Getaran Hati Nirmala

Getaran Hati Nirmala
Gejolak Hati


Tak lama kemudian kedua orang tua Nirmala tiba di kamar perawatan. Mereka membuka pintu dan terlihat Kevin sedang duduk di dekat putrinya. Kevin langsung berbalik badan saat mengetahui ada orang yang datang ke kamar itu. Seketika dia langsung bangun saat melihat bahwa yang datang adalah kedua orang tua Nirmala.


"Kevin rupanya." Kata Ibu Nirmala mulai menyapa.


"Selamat malam Om, Tante." Sapa Kevin dengan sedikit membungkukan badannya.


"Selamat malam Kevin." Balas ayah Nirmala.


"Sudah lama kamu di sini?" Tanya ayah Nirmala lagi.


"Sudah dari satu jam yang lalu, Om." Jawab Kevin.


Nirmala mengamati ayahnya yang terlihat seperti tidak menyukai Kevin ada di sampingnya. Wajahnya menampakan sesuatu yang berbeda, terlihat dingin.


"Apa masih ada keperluan lainnya Kevin?" tanya ayah Nirmala lagi.


"Jika sudah tidak ada sebaiknya kamu pulang karena ini sudah malam dan jam besuk juga sudah berakhir." Ucap ayah Nirmala sambil melihat ke arah jam tangannya.


Kevin dan Nirmala saling menatap.


"Kevin, makasih ya." Ucap Nirmala sambil mengembangkan senyumnya.


Kevin tidak membalas ucapan Nirmala, dia hanya membalas senyumnya kemudian berpamitan untuk pulang. Setelah Kevin melangkah keluar dan di pastikan sudah jauh dari kamar perawatan, Nirmala mulai membuka percakapan dengan kedua orang tuanya.


"Papa kenapa bersikap seperti itu sama Kevin?" tanya Nirmala.


"Apakah kalian pacaran?" Ayahnya tidak menjawab pertanyaan Nirmala tapi justru bertanya balik.


"Tidak Pa, kami hanya berteman. Bukankah Papa mengenal Kevin dengan baik? Kevin orang yang baik, dia selalu membantu Mala. Papa percaya padanya kan? dia tidak mungkin berbuat macam-macam." Jawab Nirmala.


"Dan kamu, apa papa bisa percaya denganmu? Papa dengar hubungan kalian terlalu dekat." Tanya Ayahnya lagi.


Nirmala tersenyum, ia meraih tangan kanan ayahnya dan menggenggamnya dengan erat.


"Ayah bisa mempercayai Mala. Mala janji akan menjaga kepercayaan Papa dengan baik. Mala tidak akan menyusahkan Papa, tidak akan membuat malu Papa." Jawab Nirmala berusaha meyakinkan ayahnya Kembali.


"Baiklah, Papa percaya padamu. Kamu harus fokus belajar dan jangan mengkhianati kepercayaan Papa. Papa tidak suka, putri ayah yang masih belia ini punya pacar." Kata ayahnya sambil mencubit hidungnya dengan penuh kemesraan.


Ketegangan pun sedikit mencair.


"Jadi Mala masih boleh berteman dengan Kevin?" tanya Nirmala lagi.


"Hanya berteman saja, tidak boleh lebih. Papa tidak suka kalau kamu dekat-dekat dengan Kevin ataupun pemuda lainnya." Jawab ayahnya.


"Memangnya kenapa?" tanya Nirmala penasaran.


"Nanti kalau sudah waktunya kamu akan tahu." Kata ayahnya yang kemudian mengambil handphonenya di saku celana dan memainkannya sambil berlalu pergi.


Ibunya kini duduk di samping Nirmala dan memandang anaknya penuh cinta dengan senyuman manisnya.


"Tidak usah di masukan ke dalam hati ucapan papa tadi ya? Kamu istirahat saja, besok sudah boleh pulang." Ucap Ibunya sambil mengelus rambut anaknya pelan.


Kemudian ibunya merebahkankan tubuhnya dan merengkuhnya dalam pelukan. Membuat Nirmala merasakan kasih sayang yang sudah lama ia rindukan. Matanya mulai terpejam.


***


Saat Nirmala membuka matanya, sinar matahari masuk menyelinap melewati jendela. Nirmala menoleh dan terbesit rasa kecewa karena dia tidak menemukan ayah dan ibunya. Ulu hatinya terasa nyeri saat membuka pesan singkat bahwa kedua orang tuanya sudah pergi keluar kota. Semua biaya rumah sakit sudah di urus dan nanti pakde Slamet bersama bi Sona yang akan menjemputnya.


Terkadang dalam hati Nirmala berpikir orang tuanya tidak menyayanginya, mereka lebih memprioritaskan bisnisnya daripada peduli padanya. Kenapa orang tuanya begitu tega memperlakukannya seperti ini? Apa mereka benar-benar tak pernah mencintai nya? Apa mereka tidak pernah mengkhawatirkan anaknya? Tapi selama tiga hari dirumah sakit, mereka selalu ada disampingnya walaupun hanya sebentar-sebentar. Semua pertanyaan dalam benaknya berkeliaran tanpa henti.


Nirmala masih memegang handphonenya, dia ingin menghubungi Kevin tapi kemudian niatnya itu dia urungkan dan meletakannya di meja kecil samping tempat tidurnya. Seperti sudah ada ikatan batin, tiba-tiba saja Kevin datang. Nirmala kemudian menyingkirkan selimutnya dan bangun dari tempat tidurnya. Dia sudah tidak betah berada di rumah sakit.


"Aku hampir tidak bisa tidur setiap malam." Ucap Nirmala pada Kevin.


"Karena kamu sudah datang, apa bisa aku pulang sekarang? Jadi pakde Slamet dan bi Sona tidak perlu menjemputku." Ucap Nirmala lagi.


"Mmm ... bagaimana ya?" Ucap Kevin mulai bercanda.


Nirmala mengerucutkan bibirnya dan dia mulai terlihat manja membuat Kevin merasa gemas. Ya sudah, ayo kita pulang. Kevin akhirnya membawa Nirmala keluar dari rumah sakit.


"Ah, besar sekali tas kamu. Hanya menginap tiga hari saja sebanyak ini." Kata Kevin.


"Maaf ya jadi merepotkan." Kata Nirmala.


"Hanya bercanda." Ucap Kevin sambil tersenyum.


Kevin hanya menggelengkan kepalanya. Ia maklum, anak perempuan memang cenderung membawa perlengkapan lebih banyak daripada laki-laki. Walaupun itu di rumah sakit.


Saat berada di mobil, Nirmala mengucapkan permintaan maaf atas ucapan ayahnya tadi malam.


"Tidak apa-apa." Kata Kevin sambil mengembangkan senyum khasnya.


Nirmala merasa tidak enak, dia juga tidak menyangka kalau ayahnya bisa berkata ketus kepada Kevin. Padahal selama ini ayahnya selalu baik dan ramah kepada semua orang. Tidak terasa mereka sudah sampai di rumah. Nirmala berpas-pasan dengan pakde slamet dan bi sona yang baru saja mau berangkat ke rumah sakit untuk menjemputnya.


"Lah Non udah dirumah aja." Kata pakde Slamet.


Sesaat setelah melihat Nirmala, pakde juga melihat Kevin.


"Eh, ada Den bagus." Ucapnya saat melihat Kevin.


Kevin memberikan senyuman lagi kemudian duduk diteras bersama pakde Slamet. Hari ini dia terlambat pergi ke kantor sengaja agar bisa menjemput Nirmala, karena bi Sona bilang kedua orang tua Nirmala tidak bisa menjemputnya dan justru menyuruh bi Sona untuk menjemput Nirmala.


***


Setelah selesai membersihkan diri, Nirmala yang baru keluar dari rumah sakit itu langsung pergi keluar rumah untuk mencari bubur. Dia merasa selera makannya akan bagus jika makan bubur. Dia tidak ingin merepotkan bi Sona. Nirmala mulai melangkah keluar pagar tanpa mengajak Kevin yang sedang asyik ngobrol bersama dengan pakde Slamet.


Tiba-tiba matanya menemukan gerobak bubur ayam di ujung jalan. Dia kemudian menghampiri tukang bubur itu.


"Bang, satu mangkok ya?" Sahutnya.


Pagi ini matahari lumayan bersahabat, sinarnya teduh tidak nampak marah. Tanpa sengaja Nirmala bertemu dengan Tirta. Sepertinya Tirta membolos sekolah lagi.


"Tirta, kok kamu bisa ada di sini?" serunya kaget melihat sosok Tirta berada di depannya dan sama-sama memesan bubur ayam.


"Aku kan tinggal di sekitar sini." Jawab Tirta.


Nirmala baru menyadari kalau Tirta tinggal tidak jauh dari rumahnya, pantas saja dia sering tidak sengaja bertemu dengannya. Tapi seharusnya Tirta sekolah.


"Kamu membolos lagi?" tanya Nirmala.


"Kamu sendiri? Belakangan ini tidak kelihatan di sekolah?" Tirta balik bertanya.


Mereka lalu tertawa. Setelah bubur masing-masing sudah siap, mereka kembali kerumah. Nirmala ingat kalau dirumahnya ada Kevin, dia kemudian balik lagi ke tukang bubur itu dan pesan satu mangkok lagi. Perlahan langit menjadi semakin terang.


Sesampainya dirumah, Nirmala kemudian meletakkan mangkok buburnya di meja makan dan menyuruh Kevin untuk makan bersama. Tiba-tiba dia teringat dengan ucapan ayahnya. Ayahnya mengingatkan agar dia tidak terlalu dekat dengan lelaki manapun dan melarangnya untuk pacaran.


Aku dan Kevin kan tidak pacaran, jadi tidak masalah. Katanya pada diri sendiri.


Selesai menyiapkan sarapan buburnya, Nirmala mengajak Kevin masuk dan makan bersama. Nirmala nampak senyum-senyum sendiri.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tegur Kevin merasa penasaran.


"Papa kamu bilang apa sampai membuatmu senyum-senyum seperti itu?" tanya Kevin masih merasa penasaran.


"Papa tidak mau ada laki-laki lain yang dekat denganku, bukankah kamu pernah mengatakan hal itu juga padaku, Kevin? ternyata kalian punya kesamaan." Ucap Nirmala.


"Sepertinya Papa cemburu." Kata Nirmala dengan polosnya sambil nyengir.


Berbeda dengan Nirmala, Kevin justru berpikiran lain. Dia merasa kalau ayah Nirmala tidak suka jika putrinya dekat dengannya. Tapi kenapa? Kevin mendadak terdiam.


"Kevin," Nirmala mengagetkannya.


"Kamu kenapa melamun begitu, tidak usah dipikirkan." Kata Nirmala lagi.


"Ah, iya." Kata Kevin sambil berusaha tersenyum.


Mereka kemudian duduk bersama dan menikmati bubur ayam yang lezat. Selesai makan, Kevin berpamitan untuk pulang. Kevin masih terus memikirkan kata-kata Nirmala, kenapa ayahnya tidak suka jika Nirmala dekat dengan laki-laki lain. Sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan oleh ayahnya. Tapi apa?


Tiba-tiba handphone Kevin berdering. Telepon dari sekretaris pribadinya. Dia mengatakan agar Kevin segera datang ke kantor. Tanpa pikir panjang, Kevin pun menuju ke kantornya.


***


Sesampainya di kantor, Kevin di kejutkan oleh kedatangan Chika. Ternyata Chika yang memaksa sekretarisnya untuk menghubunginya.


"Ngomong-ngomong." Kata Chika sambil melirik ke arah sekretaris Kevin.


Kevin memahami maksudnya dan menyuruh sekretarisnya untuk keluar dari ruang kerjanya.


"Ngomong-ngomong apa?" tanya Kevin sambil menoleh ke jendela melihat ke arah halaman kantornya membawa kehangatan yang ganjil.


"Mamimu mau ulang tahun ya?" tanya Chika.


Kevin langsung menoleh kaget. "Iya, minggu depan. Kamu tahu darimana?"


"Memangnya Mamimu gak cerita? Beliau mengundangku kerumah kalian hari sabtu depan. Ada perjamuan makan malam, katanya." Jawab Chika.


Sengatan sedingin es tiba-tiba terasa menyelimuti tubuh Kevin. Ibunya tidak biasa mengundang orang lain pada acara ulang tahunnya.


"Ada apa dengan Mami, biasanya Mami bahkan tidak mau merayakannya." Batin Kevin.


"Kamu kenapa, Vin?"


Kevin berusaha keras menghalau kabut dalam otaknya yang mulai keruh, pertama saat mendengar penuturan dari Nirmala dan sekarang perjamuan makan malam dengan Chika. Tidak mungkin tidak ada sesuatu, walaupun tidak ada kaitan antara keduanya, tapi keduanya membuat Kevin sedikit gusar. Dia bahkan tidak pernah merasakan rasa gusar seperti itu sebelumnya.


"Kamu mau datang?"


"Karena di undang, ya datanglah." Ucap Chika sambil tersenyum manis.


"Memangnya kamu nggak mau aku datang?" tanya Chika dengan nada yang lembut.


Kevin memaksa seulas senyum.


"Mana mungkin aku nggak mau kamu datang."


Chika menoleh dan mulai mendekati Kevin. Dia kemudian memegang tangan dan meremas jari Kevin seperti sedang mencurigai sesuatu.


"Apa kamu takut Nirmala akan salah paham?" Bisik Chika tepat di telinga Kevin.


"Tidak." Jawab Kevin singkat.


Chika kemudian pergi meninggalkan Kevin, dia melihat kegelisahan terpancar jelas di wajah Kevin. Chika sangat mengenali sahabatnya itu dan dia merasa puas melihat Kevin dalam kecemasan, memang itu yang dia inginkan.


Kevin yang sedari tadi terlihat tidak fokus menghadapi hari, mencoba duduk dan menyenderkan kepalanya. Dia berusaha untuk tetap tenang. Tapi lagi-lagi dia teringat akan ucapan Nirmala, ucapan ayah Nirmala tepatnya. Dia merasa jalan untuk menjadi kekasih Nirmala akan terhambat, dia sudah bisa merasakan itu.


Kevin terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Sesuatu yang misterius mengusik rasa ingin tahunya. Namun, Kevin tidak tahu harus bertanya dari mana dan pada siapa. Kevin merasa buta seperti sedang berada dalam kegelapan. Belum pernah merasakan perasaan seperti itu sebelumnya.


***


Kevin menarik napas lega setelah menuntaskan pekerjaannya. Sejak pagi dia sudah ingin cepat-cepat kembali ke rumah. Bekerja sebagai direktur utama memberikan tanggung jawab besar di pundaknya. Dan dia harus menebus dengan bekerja lebih dari yang diperkirakan orang lain. Mereka menganggap posisinya adalah posisi terbaik di sebuah perusahaan, ya itu memang tidak salah.


Tapi itu juga yang sering keliru di tafsirkan banyak orang. Banyak orang bilang jabatan yang baik akan membuat kehidupan lebih mudah dan nyaman. Di satu sisi, pendapat tersebut ada benarnya, terutama jika menyangkut finansial. Namun jabatan itu harus di tebus dengan kerja keras dan menuntut sederet pengorbanan pula.


"Sudah mau pulang?" tanya sekretaris pribadinya yang dulu juga merupakan teman SMP nya, orang yang sangat Kevin percaya.


"Iya." Balas Kevin sambil mematikan laptopnya dan membersihkan meja kerjanya dari berkas-berkas yang berantakan di sana-sini.


"Tumben, ini bahkan baru jam 5." Kata sekretarisnya.


"Bagaimana kondisi Nona Nirmala?" Lanjutnya.


"Tidak perlu memanggilnya seperti itu, dia juga tidak akan suka jika mendengarnya." Jawab Kevin.


"Aku kok merasa rasanya agak khawatir setelah mendengar ceritamu itu. Kalau memang ada yang berniat untuk ...." Sekretarisnya tidak melanjutkan kalimatnya.


"Kamu kira aku tidak cemas?" Kevin balik bertanya. "Tapi aku tidak mau menunjukan itu di depannya. Aku tidak mau dia bertambah cemas, aku ingin dia berpikir kalau kecelakaan itu hanyalah sebuah kecelakaan yang tidak di sengaja. Meski kalau Mala benar, itu sungguh mengerikan."


Sekretarisnya mengangguk.


"Sebentar lagi Nona Nirmala lulus SMA. Jadi, kapan kalian akan menikah? Aku yakin kamu bukan tipe orang yang suka berlama-lama." Tanya sekretaris nya.


"Aku rasa tidak akan secepat itu, dia masih harus melanjutkan pendidikannya." Ucap Kevin.


"Kuliah setelah menikah bukankah itu tidak masalah?"


Kevin tidak menanggapi ucapan sekretarisnya lagi, selama ini Kevin memang suka berbagi perasaannya dengan sekretaris pribadinya yang merupakan teman dekatnya juga. Dia mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja.


"Aku pulang dulu." Kata Kevin.


"Ah, aku bicara apa tadi, seperti orang yang bodoh. Okey, Vin, simpati dan do'aku bersamamu. Semoga kamu sukses mendapatkan hati Nirmala dan kisah kalian berakhir bahagia." Ucap sekretarisnya.


Kevin tersenyum sempurna, membuat pesonanya semakin menukik tajam.


"Terimakasih, aku memang membutuhkannya." Senyum Kevin menular ke sekretarisnya sebelum dia benar-benar meninggalkan ruangannya.


Kevin memang tidak pernah memungkiri perasaannya yang selalu bahagia setiap bertemu dengan Nirmala. Tapi ucapan ayah Nirmala yang di sampaikan pada putri semata wayangnya jelas mengganggu hati dan pikirannya.


Kevin sudah sampai di parkiran, dia masuk ke mobilnya dan mulai meninggalkan kantor. Kini meskipun hubungan Kevin dengan Nirmala di rasa diwarnai persilangan, Kevin tidak bisa berhenti dan justru semakin mencintai Nirmala.


Dia mengecek jam tangannya dan memutuskan untuk bergegas agar bisa tiba dirumahnya sebelum maghrib. Bayangan senyum Nirmala membuat semangatnya bergejolak di dadanya. Dan tidak lama kemudian dia sudah sampai dirumahnya. Dia keluar dari mobilnya, sambil berjalan dia melepas jas yang sejak pagi menempel di badannya. Langkahnya mantap meninggalkan mobilnya, suara sepatunya bergema khas langkahnya yang santai tapi bersemangat beradu dengan lantai rumahnya.


Kejutan memang bisa terjadi kapan saja tanpa di prediksi. Ada banyak keberuntungan yang tiba-tiba menyapa. Dia tersenyum puas, tidak mengira ada pemandangan manis di rumahnya. Orang yang di pujanya itu ternyata sedang duduk dan mengobrol dengan santai di ruang makan bersama dengan ibunya.


Dengan langkah penuh percaya diri, dia mendekati gadis itu lengkap dengan senyum menggoda.


"Mami sengaja mengundang Nirmala makan malam dirumah, biar bagaimanapun Nirmala sudah Mami anggap seperti anak sendiri." Kata Ibu Kevin.


"Mami sangat khawatir saat dengar dia di tabrak mobil, untunglah tidak terjadi hal yang buruk." Kata Ibu Kevin sambil membelai rambut Nirmala.


Kevin kemudian membersihkan diri sebelum akhirnya ikut duduk bergabung bersama mereka. Ibu Kevin memang sudah dekat dengan Nirmala sejak kecil, meskipun dia sibuk tapi kesibukannya tidak melebihi ibunya Nirmala yang bahkan jarang sekali berada di rumah.


Kevin sangat lega karena ibunya begitu open dengan Nirmala. Tapi ibunya memang seperti itu, dia baik terhadap semua teman-teman Kevin. Dengan teman SMP nya yang kemarin datang dari Jepang juga ibunya menyambut dengan hangat. Dan lagi, minggu depan ibunya juga mengundang Chika untuk makan malam bersama.