
"Menikah?" Nirmala tiba-tiba mematung mendengar kalimat yang di ucapkan oleh seseorang di depannya. Sendok yang di tangan kanannya mendadak terpelanting jatuh mengenai mangkoknya.
Kini wajahnya terfokus pada sepasang bola mata seorang laki-laki yang ada di hadapannya, Tirta. Lelaki yang masih duduk di bangku kelas tiga SMA itu mengangguk pelan. Reaksi Nirmala jelas menunjukan ketidak sukaannya. Tirta sedang mengigau dan mengacau menurutnya.
"Me-ni-kah." Tirta mengeja kalimatnya agar terdengar lebih jelas di telinga Nirmala.
"Menikah, menyatukan dua hati manusia dalam ikatan suci secara hukum dan agama. Menjadi sepasang kekasih halal, hubungan suami istri." Dia menjelaskan lebih detail seolah Nirmala adalah gadis bodoh yang tidak mengerti artinya.
Nirmala seperti merasakan kabut tebal sedang menyelimutinya, mendadak dingin dan pernapasannya sedikit terganggu serta pikirannya melayang entah kemana. Masih dengan tubuh mematung, tapi masih bisa bicara.
"Sekarang?" Entah kalimat apa itu yang terucap dari bibir Nirmala membuat Tirta tertawa.
Tirta masih ingin tertawa tapi dia berusaha menahan tawanya. Tangan kanannya menjangkau tissu dan memberikannya kepada Nirmala.
"Ya ampun, kamu makan mie kuah aja sampai belepotan begitu dagunya, ambil nih tissu." Kata Tirta.
Nirmala menarik tissu yang diberikan oleh Tirta dan segera membersihkan dagunya. Dia kemudian melanjutkan makannya dengan sangat cepat. Berharap bisa segera kabur dari hadapan anak SMA yang lupa dengan usianya dan bersikap seperti orang yang sudah berumur matang tersebut.
"Wah, kamu lapar sekali ya?" Tirta mulai menggoda.
Nirmala fokus dengan mie rebusnya dan tidak menjawab pertanyaan Tirta.
"Jadi bagaimana pendapatmu kalau kita menikah saja?"
"Maaf ya Tirta, aku tidak mau menikah denganmu. Lagipula kita ini masih SMA, ngapain mikirin soal menikah?" Kata Nirmala.
"Aku mau pulang." Lanjutnya.
Nirmala berjalan keluar restoran berniat mencari taksi.
"Mala!" Panggil Tirta setelah mereka berdua berada di luar restoran.
"Kamu kaget karena aku mengajak menikah ya?" tanyanya hati-hati.
"Kaget? Itu terlalu sederhana kedengarannya. Kamu membuat aku mendadak terkena serangan jantung. Sepertinya kamu sedang sakit jiwa." Ungkap Nirmala.
"Kamu yakin, kamu tidak mau menikah denganku?"
"Tidak mau, tidak mau, tidak mau. Lagipula aku masih belum puas menikmati masa mudaku." Jawab Nirmala dengan tegas.
"Kalau bicara soal kepuasan, manusia tidak akan pernah merasa puas, Mala." Tirta mulai sok bijak.
Nirmala mencibir, dia tahu sekarang dia berhadapan dengan pria jenius yang memang cara berpikirnya berbeda dengan anak lain yang sebaya. Kalau Nirmala mendebatnya, itu hanya sia-sia belaka, tidak akan bisa menang dari nya.
Kenapa masih belum ada taksi yang lewat? Batin Nirmala.
"Tirta, memangnya kamu mau menyia-nyiakan masa mudamu? Sayang sekali kalau orang jenius sepertimu di usia yang masih muda sudah punya istri, kamu juga belum kerja. Iya kan?"
Tirta hanya tersenyum.
"Banyak orang yang menikah muda lalu bercerai itu karena mereka belum siap, ada juga yang bercerai karena masalah ekonomi, ya karena suaminya tidak bekerja. Pernikahan mereka gagal lalu bercerai dan saling membenci." Ucap Nirmala lagi.
"Memang aku belum pernah menikah, tapi aku berpendapat hal-hal yang kamu sebutkan itu tidak ada kaitannya. Perceraian bisa saja terjadi, tapi alasannya bukan itu. Sebenarnya sangat sederhana, kok." Kata Tirta mulai bicara seperti orang dewasa lagi.
"Sederhana? Mana ada yang sederhana di balik keputusan untuk bercerai. Bisa jadi ada perselingkuhan atau mungkin karena tidak adanya kehadiran seorang anak." Bantah Nirmala.
"Aduh ... udah ah. Aku mau pulang." Kata Nirmala sambil berjalan mulai menjauh dari restoran.
Tirta terus mengikutinya tanpa peduli dengan motor yang ia parkir di restoran.
"Ah, itu semua kan cuma kedok. Alasan sebenarnya cinta di antara keduanya sudah mati, sudah tidak ada. Bukan karena tidak ada anak atau karena kesulitan ekonomi." Kata Tirta sambil terus mengikuti langkah Nirmala.
"Jadi apa yang membuat orang mau menikah? Cinta bukan?" Nirmala menyela kata-kata Tirta.
"Dan aku tidak mencintaimu, jadi lupakan impianmu untuk menikah denganku. Katakan saja itu pada wanita lain." Lanjut Nirmala.
"Hmm ... begitu ya? Tapi aku mencintaimu, selain itu aku ingin menghindari dosa." Kata Tirta.
Ya ampun, dia bicara tentang dosa. Batin Nirmala.
"Stop ya Tirta, stop! Kamu membuatku takut." Nirmala menarik napas dengan terang-terangan.
"Takut?" Tirta menoleh ke kanan dan ke kiri karena melihat Nirmala mulai menyeberang jalan raya. Semakin jauh dari restoran.
"Aku hanya mengajakmu menikah, aku jatuh cinta padamu, aku ingin bersamamu. Menikah adalah jalan yang terbaik. Cinta bisa tumbuh setelahnya, iya kan?" Sekarang Tirta berjalan mundur di depan Nirmala agar dia bisa melihat wajah Nirmala dengan jelas.
"Kamu membuat cinta terdengar begitu suci. Tapi maaf ya Tirta, maaf banget aku gak bisa. Aku gak mau menikah sama kamu. Ya ampun." Nirmala terlihat sangat emosional.
"Aku kurang romantis ya?" Tanya Tirta.
"Aku!" Nirmala menunjuk kedada nya dengan nada kesal.
"Aku yang kurang romantis dan sekarang enyahlah dari hadapanku!" Kata Nirmala.
Tirta tertawa, dia masih belum berputus asa untuk terus menggoda gadis di hadapannya.
"Aku mungkin harus banyak belajar untuk membuatmu setuju." Kata Tirta lagi.
Nirmala tidak menanggapi kalimat terakhir Tirta. Tiba-tiba Nirmala melihat taksi.
"Taksi ...!" Nirmala melambaikan tangan memanggil sebuah taksi. Saat taksi itu berhenti tepat di sampingnya, dia segera masuk dan menutup pintu taksi tersebut tanpa mengucapkan salam perpisahan dengan Tirta.
"Ya ampun, aku benar-benar menyesal sudah menerima ajakan makan siang." Gumam Nirmala setelah ia duduk di dalam mobil taksi tersebut.
"Mau kemana, Non?" tanya sopir taksi itu.
Nirmala kemudian mengatakan alamat rumahnya dengan jelas. Tak berapa lama akhirnya dia pun sampai dirumahnya. Dia mulai memasuki pagar rumahnya. Berusaha menenangkan napas yang sejak tadi menderu-deru. Kepalanya berdenyut-denyut dan terasa kencang. Dia melangkah dengan kecepatan yang tidak biasanya, memasuki rumah dan akhirnya sampai di kamar.
Dia segera menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat kemudian meletakkan tas di lemari kaca. Kini dia duduk di depan cermin, menatap bayangannya sendiri di cermin.
"Aku terlihat menyedihkan." Gumamnya sambil memegang kedua pipinya dengan posisi kedua tangannya dia letakkan di meja rias.
Tiba-tiba terdengar ketukan halus di pintu.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Non." Panggil bi Sona dengan lembut.
"Iya, Bibi. Ada perlu apa?"
"Ada Non Anah, dia barusan datang."
Anah? Ya ampun. Di saat seperti ini? Batin Nirmala.
"Iya, iya Bi. Sebentar Nirmala turun."
Nirmala kemudian mengatur napasnya lagi, dia kemudian mencuci wajahnya agar tidak terlalu terlihat panik. Di samping itu, debu di jalanan tadi juga cukup membuat wajahnya terlihat kusam. Dengan mencuci wajah akan membuatnya jadi lebih fresh.
Nirmala kini berjalan menemui Anah dengan senyuman walaupun hatinya sedang tidak karuan. Dia menuruni tangga dengan gontai, Anah mendongakkan kepalanya melihat Nirmala berjalan di tangga dan mulai mendekatinya.
"Terimakasih Anah." Ucap Nirmala.
"Sama-sama. Mala, apa bisa kita keluar sebentar?" tanya Anah.
Nirmala yang baru saja kembali ke rumah sebenarnya merasa capek, capek hati dan pikiran. Juga capek badannya. Rasanya seperti baru menembus ruang dan waktu. Tapi Anah malah mau mengajaknya keluar. Nirmala tidak bisa menolaknya.
"Kita mau kemana?" tanya Nirmala.
"Terserah kamu saja." Jawab Anah.
"Bagaimana kalau kita ke taman saja?" Kata Nirmala sambil melangkah naik ke kamar lagi untuk mengambil tas dan handphonenya.
Mereka kemudian berjalan keluar dan meminta pakde Slamet untuk mengantar walau sebenarnya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Sesampainya di taman, siapa yang menduga kalau Nirmala bertemu lagi dengan Tirta. Nirmala mencoba bersembunyi di balik badan Anah, tapi percuma. Tirta sudah terlanjur melihatnya.
Tirta berjalan mendekati Anah dan Nirmala. Anah masih tidak mengerti kenapa Nirmala bersembunyi di belakangnya.
"Kalau jodoh gak akan kemana ya? Pucuk di cinta ulam pun tiba." Ucap Tirta setelah jarak mereka dekat.
Anah tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Tirta. Tapi mungkin maksudnya adalah pertemuan di taman yang tidak terduga, Tirta memang jenius jadi kalimatnya susah di mengerti, pikir Anah.
Mendengar kalimat Tirta yang begitu terdengar aneh, Anah hanya menyunggingkan senyum.
Hari sudah sore, suasana di taman juga tidak sepi, terlihat banyak orang yang menikmati keindahan alam dan semilir angin yang sejuk. Nirmala masih bersembunyi di balik badan Anah dan mengajak Anah agar segera menghindari Tirta.
"Ayo, Anah kita kesana saja." Bisik Nirmala sambil menarik tangan Anah.
"Kami ke sana dulu ya Tirta." Ucap Anah.
Tirta mengangkat tangan kanannya dan berkata, "Okey."
Anah masih tidak mengerti dengan apa yang di lakukan oleh Nirmala. Kenapa dia bersembunyi saat melihat Tirta, padahal biasanya Nirmala baik-baik saja dan tidak pernah bermasalah dengan Tirta. Anah tidak mau menyelidik, baginya itu tidaklah penting.
Angin sore berhembus menyejukkan dua sahabat yang kini duduk di ayunan. Anah dan Nirmala bersantai di ayunan besi saling berhadap-hadapan. Mereka saling bicara membicarakan banyak hal, termasuk membicarakan Jeff. Anah memang terobsesi dengan sosok Jeff dan tidak pernah berhenti membicarakannya.
Baginya, Jeff adalah sosok yang sangat sempurna. Dia tampan dan juga pemberani, sangat penuh pesona menurut penilaian Anah. Sedangkan menurut Nirmala, Jeff adalah laki-laki yang tidak tahu sopan santun dan pemaksa. Dia senang sekali memaksakan kehendaknya. Jeff itu anak yang sangat menyebalkan. Batin Nirmala.
Mereka masih tetap duduk di ayunan dengan sangat santai. Tiba-tiba Tirta datang dan menawarkan es krim. Anah tanpa sungkan langsung menerima pemberian Tirta, sementara Nirmala sama sekali tidak mau menyentuh es krim itu. Dia bahkan membuang muka tanpa menoleh sedikitpun ke arah Tirta.
"Ya ampun, Tirta ini." Batin Nirmala lagi.
Tirta berdiri tepat di samping Nirmala dan memegang gagang ayunan, menatap gadis di hadapannya tapi dia tidak mengajak Nirmala mengobrol. Dia justru berbicara hangat kepada Anah dengan lembut, tidak seperti biasanya. Biasanya dia tidak pernah menyukai Anah karena menurutnya Anah itu selalu merepotkan.
"Anah, bagaimana dengan usahamu? Usahamu mengejar cintamu? Apa sudah ada titik terang?" Tanya Tirta tiba-tiba.
"Hah?" Anah sedikit kaget karena Tirta memberikan perhatian kepadanya.
"Ganbatte (semangat)!" Seru Tirta sambil mengepalkan tangan kanannya dan menunjukan ke Anah.
"Hah?" Anah kembali kaget.
Tirta kemudian pergi meninggalkan Nirmala dan Anah.
"Mala," panggil Anah.
"Iya,"
"Kamu merasa ada yang aneh dengan Tirta tidak?" tanya Anah penuh selidik.
"Tirta jadi banyak bicara, tidak seperti biasanya." Anah melanjutkan kalimatnya.
Nirmala tidak menanggapi, dia hanya berharap bisa bernapas dengan lega setelah Tirta menghilang dari hadapannya. Badannya terasa capek tapi dia masih ingin menikmati sore bersama Anah. Sementara Anah menikmati es krimnya, Nirmala menikmati terpaan angin.
Nirmala merasakan angin dingin menerpa tubuhnya perlahan, seolah sedang membelainya lembut. Ia memejamkan matanya menikmati rasa sejuk itu.
Wusss ...!
Mendadak angin berhembus lebih kencang dan terasa lebih dingin dari yang pertama tadi. Perlahan Nirmala membuka matanya. Samar-samar ia melihat bayangan seseorang berjalan ke arahnya, bukan Anah. Badannya tinggi seperti anak laki-laki. Nirmala kemudian memicingkan matanya dan berusaha melihatnya dengan jelas.
"Tirta?" gumam Nirmala.
"Ya ampun, bukankah tadi dia sudah pergi?" Batin nya.
Anah yang sedang asyik menikmati es krim juga di kaget kan oleh kehadiran Tirta yang tiba-tiba.
"Aku hanya ingin memberikan ini." Kata Tirta sambil menyerahkan sebuah buku gambar.
"Apa ini?" tanya Nirmala.
Anah tiba-tiba saja merebut buku itu dan membukanya. Anah terbiasa berbuat seperti itu, merebut benda milik orang lain. Padahal itu adalah perbuatan yang tidak sopan.
"Kenapa kamu berikan itu padaku?" tanya Nirmala Heran.
"Karena itu adalah gambaran perasaanku padamu." Jawab Tirta.
Anah yang mendengar perkataan Tirta langsung terbelalak dan mengatakan kalau Tirta menyukai Nirmala.
"Tirta, kau menyukai Nirmala? Ya ampun, kamu romantis sekali." Kata Anah.
"Kau menggambar wajah Nirmala sebanyak ini?" Anah mulai membuka lembaran demi lembaran buku itu.
"Lihatlah terus sampai halaman terakhir." Saran Tirta.
Anah menyaksikan banyak sekali sketsa wajah Nirmala yang sedang tersenyum. Saat Nirmala sedang membaca buku di perpustakaan, saat sedang berjalan, bahkan saat duduk di api unggun waktu berkemah beberapa waktu yang lalu juga ada. Semua di gambarkan selalu tersenyum. Tetapi menjelang halaman akhir, ekspresi wajahnya berubah. Wajahnya terlihat aneh dan murung.
"Seharusnya yang melihat semua itu Nirmala, bukan kamu Anah." Kata Tirta.
"Kamu bilang ini tentang perasaan kamu untuk Nirmala, tapi mana kamunya? semua gambar Nirmala." Ucap Anah.
Nirmala sama sekali tidak tertarik untuk melihatnya, tapi pertanyaan Anah membuatnya penasaran.
"Kenapa di awal kamu menggambar wajahnya tersenyum tapi di bagian akhir terlihat aneh dan murung?" tanya Anah.
"Coba lihat." Nirmala menjadi semakin penasaran. Dia membuka lembaran demi lembaran dan benar saja, di akhir halaman gambarnya di buat murung oleh Tirta.
"Ya seperti perasaanku saat ini." Jawab Tirta dengan santai.
Anah melongo dan menatap Tirta.
"Tapi kamu biasanya murung dan akhir-akhir ini kamu terlihat bahagia, kebalikan dari sketsa ini." Kata Anah lagi masih belum bisa mengerti.
"Sudah lah Anah, ayo kita pulang saja." Ajak Nirmala sambil berlalu meninggalkan Tirta sendirian di taman.
Tirta memang begitu misterius, dia memiliki banyak rahasia dan bahkan dia mengetahui banyak rahasia orang lain. Pola pikirnya sama sekali tidak menunjukkan usianya yang masih remaja, dia berpikir lebih jauh ke depan. Pantas saja julukan Tirta si jenius selalu melekat pada dirinya.
Tirta kemudian mengambil kembali buku sketsanya yang di tinggalkan Nirmala, Nirmala tidak mau menyimpannya. Tirta kemudian duduk di ayunan sambil memejamkan mata menikmati terpaan angin sejuk. Memang sangat nyaman bersantai di taman yang banyak pepohonan dilengkapi terpaan angin.