
Selesai makan, Tirta dan Bharata bergegas menuju ke perpustakaan. Setibanya di sana, tanpa sengaja Tirta bertemu dengan teman lamanya, Ani. Dulu mereka sering bertemu di perpustakaan saat Tirta kelas 1 SMA dan Ani sudah kelas 3 SMA.
Setelah itu, mereka tidak saling memberi kabar. Namun sekarang Ani sudah nampak berubah. Ani terlihat lebih berisi, dia sedang hamil. Tirta melihat Ani sedang di tuntun oleh seorang laki-laki.
Mungkin itu suaminya. Pikir Tirta.
"Ani ya?" Sambut Tirta di depan pintu masuk Perpustakaan.
"Lhoooh Tirta ... Kamu disini? Apa kabar?" Sahut Ani.
"Kabar baik An, kamu sendiri apa kabar? Waaah kayaknya mau ada anggota baru nih." Tanya Tirta.
"Ini suami kamu ya An?" Tanya nya lagi.
"Alhamdulillah iya kenalin ini suami aku, Dika." Jawab Ani.
"Iya ini udah mau masuk bulan ketujuh." Lanjutnya.
Tirta kemudian bersalaman dengan Dika memperkenalkan diri. Sambil berjabat tangan.
"Tirta."
"Dika."
Tirta memperhatikan Dika yang begitu romantis memperlakukan istrinya. Karena perpustakaan itu memakai alas karpet sehingga semua pengunjung yang masuk harus melepas sepatunya.
Terlihat Dika sedang membantu membuka sepatu istrinya. Romantis, keduanya kemudian duduk di sofa.
"Eh Ta, ini aku sambil makan rujak disini gak papa kan ya? Nama nya juga lagi hamil, makannya banyak." kata Ani sambil nyengir.
Tirta menjawab dengan santai seolah perpustakaan itu milik ayahnya.
"Silahkan An. Mau sekalian dibikinin teh hangat?" Tirta mulai bercanda.
Mereka kemudian berbincang, sementara suami Ani mencari buku tentang kesehatan kandungan.
"Eh Tirta. Bagaimana kau ini, itu teman-teman kita sudah pada nikah kau tunggu apalagi?" Tanya Ani.
"Ani ini, aku kan masih sekolah, ya nanti lah." Jawab Tirta dengan nada santai.
Meskipun Ani lebih tua dari Tirta, Tirta tidak memanggil dengan sebutan kak karena dulu Ani sempat menolak panggilan itu.
"Oh iya, maaf-maaf aku lupa kalau kamu lebih muda di banding teman-teman kita dulu ya?" Ujarnya.
"Dan lagi kamu itu orangnya kan selektif, kalau pacar belum punya?" tanya Ani lagi.
"Calon sih sudah ada, tapi ...." Tiba-tiba kalimat Tirta terhenti saat dia melihat Kevin.
Kevin ada di perpustakaan. Katanya dalam hati dengan perasaan sedikit kaget.
"Tapi apa? Terlalu banyak pertimbangan kamu ini. Tidak ada manusia yang sempurna Tirta. Yang ada hanyalah yang mau menerima kamu apa adanya." Kata Ani panjang lebar.
Tirta masih terdiam, dia mulai tidak fokus dengan pembicaraannya.
"Kenapa diam? Kalau memang kamu serius, lamar sajalah sebelum keduluan orang lain." Kata Ani lagi.
Tirta hanya tertawa mendengar Ani berbicara.
Jodoh memang tidak pernah ada rumusnya. Batin Tirta.
"An, sorry aku masuk dulu ya?" Kata Tirta yang kemudian meninggalkan temannya.
Dia merasa penasaran karena tadi sempat melihat Kevin sekejap mata.
Apa aku salah lihat ya? Ah, sudahlah. Bharata juga tidak tahu kemana. Batinnya.
Tirta kemudian mulai masuk ke lorong-lorong buku bacaan. Dia ingin mencari buku ensiklopedia islam. Buku tebal dengan warna sampul keemasan. Dia ingat dimana buku itu di letakkan dan tanpa butuh waktu lama dia pun menemukannya.
Tapi saat dia hendak mengambil buku itu, secara bersamaan ada tangan orang lain yang meraihnya lebih dulu sehingga tanpa sengaja dia justru memegang tangan seorang gadis dan bukan bukunya.
"Maaf, maaf." Kata Tirta.
Gadis itu kemudian menoleh dan membuat jantung Tirta nyaris terhenti.
"Mala." Ucap Tirta saat mengetahui bahwa gadis yang di depannya itu adalah Nirmala.
Saat Nirmala berbalik arah ke belakang, wajahnya terlihat sangat kaget. Di lihatnya Tirta berdiri tepat di hadapannya sambil tersenyum. Tirta terlihat semakin mendekatkan badannya, membuat jantung Nirmala berdetak sangat kencang.
Nirmala kini berada di antara kedua tangan Tirta. Tirta menatapnya tanpa menolehkan pandangannya ke arah lainnya.
"Ingat dosa Tirta, bukan muhrim. Jangan memandangku seperti itu." Ucap Nirmala untuk mengingatkan bahwa memandang lawan jenis terlalu lama itu di larang.
Nirmala berani berkata seperti itu karena menurutnya, Tirta selalu bertingkah sok alim.
"Astagfirullah." Kata Tirta yang kemudian meraih sebuah buku ensiklopedia islam yang berada tepat di atas kepala Nirmala.
"Aku hanya ingin mengambil ini." Kata Tirta sambil menunjukan sebuah buku.
Nirmala tersenyum dan mulai bisa bernapas lega. Dia kemudian berbalik, saat Nirmala hendak berjalan menjauh dari Tirta, tiba-tiba Tirta menarik ikatan rambutnya. Rambutnya yang halus memudahkan Tirta melepas kuncir rambutnya dengan hanya sekali tarik tanpa menyakitinya, kini rambutnya menjadi terurai.
"Balikin." Kata Nirmala mencoba meraih kuncir rambutnya di tangan Tirta.
"Kenapa tidak berhijab saja, bukankah itu akan lebih aman?" Kata Tirta mulai menggurui Nirmala.
Nirmala hanya diam, dia kemudian meninggalkan Tirta tanpa berusaha mengambil kuncirannya kembali. Dia kemudian duduk tepat di hadapan Kevin yang sedang serius membaca buku bisnis.
"Eh, sudah kembali?" Kata Kevin saat melihat Nirmala duduk di hadapannya.
Perasaan tadi rambutnya di kuncir, kenapa sekarang terurai? Tapi dia lebih cantik dengan rambut terurai seperti itu. Batin Kevin sambil terus memandangi Nirmala.
Sementara itu Nirmala hanya menopang dagu, dengan sesekali melirik ke arah Kevin.
"Buku yang aku cari tidak ada." Jawab Nirmala.
"Oh, begitu." Kata Kevin kemudian menutup buku yang di bacanya.
Tiba-tiba Nirmala melihat Tirta yang berada di depannya, tidak jauh dari tempatnya duduk. Tirta berdiri sambil menunjukan kuncirannya dan tersenyum meledek.
"Kamu lihat apa?" Tanya Kevin.
"Tidak, tidak lihat apa-apa?" Jawab Nirmala sambil menggelengkan kepalanya.
"Jadi, mau pulang atau masih mau disini?" Kevin kembali menanyakan hal yang sama.
"Pulang." Jawab Nirmala dengan singkat.
Mereka kemudian keluar meninggalkan perpustakaan. Nirmala sesekali menoleh ke belakang dan mendapati Tirta masih terus memperhatikannya dengan senyuman meledek sambil memperlihatkan ikatan rambutnya.
***
Nirmala dan Kevin mulai masuk ke mobil, mereka duduk berdampingan. Kevin terus memandangi Nirmala yang rambutnya terurai.
"Daritadi kamu memandangiku terus, apa ada yang aneh?" tanya Nirmala yang tidak lama kemudian menguap dan menutup mulutnya.
"Tidak ada yang aneh." Kata Kevin.
Nirmala mulai menyenderkan badannya, dia merasa sangat lelah dan mengantuk. Tapi matanya belum terpejam.
"Kalau kamu ngantuk, tidur saja." Kata Kevin.
"Tidak, aku tidak mengantuk." Kata Nirmala di iringi uapan lagi.
Kevin tersenyum melihat tingkahnya, Nirmala memang mengantuk. Tapi dia masih saja mengelak, tidak lama kemudian Nirmala benar-benar tertidur. Melihat Nirmala tertidur dengan pulas, Kevin kemudian menghentikan mobilnya dan melepaskan jasnya untuk Nirmala agar dia tidak kedinginan.
Setelah beberapa menit tertidur, Nirmala mulai membuka matanya dan melihat Kevin masih fokus menyetir.
"Kevin." Ucap Mala.
"Mala, sudah bangun?" Tanya Kevin.
"Kita sudah sampe mana?" Tanya Nirmala.
Kevin hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaannya.
"Kalau masih ngantuk, mending tidur lagi aja. Perjalanannya masih jauh." Jawab Kevin sambil terus menyetir mobilnya.
"Kamu gak apa-apa aku tinggal tidur terus dari tadi?"
"Ya gak apa-apa lah, udah tidur lagi saja."
"Kok berhenti?" Nirmala mulai penasaran saat Kevin tiba-tiba menghentikan mobilnya.
"Mau ngucapin kamu selamat tidur dulu."
"Ya ampun, cuma mau ngucapin aja pake berhenti segala." Ucap Nirmala.
Kevin hanya tersenyum lalu kembali melajukan mobilnya. Nirmala pun tidak kuasa menahan kantuknya dan ia tertidur kembali.
Hari semakin gelap, tapi Kevin dan Nirmala masih berada di jalan. Macet di ibu kota tidak bisa terhindarkan. Kevin yang masih terus terjaga, sesekali memandangi wajah Nirmala yang tertidur pulas, terlihat sangat manis.
Setelah melewati perjalanan malam yang cukup macet, akhirnya mereka sampai dirumah Nirmala. Kevin menunggu hingga Nirmala terbangun, tapi Nirmala tak kunjung bangun juga. Kevin tidak tega untuk membangunkannya, wajahnya terlihat sangat lelah setelah seharian berkeliling kota Jakarta.
Pakde Slamet yang sedang berjaga kemudian melihat mobil siapa yang sedari tadi parkir di pagar rumah bosnya. Kevin yang melihat pakde Slamet membukan pagar rumah, kemudian menemuinya dan mengatakan kalau Nirmala tertidur di mobil.
Mendengar pintu pagar rumahnya terbuka, Wulandari kemudian keluar. Dia mengira suaminya sudah pulang, ternyata dia salah. Itu bukan mobil suaminya, melainkan mobil Kevin. Wulandari melihat Kevin dan pakde Slamet berdiri di depan pagar.
"Kevin, ada apa?" tanya Wulandari, ibu Nirmala.
"Nirmala tertidur di mobil, Tan." Jawab Kevin.
"Di mobil kamu? Bukankah tadi pagi dia pergi bersama teman sekolahnya ya?" Wulandari terlihat agak bingung.
Tapi dia lebih bingung lagi memikirkan Nirmala yang tertidur pulas di mobil Kevin. Dia tidak tega membangunkannya. Wulandari memang sangat menyayangi Nirmala dan terkadang berlebihan. Bahkan melihat putrinya tertidur pulas di mobil orang lainpun, dia tidak tega membangunkannya.
Mereka terdiam, tidak ada yang berani membangunkannya. Kevin kemudian berinisiatif untuk menggendongnya ke kamar.
"Boleh Kevin gendong Nirmala ke kamarnya, Tan?" tanya Kevin kepada Wulandari.
"Ah, iya begitu lebih baik." Jawab Wulandari.
Kevin pun menggendong Nirmala dan membaringkannya di kasur. Ketika Kevin membalikkan badannya, dia mendapati Ibu Nirmala sedang berdiri di pintu kamar Nirmala.
"Tante." Ucap Kevin.
Wulandari tersenyum.
"Dulu tante juga pernah di gendong sama papa nya Nirmala waktu masih pacaran, tapi papanya Nirmala lebih romantis daripada kamu." Kata Wulandari.
Kevin kaget dan merasa tidak percaya dengan kalimat yang di dengar nya.
Apa tante Wulandari menyangka kalau aku pacaran dengan Nirmala? Tanya nya dalam hati.
"Tapi gak masalah, kamu juga romantis kok sama Mala." Kata Wulandari lagi.
Tante berharap kamu gak akan sakit hati setelah mengetahui kebenarannya. Ucap Wulandari dalam hati.
"Tante bisa saja, kalau begitu Kevin pulang dulu ya Tante. Dan maaf pulangnya kemalaman."
"Iya gak apa-apa, salam buat Mami kamu ya?"
"Iya tan, permisi."
Kevin pun meninggalkan rumah Nirmala dan kembali kerumahnya.
Wulandari kemudian duduk disamping putrinya. Dia memandangi wajah Nirmala, terkadang dia merasa bersalah jika mengingat perjodohan yang terlanjur di sepakati suaminya. Karena menurutnya perjodohan itu sama saja menghancurkan hidup putrinya.
Seharusnya Nirmala bisa memilih jodohnya sendiri, bukan di tentukan oleh ayahnya. Batinnya.