Getaran Hati Nirmala

Getaran Hati Nirmala
Pembunuhan Berencana


Beberapa hari setelah acara perkemahan selesai, Anah masih bersikap dingin dan cuek kepada Nirmala. Sifatnya itu selalu membuat Nirmala kurang konsentrasi dalam belajar, dia merasa sangat kehilangan sosok Anah yang dulu begitu dekat dengannya dan selalu membantunya saat teman-teman sekolah membullynya. Anah yang sekarang bukan lagi Anah yang dulu.


Hari itu Nirmala pulang sekolah sedikit telat, dia mengerjakan beberapa tugas yang di bebankan pihak sekolah kepadanya. Teman-teman sekolahnya sudah tidak ada disana. Baik Jeff maupun Tirta, mereka juga sudah tidak terlihat. Nirmala berdiri di pinggir jalan trotoar menunggu angkot.


Mendadak sebuah mobil sedan tanpa lampu melaju dengan kencang dan naik ke trotoar. Awalnya Nirmala mengira pengemudi itu sedang mabuk atau kehilangan konsentrasi saat menyetir. Nirmala berusaha mundur dan menghindar, tapi gerakannya kurang cepat. Tabrakan tidak terhindarkan, ia terpental ke belakang. Dia merasakan nyeri di bahu, tangan, paha dan juga lutut. Belum sempat Nirmala berdiri tegak, mobil yang menabraknya mundur dan tiba-tiba melaju lagi ke arahnya.


Nirmala sempat melihat seseorang berjalan dengan cepat ke arahnya lalu mendorongnya ke arah lain untuk menghindarkan dari mobil yang sepertinya sengaja ingin mencelakainya.


Ketika Nirmala membuka matanya, dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


"Mala ...." Suara penuh kekhawatiran terdengar di telinganya sambil mengelus rambutnya.


Samar-samar Nirmala melihat kedua orang tuanya dan bisa mendengar ucapan syukur mereka karena akhirnya dia membuka matanya.


"Mama ... Mala ..." Nirmala kesulitan melanjutkan kalimatnya. Ibunya buru-buru memberi perintah dengan suara yang lembut agar Nirmala jangan bicara dulu.


"Sssttt ... Mala istirahat dulu ya, jangan banyak bicara. Nanti kalau tenagamu udah pulih baru boleh bicara." Ucap ibunya.


Nirmala menatap tak berdaya kepada kedua orang tuanya. Dia mengangguk mematuhi perintah ibunya. Sang ayah juga memintanya agar jangan banyak bergerak. Beberapa menit kemudian, seorang dokter bersama dengan dua perawat masuk ke kamar yang ditempati Nirmala untuk memeriksa kondisinya. Setelah memeriksa kondisi Nirmala, ayahnya mengajak dokter itu berbicara.


Nirmala tidak mengalami luka serius, namun dia mengalami banyak memar dan juga harus mendapat beberapa jahitan di kepalanya. Walau begitu, ibunya terlihat begitu cemas tapi sang ayah terlihat tidak terlalu cemas mungkin karena dia sudah mengerti kondisi anaknya setelah dokter menjelaskan.


"Kenapa sih kamu bisa ketabrak mobil? Kamu pasti kurang hati-hati ya?" Tuduh Ibunya.


"Untung saja ada pedagang asongan yang menyelamatkan mu. Tadi papa sudah menemuinya untuk mengucapkan terimakasih." Kata Ibunya lagi sambil membenahi letak bantal Nirmala.


"Lalu pakde Slamet kemana? Kenapa kamu bisa di trotoar?" Ibunya memberondong dengan berbagai macam pertanyaan.


Selama ini kedua orang tua Nirmala begitu sibuk hingga tidak pernah tahu kalau putrinya sering naik angkot, bus atau taksi. Dia jarang menggunakan jasa pakde Slamet, sopir pribadinya.


"Tadi Mala sedang berdiri di trotoar menunggu angkot ...." Belum selesai Nirmala bicara, ibunya sudah memotong pembicaraan nya lagi.


"Angkot? Apa maksud kamu Mala?"


"Ini semua salah Mala, Mama tolong jangan salahkan pakde." Nirmala melihat gelagat Ibunya yang seperti marah besar kepada pakde Slamet. Dia memohon agar tidak mengkaitkan musibah yang menimpanya dengan sopir pribadinya.


Mamanya menghela nafas.


Nirmala mengelus pelipisnya dan mencoba memejamkan mata karena merasa kepalanya mendadak sakit. Peristiwa kecelakaan itu berputar di ingatannya. Dia ingat siang itu pulang terlambat dan kondisi sekolah sudah sepi.


"Pengemudinya mungkin sedang mabuk. Aku ingat mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi dan sampai naik ke trotoar. Dan ...." Nirmala mengenang kembali momen saat insiden kecelakaan itu.


Malam ini ibunya memutuskan untuk menginap dirumah sakit menemani Nirmala. Sedangkan ayahnya yang super sibuk itu kembali kerumah.


"Kejadian seperti ini memang kerap terjadi, biasanya karena pengendara sedang mabuk. Dia langsung kabur saat menabrakmu, itu yang di katakan pedagang asongan sebagai saksi mata peristiwa yang menimpamu. Akibatnya kamu jadi seperti ini." Ucap ibunya.


"Keluarga kita berhutang budi pada pedagang asongan itu." Lanjut ibunya lagi.


Nirmala mengangguk membenarkan apa yang di katakan oleh ibunya.


"Tas Mala ...." Nirmala tiba-tiba mencari tasnya.


"Di bawa pulang papa. Isinya lengkap. Beruntung ponselmu tidak rusak atas kejadian itu, jadi pihak rumah sakit bisa menghubungi rumah. Sekarang beristirahatlah dulu." Kata Ibunya lagi.


Nirmala tiba-tiba teringat akan kecelakaan beberapa waktu lalu yang menimpa Jeff saat menyelamatkan dirinya. Tubuh Nirmala tiba-tiba menegang. Rasa takut menyelimuti benaknya.


"Mama ...." Panggilnya dengan suara bergelombang.


"Hmmm ...." Mamanya menoleh, menghentikan tangannya yang sedang menuang air ke gelas.


"Mala rasa ... Mala rasa ...."


Ibunya bergegas mendekati ranjang saat menangkap raut ketakutan di wajah putrinya.


"Ada apa?" Tanya Ibunya dengan lembut.


Saat pandangan mereka berpadu, Nirmala berbicara dengan sedikit gemetar.


"Orang itu ... mencoba mem ... bunuh ... Mala."


Awalnya Ibunya mengira salah tangkap dengan apa yang di katakan oleh putrinya. Namun anggukan Nirmala menjadi penegas bahwa apa yang di dengar ibunya adalah benar. Tanpa bisa di cegah, wajah ibunya seketika berubah pucat.


"Orang itu mencoba menabrak Mala lagi. Dia ... sesaat setelah menabrak Mala yang pertama kemudian berusaha memundurkan mobilnya untuk kembali melaju menabrak Mala. Setelah itu Mala tidak ingat apa-apa lagi kecuali seseorang berteriak dan mendorong tubuh Mala."


Ibunya terpaku mendengar cerita putrinya. " Mobil itu mau menabrakmu untuk yang kedua kalinya?"


Nirmala mengangguk pelan.


Apakah pengendara mobil adalah orang yang sama yang juga mencelakai Jeff waktu itu? Batinnya bertanya-tanya.


Orang tua Nirmala berniat melaporkan kejadian ini ke polisi. Tapi Nirmala mencegahnya. Dia memaparkan beberapa alasan yang logis sehingga mengurungkan niat orang tuanya untuk melapor. Yang utama adalah tidak ada nya bukti tentang siapa yang ada di balik kemudi mobil itu.


Menurut penuturan ayah Nirmala setelah berbicara dengan pedangan asongan juga pedagang asongan itu yang walaupun menyaksikan kejadian tersebut, tapi dia juga tidak melihat nomor polisi mobil tersebut. Tanpa nomor polisi yang seharusnya bisa menjadi identitas penting, semua itu tidak ada artinya. Bahkan andaipun tahu, semua tetap saja bisa di palsukan. Urusan penyelidikan tanpa di lengkapi bukti yang jelas akan menemui banyak kendala.


***


Nirmala tiba-tiba merasa kaget saat Anah menjenguknya. Nirmala merasa tidak memberitahu siapapun tentang keadaannya dan keberadaannya di rumah sakit.


"Tadi aku kerumahmu, tapi kata Bi Sona kamu dirawat dirumah sakit, jadi aku kesini." Ucap Anah.


Nirmala merasa sangat senang karena akhirnya Anah mau bicara lagi dengannya.


"Aku juga sudah tahu semuanya." Lanjut Anah.


"Tahu apa?" Tanya Nirmala merasa keheranan.


"Kamu bukan anak pembantu melainkan anak ...." Anah belum selesai bicara tapi Nirmala memotong pembicaraan.


"Anah, jangan beri tahu siapapun tentang aku." Pinta Nirmala.


Anah tersenyum seraya berjanji. Tapi hatinya semakin remuk mengetahui kenyataan itu. Kenyataan yang paling menyakitkan. Ternyata ayah Nirmala adalah atasan ayahnya di kantor. Ayahnya yang selalu dia banggakan karena jabatannya ternyata hanyalah bawahan dari ayahnya Nirmala, Nirmala yang selama ini dia kira hanya anak seorang pembantu. Rasa irinya semakin mendalam.


"Jangan berpikir terlalu jauh. Ini pasti hanya kecelakaan biasa." Suara Anah terdengar lembut.


Nirmala memandang wajah temannya dengan senyum mengembang. Dia mengatakan kalau dia tidak betah berada di rumah sakit. Dia menatap ke arah Anah dan kedua orang tuanya yang kini juga berada di sampingnya.


Ayahnya menyuruh agar Nirmala tetap di rawat dirumah sakit sampai lukanya benar-benar sembuh. Padahal luka fisiknya tidak begitu berarti jika di bandingkan dengan kondisi psikologis nya. Itu karena dia dua kali hampir di celakai oleh orang tak di kenal. Diam-diam Nirmala membuat janji pada dirinya sendiri bahwa dia akan menemui psikolog karena dia khawatir kejadian itu akan mengganggu pikirannya dn menyebabkan trauma berkepanjangan.


Meski kedua orang tuanya berusaha keras untuk menanggapi masalah dengan santai, tapi keterangan dari pedagang asongan sedikit banyak membuat kedua orang tuanya khawatir. Nirmala hanya mampu bertahan selama tiga di ruang perawatan. Aroma rumah sakit membuatnya sangat tidak nyaman. Terbaring di ranjang rumah sakit sangat berbeda dengan ranjang tempat tidur dikamar. Walaupun fasilitas di kamar perawatannya vip.


Setiap saat benaknya di penuhi pikiran tentang siapa yang bertanggung jawab atas kekacauan yang menimpanya itu. Benaknya teringat akan seseorang yang selalu berusaha untuk mencelakai nya. Dia teringat akan teman sekelasnya.


Salsa?


Nama Salsa bergema mengisi pikirannya. Menyiksa dan membuatnya terjebak dalam kemarahan sekaligus rasa muak. Tapi itu baru dugaannya, dia juga masih sedikit ragu kalau Salsa yang masih seumurannya bisa berpikir jauh untuk melenyapkannya. Perlahan-lahan dia mulai berpikir jernih. Tapi tidak lama kemudian dia berpikir buruk lagi. Keputusannya untuk berkonsultasi dengan seorang psikolog dirasanya merupakan keputusan yang tepat.


Salsa mungkin cemburu melihat kedekatannya dengan Kevin. Bukan hanya Kevin alasan utamanya, tapi Salsa juga berkali-kali berusaha ingin mencelakainya dan membuatnya merasa tidak nyaman. Tapi bisa saja itu mungkin benar, karena dia sering menonton film dan keseringan di film yang ia tonton memperlihatkan bagaimana rasa cinta berbuah benci yang mendalam pada seseorang yang di anggapnya sebagai saingan. Nirmala merasa hal-hal itu bisa saja terjadi di dunia bukan hanya di film.


Nirmala menyimpan dalam-dalam nama Salsa, mencoba mempercayai kalau Salsa tidak ada kaitannya dengan ini.


"Ya, aku harus membuang jauh-jauh pikiran buruk dan mulai berpikir kalau kejadian ini hanya kebetulan semata dan tanpa di rencanakan." Nirmala berbicara pada dirinya sendiri. Berusaha meraih kekuatan untuk meyakinkan dirinya agar tidak berpikir terlalu jauh.


Anah rutin mengunjungi Nirmala seusai pulang sekolah. Untuk melihat kondisi Nirmala, dia berusaha menghibur sahabatnya dengan kalimat yang menenangkan. Juga berusaha keras agar sahabatnya tidak berpikir ada seseorang yang sengaja ingin mencelakainya. Anah mampu menutupi perasaannya dengan sangat baik. Mencoba membuat Nirmala meyakini bahwa dia tidak terpengaruh oleh kejadian yang menimpa sahabatnya.


***


Beberapa waktu sebelum terjadi kecelakaan itu. Anah kembali bertemu dengan wanita bertopeng yang kemudian mengajak Anah untuk bekerjasama dengannya untuk melenyapkan Nirmala. Anah sempat menolak tapi karena nyawanya terancam, akhirnya dia mau bekerjasama. Anah sendiri masih belum tahu siapa wanita di balik topeng itu. Dia hanya ingat wanita itu memiliki tatto mawar berduri di lengan kanannya.


Setiap kali Anah habis berkunjung dari rumah sakit, dia menemui wanita bertopeng itu dan menceritakan kondisi Nirmala. Ternyata ada bagian tertentu yang tidak sesuai keinginannya. Laporan dari Anah ngecewakannya. Ada yang harus tertunda, tapi dia merasa puas karena rencananya kali ini dapat mencapai sasaran, meski tidak sempurna.


Dia tersenyum palsu, sedangkan Anah sedikit takut dan gemetar. Tiba-tiba seorang pria yang tidak dikenal oleh Anah menyapanya. menatapnya dengan pandangan memuja. Memuja Anah yang berhasil menjalankan misinya dengan sempurna. Tapi kehadirannya membuatnya tidak tenang dan justru membuat Anah semakin gusar dan ketakutan.


"Seharusnya kamu bisa menghancurkan wajahnya itu kan? Tapi itu tidak boleh terjadi, sangat sayang jika kecantikan yang langka itu musnah begitu saja." Kata pria itu kepada Anah.


"Bagaimana pria itu bisa tahu kalau aku muak dengan wajah Nirmala." Batin Anah.


"Aku hanya ingin mengambil apa yang menjadi hakku. Cinta Jeff, cinta Jeff hanyalah akan menjadi milikku dan bukan milik Nirmala." Kata Anah yang kemudian berlalu meninggalkan wanita bertopeng dan pria asing itu.


***


Pada malam terakhir Nirmala di rumah sakit, Kevin datang membesuknya. Dia tidak datang sendiri, dua sahabatnya ikut serta, sepasang suami istri. Keduanya adalah teman Kevin sewaktu masih SMP dan mereka tinggal di Jepang setelah menikah. Sekarang mereka sedang berkunjung ke Indonesia dan Kevin memaksa mereka untuk menginap dirumahnya. Itulah sebabnya Kevin datang mengunjungi Nirmala bersama dengan mereka.


"Kevin, aku jadi mengganggu acara kamu dengan temanmu yang datang dari jauh ya?" Kata Nirmala.


Kevin menggeleng, mengusir rasa bersalah yang menggeliat di wajah Nirmala.


"Itu bukan hal yang penting, ada sesuatu hal yang lebih prioritas yang harus aku dahulukan." Ucap Kevin.


Temannya yang duduk di sofa bersebelahan dengan Kevin tertawa geli mendengarkan perbincangan mereka.


"Kalau tahu akan kejadiannya seperti ini, kami tidak akan ikut kesini Vin, kami jadi merasa gak enak." Teman laki-laki Kevin bertukar senyum dengan istrinya.


"Iya, kami kira kamu masih tetap jomblo Vin dan ya, kami kira kamu akan menemui keluargamu dan bukan kekasihmu." Ucap istri teman Kevin.


Kevin hanya tersenyum menanggapi ucapan teman-temannya. Nirmala menatap wanita yang kini duduk di sebelahnya dan memandangnya dengan tatapan khawatir atas luka di kepalanya. Nirmala terlihat menyukai wanita itu, dia berhijab dan terlihat begitu ramah. Sementara itu, Kevin mengobrol dengan suami wanita itu.


"Kamu masih ingat Chika, Vin?" tanya lelaki itu.


Nirmala menatap wajah Kevin yang terlihat mengerutkan alisnya.


Setelah sekian detik berlalu, Kevin menjawab.


"Tentu saja, dia tinggal di sini?" Jawab Kevin.


Temannya sedikit heran, setau mereka Chika tinggal di Jerman, dia tidak tahu kalau Chika tinggal di Indonesia. Dan yang membuat Kevin terkejut, mereka menyangka kalu Kevin ada hati dengan Chika. Tapi mereka memang tidak pernah mendengar kabar kalau Kevin pacaran dengan Chika. Mereka hanya dengar kalau Kevin selalu dekat dan bersama dengan Chika kemanapun pergi.


Istrinya menatap suaminya dan tertawa renyah. "Sudah aku bilang, Kevin dan Chika tidak ada hubungan spesial, mereka hanya teman biasa."


"Kalian kenapa tiba-tiba membahas Chika?" tanya Kevin bingung.


"Chika itu sangat menyukai kamu Kevin, sangat tergila-gila malah." Wanita itu menatap Nirmala dengan kilau yang berpendar di matanya. "Tapi Kevin sama sekali tidak pernah peduli akan perasaannya." Masih menatap Nirmala.


Nirmala jadi penasaran mendengar ucapan wanita itu. Wanita itu kemudian melanjutkan ucapannya.


"Chika itu sejak masih kelas satu SMP sudah menyukai Kevin, tapi Kevin itu tidak pernah meladeni." Ucapnya pada Nirmala.


"Ah, sudah tidak perlu di lanjutkan." Protes Kevin.


Suami istri itu tertawa geli dan tawanya mengambang ke udara sambil terus menatap Nirmala.


"Bukan hanya Chika, tapi masih banyak gadis lainnya yang jatuh cinta." Temannya mulai lagi menggoda.


Nirmala tidak bisa menahan senyumnya sedangkan Kevin terlihat wajahnya sudah merah merona karena menahan malu.


"Dan sekarang kita tahu siapa yang Kevin puja." Lanjut temannya lagi.


Nirmala tersenyum merasa terhibur oleh kehadiran Kevin dan teman-temannya. Senyum Kevin pun ikut merekah melihat senyum di wajah Nirmala.


Tiba-tiba temannya Kevin memuji kecantikan Chika yang di tolak mentah-mentah oleh Kevin.


"Chika itu putih, mulus dan seksi pokoknya, iya kan Vin?"


Seketika istrinya melotot ke arah suaminya tapi hal itu justru membuat Nirmala tersenyum geli. Laki-laki itu kemudian merapatkan kedua tangannya di depan dada seolah minta maaf atas ucapannya tadi yang kemudian membuat istrinya menyeret dia pulang.


Istrinya menggeleng. "Bukan karena itu, tapi karena hari sudah malam dan anak kita sendirian di rumah Kevin. Selain itu, aku juga tidak suka dengan Chika yang sok cantik dan tebar pesona itu, syukurlah kalau Kevin tidak pernah menyukainya."


Suami istri itu kemudian berpamitan pulang lebih dulu. Kevin mengantar mereka sampai ke depan pintu kamar perawatan Nirmala.


Kevin meninju lengan temannya dengan pelan. "Kalau kamu berniat untuk membuat Mala cemburu, kamu salah orang." Ucapnya sambil tersenyum ringan.


Setelah kedua teman Kevin pulang, Nirmala juga memaksa Kevin untuk segera pulang karena hari sudah malam dan keesokan harinya Kevin juga harus pergi ke kantor. Tapi Kevin bersikeras ingin tetap menjaga Nirmala sampai kedua orang tuanya datang.