
Jeff masih kesal dengan pria yang tiba-tiba datang menghampiri dan tanpa basa-basi mengajak Nirmala berkenalan. Tapi belum sempat pria itu menyebutkan namanya. Jeff sudah menarik tangan Nirmala dan mencari tempat lainnya untuk duduk.
"Lain kali jangan mau kalau ada cowok genit yang mengajakmu kenalan." Kata Jeff.
Nirmala hanya diam.
"Kamu dengar tidak?" Kata Jeff lagi.
"Iya dengar." Jawab Nirmala.
Nirmala sebenarnya juga tidak suka dengan sikap Jeff yang terlalu berlebihan. Apalagi dia bersikap seolah-olah Nirmala itu pacarnya sehingga dia bisa melarang orang lain mendekatinya.
Tiba-tiba hujan turun dengan deras, semua orang yang berada di Taman mulai masuk ke dalam rumah mencari tempat yang aman agar tidak kebasahan.
Padahal baru sebentar mereka menikmati malam pesta ulang tahun itu, tapi hujan membuat suasana pesta jadi sedikit terganggu. Saat hujan yang tiba-tiba mengguyur, banyak yang tidak suka karena mereka jadi tidak bisa bersantai di Taman.
Namun bagi Jeff yang sedang jatuh cinta, suasana hujan menjadi hal yang paling menyenangkan, dia jadi punya kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Nirmala, berduaan di suatu tempat yang nyaman. Bunyi gemercik air hujan mampu menambah suasana menjadi lebih syahdu. Hujan juga menghadirkan momen romantis karena kondisi udara yang dingin.
Jeff duduk di depan Nirmala dan terus memandangi wajahnya, pikirannya melamun berandai-andai kalau saja Nirmala sudah resmi menjadi pacarnya. Pasti suasana malam itu menjadi momen yang paling di tunggu-tunggu. Dia bisa menggenggam tangan Nirmala agar tidak kedinginan oleh hujan dan dinginnya angin malam. Hanya sebatas lamunan.
Jeff nampak senyum-senyum sendiri, Nirmala yang melihatnya jadi merasa takut dan beranjak untuk pergi menghindar. Tiba-tiba Jeff tersadar dari lamunannya dan menghentikan langkah Nirmala.
"Kamu mau pergi kemana?" Tanya Jeff.
"Mau ke toilet." Jawab Nirmala.
"Jangan lama-lama ya." Kata Jeff.
Nirmala tidak menjawabnya, dia pergi meninggalkan Jeff sendiri. Sebenarnya Nirmala tidak ingin ke toilet, dia hanya ingin bisa terhindar dari Jeff.
Tiba-tiba Nirmala bertabrakan dengan seseorang dan hampir saja jatuh, untung saja orang itu menahan tubuh Nirmala sehingga dia tidak terjatuh.
"Maaf." Kata Nirmala.
Orang itu memperhatikan Nirmala dengan seksama.
"Tidak apa-apa, kamu Nirmala kan? Yang di taman tadi?" Tanya lelaki itu.
"Oh, anda orang yang tadi ya?" Tanya Nirmala balik seraya menunjuk lokasi di Taman tadi saat mereka berkenalan.
"Iya benar." Kata orang itu.
"Oh ya, saya belum sempat mengatakan nama tadi, perkenalkan nama saya ... " Lelaki itu mengulurkan tangannya lagi berharap Nirmala mau berjabat tangan ulang.
Lagi-lagi laki-laki itu tidak sempat mengatakan namanya karena Jeff yang sedari tadi diam-diam memperhatikan Nirmala muncul tiba-tiba dan menjabat tangan laki-laki itu sebelum Nirmala mengulurkan tangan ya.
"Jeff." Kata Jeff sambil menjabat tangan laki-laki itu.
Laki-laki itu kemudian setengah tertawa dan mengatakan oke.
"Permisi." Balas Jeff kepada laki-laki itu sambil menarik tangan Nirmala lagi pergi menghindari laki-laki itu.
Nirmala mulai kesal dengan tingkah Jeff.
"Lepasin." Kata Nirmala sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Jeff.
Jeff tidak melepaskan tangan Nirmala. Hujan sudah mulai berhenti, Jeff terus menggenggam tangan Nirmala dan baru melepasnya saat tiba di parkiran. Jeff ingin mengajaknya pulang tapi Nirmala menolak.
"Ayo kita pulang." Ajak Jeff dengan paksa.
"Tidak mau." Ucap Nirmala sambil membalikkan badan dan mulai melangkah.
Jeff menggenggam tangan Nirmala lagi mencoba menghentikan langkahnya agar tidak kembali ke pesta.
Dari kejauhan nampak Kevin sudah datang menjemput Nirmala, dia datang sedikit terlambat dari jam yang sudah di janjikan, itu karena tadi dia terjebak macet dan di tambah lagi jalanan sedikit licin karena hujan sehingga dia harus berhati-hati saat mengendarai mobilnya.
Melihat Jeff menggenggam tangan Nirmala, membuatnya terbakar api cemburu, tapi dia berusaha untuk menahan rasa itu. Dia pun melangkah mendekati Nirmala dan Jeff, semakin dekat sehingga dia bisa mendengar apa yang di ucapkan oleh Jeff.
"Tidak perlu kembali ke pesta, kita pulang saja. Aku akan mengantarmu." Kata Jeff.
"Aku kan sudah bilang Jeff, aku tidak mau pulang dulu." Kata Nirmala.
"Kamu mau ngapain lagi, ini sudah malam." Jeff masih terus memaksa Nirmala.
"Aku sedang menunggu Kevin." Kata Nirmala.
Dia lagi dia lagi, laki-laki buaya. Batin Jeff.
Tiba-tiba Kevin muncul di hadapan Jeff.
"Kalau dia tidak mau, jangan di paksa." Kata Kevin kepada Jeff.
Mereka saling menatap seolah sedang bersaing memperebutkan wanita yang sama. Tapi memang itulah yang terjadi. Jeff dan Kevin memang selalu berusaha bersaing untuk mendapatkan cinta Nirmala. Tapi dari mereka, belum ada satupun yang berani mengungkapkan perasaannya. Sehingga mereka pun tidak tahu perasaan Nirmala untuk siapa.
"Ayo Kevin kita pulang." Kata Nirmala mengajak Kevin untuk pulang dan sedikit melirik ke arah Jeff tanpa kata permisi.
Jeff yang kesal melihat Kevin pulang membawa Nirmala, mengepalkan kedua tangannya. Dia mulai menaiki motornya dan menyalakan mesinnya.
Bremmm ...
Terdengar Jeff mengendarai motor dengan kecepatan di atas rata-rata. Nirmala yang berada di dalam mobil sempat melihatnya.
Kevin sudah mulai bersiap menyalakan mobilnya dan menyetirnya dengan pelan keluar dari parkiran. Selama perjalanan, Nirmala tidak berkata sepatah katapun.
Tidak terasa, mereka sudah sampai di depan rumah Nirmala. Nirmala bahkan tidak menyadarinya, dia masih duduk diam di dalam mobil Kevin.
"Sudah sampai rumah tuan putri." Kata Kevin mengagetkan Nirmala.
"Maaf, aku tidak menyadarinya." Ucap Nirmala sambil tersenyum yang di paksakan.
Kevin membalas senyuman Nirmala dengan senyuman juga. Nirmala mulai membuka pintu mobil dan turun dari mobil itu.
"Terimakasih." Ucap Nirmala.
"Sama-sama." Jawab Kevin singkat.
Nirmala masuk ke dalam rumahnya, langkahnya begitu pelan seperti orang yang sedang melamun. Tiba-tiba ponselnya berdering. Di lihatnya layar telepon seluler itu dan terlihat jelas tulisan yang nampak, Jeff. Nirmala segera mengangkat telepon itu sambil berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya.
"Hallo, Assalamualaikum Jeff."
"Wa'alaikumussalam." Jawab Jeff.
Kamu ...
Mereka bersamaan mengatakan kalimat itu.
Kamu dulu ...
Lagi-lagi mereka bersamaan mengatakannya.
"Maaf atas sikapku tadi." Kata Jeff.
"Iya tidak apa-apa." Ucap Nirmala.
"Kamu nggak marah kan?" Tanya Jeff.
"Aku kesal." Jawab Nirmala.
"Beraninya minta maaf di telepon." Kata Nirmala.
"Jadi kamu ingin aku minta maaf langsung? Aku ke rumahmu sekarang." Kata Jeff.
"Tidak perlu, tidak perlu Jeff. Lagi pula ini sudah malam." Kata Nirmala.
Mereka berbincang-bincang cukup lama di telepon. Tiba-tiba Nirmala teringat kepada Anah, dia merasa tidak enak jika terlalu lama berbicara dengan Jeff di telepon, dia khawatir kalau Jeff semakin dekat dengannya dan justru menjauhkannya dari Anah yang masih bersusah payah untuk mendapatkan perhatian Jeff. Teringat akan sahabatnya itu, Nirmala kemudian mengakhiri percakapannya dengan Jeff.
"Maaf Jeff, ini sudah malam."
"Iya aku mengerti, selamat tidur ya. Semoga mimpiin aku." Kata Jeff sebelum menutup teleponnya.
Padahal aku masih ingin mengobrol banyak dengannya. Tapi malam ini dia keliatan berbeda. Biasanya Nirmala selalu bersikap tidak sopan, setiap kali aku menelponnya selalu di matikan secara tiba-tiba. Apa mungkin dia mulai membuka hati untuk ku?
Jeff merasa sangat senang, karena dia merasa Nirmala sudah mulai membuka hati untuknya. Sedangkan Nirmala sama sekali tidak berfikiran kesana. Jeff terlalu berlebihan dan terlalu cepat menilai Nirmala yang sama sekali tidak memikirkannya. Dan lagi Anah sahabat terbaik nya sangat menyukai Jeff, tidak mungkin Nirmala akan menyukai pria yang sama.
Nirmala lalu mengganti gaun pestanya, mencuci wajah, tangan dan kakinya. Berganti baju piyama dan bersiap untuk tidur. Tapi matanya masih belum bisa terpejam, mungkin dia masih mengingat kejadian di pesta tadi.
Dan lagi-lagi, Jeff menelponnya kembali. Kali ini Nirmala mengabaikan panggilannya, dia tidak ingin hubungannya dengan Jeff menjadi semakin dekat. Dia khawatir kalau Anah akan salah paham dan membenci dirinya.
"*Hah, tidak di angkat."
"Mungkin dia sudah tidur*."
Malam ini Jeff yang hatinya sedang berbunga-bunga tidak bisa tidur. Dia mencari remot tv dan berharap ada acara bagus yang menghibur menemani malamnya.
Tidak ada acara yang bagus.
Jeff mematikan kembali tv nya. Tiba-tiba ponselnya berdering, dia segera melihatnya berharap Nirmala telepon balik. Ternyata itu bukan panggilan masuk dari Nirmala, melainkan Helen.
Helen. Astaga, terkadang Helen terkadang Anah. Dua wanita itu sangat membuatku tidak nyaman.
Jeff menolak panggilan dari Helen dan mematikan ponselnya, sehingga siapapun tidak ada yang bisa menghubungi nya lagi. Dia memilih untuk bersembunyi di balik selimut sambil memikirkan wajah Nirmala dan berkhayal.
Kalau saja Nirmala mau jadi pacarku, pasti aku akan sangat bahagia dan menjadi laki-laki paling bahagia di dunia. Tidak masalah walau dia anak seorang pembantu, bagiku Nirmala itu sangat istimewa. Dia begitu cantik dan juga sangat baik.
Aku pasti akan berusaha untuk memenangkan hatinya. Abaikan saja Helen dan Anah. Tapi Anah sebenarnya pengganggu yang paling sulit di hadapi. Biar bagaimanapun, Nirmala itu sangat baik. Dia tidak akan mungkin mau menjadi pacarku karena hal itu bisa menyakiti Anah. Itulah sebabnya aku berfikir, penghalang terbesarku sebenarnya adalah Anah.
Hm ... Jalan satu-satunya adalah membuat Anah berpaling dan membenciku. Tapi bagaimana caranya? Kalau aku sampai menyakiti Anah, Nirmala pasti tidak akan memaafkan ku.
Arrrgh ... Menyebalkan.
Jeff semakin tidak bisa tidur, untungnya besok sekolah libur, jadi dia tidak perlu khawatir jika besok bangun kesiangan karena malam ini tidak bisa memejamkan matanya. Bukan hanya Jeff yang tidak bisa tidur, Nirmala juga merasakan hal yang sama. Dia kesulitan untuk memejamkan matanya.
Nirmala terus berusaha memejamkan matanya, tapi masih belum juga tertidur. Akhirnya dia memutuskan untuk membaca sebuah buku dan berharap setelahnya dia bisa merasakan kantuk. Dia membaca buku dengan posisi duduk bersandar di tempat tidur. Benar saja, setelah beberapa lembar halaman dia baca, kantuk itu mulai menyerang. Sekarang dia pun tertidur dengan pulas.
Sementara Jeff masih terus memikirkan Nirmala. Sesekali dia bersembunyi di balik selimut, sesekali dia duduk di kasur nya. Gelisah tidak menentu.
Sebaiknya besok aku jujur saja pada Nirmala, aku harus mengungkap perasaan ini. Tidak mungkin jika Nirmala akan menolak ku, aku begitu tampan untuk di abaikan.
Akhirnya Jeff pun mulai bisa memejamkan matanya, rasa kantuk yang menyerang membuat dia hanyut dalam mimpi.
***
Ke esokan harinya
Tok ... Tok ... Tok ...
Chika mengetuk pintu kamar Jeff.
"Jeff, sudah siang kamu masih belum mau bangun?" Ucap Chika mencoba membangunkan adiknya.
"Ya ampun kakak, Jeff masih ngantuk." Kata Jeff sambil menarik selimutnya menutupi seluruh badan hingga kepalanya.
"Jeff, kakak punya kabar gembira, ayo cepat bangun, keluar dari kamarmu." Kata Chika lagi.
Jeff dengan wajah yang masih terlihat sangat ngantuk itu akhirnya mau membuka kunci pintu kamarnya. Chika langsung masuk ke dalam dan duduk di kasur Jeff.
"Ada apa sih kak?" Tanya Jeff.
"Hari ini mama dan papa akan pulang ke Indonesia, nanti sore." Kata Chika dengan nada yang sangat bahagia.
"Kakak seperti anak kecil saja." Kata Jeff sambil kembali tidur.
"Eh, denger dulu." Ucap Chika sambil menarik selimut Jeff.
"Kakak mau menikah." Kata Chika lagi.
"Apa? Memangnya kakak mau menikah sama siapa?" Tanya Jeff penasaran.
"Jangan bilang kakak mau menikah dengan buaya darat itu." Kata Jeff kesal.
"Dia itu calon kakak ipar kamu, kamu tidak boleh berkata seperti itu." Kata Chika.
"Terserah kakak saja lah, tapi memangnya dia mau menikah dengan kakak?" Tanya Jeff lagi.
"Belum tahu sih." Ucap Chika sambil nyengir.
Hah ...
Jeff menghela nafas. Di satu sisi dia senang kalau Kevin menikah dengan kakaknya karena merasa pesaingnya menjadi berkurang, tapi disisi lain Jeff tidak yakin Kevin akan menikahi Chika. Sangat tidak mungkin karena Kevin begitu menginginkan Nirmala, sama seperti dirinya.
"Aku mau lanjut tidur lagi." Kata Jeff seraya menarik selimutnya kembali.
Chika kemudian keluar dari kamar Jeff dan mulai memainkan ponselnya. Dia mencari sebuah nama di ponsel itu.
Kevin.
Ponsel Kevin berdering dan dengan cepat dia mengangkatnya.
"Hallo Chika, ada apa?"
"Kevin, nanti sore kamu ada acara nggak?"
"Sepertinya tidak ada, kenapa Chik?"
"Mau nggak nanti sore nemenin aku ke bandara, jemput orang tua aku." Pinta Chika.
"Boleh, nanti aku kerumahmu, nanti sore kan? jam berapa tepatnya?" Tanya Kevin.
"Jam 5 sore."
"Oke, sampai jumpa nanti sore."
"Oke, aku tunggu ya Kevin." Ucap Chika dengan perasaan sangat bahagia.
Aku harus pake baju yang mana ya? pikir Chika.
Dia ingin terlihat sangat cantik, lebih cantik dari biasanya agar bisa menarik hati Kevin. Dia mengeluarkan semua baju di lemari dan penuh kebingungan memilihnya.
Yang ini sudah sering di pakai, yang ini bagus tapi warnanya terlalu terang. Yang ini ... sepertinya cocok, ya udah aku pilih yang ini saja. Biar saja kamarnya berantakan, tinggal nyuruh asisten rumah tangga, beres.
Chika memang selalu mengandalkan asisten rumah tangga dalam hal apapun. Sangat berbeda dengan Nirmala yang mandiri dan sering membantu tugas bi Sona.