Getaran Hati Nirmala

Getaran Hati Nirmala
Menikmati Waktu di Taman


Karena merasa bosan berada rumah. Nirmala memutuskan untuk pergi jalan-jalan. Dia lupa kalau dia baru saja pulang dari rumah sakit dan harus banyak istirahat.


Bosan kalau seperti ini terus dirumah, enakan jalan-jalan sore di taman.


Nirmala mulai keluar dari kamarnya, melewati tangga rumahnya dengan sangat pelan, berjalan terus ke depan dan tumben hari ini dia ingin pakde Slamet mengantarnya ke Taman.


"Pakde, apakah sedang sibuk?" Tanya Nirmala


Pakde Slamet terlihat sedang duduk santai sambil menikmati pisang goreng dan segelas teh hangat di samping mobil.


"Tidak Non, pakde lagi santai saja." Kata Pakde Slamet


"Kalau begitu, apa bisa Nirmala minta tolong? Tolong antar Nirmala ke Taman samping komplek ini ya Pakde?" pinta Nirmala.


"Siap Non." Kata pakde Slamet.


Pakde lalu mulai bangun dari tempat duduknya, mencari air kran untuk mencuci tangannya karena bekas minyak goreng. Maklum saja karena pakde makan gorengan dengan tangannya tanpa di bungkus daun atau tissu. Selesai mencuci tangan, pakde Slamet mengeringkannya dengan kain bersih barulah dia mulai sibuk mencari kunci mobil.


Mula-mula diam pakde Slamet ke dalam rumah lalu keluar lagi, kebingungan mencari kunci mobilnya. Sepertinya dia sudah mulai terkena pikun. Dia menggaruk-garuk kepalanya dan mencoba mengingat-ingat dimana dia meletakkan kunci mobilnya. Tiba-tiba Nirmala menunjukan sesuatu yang di bawanya.


"Pakde nyari ini?" Nirmala menunjukan kunci mobilnya kepada pakde Slamet.


"Walah Non, iya betul, hehehe ...." Pakde Slamet terkekeh.


"Kok bisa ada do Non kuncinya?" tanya Pakde Slamet.


"Nirmala melihatnya ada di samping gorengan Pakde dari tadi." Kata Nirmala sambil menunjuk piring kosong bekas gorengan.


"Oh, pakde lupa Non. Hehehe ...." Pakde Slamet ngeles sambil terkekeh lagi.


"Ya udah Non, ayo kita berangkat sekarang."


Nirmala mulai masuk ke mobilnya. Mereka pun berangkat menuju ke Taman, tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di Taman karena jaraknya begitu dekat.


Nirmala kemudian turun dari mobil, sebelum turun dari mobilnya, dia berpesan kepada pakde Slamet agar nanti dia bisa menjemputnya pada saat mau pulang kerumah.


"Terimakasih Pakde, nanti Nirmala telepon kalau sudah ingin pulang."


"Siap Non."


Pakde Slamet pun pergi, sedangkan Nirmala mulai berjalan-jalan di sekitar Taman. Menikmati dengan santai suasana sore hari yang menenangkan dan menyenangkan hati juga pikiran. Nirmala melihat beberapa bunga yang mulai bermekaran, tanaman hijau yang menyedapkan mata, kupu-kupu yang berwarna warni terbang kesana kemari dan capung juga terlihat beterbangan di atas sungai yang mengalirkan air yang jernih.


Sungguh menambah keindahan pemandangan di Taman sore itu. Nirmala terus berjalan menyusuri sungai kecil dengan air yang mengalir begitu jernih. Terlihat dia sangat menikmati ciptaan Yang Maha Kuasa. Betapa tidak, dia kini mulai duduk dan melepas sepatunya. Memasukan kaki ke sungai yang sangat dangkal itu. Benar-benar menikmati indahnya sore. Menikmati alam semesta yang begitu penuh pesona dan menentramkan hati juga jiwa.


Sambil meng goyang ngilang kan kakinya, dia menciprat-cipratkan air sungai itu ke daratan. Tidak ada seorang pun disana, sehingga Nirmala tidak perlu mengkhawatirkan cipratan airnya akan mengenai seseorang. Sangat menyenangkan menurutnya.


Sore ini terlihat sangat indah, indah seperti biasanya. Langit sore yang berwarna kuning dan akan berubah menjadi merah menjelang maghrib. Nirmala masih asyik meng goyang-goyangkan kakinya di air sambil memandang ke arah langit sore.


Tuhan, aku bersyukur untuk nikmat yang senantiasa Kau beri untukku. Betapa banyak keindahan di alam semesta yang Engkau ciptakan untuk manusia di muka bumi ini. Semoga Engkau memasukan aku kedalam golongan orang yang bersyukur. Aamiin


Nirmala melihat matahari yang mulai malu-malu memancarkan sinarnya, hampir tenggelam dan bersembunyi di balik pohon-pohon yang rindang. Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata. Di tambah suara gemercik air sungai dan hembusan angin, menambahkan kenikmatan yang tiada tara.


Saat Nirmala sedang menikmati indahnya sore di antara pepohonan. Tiba-tiba Nirmala mendengar keributan. Seperti suara remaja yang sejak bertengkar, tidak bertengkar hebat. Hanya adu mulut saja, tapi suaranya memekik di telinga dan mengusik ketenangannya.


Nirmala kemudian menghentikan ayunan kakinya pada sungai itu. Dia kemudian beranjak berdiri dan tidak lupa memakai sepatunya kembali lalu berjalan menuju ke arah sumber suara keributan itu. Dia semakin mempercepat langkahnya agar bisa melihat ada apa di balik keributan kecil itu. Ternyata dia melihat Salsa, Ruby dan teman dekatnya, Anah sedang bersama di taman itu. Mereka duduk beralaskan tikar kecil dan terlihat juga ada beberapa buku dan makanan ringan.


Nirmala semakin mendekati mereka dan mendengar dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sebenarnya sedang mereka ributkan.


"Eh, emangnya aku seneng apa liat kamu disini!?" teriak Salsa sambil melotot ke arah Anah.


Anah tidak mau kalah begitu saja dari Salsa, dia pun membalas teriakan Salsa dan berteriak lebih keras hingga membuat Salsa menutup telinganya. Nirmala pun tak kuasa mendengarnya, dia seketika ikut menutup telinganya karena Anah berteriak keras sekali. Lebih keras dari Salsa.


"Aku juga ogah duduk bareng kamu disini!" teriak Anah.


Ruby pun menutup telinganya dengan tangan kanan yang masih membawa buku tulis. Sambil memegang telinga, Ruby mencoba untuk bicara dengan Anah dan Salsa, bicara dengan tenang.


"Anah, Salsa udah dong. Kalian jangan berantem terus, kalau kalian berantem terus kapan PR kita selesai?" Kata Ruby sambil menunjukan PR yang belum di kerjakan satu pun, padahal mereka sudah cukup lama berada di sana.


Baru saja Ruby selesai bicara, mereka kembali ribut. Sama sekali tidak mengindahkan kata-kata Ruby, kata-kata Ruby hanya di anggapnya angin lalu yang selepas datang berhembus lalu menghilang tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.


Ruby mulai terlihat putus asa dengan perilaku teman-temannya itu dan memutuskan untuk diam saja. Mereka pun melanjutkan keributan nya.


"Apa! apa?!" Salsa melotot ke arah Anah.


"Apaan sih, rese aja!" balas Anah melotot ke arah Salsa tidak mau tertindas.


Melihat kejadian itu, Nirmala bergegas mempercepat langkahnya menuju ke sumber suara. Mendekati mereka bertiga yaitu Salsa, Ruby dan Anah.


"Kalian kenapa ribut?" Kata Nirmala mengejutkan mereka.


"Nirmala." Anah terkejut lalu berlari menuju ke arah Nirmala.


"Kamu ngapain di sini? Terus tadi kenapa gak masuk sekolah? Apa benar kamu pulang kampung?" Anah membombardir pertanyaan kepada sahabatnya yang baru saja datang itu.


Datang tanpa undangan dan tidak terduga.


"Satu-satu Anah, pertanyaan kamu terlalu banyak dan membuat aku tidak bisa menjawabnya." Kata Nirmala.


Salsa yang melihat kedatangan Nirmala nampak ingin sekali menghinanya. Salsa memang dari dulu tidak pernah berubah, setiap kali melihat Nirmala bawaannya pingin menghina terus. Tapi Nirmala tidak pernah menanggapi hinaannya itu.


"Kebetulan ada anak pembantu, bantu kerjakan PR kami, cepat!" Perintah Salsa kepada Nirmala yang baru saja datang.


Salsa memang tidak punya sopan santun. Batin Nirmala.


Ruby merasa tidak enak akan sikap teman dekatnya itu yang tidak pernah mau menghargai Anah. Tapi Ruby tidak berani berbuat apa-apa, dia hanya diam saja. Sementara itu, Anah hanya tersenyum saja dan merasa sangat senang dengan kehadiran Nirmala. Karena Nirmala pasti bisa mengerjakan PR nya dengan cepat dan dia tidak perlu ribut-ribut lagi dengan Salsa. Anah kemudian memohon dengan mimik wajah memelas tapi imut mencoba merayu agar Nirmala mau membantunya.


"Please ... Nirmala, please ya? bantuin ngerjain PR aku, please ... please ...." Kata Anah memohon agar Nirmala mau membantunya.


Nirmala mulai duduk bersama mereka, membantu mengerjakan PR, sekalian dia juga bisa bertanya ada tugas apa saja dari sekolah. Mengingat dia tidak mau sekolah hari ini. Anah kemudian memberitahu Nirmala tugas mana saja yang harus di kerjakan. Nirmala meminta Anah dan Salsa untuk ikut mengerjakan PR nya, tapi sepertinya itu tidak mempan. Anah dan Salsa sama sekali tidak mau menengok buku mereka, hanya Ruby yang mau ikut mengerjakan.


Nirmala fokus mengerjakan PR bersama Ruby, sementara Salsa dan Anah masih melanjutkan pembicaraan omong kosong mereka yang berakhir pada rusaknya bando Anah. Salsa mengambil dengan paksa bando yang sedang di kenakan oleh Anah pada rambutnya yang sudah di sisir rapi, dia mematahkan bando Anah dengan sengaja dan itu membuat Anah menangis dan menjadi semakin marah.


Anah lalu mengacak-ngacak rambut Salsa sebagai balasan atas perbuatan Salsa yang tidak bertanggung jawab, seenaknya saja mematahkan bando milik orang lain. Benar-benar perbuatan yang tidak patut untuk di contoh. Anah kemudian meminta agar Salsa menggantinya dengan yang baru. Tapi Salsa tidak mau peduli, Salsa merasa senang karena sudah merusak barang milik orang lain.


"Kamu tahu gak sih, ini belinya di Korea tahu." Kata Anah sambil terus menangis.


"Ya elah, cuma gitu aja belinya sampai korea, noh di pasar tanah abang juga banyak. Lagian pake nangis segala, lebay. Tinggal beli lagi aja beres." Kata Salsa membela diri.


"Kamu bukannya minta maaf malah mengejekku." Anah kembali menarik rambut Salsa.


"Aduh ... aduh ... Anah lepasin rambut aku sakit." Kata Salsa.


Anah lalu melepaskan tangannya.


Terlihat Nirmala dan Ruby sudah selesai mengerjakan tugasnya.


"Terimakasih Nirmala, berkat kamu PR nya jadi cepat selesai." Kata Ruby


"Ruby, kamu apa-apaan. Ngapain berterimakasih sama anak pembantu itu." Kata Salsa


Salsa dan Ruby kemudian membereskan buku-bukunya dan bergegas pergi.


"Bye." Kata Salsa sambil mengangkat tangan kanannya ke depan wajah Anah, sangat dekat dengan wajah Anah hingga membuat Anah spontan mundur.


Salsa langsung berlari bersama dengan Ruby. Dia tertawa bahagia setelah membuat Anah marah dan kesal.


Anah yang kesal lalu melepas sepatunya dan melemparkan ke arah Salsa tapi sayang lemparannya meleset dan justru mengenai orang lain.


"Aduh." Seseorang yang tanpa sengaja terkena lemparan sepatu Anah mengalami sedikit sakit di punggung.


"Sepatu siapa ini?"


Anah yang tahu kalau lemparannya meleset bersembunyi di belakang Nirmala dan menyuruh Nirmala untuk mengambilkan sepatunya.


Anah mendorong maju Nirmala sampai ke tempat korban sepatu Anah. Mengejutkan karena ternyata orang itu adalah Bharata. Bharata dan Tirta sedang berada di Taman, mereka juga sedang mengerjakan PR sekolah.


"Ya ampun, kamu rupanya, sini balikin sepatu aku." kata Anah sembari merebut sepatunya dari tangan Bharata.


"Jadi itu sepatu kamu? Kamu ini bukannya minta maaf malah marah-marah." Kata Bharata


"Anah, ayo minta maaf." Kata Nirmala


"Iya, iya maaf." Kata Anah sambil mengulurkan tangannya ke Bharata.


Bharata menyambut tangan Anah dan lama tidak melepaskannya.


Tirta yang melihatnya justru yang melepas kedua tangan mereka.


"Tidak usah lama-lama jabat tangan nya." Kata Tirta.


Mereka sekarang berempat di Taman, duduk di kursi taman sambil bercanda ria. Tertawa sambil makan juga. Kebetulan Bharata membawa banyak makanan.


Tak terasa matahari sudah mulai menyembunyikan sinarnya. Hari mulai gelap, Anah pulang terlebih dahulu. Disusul Tirta dan juga Bharata. Kini Nirmala hanya sendiri saja. Dia menelepon pakde Slamet agar bisa segera menjemputnya.


Tak lama kemudian pakde slamet sudah sampai di Taman. Nirmala lalu naik ke mobil dan berbincang-bincang dengan pakde Slamet mengenai Kevin.


"Non, Ko Kevin ganteng banget ya Non? udah ganteng, baik lagi." Kata pakde Slamet


"Pakde ini sebenarnya mau ngomong apa sih pakde?" Kata Nirmala


"Si Non ini gak usah ditutup-tutupin Non, kemarin Non gak pulang kemana hayo? sama Ko Kevin kan Non? ngaku aja Non."


"Pakde ini," Nirmala tidak menanggapi pertanyaan-pertanyaan pakde Slamet.


Tidak lama kemudian, mereka sudah sampai dirumah.


"Udah sampai pakde, terimakasih." Kata Nirmala


Nirmala turun dari mobil, saat baru sampai pintu rumahnya dia kaget karena Kevin ada di sana. Nirmala menoleh ke arah pakde Slamet, Pakde Slamet hanya senyum-senyum saja dan pura-pura tidak tahu. Padahal sebelum menjemput Nirmala tadi, Kevin memang sudah ada dirumahnya dan pakde Slamet sudah tahu hal itu.


"Kamu ada disini?" Tanya Nirmala


"Iya, kenapa? kamu tidak suka aku disini? kalau begitu aku pulang saja." Kata Kevin


"Bukan begitu Kevin, aku kaget aja karena kamu gak bilang-bilang mau datang." Kata Nirmala


"Dari dulu apa aku pernah bilang kalau mau datang kerumah kamu?" Tanya Kevin sambil menebarkan senyumannya.


"Iya enggak sih, ayo masuk." Nirmala mengajak Kevin untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Aku belum sholat maghrib." Kata Nirmala


Nirmala izin untuk menjalankan sholat maghrib, sementara itu Kevin menunggunya di ruang tamu. Selesai sholat, Nirmala turun menemui Kevin. Mereka berbincang-bincang dengan santai. Pakde slamet mengintip mereka dari balik dinding di sebelah ruang tamu. Bi Sona yang melihat perilaku pakde Slamet langsung menjewer kuping pakde.


"Nguping, ngapain sih pakde nguping-nguping, ngintip-ngintip mereka?" Kata Bi Sona.


Pakde Slamet yang kesakitan karena kuping nya di tarik oleh bi Sona hanya mengatakan aduh-aduh saja. Nirmala yang tanpa sengaja mendengar pakde Slamet kesakitan menuju ke arah pakde Slamet dan Bi Sona.


"Ada apa Bi?" Tanya Nirmala.


"Gak ada apa-apa Non." Kata Bi Sona.


Nirmala lalu kembali ke ruang tamu dan duduk bersama Kevin.