Getaran Hati Nirmala

Getaran Hati Nirmala
Ekspresi Cinta


Sore ini Kevin tampak sedang bersiap-siap untuk pergi. Sebelum pergi, dia berniat mampir ke rumah Nirmala terlebih dahulu. Kebetulan, seharian tadi dia sibuk di dapur membuat kue. Kue lidah kucing kesukaan Nirmala, dia sudah mempelajari nya cukup lama. Bahkan secara diam-diam dia belajar khusus untuk membuat kue itu. Dia berharap Nirmala akan menyukainya, biar bagaimanapun dia sudah 3 bulan mempelajarinya.


"Mudah-mudahan Nirmala suka kue ini." Batin Kevin sambil menata satu persatu kue itu di tupper ware.


Masih panas jadi tidak perlu di tutup, dan sebaiknya aku antarkan segera.


Kevin lalu berjalan ke rumah Nirmala sambil membawa kue itu dengan tutup yang sedikit terbuka. Setibanya di rumah Nirmala, dia bertemu dengan Pakde Slamet.


"Selamat sore pakde." Ucap Kevin saat melihat pakde sedang mencuci mobil.


Pakde sudah tahu kalau Kevin datang pasti untuk mencari Nirmala. Pakde sangat tahu persis perasaan Kevin dan pakde juga terkadang menggoda Kevin. Biar bagaimana pun, pakde Slamet juga pernah muda tentunya dan pernah merasakan apa yang saat ini di rasakan oleh Kevin.


"Den bagus, mari masuk Den, Non Nirmala ada di dalam." Kata pakde Slamet sambil mempersilahkan Kevin masuk.


"Gak usah masuk pakde, disini saja." Kata Kevin.


Kevin tidak berniat untuk berlama-lama karena dia ingin menemani sahabatnya ke bandara. Dia hanya ingin Nirmala bisa mencicipi kue buatannya selagi hangat.


"Ya sudah kalau begitu biar pakde panggilkan Non Nirmala ya."


"Gak perlu, gak usah pakde, tolong sampaikan ini saja buat Nirmala." Kata Kevin.


Tiba-tiba Nirmala keluar dan melihat Kevin datang.


"Hm ... baru datang sudah mau pergi aja." Kata Nirmala sambil memandang kue yang masih di tangan Kevin.


"Maaf Mala, hanya mau ngasih ini, semoga kamu suka." Kata Kevin sambil menyodorkan tupper ware ke tangan Nirmala.


"Wah ... Aku pasti suka, makasih ya." Kata Nirmala sambil tersenyum.


"Kalau begitu, aku permisi dulu. Assalamua'laikum."


"Wa'alaikumussalam." Jawab Nirmala dan pakde Slamet bersamaan.


Nirmala lalu berjalan hendak masuk ke dalam rumahnya sambil mencium aroma kue yang begitu lezat. Tiba-tiba pakde Slamet menghentikan langkahnya.


"Non ... Non Nirmala. Pakde ... Pakde bagi juga dong Non kue nya, kayaknya enak tuh Non." Ucap pakde Slamet sambil menunjuk ke arah kue lidah kucing.


"Maaf ya Pakde, yang ini khusus buat Nirmala. Pakde mendingan minta sama bi Sona." Kata Nirmala sambil melanjutkan langkahnya lagi meninggalkan pakde Slamet.


Nirmala masuk ke rumah dan meletakkan kue di meja lalu pergi ke dapur melihat bi Sona yang sedang membuat pisang goreng. Nirmala meminta beberapa pisang goreng bi Sona dan meletakannya di piring berbentuk daun berwarna hijau, persis seperti daun sungguhan.


Bi Sona mengira nafsu makan Nirmala sedang bagus sampai-sampai dia mengambil pisang goreng begitu banyak. Padahal Nirmala mengambil pisang goreng itu untuk pakde Slamet sebagai ganti kue lidah kucing.


Nirmala lalu ke depan menemui pakde Slamet lagi dan memberikan pisang goreng buatan bi Sona.


"Pakde, ini buat pakde." Kata Nirmala.


"Wah ... Mantul Non, mantap betul." Kata pakde Slamet sambil tertawa.


"Terimakasih ya Non." Ucap pakde.


"Iya pakde, sama-sama." Kata Nirmala.


Tiba-tiba bi Sona datang ke depan.


"Weleh ... Weleh ... Ternyata buat pakde to?"


"Pasti pakde kan yang nyuruh Nirmala buat ngasih ini ke pakde?"


"Enggak, siapa yang nyuruh. Orang Non Nirmala sendiri kok yang ngasih, ya non ya?" Kata pakde Slamet sambil menganggukan kepalanya dan melihat ke arah Nirmala.


"Iya bi, Nirmala sendiri yang ngasih." Kata Nirmala.


"Ya udah, Nirmala masuk dulu ya Bi, Pakde." Kata Nirmala sambil berjalan masuk ke rumah.


***


Di tempat lain, Kevin sedang menyetir mobilnya menuju ke rumah Chika. Dari dulu, Kevin memang selalu siap jika Chika meminta bantuan. Sore ini Chika meminta tolong agar Kevin mau menemaninya menjemput kedua orang tuanya di bandara. Sedangkan Jeff tidak mau melakukannya. Setiap libur sekolah, Jeff lebih senang menghabiskan waktunya di kamar tidur atau pergi nongkrong bersama dengan teman-temannya.


Tidak lama kemudian, Kevin sudah sampai di depan rumah Chika. Dia turun dari mobil dan memencet bel di rumah Chika. Terdengar bunyi Assalamua'laikum saat bel itu di pencet.


Jeff keluar untuk membukakan pintu. Saat pintu di buka, Jeff melihat pesaingnya ada di depan mata.


Buaya ini, berani sekali dia datang kemari.


"Ada perlu apa kesini?" Tanya Jeff ketus.


"Tidak mempersilahkan tamunya masuk terlebih dahulu, apa itu perbuatan yang sopan?" Kata Kevin balik bertanya.


"Untuk apa aku menyuruhmu masuk, duduk saja di teras." Kata Jeff sambil menunjuk teras rumahnya.


Terdengar langkah kaki Chika dari dalam, dia mendengar ada sedikit keributan di depan pintu.


"Kevin, apa itu kau?" Tanya Chika dari dalam rumah berjalan ke luar.


Jeff sangat kesal setiap kali melihat wajah Kevin.


"Sok ganteng." Kata Jeff.


Kevin hanya tersenyum.


"Apa kau sudah siap Chika?" Tanya Kevin kepada Chika yang kini ada di depannya.


"Sudah dong, ayo berangkat." Kata Chika.


"Jeff, kamu yakin gak mau ikut?" Tanya Chika.


"Udah sana kalian pergi." Kata Jeff kesal.


Chika dan Kevin bergegas pergi ke bandara. Di dalam mobil Chika yang merasa tidak enak atas perlakuan adiknya, mencoba meminta maaf kepada Kevin.


"Maafin adik aku ya?"


Kevin tersenyum.


"Tidak perlu di pikirkan." Jawab Kevin sambil terus menyetir.


Tidak lama kemudian mereka sampai di bandara. Ternyata kedua orang tua Chika sudah menunggu dari tadi.


"Mami, Daddy ...." Sapa Chika sambil berpelukan.


"Chika Sayang ...." Kata Ibunya sambil terus memeluk.


Chika terlihat begitu bahagia, Kevin juga senang bertemu dengan kedua orang tuanya. Kevin kemudian membantu membawakan koper mereka ke mobil. Mereka berjalan beriringan. Kevin memang sangat baik, dia juga sangat menghormati kedua orang tua Chika.


Sesampainya di mobil, mereka masuk dan Chika masih terus memeluk ibunya. Ayahnya duduk di depan di samping Kevin, sementara dia duduk di belakangnya bersama Ibu tersayang.


"Kamu pasti Kevin." Kata Ibu Chika menunjuk ke arah Kevin.


"Iya tante." Kata Kevin mengangguk sembari melempar senyum khasnya.


"Chika sering cerita tentang kamu." Kata Ibunya.


"Mami ...." Kata Chika malu-malu.


"Jeff kenapa gak kamu ajak?" Tanya ayahnya.


"Bukan gak mau ngajak Dad, Jeff nya yang nggak mau ikut." Jawab Chika.


Mereka terus berbincang-bincang di dalam mobil. Kedua orang tua Chika mengatakan kalau mereka sangat menyukai Kevin. Ibu Chika juga memuji ketampanan Kevin.


"Mami mengira Jeff anak Mami itu yang paling tampan, ternyata kakak iparnya jauh lebih tampan." Puji ibunya Chika.


Kevin yang sedang fokus menyetir, tiba-tiba menghentikan mobilnya. Dia mengerem dengan sangat mendadak membuat penumpang kaget.


"Maaf, maaf." Kata Kevin.


"Jadi kapan, kalian berencana untuk menikah. Kami sudah setuju, iya kan Dad?" Kata ibunya Chika sambil memandang ke arah suaminya.


"Iya." Jawab ayah Chika.


Chika memandang wajah Kevin, Chika tahu dari raut wajah Kevin, Kevin tidak suka dengan pembicaraan ini. Khawatir Kevin akan marah, Chika lalu menjawab pertanyaan ibunya.


"Mami, Mami ini bicara apa? kami ini hanya berteman saja." Kata Chika sambil terus melihat ke arah Kevin.


Kevin kembali melajukan mobilnya. Tidak mau membuat kedua orang tua Chika berharap lebih, Kevin mengatakan kalau dia sudah punya pilihan dan itu bukan Chika. Chika adalah sahabat terbaik nya. Mendengar perkataan Kevin yang seperti itu, membuat Chika kecewa, tapi sebenarnya Chika memang sudah tahu kalau Kevin tidak menyukainya dan lebih memilih Nirmala. Chika sudah tahu itu.


"Kalau begitu, kami minta maaf sudah salah paham." Ucap ibu nya Chika.


Kevin mengangguk dan tersenyum.


"Tidak apa-apa tante." Kata nya.


Akhirnya mereka sampai juga dirumah. Mereka turun dari mobil, Kevin juga ikut turun dan membantu menurunkan barang-barang mereka. Setelah itu Kevin berpamitan untuk pulang. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Nirmala dan menikmati kue buatannya.


"Tidak mampir dulu?" Kata ibu Chika.


"Tidak usah tante, lain kali saja. Terimakasih." Kata Kevin sambil sedikit membungkukan badannya.


"Seharusnya kami yang berterimakasih." Kata ayah Chika sambil menepuk pundak Kevin.


"Kalau begitu saya permisi om, tante. Chik, pulang dulu ya." Kata Kevin.


"Iya, hati-hati di jalan." Jawab mereka bersamaan.


Kevin kemudian masuk ke mobilnya dan segera berlalu dari pandangan Chika.


Chika yang awalnya sangat bahagia dan berharap Kevin akan membukakan pintu hatinya tiba-tiba terlihat sangat sedih. Kedua orang tuanya sudah masuk ke dalam rumah mencari Jeff, sedangkan Chika masih berada di luar. Hatinya remuk redam mengingat kata-kata Kevin saat di mobil tadi.


Hatinya yang hancur bagai di sambar petir siang hari membuat lubang kebencian, sangat dalam, bukan bersedih lagi yang dia rasakan saat ini, tapi lebih dari itu sebuah kebencian. Kebencian yang sangat dalam kepada Nirmala.


"Nirmala, gadis itu ...." Gumamnya sambil membayangkan wajah Nirmala yang ingin sekali dia cakar-cakar.


Chika mencoba mengatur nafasnya agar terlihat tenang sebelum dia masuk rumah. Kedua tangannya yang semula mengepal mulai dia buka. Wajahnya yang terlihat memerah sangat marah, sedikit demi sedikit kembali normal mengikuti perasaan hatinya. Dia memang pandai menyembunyikan segala sesuatunya. Ketika dia masuk ke dalam rumah, orang tuanya sama sekali tidak curiga, tapi Jeff melihat ada sesuatu yang di sembunyikan oleh kakaknya.


"Ada apa dengan kak Chika." Batin Jeff.


Jeff mengikuti kakaknya ke kamar.


"Kak," Sapa Jeff.


"Kakak kenapa?" Tanya Jeff lagi.


Chika tidak mau bicara dengan Jeff, dia menyuruh Jeff keluar dari kamarnya dan menutup pintunya. Jeff lalu pergi keluar berjalan sampai kedepan rumahnya. Sementara itu, kedua orang tuanya sedang beristirahat di kamar.


Tiba-tiba telepon Jeff berdering. Lagi-lagi Anah yang menelepon, biasanya Jeff akan menolak panggilan dari Anah tapi kali ini dia mengangkatnya.


"Hallo Anah, ada apa?"


"Jeff, suara kamu merdu sekali." Kata Anah.


Astaga. Batin Jeff.


"Ada apa sebenarnya? Jika tidak ada sesuatu yang penting, aku matiin nih teleponnya."


"Jangan, jangan, jangan. Masa di matiin sih? Memangnya kamu gak kangen sama aku?" kata Anah.


Astaga. Batin Jeff lagi.


"Lalu ada apa? Cepat katakan."


"Jeff, besok pulang sekolah main kerumah ya? Aku masih belum bisa masuk sekolah. Aku kangen ... banget sama kamu."


"Tidak bisa." Jawab Jeff.


"Sudah ya, aku masih banyak urusan." Kata Jeff yang kemudian mematikan teleponnya.


Kok di matiin. Kata Anah dari arah yang sangat jauh di sana. Anah begitu senang bisa mendengar suara Jeff, itu sedikit bisa mengobati rasa rindu yang selama ini menyiksanya.


Sekarang aku mau menelepon Nirmala, kalau Jeff tidak bisa datang. Nirmala pasti bisa datang dan membantu aku. Biar bagaimana pun, Nirmala itu kan mak comblang. Dulu dia pernah berhasil membuat Jeff minta maaf, dia juga kali ini harus bisa membujuk Jeff untuk datang kesini.


Nirmala, ini dia. Kata Anah.


Anah menemukan nama kontak di ponselnya dan segera menekan oke.


Tidak lama kemudian, Nirmala yang sedang membantu bi Sona memasak di dapur mengangkat ponselnya yang berdering dan berjalan keluar rumah.


"Hallo, assalamua'laikum Anah, apa kabarmu?" Tanya Nirmala.


"Hallo, wa'alaikumussalam Nirmala. Aku baik-baik saja." Jawab Anah.


"Jadi besok sudah bisa masuk sekolah?" Tanya Nirmala lagi.


Kini Nirmala duduk bersantai di teras sambil teleponan, dia melihat dengan jelas Kevin sedang menuju ke arahnya.


"Belum bisa Nirmala, makanya aku telepon kamu."


"Besok sepulang sekolah, kamu ke rumah ya?" pinta Anah.


"Insya Allah Anah." Jawab Nirmala.


Kini Kevin sudah berada dekat dengannya, tanpa basa basi Kevin duduk di samping Nirmala. Memperhatikan wajah Nirmala terutama bagian bibirnya.


"Usahakan datang ya Mala, kamu ajak Jeff juga ya, please ...." Ucap Anah memohon.


Jeff. Batin Nirmala sambil melihat ke arah Kevin, Kevin balik menatapnya dan tersenyum.


"Iya Anah." Kata Nirmala yang mulai tidak fokus dengan percakapannya di telepon.


"Makasih ya Nirmala, kamu memang sahabat terbaik aku." Kata Anah.


"Iya sama-sama."


"Oke, bye." Kata Anah menyudahi panggilannya.


"Bye." Kata Nirmala sambil mematikan ponselnya dan meletakan di lantai, tepat di samping dia duduk.


"Telepon dari Anah ya?" Tanya Kevin.


"Iya." Kata Nirmala.


Kevin duduk sangat dekat dengan Nirmala, membuat Nirmala canggung dan bergeser ke arah lain agar bisa sedikit lebih jauh.


Saat Kevin dan Nirmala sedang duduk berdua, tiba-tiba pakde Slamet dan bi Sona keluar. Mereka mau meminta izin kepada Nirmala untuk pergi ke swalayan membeli kebutuhan dapur.


"Hati-hati ya Bi, Pakde." Kata Nirmala.


"Siap Non." Kata mereka.


Sekarang hanya tinggal Kevin dan Nirmala di rumah itu. Kevin terus memandang Nirmala sambil senyum-senyum. Nirmala menunduk malu walaupun sesekali dia melihat ke arah Kevin. Ekspresi Kevin terlihat liar.


Mereka masih terdiam dan menciptakan keheningan di pojok teras. Keheningan yang mereka ciptakan bukanlah keheningan sunyi ataupun horor yang tidak nyaman. Keheningan mereka adalah keheningan yang nampak nyaman dan santai.


Dalam keheningan itu Kevin seperti sedang mengungkapkan cinta yang lembut dan tidak memerlukan kata-kata untuk mengekspresikannya.


Nirmala pun hanyut dalam tatapan mata Kevin, ia mematung seperti tersihir oleh ketampanan Kevin. Kini mereka saling bertatapan satu sama lain. Kevin tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia mencoba mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi ke wajah Nirmala, semakin dekat. Dan Nirmala terlihat pasrah.


Kevin memperhatikan bibir Nirmala sejak tadi, ada kemungkinan ia ingin segera mencium bibirnya. Mereka saling menatap, kontak mata yang begitu intens dan bikin meleleh. Itu sudah menjadi sinyal yang kuat kalau Nirmala tidak menolak keinginan Kevin yang ingin segera menciumnya.


Sorotan mata dan ekspresi wajah keduanya sudah memperlihatkan keinginan terdalam dari masing-masing.