Getaran Hati Nirmala

Getaran Hati Nirmala
Gara-Gara Debu


Nirmala masih tidak menanggapi pertanyaan Jeff. Dia terus berjalan menuju ke ruang kelas, jam istirahat masih sangat lama. Setibanya di ruang kelas, dia duduk dan kembali membaca bukunya. Kelas begitu sepi, semua murid masih berada di kantin dan sebagian lagi bersantai di taman.


Jeff kemudian duduk di atas meja, tepat di depan Nirmala yang sedang fokus membaca bukunya.


"Mala, mau ya? Pulang bareng."


"Maaf gak bisa Jeff." Jawab Nirmala tanpa menutup bukunya dan ia pun melanjutkan membaca.


"Hah, ya sudah kalau tidak mau." Jeff menghela napas.


Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang, jendela terbuka kemudian menutup dengan sendirinya.


Jedder ....!


Pintu kelas juga tak kalah hebatnya menutup dengan suara yang amat keras.


Derrr ....!


Klek, tertutup.


Debu beterbangan dari luar masuk ke dalam kelas dan dengan cepat masuk ke mata Nirmala tanpa bisa dihindari. Dia kelilipan dan berusaha untuk mengucek matanya. Tapi Jeff menahan tangannya.


"Mala, jangan di kucek." Ucap Jeff sambil memegang tangan Nirmala.


"Tapi mata aku kelilipan." Kata Nirmala.


"Coba buka matamu, biar aku lihat." Ujar Jeff yang masih duduk di meja, sedangkan Nirmala duduk di kursi. Posisi mereka menjadi sangat dekat.


Jam istirahat sudah hampir habis, murid-murid mulai berjalan menuju ke ruang kelas. Anah, Salsa dan Ruby tergesa-gesa menuju ke kelas. Pintu kelas masih tertutup akibat terpaaan angin yang begitu kencang. Anah membuka pintu itu dan melihat Jeff seperti sedang berciuman dengan Nirmala.


"Mala ... Kau!" Hardik Anah.


Nirmala kaget.


"Anah, ini tidak seperti yang kamu lihat. Tolong jangan salah paham." Ucap Nirmala membela diri.


"Sudah akui saja, kalian berdua-duaan di dalam kelas dengan posisi seperti itu pasti sedang melakukan hal-hal yang tidak pantas kan?" Tanya Salsa memperkeruh suasana.


"Ini tidak seperti yang kalian bayangan. Jeff, kamu ngomong dong." Tukas Nirmala.


"Hah ...." Jeff menghela napas dan justru diam saja. Dia malah merasa senang jika Anah dan Salsa berpikir mereka berciuman.


"Sudah tertangkap basah, masih berkelit." Tegas Salsa lagi.


Anah tidak bisa berkata apa-apa lagi, wajahnya memerah menahan marah yang amat sangat dan cemburu menyaksikan adegan Nirmala dan Jeff seperti sedang berciuman. Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi, tapi hiruk pikuk berita ciuman Nirmala dan Jeff masih terus di perbincangkan hingga seorang guru BK datang ke kelas.


Niat dari guru itu ingin menggeledah tas murid-muridnya, untuk memastikan mereka tidak ada yang membawa benda-benda terlarang. Tapi belum selesai dengan masalahnya, kini guru BK mendapat pengaduan masalah baru lagi.


"Ada apa ini ramai sekali." Kata guru BK saat masuk ke dalam kelas yang hiruk pikuk itu.


Serentak murid-murid menjawab, " Jeff dan Nirmala berciuman Pak."


Sweet ... Sweet ...


Kelas menjadi sangat gaduh, mereka tertawa dan bersiul. Bahkan ada salah seorang murid yang bertanya pada Jeff.


"Bagaimana Jeff rasanya? Manis kah? Hahahaha ...."


Jeff hanya tersenyum miring. Tirta pun termakan oleh gosip yang sedang ramai itu. Dia merasa terbakar api cemburu walaupun tidak berusaha untuk menampakkannya.


"Nirmala! Jeff ...! Kalian Ikut bapak ke ruang BK, sekarang!" Pak Guru terlihat sangat marah, dia bahkan belum sempat menggeledah tas murid-muridnya.


Menurutnya urusan Nirmala dan Jeff jauh lebih penting karena itu berkaitan dengan moral dan nama baik sekolah. Sesampainya di ruang BK, Nirmala mendapat banyak ceramah dari gurunya.


"Nirmala, bapak kecewa sama kamu. Kamu itu siswi teladan, tidak seharusnya kamu melakukan hal itu. Pacaran di kelas apalagi sampai melakukan hal-hal yang tidak senonoh, itu jelas melanggar norma dan peraturan sekolah."


"Tapi Pak, kami tidak melakukan itu." Ucap Nirmala membela diri.


"Bapak tidak mau dengar ya Nirmala, kalian sudah tertangkap basah tapi masih mengelak. Apa perlu bapak panggil orang tua kalian ke sini?"


Berbeda dengan Nirmala yang merasa malu dan tidak terima dengan sangkaan teman-temannya dan juga gurunya, Jeff malah terlihat sumringah.


Bagus lah kalau mereka mengira aku sedang berciuman dengan Nirmala. Akan lebih bagus kalau Kevin juga mendengarnya. Batin Jeff.


"Jeff, kenapa kamu malah senyum-senyum? Kalian masih anak sekolah, seharusnya kalian mikir belajar, apalagi sebentar lagi kalian juga akan ujian. Jangan berbuat yang macam-macam." Lanjut guru BK itu panjang lebar.


"Pak, kami tidak melakukan apa-apa. Kalau Bapak tidak percaya, Bapak bisa cek cctv." Sahut Nirmala masih mencoba membela diri.


"Mala, cctv di kelas kita sedang rusak." Tukas Jeff mengingatkan.


Ya ampun, sekolah elit seperti ini cctv rusak kenapa tidak segera di perbaiki. Sangat memalukan. Batin Nirmala.


"Kalian mengerti kan? Kalau perbuatan yang kalian lakukan itu salah?"


Nirmala sudah pasrah dan tidak berusaha untuk membela diri lagi, percuma. Dia menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Gosip yang beredar hari ini benar-benar level dewa. Guru BK lagi-lagi memberi kertas perjanjian agar mereka menandatangi, tapi untuk Jeff karena dia hari ini membuat kesalahan berulang, dia mendapat surat peringatan untuk di serahkan kepada keluarganya.


Tidak cukup sampai di situ, guru BK memberi hukuman kepada keduanya untuk membersihkan gudang sekolah sampai jam pelajaran usai. Guru BK tidak melepaskan mereka begitu saja, dia menjadi mandor dan memastikan Nirmala juga Jeff benar-benar membersihkan gudang. Kurang lebih dua jam mereka membersihkan gudang hingga terdengar bel tanda pulang sekolah.


Mereka kemudian berhenti mebersihkan gudang dan berjalan masuk ke ruang kelas untuk mengambil tas masing-masing. Nirmala mendekati Anah dan mencoba menjelaskan kejadian yang sebenarnya, tapi Anah tidak mau dengar. Dia mendorong Nirmala dan pulang bersama dengan Salsa serta Ruby. Nirmala mematung dan masih tidak percaya dengan kejadian yang menimpanya hari ini. Jeff menghampiri dan mengagetkannya.


"Ayo pulang." Ajaknya.


"Kau pulang saja duluan." Kata Nirmala yang kemudian berjalan dan duduk kembali di kursi dekat dengan pintu kelas, ia berusaha menepis kekalutanya.


"Maaf." Ucap Jeff.


Jeff hanya tersenyum. Mana mungkin dia akan mengatakan yang sebenarnya, karena gosip yang beredar ini sangat menggembirakan hatinya. Tidak mungkin dia akan merusak kebahagiaan nya sendiri.


Sepertinya aku egois. Batin Jeff.


Nirmala menelungkupkan kepalanya di meja. Jeff masih terus berada di sampingnya dan enggan untuk beranjak meninggalkannya sendiri. Ternyata Tirta masih belum pulang, dia menguping pembicaraan Jeff dan Nirmala dari balik pintu. Kebetulan Nirmala dan Jeff duduk tepat di bangku samping pintu sehingga Tirta bisa mendengarnya dengan jelas. Dia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merekam pembicaraan mereka.


Setelah mendapat rekaman sesuai dengan apa yang dia inginkan dan mengetahui kebenarannya, dia kemudian pergi menemui guru BK.


Untung saja belum terlambat. Batin Tirta saat melihat guru BK baru keluar dari ruang kantornya. Tirta mempercepat langkahnya.


"Pak!" Seru Tirta.


"Kenapa kamu tergopoh-gopoh seperti itu?" Tanya guru BK penasaran.


"Nirmala tidak bersalah, bapak bisa dengarkan ini." Tirta kemudian memutar rekaman bukti percakapan Nirmala dan Jeff.


Setelah mendengar bukti rekaman itu, guru BK jadi merasa bersalah karena sudah menuduh Nirmala dan tidak mau mendengarkan penjelasannya.


"Baik, Tirta terimakasih atas informasinya." Guru BK itu lalu pergi.


Tirta merasa lega sekaligus senang karena bisa membantu Nirmala walau tanpa sepengetahuannya. Tiba-tiba Bharata datang mendekat.


"Kau kemana saja?" tanya dia.


"Tidak kemana-mana. Ayo pulang." Jawab Tirta kemudian merangkul sahabatnya dan berjalan beriringan menuju ke parkiran.


Nirmala masih menelungkupkan wajahnya di temani Jeff.


"Mau sampai kapan kamu menyembunyikan wajahmu?" tanya Jeff.


"Kau pulang lah, Jeff. Jangan ganggu aku." Ucap Nirmala.


"Aku tidak mungkin bisa pulang dengan tenang melihat kondisi kamu yang seperti ini." Jawab Jeff memberi perhatian.


"Aku seperti ini gara-gara kamu."


"Aku kan sudah minta maaf." Ujar Jeff membela diri.


Nirmala kemudian mulai mengangkat wajahnya dan beranjak pulang, dia melihat sekeliling sekolah sudah sepi.


"Kali ini aku merasa aman. Tapi bagaimana aku menghadapi hari esok." Batinnya mulai berkecamuk tidak karuan.


Dia berjalan keluar mulai meninggalkan sekolah, Jeff pergi ke arah berlawanan untuk mengambil motornya di parkiran. Kemudian menyusul Nirmala yang sedang berjalan dengan gontai.


Sesampainya di pintu gerbang sekolah, Nirmala menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Pakde Slamet masih belum datang ya?" Gumamnya lirih saat mendapati pakde Slamet belum menampakkan batang hidungnya.


Tiba-tiba Jeff sudah berada di sampingnya dengan mengendarai motor kesayangan.


"Ayo naik." Ajak Jeff.


"Bentar lagi hujan loh, langit sudah sangat mendung dan gelap." Lanjutnya.


"Kamu pulang saja sendiri, nanti kalau ada yang lihat di kira kita ini benar-benar pacaran." Ucap Nirmala.


"Memang itu yang aku inginkan." Kata Jeff dengan pelan.


"Apa kamu bilang?"


"Tidak, tidak. Ayo buruan, keburu hujan loh." Sahut Jeff.


Tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan mereka. Kevin keluar dari mobil tersebut.


"Kevin?" Nirmala kaget karena dia tidak menyangka Kevin datang ke sekolah nya.


"Hai Jeff, hai Mala." Sapa Kevin.


Jeff membuang muka dan tidak mau menjawab sapaannya.


"Mala, aku datang untuk menjemput kamu. Ayo kita pulang sebelum hujan." Ajak Kevin.


"Nanti aku ceritakan di mobil kenapa pakde slamet tidak bisa jemput kamu." Lanjutnya.


"Aku pulang dulu ya Jeff." Ucap Nirmala.


"Jeff." Kevin kembali menyapa Jeff dengan ramah tapi Jeff masih bersikap angkuh dan tidak membalas sapaannya.


Nirmala dan Kevin kemudian masuk ke dalam mobil. Jeff masih terdiam didepan pintu pagar sekolah.


"Kevin, bisa tolong ceritakan kenapa pakde gak bisa jemput Mala?" tanya Nirmala penasaran.


Kevin kemudian menceritakannya dan Nirmala mengangguk tanda ia bisa mengerti. Langit semakin gelap, sesekali angin juga berhembus sangat kencang.


"Sepertinya hujan akan turun dengan derasnya. Kita langsung pulang saja ya?"


Nirmala mengangguk dan berkata, "iya."


Kevin menambah kecepatan mobilnya agar bisa segera sampai di rumah.


"Kevin, boleh aku bertanya sesuatu?"


"Tanyakan saja, Mala. Tidak usah ragu." Jawab Kevin.