. Batin Jeff sambil terus menatapnya.


Senyumnya begitu tulus dan manis, dia juga anak yang pandai di sekolah. Batinnya lagi.


Matanya bercahaya, rambutnya panjang dan ikal pada ujungnya. Bulu matanya panjang sangat mempesona, bentuk alisnya indah seperti bulan sabit membuat matanya memiliki daya tarik tersendiri. Rasanya seperti mimpi indah bisa duduk sebangku dengannya. Sesekali Jeff mencubit pipinya sendiri untuk memastikan kenyataan ini. Kini Jeff bisa memiliki kesempatan untuk lebih dekat dengan gadis cantik di sampingnya itu.


Tiba-tiba guru itu pergi meninggalkan ruangan. Membuat Jeff semakin bahagia karena bisa bebas menggoda Nirmala tanpa takut mendapat teguran dari guru. Namun sayang, rencananya tidak bisa berjalan lancar karena Salsa mulai mengganggunya. Seketika Salsa langsung mendekat ke bangku Nirmala dan Jeff. Jeff mendelik, merasa sedikit kesal karena Salsa tiba-tiba saja muncul dan mengganggu konsentrasinya. Konsentrasi menikmati keindahan yang ada di sampingnya.


"Nirmala, apa kamu bisa pindah dari sini?" Ucap Salsa tiba-tiba.


Jeff menjadi semakin kesal dengan Salsa yang mengganggu kesenangannya. Apalagi sampai menyuruh Nirmala pindah. Jeff melawan Salsa dan menyuruh Salsa untuk pergi, tapi Salsa tidak bergeming.


Nirmala hanya tersenyum melihat reaksi Salsa dan Jeff yang sangat berlawanan. Salsa tidak suka Nirmala duduk di bangku nya, sedangkan Jeff berusaha mempertahankan Nirmala agar tetap duduk.


"Maaf Jeff, bukannya aku tak suka duduk bersamamu, tapi aku merasa tidak nyaman berada disini." Ucap Nirmala sambil nyengir ke arah Jeff.


Salsa merasa senang karena berhasil membuat Nirmala pindah, sedangkan Jeff merasa sangat kesal. Jeff menghela nafas, ia memandang ke arah Salsa dengan tatapan sebal, sedangkan Salsa memandangnya dengan wajah puas penuh kemenangan.


Nirmala kemudian membereskan bukunya agar bisa segera pindah dari bangku nya yang sekarang. Dia kemudian berjalan dan memilih duduk di samping Ruby.


"Hai, Ruby." Ucap Nirmala saat sudah duduk di samping Ruby.


"Hai, Mala. Senang bisa duduk denganmu." Ucap Ruby.


Nirmala juga sangat senang bisa duduk dengan Ruby, lebih menyenangkan duduk di samping Ruby daripada duduk bersebelahan dengan Jeff yang tidak pernah serius untuk belajar dan terus mengganggunya.


Salsa kini duduk lebih dekat dengan Jeff. Dia mencoba mencari informasi tentang keadaan Anah, biar bagaimanapun kecelakaan yang menimpa Anah sebenarnya adalah ulah nya.


"Jeff, bagaimana kondisi Anah?" Tanya Salsa dengan mimik wajah yang di buat-buat agar nampak seperti orang yang simpatik.


"Dia baik-baik saja, memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa, aku hanya bertanya saja, semua itu karena Nirmala, dia yang udah bikin Anah jadi seperti itu." Jawab Salsa.


Saat Salsa ingin mengajak Jeff mengobrol lagi, tiba-tiba Jeff malah mengeluarkan ipad, memasang headset dan asyik mendengarkan musik sambil ikut bergumam menyanyikan lagu yang ia dengar. Jeff sama sekali tidak mau mendengar apa yang di katakan oleh Salsa, dia merasa Salsa sedang berbohong. Karena Jeff yakin, Nirmala bukan gadis seperti yang Salsa bicarakan.


Merasa di abaikan oleh Jeff, Salsa semakin merasa kesal. Tidak lama kemudian bel tanda istirahat berbunyi, Nirmala segera membereskan bukunya dan pergi ke perpustakan. Diam-diam Jeff mengikutinya. Hari ini merupakan hari keberuntungannya, tidak ada Tirta, juga tanpa Anah si pengganggu harinya.


Tiba-tiba seorang guru cantik berhijab menyapa Nirmala juga Jeff yang berada tepat di belakang Nirmala.


"Mala, karena Anah sedang sakit. Untuk persiapan Kemah nanti, kamu bisa bantu kan untuk menyiapkan keperluan yang masih kurang? Waktunya tinggal 3 hari lagi. Bisa kan?" Pinta guru itu.


"Jeff, itu juga bagian dari tugas kamu kan?"


"Terimakasih ya Mala." Guru itu lalu pergi meninggalkan Jeff dan Nirmala.


Jeff merasa sangat senang sekali. Wajahnya begitu cerah, baginya itu sama artinya seperti kencan berdua, menyiapkan perlengkapan untuk kemah. Setahu Jeff hanya kurang satu tenda saja dengan frame dan pasaknya. Yang lainnya sudah Anah dan Darren persiapkan. Jadi tidak akan terlalu merepotkan dan dia bisa punya banyak waktu untuk jalan berdua bersama Nirmala.


***


Sepulang sekolah, Jeff yang sudah bersiap rapi langsung menuju ke rumah Nirmala. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu. Sesampainya di depan rumah Nirmala, ternyata Nirmala juga sudah menunggunya. Tidak lama kemudian mereka pergi dan langsung mendapatkan apa yang mereka cari lalu melanjutkan pergi ke sekolah dan meletakannya di sana untuk kemudian di satukan dengan kelengkapan lainnya.


Masih banyak guru yang berada di sekolah, setelah tugas mereka selesai. Nirmala pamit pulang, Jeff mengejarnya.


"Mala, tunggu." Jeff berlari mengejar Nirmala.


"Ada apalagi Jeff? Tugas kita kan sudah selesai, aku mau langsung pulang." Sahut Nirmala.


"Kamu mau tidak? Hari ini kita nonton bioskop." Ajak Jeff penuh harap.


"Tidak bisa, aku mau pulang." Ucap Nirmala.


Jeff masih terus memohon agar Nirmala mau nonton bioskop bersamanya sedangkan Nirmala masih saja terus menolaknya.


"Aku bilang enggak, ya enggak. Kamu kok maksa banget sih." Ucap Nirmala sedikit kesal.


Tiba-tiba Tirta datang mengagetkan mereka. Padahal tadi Tirta tidak masuk sekolah, tapi sekarang dia terlihat memakai kaos dan celana pendek serta tangannya memegang bola basket, handuk kecil dan air mineral. Dia terlihat sedikit berkeringat, seperti habis bermain bola basket.


"Kalau tidak mau jangan di paksa." Ucap Tirta.


Jeff merasa kesal dengan kehadirannya yang sangat mengganggu.


"Nirmala akan nonton bioskop bersamaku, iya kan Mala." Ucap Tirta tiba-tiba sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Nirmala.


Seketika Jeff menariknya agar menjauh. Jeff dan Tirta lagi-lagi terlibat keributan.


Nirmala merasa terganggu melihat mereka yang selalu ribut dan bermaksud meninggalkan mereka, tapi Tirta mencegahnya.


"Mala, kamu tidak boleh pergi. Kamu harus memilih salah satu di antara kami, mau nonton sama Jeff atau aku?" Tanya Tirta.


Awalnya Nirmala berhenti, tapi kemudian dia berjalan lagi. Tapi Tirta menghalangi langkahnya. Jeff sedikit khawatir karena Tirta diam-diam adalah orang yang kasar. Nirmala yang merasa terancam akhirnya membuka mulutnya.


"Okay, aku mau nonton dengan salah satu di antara kalian. Tapi ada syaratnya." Sahut Nirmala tanpa berfikir panjang.


"Apa syaratnya?" Tanya Tirta dan Jeff bersamaan.


Sejenak Nirmala berfikir, dia agak bingung dengan syarat yang akan dia ajukan karena sebenarnya dia hanya asal bicara. Tapi kemudian dia melihat bola basket di tangan Tirta dan seketika dia berkata agar mereka beradu permainan bola basket. Siapa yang menang dialah yang bisa nonton bersamanya.


"Jeff, kamu harus bisa mengalahkan Tirta bermain basket satu lawan satu." Jawab Nirmala.


"Jika skor kalian sama, artinya kalian sama-sama kalah, hanya yang unggul yang bisa nonton bioskop bersamaku." Ucap Nirmala lalu pergi dari hadapan Tirta dan Jeff.


Tirta tidak percaya kalau Nirmala akan mengajukan syarat semudah itu, dia adalah kapten tim basket. Bermain basket adalah makanan sehari-harinya, sampai saat ini tidak ada murid lain yang bisa menandinginya. Dan itu artinya, harapan untuk nonton bioskop berdua akan segera terwujud.


"Baiklah, besok seusai sekolah kita akan mulai permainannya, siapkan dirimu Jeff." Kata Tirta sambil tersenyum lebar.


Jeff juga tersenyum.


"Setiap hari aku juga bermain basket Tirta, jadi jangan senang dulu karena aku pasti akan mengalahkan mu." Kata Jeff.


"Kita lihat saja besok." Ucap Tirta sambil berlalu meninggalkan senyum kesombongan.


***


Matahari bersinar cukup terik siang ini. Sekolah sudah usai. Tirta bersiap memantulkan bola basket yang sedari tadi dipegangnya erat. Jeff juga sudah bersiap untuk menghalanginya memasukan bola basket itu.


Pertandingan bola basket satu lawan satu antara Jeff dan Tirta akan di mulai. Sebelumnya mereka pernah melakukan ini di jam istirahat. Tapi sekarang mereka melakukannya usai sekolah, pertandingan kali ini lebih serius karena Nirmala yang memintanya. Beberapa murid yang terlihat masih berkeliaran di sekolah jadi tertarik untuk melihat. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan melihat Jeff dan Tirta mengadu ketangkasan bermain bola basket.


Nirmala juga ikut menyaksikan pertandingan basket yang telah siap dimulai. Ia ingin tahu seberapa tangguh Jeff yang selalu mengganggunya itu. Diam-diam Nirmala kagum dengan kecepatan lari Jeff dan kemampuannya melompat tinggi serta lompat jauh.


Awalnya Tirta sedikit menganggap remeh Jeff. Ia yakin sekali dapat mengalahkan Jeff dengan cepat dan mudah. Tetapi ia keliru, berkali-kali Jeff berhasil menggagalkannya memasukkan bola ke keranjang. Bahkan kemudian Jeff mendapat skor lebih dulu. Nirmala berseru memberi semangat paling keras.


"Sugoi (hebat), Jeff!" Teriak Nirmala sambil bertepuk tangan dan tersenyum kepada Jeff.


Jeff terlihat sangat bersemangat mendapat dukungan dari Nirmala. Sementara itu, Tirta menatap sebal kepada Jeff dan menatap heran kepada Nirmala yang tiba-tiba saja mendukung Jeff.


Kali ini Tirta terlihat lebih waspada, dia tidak bisa meremehkan Jeff lagi. Sedangkan Jeff terlihat santai tapi serius. Apalagi mendengar Teriakan Nirmala, itu membuat spirit tersendiri baginya. Tirta semakin gusar, dia tak mengira kalau Jeff bisa sehebat ini. Tak mudah bagi Tirta hingga akhirnya dia bisa memperoleh skor. Dia berusaha semakin keras.


Tentu saja sebagai kapten tim basket di sekolah dia tidak mau di permalukan hanya oleh anak baru itu. Apalagi sekarang semakin banyak teman-teman sekolahnya yang berkerumun. Akhirnya Tirta bisa tersenyum agak lega setelah beberapa saat kemudian dia bisa unggul dua angka dari skor Jeff. Tapi senyumnya mendadak lenyap saat sampai waktu yang telah mereka tentukan habis dan skor mereka seri.


Tirta sangat kesal, mendapatkan skor seri dengan Jeff sama artinya dia kalah. Bagaimana mungkin dia bisa kalah dari Jeff, nafasnya mendengus sangat kesal. Jeff menarik nafas panjang dan menghampiri Tirta lalu menepuk bahunya.


"Sayang sekali Tirta, skor kita seri sehingga tidak ada yang bisa berkencan dengannya." Ucap Jeff sambil melirik ke arah Nirmala.


Tirta tertegun sesaat berusaha meredam kemarahannya lalu mengikuti Jeff keluar dari lapangan.


"Ternyata kamu hebat juga." Kata Tirta.


"Aku dulu kapten tim basket di sekolahku." Jawab Jeff.


Tirta tidak menyangka kalau ternyata Jeff juga seorang kapten tim basket. Ia tak mengira kalau kehadirannya di sekolah ini bisa mengancam kepercayaan dirinya sebagai pemain bola basket paling berbakat. Bahkan Nirmala juga mengagumi permainan basketnya.


"Kamu tenang saja Tirta, aku tidak akan masuk dalam tim basket." Jeff berusaha menahan diri agar tidak membuat Tirta khawatir kalau kehadirannya akan menghancurkan reputasi permainan basketnya.


Jeff lalu menghampiri Nirmala dan tidak menyangka, Nirmala terlihat begitu senang menyambutnya. Gadis-gadis di sekolahnya yang belum pulang sekolah juga ikut menyambut Jeff, mereka membuat Jeff panik. Jeff khawatir mereka akan memeluknya sehingga dengan jurus lari langkah seribu, dia menarik tangan Nirmala agar ikut lari bersamanya menuju ke parkiran motor. Sedangkan Tirta, dia pergi seorang diri menaiki motornya menuju ke taman biasa tempatnya untuk menyendiri.