
Sore itu Nirmala menuju ke sebuah Taman yang sudah ditentukan oleh Jeff. Dia datang ke sana hanya demi sahabatnya, Anah yang sangat terobsesi oleh ketampanan Jeff.
Anah sudah kehilangan akal, lelaki seperti Jeff saja bisa membuatnya sangat terobsesi. Lagipula dia seumuran ku, masih remaja dan masa depan masih sangat panjang hanya untuk memikirkan soal cinta. Cinta monyet anak SMA. Andai Anah bukan temanku, aku tidak sudi menemui Jeff disini.
30 menit sudah berselang, tapi tidak ada tanda-tanda kehadiran pria arogan itu.
Dia pasti mengerjai ku lagi, dulu dia pernah melakukannya. Betapa bodohnya aku, masih saja percaya padanya. Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi, aku harus pergi sekarang.
Nirmala bangun dari tempat duduknya dan beranjak untuk pergi, saat dia baru melangkah. Dia mendengar suara orang sedang berjalan mendekatinya. Sekarang suara itu seperti tepat ada di belakangnya.
Mau pergi kemana kau?.
Suara itu terdengar jelas. Nirmala menoleh ke belakang dan ternyata itu Jeff.
"Duduk." Jeff menyuruh Nirmala untuk duduk di kursi kembali.
Mereka duduk berdua dan Jeff tanpa basa-basi menyodorkan sebuah kertas.
"Apa itu?" tanya Nirmala.
"Surat perjanjian damai." kata Jeff.
Nirmala merebut surat itu, dia membacanya. Setelah membacanya, rasanya dia ingin melempar kertas itu ke wajah Jeff. Tapi dia harus menahan emosinya.
"Pikirkan baik-baik, aku tidak pernah main-main dengan ucapan ku. Aku tunggu jawabanmu besok sore di tempat ini, pada jam yang sama. Jawabanmu akan menentukan masa depan Anah," Selesai berkata seperti itu, Jeff melangkah pergi meninggalkan Nirmala yang masih duduk terdiam.
Orang itu benar-benar membuatku muak. Dia pikir dia itu siapa bisa seenaknya membuat perjanjian yang tidak masuk akal. Tapi demi Anah, hanya demi Anah.
Nirmala mulai mengatur nafasnya, dia tidak boleh selemah itu. Apalagi hanya menghadapi seorang Jeff. Ayahnya sering berpesan agar dirinya menjadi wanita yang tangguh.
Kalau saja Jeff tahu aku ini siapa, dia pasti tidak akan berani melakukan ini padaku.
Setelah mengatur nafas panjang, Nirmala mulai berjalan pulang menuju ke rumahnya. Rupanya sedang ada tamu, Anah menunggunya di depan pintu. Duduk dan terlihat berbeda, lebih ceria seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Anah langsung menyambut kedatangan Nirmala. Dengan terburu-buru dia menanyakan perkembangan tentang pria incarannya itu.
"Bagaimana Mala? apa kamu berhasil untuk membuat Jeff mau minta maaf padaku?" Tanya Anah sangat buru-buru.
"Belum," Jawab Nirmala singkat.
"Hm ... sudah ku duga kamu tidak akan berhasil," Lanjut Anah.
"Besok akan aku usahakan lagi." Lanjut Nirmala.
"Ya sudah aku tunggu besok saja, kau harus berusaha lebih giat lagi untuk meyakinkan Jeff."
"Jika tidak, maka tamatlah riwayatku. Aku tidak bisa hidup tanpanya." Anah masih saja bersikap seolah-olah Jeff adalah malaikat pencabut nyawa.
"Masih banyak laki-laki lainnya yang lebih baik daripada Jeff, lagi pula Jeff itu bukan orang yang baik. Dia amat temperamen, jika kamu hidup bersamanya, kamu pasti akan menderita seumur hidupmu." Nirmala mulai memberi nasehat untuk temannya itu, berharap temannya bisa menghentikan kegilaannya itu, berhenti mengharapkan Jeff.
"Nirmala, kamu tidak akan pernah tahu. Kamu tidak akan pernah mengerti, jika kamu merasakan perasaan seperti yang aku rasakan, kamu baru bisa mengerti." Anah benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya.
"Pokoknya besok kamu harus bisa membuat Jeff bertekuk lutut di hadapanku," Anah melanjutkan kata-katanya.
Nirmala menghela nafas lagi, memperbanyak istighfar melihat kelakuan sahabatnya itu. Nirmala masih tidak habis pikir, remaja yang sedang di mabuk cinta ini tidak sadar sedang membahayakan masa depannya. Nirmala terus menguatkan diri dan selalu teringat ucapan ayahnya agar menjadi orang yang lebih tangguh.
Anah yang sedang di mabuk asmara itu tiba-tiba memegang ponselnya dan mencari nama seseorang. Tertulis sebuah nama di sana di ponsel Anah, Jeff Sayangku. Anah menekan nama itu di ponselnya.
Rupanya dia melakukan panggilan ke kontak nomor yang di tuju.
Jeff memperhatikan teleponnya. Ada panggilan masuk.
Dari wanita gila itu.
Jeff langsung mematikan panggilan masuk dari Anah dan menulis pesan singkat.
Jangan pernah mengganggu hidupku lagi.
Anah sangat kecewa dan memperlihat kan isi pesan singkat itu kepada Nirmala. Dia lantas menyalahkan Nirmala karena tidak bisa membujuknya untuk minta maaf.
Ya ampun Anah ini, cuma kalimat begitu saja sudah membuatnya galau seperti dunia mau runtuh.
"Sudahlah Anah, tidak usah terlalu di pusingkan. Dia memang seperti itu orangnya, kasar dan arogan." Ucap Nirmala.
"Kamu jangan terus-terusan menghina Jeffku," Anah masih saja membela pria yang tidak sepantasnya mendapatkan perlakuan yang begitu spesial dari Anah.
Nirmala memegang dahi Anah, mencoba memeriksanya apakah Anah baik-baik saja atau mungkin karena kejadian penculikan itu membuat pikiran Anah jadi bermasalah.
Anah memandang sahabatnya itu, dia pun membalas memegang dahi Nirmala. Dan mengatakan kalau Nirmala harus segera minum obat, otaknya ada yang tidak beres. Nirmala membalas dengan mengatakan bahwa yang otaknya tidak waras itu Anah. Mereka bercanda dan tertawa saling mengatakan tidak beres satu sama lain. Di barengi dengan lari-larian kecil di sekitar ruang tamu. Begitu kalau mereka sedang bercanda.
"Nirmala, majikanmu tidak ada dirumah?" Tanya Anah.
"Mereka tidak pernah ada dirumah, ayo lanjutkan lagi bercandanya," Nirmala memukul Anah dengan bantal sofa.
Mereka bercanda saling lempar bantal sofa dan tidak sengaja lemparan Anah mengenai pakde Slamet yang lewat tanpa permisi.
"Ups ... " Anah menutup mulutnya.
"Maaf Pak," Anah meminta maaf kepada pakde Slamet.
"Tidak apa-apa Non, teruskan saja mainnya," Kata Pakde Slamet.
Mereka meneruskan mainnya, hingga ....
Prankkk .... krak .
Terdengar bunyi vas bunga yang pecah. Bi Sona yang berada di dapur langsung datang ke ruang tamu.
"Nirmala, bagaimana ini?" Anah ketakutan karena tanpa sengaja memecahkan vas bunga yang bernilai puluhan juta itu.
"Anah, kau harus menggantinya, kalau tidak majikan ku akan marah nanti," Nirmala sengaja menakut-nakuti Anah.
Padahal orang tuanya tidak pernah mempermasalahkan segala sesuatu tentang benda-benda dirumahnya. Bi Sona juga berkali-kali memecahkan perabot senilai puluhan juta rupiah tapi orang tuanya tidak pernah marah atau mempermasalahkan nya.
Bi Sona datang membersihkan vas bunga yang pecah tanpa berkata sepatah katapun. Sama sekali tidak mengingatkan mereka untuk bermain secara hati-hati. Mana mungkin bi Sona memperingatkan mereka, sedangkan Nirmala tahu kalau bi Sona selalu ceroboh pada saat bersih-bersih rumahnya.
"Bi, kira-kira itu berapa harganya?" tanya Anah kepada Bi Sona.
"Mungkin sekitar 12 jutaan Non," Kata Bi Sona.
Ya ampun mahal sekali, pikir Anah. Dia tentu tidak ingin Nirmala dalam masalah, kalau majikannya sampai tahu. Nirmala bisa di marahi dan mungkin orang tuanya akan di pecat. Anah terdiam dan berfikir, dia mulai menghitung tabungannya. Dia mengecek saldo di rekening bank nya, dia terbiasa menyisihkan uang jajan yang di berikan orang tuanya dan menyimpannya di tabungan.
"Belum cukup, uangku hanya tersisa 7 juta," Anah mengatakannya dengan perasaan sangat menyesal.
Nirmala terlihat sedikit puas sudah mengerjai sahabatnya itu.
"Bagaimana ini Anah, kalau vas bunga nya tidak di ganti. Aku dan orang tuaku bisa di pecat. Nanti siapa yang akan membantu kamu untuk bersatu dengan Jeff?" Nirmala masih saja terus menakut-nakuti Anah.
"Uangku tidak cukup," Kata Anah.
"Bagaimana kalau kita belikan saja vas palsu, vas yang mirip dengan aslinya. Aku tahu tempatnya." Nirmala memberikan ide konyol itu, Anah menyetujuinya.
Mereka pergi ke suatu tempat di pasar tradisional. Anah terlihat jijik menginjakkan kaki di sana, apalagi tempatnya sangat ramai dan berdesak-desakan. Bau orang-orang yang lalu lalang di pasar itu membuat Anah ingin muntah. Nirmala yang sudah terbiasa ikut Bi Sona belanja dipasar tidak terlihat bermasalah sama sekali.
"Nah ini dia tempatnya," Nirmala menemukan tempat penjual vas bunga.
Mereka mendekat dan melihat-lihat, tidak lama kemudian Nirmala sudah menemukan vas yang mirip dengan vas yang baru saja di pecahkan oleh Anah.
"Nirmala, kamu yakin? bagaimana kalau majikan kamu sampai tahu?" Anah masih tidak yakin.
Nirmala hanya tersenyum.
"Ada yang bisa kami bantu Kak?" Seorang pelayan toko menawarkan bantuan.
"Saya ingin vas yang ini, bungkus ya?" Nirmala menunjuk satu vas.
"Ini harganya sangat mahal loh kak, kakak yakin mampu membelinya?" kata pelayan toko itu.
"Hai ...! apa kami terlihat seperti orang miskin?!" Anah mulai emosi.
Nirmala mencoba menenangkan Anah, tapi tidak berhasil.
"Berapa harganya, cepat katakan!" Anah mulai tidak sabaran.
Anah memang cocok dengan Jeff, mereka sama-sama tidak bisa mengendalikan emosi.
"425 ribu," Jawab pelayan toko itu.
"Aku bayar 500 ribu, ambil saja kembaliannya," Anah menyodorkan uang 500 ribu.
Berani sekali pelayan toko itu menghina ku. Begitu kata Anah dalam hatinya.
Pelayan itu dengan segera membungkus vas bunga. Padahal harganya masih bisa ditawar tapi Anah malah memberinya lebih. Mereka segera pulang kerumah dan meletakkannya di meja ruang tamu. Setelah meletakan vas itu, Anah berpamitan untuk pulang. Anah masih tidak percaya kalau ini akan berhasil, dia khawatir kalau majikan Nirmala sampai mengetahui dan memecat Nirmala.