
Sepulang sekolah Jeff menemui Anah, bukan untuk menemaninya mencari tenda tapi untuk mengatakan kalau dia tidak bisa menemaninya. Dan dia sudah meminta Darrel untuk menggantikannya. Anah sangat kesal tapi Jeff sudah berlalu dari pandangannya.
"Nah, itu dia Darrel udah datang. Aku pergi dulu ya. Bye."
Belum sempat Anah menyahut, Jeff sudah pergi berlari mengejar Nirmala yang sudah berada di seberang jalan menunggu angkutan umum. Jeff kemudian menyebrang jalan raya itu dan berdiri tepat di samping Nirmala. Mereka saling diam sampai angkot yang di tunggu datang. Nirmala masuk ke dalam angkot tersebut di ikuti oleh Jeff. Mereka duduk berdampingan. Angkot yang penuh membuat Nirmala tidak bisa pindah memilih tempat duduk yang lain. Nirmala bahkan tidak menduga kalau Jeff akan ikut bersamanya.
Jeff juga tidak mengira kalau ternyata naik angkot membuatnya terbakar seperti ayam panggang. Kulitnya yang putih berubah menjadi merah. Awalnya Jeff berfikir tidak akan menyenangkan naik angkot karena selain panas dan berdesakan juga aromanya bercampur tidak karuan. Ada banyak macam orang yang naik di angkot itu termasuk pedagang jengkol dan ada pula yang membawa seekor ayam, mungkin dia datang dari kampung. Pikir Jeff.
Tiba-tiba supir mengerem dengan mendadak dan membuat Nirmala jatuh ke pelukannya. Sontak hal itu membuat pikiran Jeff berubah, ia yang semula berfikir naik angkot adalah keputusan yang salah, kini justru sebaliknya. Dia merasa seperti duduk di pesawat pribadi, di sampingnya ada gadis yang dia cinta, duduk sangat dekat benar-benar halu tingkat dewa. Nirmala melepas pelukan Jeff dan kembali duduk. Tapi supir itu kembali mengerem mendadak, membuatnya jatuh lagi ke pelukan Jeff. Jeff sangat berterimakasih kepada Tuhan, iya tersenyum sambil mengucapkan syukur.
"Alhamdulillah," Ucapnya samar-samar.
Nirmala meliriknya dan dia pura-pura melihat ke jendela, tidak membalas lirikan sadis dari Nirmala.
Penumpang yang lainnya menjadi rusuh dan marah-marah kepada supir angkot yang dari tadi mengerem mendadak. Si supir minta maaf karena kejadiannya di luar kehendak, banyak anak sekolah yang naik motor tidak pake aturan sehingga membuatnya melakukan hal itu. Lagi-lagi Jeff merasa sangat bersyukur dengan kejadian itu dan dia justru menyuruh supir untuk mengulanginya lagi.
Sontak kata-katanya itu membuat semua penumpang melihat ke arahnya dengan kesal, Nirmala mencubit lengan Jeff. Dan menatap dengan tatapan yang seolah ingin mengatakan 'diam'. Jeff merasa sedikit sakit tapi senang. Tidak lama kemudian Nirmala turun. Jeff memegang tangan Nirmala tapi Nirmala segera memukulnya dengan buku tebal yang dia pegang.
"Lepasin, dasar gak waras." Nirmala ngedumel dan memukul kepala Jeff membuat laki-laki itu refleks melepas genggaman tangannya.
"Aduh ...." Kata Jeff sambil mengelus kepalanya dan melihat Nirmala turun dari angkot.
Nirmala membayar ongkos angkotnya dan seketika angkot itu pun jalan kembali.
"Dah ... Nirmala." Dari balik angkot Jeff melambaikan tangan.
Nirmala membuang muka tidak peduli dan mulai masuk kerumahnya. Dia mencium aroma masakan yang sangat lezat, gulai ikan kakap berukuran besar yang memiliki cita rasa manis pedas. Selain itu kuah gulainya tidak terlalu bertekstur kental, bi Sona tahu kalau Nirmala tidak terlalu menyukai kuah yang kental.
Nirmala sudah tidak sabar ingin mencicipinya, dia dengan segera mengganti seragamnya dan dengan cepat meluncur ke ruang makan. Saat dia mencobanya, dia tidak bisa berhenti makan, rasa gulai ikan kakap itu benar-benar menyihir lidahnya, memiliki hentakan rasa rempah yang cukup kuat. Selesai makan dia bersantai sambil membaca Novel di kamarnya.
Tak terasa waktu sudah sore, Nirmala mandi dan berniat untuk pergi ke taman. Dia berjalan keluar dan bertemu dengan bi Sona yang sedang sibuk mengangkat jemuran.
"Non, mau kemana?" tanya bi Sona sambil menarik baju yang sudah kering dari jemuran.
"Mau ke taman Bi, mau ikut?"
"Enggak Non, Bibi masih banyak kerjaan. Non sekali-kali refreshingnya ke tempat lain Non. Gak bosen apa ke taman terus? Dari bayi kan Non sering Bibi ajak ke taman."
Nirmala hanya tersenyun dan memilih untuk mengabaikan perkataan bi Sona. Ia berjalan dengan santai menuju taman sore itu. Sesampainya di sana, ia sempat berkeliling sebelum akhirnya menuju bangku favoritnya yang selalu ia jadikan sebagai tempatnya menghabiskan waktu untuk membaca novel.
Nirmala masih membaca novelnya, Novel romantis kisah cinta yang tanpa sadar mampu menarik garis senyuman tipis di wajahnya yang cantik. Rambutnya yang tergerai diterbangkan oleh angin, menambah kesan menawan. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dengan lembut, membuyarkan segala halusinasinya. Ya Nirmala selalu terbawa dalam cerita di setiap novel yang ia baca. Saat Nirmala menoleh, betapa terkejutnya dia.
"Nirmala?"
"Kevin?"
"Bangku taman ini tidak berubah, hanya cat coklatnya yang mulai kusam dan mengelupas beberapa bagiannya." Kata Kevin sebelum akhirnya dia duduk di samping Nirmala.
Nirmala tidak menanggapi pernyataan Kevin tentang bangku itu. Bi Sona pernah bercerita kalau dulu saat dia masih bayi, Bi Sona dan Kevin sering mengajaknya duduk di bangku taman itu. Tiba-tiba Kevin berdiri dan menawarkan es krim, ada penjual es krim di ujung jalan taman itu. Kevin pergi dan meninggalkan Nirmala sendiri.
Nirmala menutup bukunya, tanpa sengaja dia melihat seorang wanita datang bersama dengan seorang lelaki dan mereka bergandengan tangan, mesra. Seperti itulah yang bisa ditangkap oleh penglihatan Nirmala. Mereka kemudian duduk di bangku tidak jauh dari bangku Nirmala, tepat di bawah pohon yang rindang.
Mereka terlihat begitu mesra, Nirmala tidak menduga, mereka yang awalnya mesra kini terlibat dalam pertengkaran. Dan yang membuatnya terkejut laki-laki itu mengayunkan tangan kekarnya dan mendaratkannya di pipi wanita itu. Membuat Nirmala langsung menutup wajahnya.
Plakkk ...
Sebuah tamparan yang seharusnya tidak terjadi pada sepasang kekasih. Laki-laki yang seharusnya melindungi kekasihnya justru menyakitinya. Nirmala merasa ngilu dan tiba-tiba hatinya merasa perih seperti tersayat sembilu tajam. Wanita itu pun terlihat tertunduk dan menangis. Setelah menampar kekasihnya, laki-laki itu pergi meninggalkannya sendiri, tanpa peduli dengan tangisan nya.
Nirmala menghampirinya setelah memastikan bahwa kekasihnya yang kasar itu pergi dan tak kembali.
"Aku tanpa sengaja melihatmu dengan kekasihmu dan tentu sebuah tamparan di wajahmu."
Wanita itu menoleh ke arah Nirmala. Di matanya telah tergenang air mata dan banyak juga yang sudah ia tumpahkan.
Wanita itu hanya terdiam. Sesekali jari lentiknya menghapus air matanya.
"Tadi kalian datang ke taman ini bergandeng tangan mesra. Tapi kalian bertengkar lalu apa artinya sebuah gandengan tangan itu?"
Wanita itu masih terdiam.
"Kau tak akan mengerti. Ini rumit!" Katanya sambil terisak, Nirmala bisa mendengar suaranya. Begitulah yang ditangkap oleh gendang telinga Nirmala. Suaranya begitu lembut.
Sebegitu rumitkah? sampai dia tak bisa menjelaskan. Batin Nirmala.
Nirmala kini duduk di sampingnya, dia berusaha untuk menghibur wanita itu. Tiba-tiba wanita itu memeluk Nirmala dan masih menangis. Nirmala membalas pelukannya. Kevin yang baru saja kembali setelah membeli es krim melihat Nirmala sedang bersama orang asing, tapi dalam suasana yang tidak tepat. Tidak tepat jika Kevin menghampirinya sekarang, maka dia memilih untuk duduk di bangku coklat kusam sendiri sembari menunggu Nirmala menyadari kehadirannya.
Setelah merasa lebih tenang, wanita itu berpamitan untuk pulang. Nirmala menoleh ke belakang, rupanya Kevin sudah duduk di bangku favorit nya. Nirmala masih terdiam, akhirnya Kevin beranjak dan mendekatinya.
"Ada apa? Wajahmu terlihat murung?" tanya Kevin sambil memberikan es krim kemasan.
"Tidak ada apa-apa." Nirmala tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa, padahal hatinya sedang pilu menyaksikan pertengkaran sepasang kekasih.
Kini mereka duduk di bangku taman kembali sambil menikmati indahnya senja sore hari ditemani es krim. Dinginnya es krim itu seketika mendinginkan pikiran Nirmala dan untuk sejenak bisa bisa melupakan kejadian yang baru saja dilihatnya.
"Kata orang cinta itu manis di awal-awalnya saja." Ucap Nirmala membuat Kevin tersendak.
"Uhuk ...."
"Kamu ini bicara apa? Cinta itu selama manis." Kata Kevin sambil merekahkan senyumnya.
"Tapi ...." Nirmala hampir protes.
"Tapi jika terasa pahit itu namanya mahoni, bukan cinta." Lanjut Kevin dengan santai nya.
Nirmala terdiam. Tiba-tiba sekelompok pengamen berbiola mendatangi mereka dan menyanyikan lagu romantis, kemudian Kevin meminta satu lagu lagi, lagu rindu yang biasa di nyanyikan Kerispatih.
🎶 Bintang malam, sampaikan padanya
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi, katakan padanya
Biar 'ku dekap erat waktu dingin membelenggunya 🎶
Bersama dengan pengamen itu Nirmala dan Kevin juga ikut bernyanyi. Setelah pengamen itu pergi, Kevin menatap Nirmala yang masih berusaha menghabiskan es krimnya dan ia berkata, "Cinta merupakan salah satu anugerah terindah dari Tuhan. Dengan cinta kita bisa merasakan kebahagiaan ‘tanpa sebab’ dan rasa syukur yang lebih. Cinta pun bisa datang kapan saja dan untuk siapa saja tanpa terencana, kita pun tak bisa mengatur kapan cinta harus berakhir."
"Apa cinta bisa berakhir?" tanya Nirmala.
"Bisa."
"Kenapa?"
"Karena hatinya sudah berpaling." Kevin menatap mata Nirmala, tatapannya masuk ke dalam relung hatinya.
Tiba-tiba jantung Nirmala derdetak dengan kencang dan bahkan terasa mau copot. Dia tidak bisa menangkap apalagi mencerna maksud dari kalimat Kevin. Dia hanya merasa ada sesuatu yang tidak biasanya, sedang terjadi.
Tak terasa hari sudah mulai gelap. Mereka kemudian beranjak dari bangku taman dan berjalan kembali ke rumah. Tiba-tiba Kevin menyuruh Nirmala untuk menunggu sebentar, itu karena dia mau mengambil sepedanya. Tadi Kevin datang ke taman memakai sepeda dan memarkirnya di tepi danau tepat di bawah pohon beringin.
Tak lama kemudian Kevin sudah berada di samping Nirmala dan menawarkan boncengan. Nirmala menolak karena di sepeda itu tidak ada boncengan nya. Kevin memintanya duduk di depan. Nirmala juga menolaknya karena dia khawatir Kevin akan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Akhirnya mereka pulang bersama, Kevin mengayuh sepedanya dengan sangat pelan dan sesekali berhenti untuk menyeimbangkan jalannya dengan langkah kaki Nirmala.
Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba ada Salsa dan Ruby. Ternyata mereka ada di taman itu juga, sama halnya dengan Kevin dan Nirmala. Salsa yang memang menyukai Kevin kemudian meminta agar Kevin mau mengantarnya pulang kerumah, rumahnya tidak jauh dari taman.
"Ayolah Kevin, boleh ya aku naik di sepedamu?" Rengek Salsa.
Kevin menatap Nirmala, Nirmala hanya tersenyum. Ruby yang merasa tidak enak, hanya diam saja.