
Jeff tidak langsung pulang kerumah, dia pergi ke kafe tempat biasa dia nongkrong bersama teman-teman motornya. Tapi karena malam itu bukan malam minggu, tidak ada teman-temannya yang berada di dalam sana, tidak ada satu pun. Keadaan seperti itu justru membuatnya semakin nyaman karena tidak ada yang mengganggunya.
"Selamat malam." Sapa seorang perempuan di depan konter meja panjang.
"Mau pesan apa?" lanjutnya dengan tersenyum.
"Mocca Latte." Kata Jeff.
"Ada lagi?"
"Roti bakar 2."
Kemudian Jeff membayar dan membawa pesanannya ke meja, dia memilih meja di dekat jendela. Malam itu tidak ada bulan maupun bintang, Jeff hanya melihat langit mendung yang gelap seperti suasana hatinya saat ini. Benar saja, baru sebentar dia duduk, hujan turun dengan derasnya.
Jeff mulai menikmati kopinya, dia menyesapnya sedikit demi sedikit. Tanpa dia sadari, dia teringat kembali dengan Nirmala. Gadis yang tidak menepati janjinya. Seketika dia mulai merasa kesal dan ingin marah lagi. Tapi dia berusaha untuk tenang.
"Hai."
Jeff yang sedang memegang mug kemudian memiringkan kepalanya melirik dari balik mug ke sumber suara yang ada di depannya.
"Hai." Balas Jeff kepada seorang gadis yang barusan menyapanya, gadis itu duduk tepat di depannya.
Jeff tidak mengenalnya, tapi tidak dengan gadis itu. Gadis yang di depannya sangat mengenal Jeff. Dia kemudian mengulurkan tangannya, mengajak Jeff berkenalan.
"Namaku Lisa." Kata gadis itu.
Jeff dengan ragu-ragu membalas uluran tangannya, "Aku Jeff."
Lalu Jeff segera melepas jabat tangan malam itu.
"Aku sudah tahu." Kata Lisa tersenyum lebar menampakan gigi-giginya yang memakai behel.
Cantik, tapi tidak lebih cantik dari Nirmala. Batin Jeff.
Lalu darimana dia mengenalku? Batinnya lagi.
Jeff kemudian letakkan kopinya dan membenamkan wajahnya di kedua tangannya di atas meja, lalu dia berkata, " Kau pasti salah orang."
Jeff tidak berani menunjukan wajahnya, tapi Lisa kemudian menarik tangannya. Seolah tahu apa yang sedang Jeff rasakan.
"Tenang saja, rahasiamu aman kok sama aku." Katanya sambil masih memegang tangan Jeff.
Perlahan Jeff melepas genggaman tangan Lisa. Tapi gadis itu malah mengedipkan mata membuat leher jeff panas dan terbatuk. Jeff semakin terkejut saat gadis itu mengambil salah satu rotinya dan menggigitnya tanpa permisi.
"Lis ..."
"Eh ... Maaf-maaf ntar aku ganti rotinya." Kata Lisa sambil tertawa dan memakan roti itu.
Jeff meraih roti yang satunya lagi. Lisa kemudian mengatakan kalau dia sangat mengenal Jeff. Dia bahkan tahu dan sering melihat Jeff di sekolah suka senyum-senyum sendiri setiap melihat Nirmala, semua teman di sekolah sudah tahu kalau Jeff menyukai Nirmala. Tiba-tiba Jeff tersedak, "Uhuk ..."
Darimana dia bisa tahu tentang Nirmala juga. Batinnya lagi.
"Tidak usah kaget begitu, semua teman di sekolah sudah tahu. Jeff, masa kamu tidak mengenalku?" Katanya lagi.
"Tidak." Jeff menatap wajah Lisa, wajahnya terlihat terluka. Jeff jadi merasa bersalah.
"Kita kan satu sekolah." Lanjutnya.
Jeff menjadi semakin berdosa, masa sama teman sekolahnya saja dia tidak tahu.
"Maaf ... Maaf, hubunganku dengan teman-teman di sekolah memang kurang baik." Jeff mengalihkan pandangannya tapi Lisa justru menunjukan senyum yang menawan.
Lagi-lagi Lisa meraih tangan Jeff, tapi dengan segera Jeff menepisnya.
"Tidak apa," Kata Lisa.
"Aku suka ngeliatin kamu di sekolah dan yang pasti kamu selalu menarik perhatianku," tambahnya lagi.
Jeff tidak merasa aneh, di sekolah sudah banyak sekali gadis yang menyatakan cinta padanya. Walaupun tidak ada yang seunik Anah.
"Apakah kamu biasa semerah ini?" Kata Lisa saat menatap wajah Jeff.
Sebenarnya dari tadi dia ingin bertanya, tapi dia khawatir akan menyinggung perasaan Jeff. Jeff merasa kaget apa mungkin karena dia masih menahan marah atas kebohongan Nirmala. Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya pergi ke kamar mandi dan bercermin.
Jeff berusaha menarik nafas dan melepas pelan, dia juga berusaha mengatur agar jantungnya bisa lebih tenang berdetak, tidak seharusnya dia marah sampai sejauh itu. Masih ada hari esok di sekolah, dia masih bisa menemui Nirmala dan bertanya langsung kenapa dia tidak datang ke restoran malam ini.
Tapi buat apa bertanya, lupakan saja. Gumamnya lirih sambil masih menatap cermin di hadapannya.
"Jeff."
Jeff menoleh ke sumber suara, ternyata Lisa mengikutinya.
Astaga, dia mengikutiku. Batin Jeff.
Lisa menatap Jeff dengan hati-hati dan terlihat sedang berusaha menggodanya.
"Mau pulang?" tanya Lisa sambil mengangkat paper bag dan kotak roti di dalamnya.
"Aku belikan roti 6 biji untuk mu sebagai ganti rotimu yang aku makan tadi." Lanjutnya.
Jeff mengangguk tanpa melontarkan satu patah kata pun. Kemudian mereka berjalan keluar, hujan sudah berhenti. Jeff menuju ke parkiran motornya, Lisa mengikutinya. Akhirnya mereka sampai di parkiran motor.
"Kenapa kamu masih mengikutiku?" tanya Jeff dengan penuh penasaran.
"Aku tidak mengikutimu Jeff, motorku parkir di sebelah motor kamu." Jawab Lisa dengan santai sambil menunjuk motornya yang terparkir persis di samping motor Jeff.
Tiba-tiba saja tangan Lisa memeluk Jeff.
"Makasih," Kata Lisa yang sesaat kemudian melepas pelukannya.
"Makasih untuk apa?"
"Untuk malam ini." Kata Lisa yang terlihat sudah duduk di atas motornya.
Jeff kemudian naik pula ke motor dan memakai helmnya. Lisa keluar lebih dulu. Dia terlihat berjalan ke arah yang berbeda dengan arah tujuan Jeff. Saat ini hatinya sudah sedikit lega. Dia lebih terlihat santai membawa motornya. Tapi itu tidak bertahan lama, sesaat kemudian dia teringat kembali akan Nirmala.
Jeff menarik nafas dalam-dalam berusaha mengembalikan konsentrasinya yang mulai buyar.
Aku sudah rela jika kamu benar-benar tidak memenuhi janjimu. Batinnya lagi*.
Kali ini dia menambah kecepatan motornya.
Satu jam lebih aku pasrah dan masih terus menunggumu. Aku sudah memaafkan janji yang kau ingkari. Tapi sayangnya, bayangan akan kedatanganmu memenuhi imajinasiku. Jeff masih membatin.
Kali ini kecepatan motornya semakin super.
Tiba-tiba dia mulai mengurangi kecepatan motornya saat melihat ada dua orang paruh baya terlihat kebingungan di tengah jalan. Jeff menghentikan motornya dan menghampiri kedua orang tersebut yang terlihat panik seperti sedang mencari sesuatu.
"Apa ada masalah dengan mobilnya?" Tanya Jeff.
"Anu den, gak ada masalah dengan mobilnya tapi masalahnya bapak lupa jalan ini."
Rupanya mereka adalah pakde Slamet dan bi Sona yang baru kembali dari kampung, mereka belum pernah melewati jalan itu sebelumnya, itu karena jalan yang biasa mereka lewati sedang di tutup karena sedang ada perbaikan jalan.
"Memangnya bapak ibu mau kemana?"
Bi Sona dan pakde Slamet merasa Jeff seperti dewa penolong. Dari tadi mereka memang sedang menunggu orang yang lewat tapi tidak ada satupun yang lewat, kalau pun ada mereka tidak ada yang mau berhenti. Bi Sona dan pakde Slamet lalu mengatakan tujuan mereka.
"Bukankah itu alamat perumahan Nirmala." Batin Jeff.
Jeff kemudian menyuruh mereka untuk mengikutinya. Pakde Slamet dan bi Sona masuk ke dalam mobil dan mengikuti Jeff, mereka tidak berfikir buruk, mereka percaya kalau pemuda ini adalah pemuda baik-baik. Sedangkan Jeff walaupun sering kerumah Nirmala tapi tidak pernah bertemu dengan bi Sona dan Pakde Slamet. Ini pertemuan pertama mereka.
Tidak lama kemudian akhirnya mereka sampai di jalan yang sudah tidak asing lagi bagi pakde Slamet. Pakde Slamet kemudian menghentikan mobilnya, Jeff melihat dari kaca spion motornya dan ikut berhenti juga. Pakde Slamet turun dari mobilnya dan mengucapkan terimakasih serta mengatakan tidak perlu di antar lagi karena sekarang sudah tahu jalannya. Jeff kemudian berputar arah dan kembali kerumah.
Sudah pukul 11 malam, Jeff melirik jam tangannya. Tapi dia tidak khawatir akan di marahi oleh ayahnya karena kedua orang tuanya sudah kembali ke luar negri. Sedangkan Chika, kakaknya tidak pernah sekalipun memarahinya.
Ketika dia melintasi sebuah jalan di dekat taman, terlihat muda-mudi banyak yang sedang berpacaran. Ada yang bergandengan tangan dengan senyum sumringah, ada pula yang hanya duduk dan saling menatap. Padahal itu bukan malam minggu dan waktu pun sudah semakin larut. Tapi masih banyak yang berpacaran.
Dia kembali teringat akan Nirmala, tapi kali ini hatinya sudah lebih tenang. Dia pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Tidak lama kemudian akhirnya dia sampai di rumahnya. Dia kemudian meletakan roti yang di belikan oleh Lisa ke dalam lemari pendingin.
Menyadari adiknya pulang, Chika kemudian keluar dari kamar.
"Tumben cepat sekali pulangnya?"
"Kakak ini bicara apa? Ini kan bukan malam minggu."
Chika memandang wajah adiknya, ada aura tidak mengenakan. Tapi dia tidak ingin bertanya malam itu, besok saja saat sarapan. Pikirnya, dia menyuruh adiknya untuk segera beristirahat, sementara dia sendiri berjalan ke depan untuk mengunci pintu. Jeff mulai masuk ke kamarnya, dia melepas jaket dan celana jinsnya. Lalu mencuci muka, lagi-lagi dia teringat dengan Nirmala.
Bayangan Nirmala tidak pernah hilang dari pikirannya. Sosoknya pun selalu hadir jadi orang pertama yang muncul di pikiran dari baru bangun tidur hingga sebelum tidur. Jeff masih terus membasuh wajahnya, bibirnya selalu menyebut nama Nirmala, Nirmala, Nirmala.
"Aku sudah hampir gila di buatnya." Gumamnya lirih sambil mengeringkan wajahnya dengan handuk.
Selesai membersihkan diri, dia mengganti bajunya dan mulai merebahkan badannya di kasur. Menatap langit-langit kamar dalam keheningan, matanya mulai terpejam dan dia kini terbangun dalam mimpinya. Lagi-lagi dia memimpikan Nirmala.
Kata orang jika kita memimpikan seseorang itu berarti orang tersebut sedang memikirkan kita. Tapi Jeff tidak berfikir demikian, dia justru berfikir karena terlalu memikirkannya hingga terbawa ke dalam mimpi.
Meskipun mimpi hanyalah sebuah bunga tidur, tapi Jeff sangat senang setiap kali bertemu dengan Nirmala walaupun hanya sebatas di alam mimpi. Dia selalu merasa senang dan tidak ingin melupakan mimpi tersebut. Saat bangun tidur pun, dia justru merasa kesal. Dia ingin melanjutkan mimpinya kembali, tapi hari sudah pagi dan dia harus bergegas ke sekolah.
"Kenapa sih kok harus bangun sekarang, padahal kan tadi mimpinya lagi seru."
Jeff bermimpi nyaris mencium Nirmala, tapi belum sampai terjadi, alarm berbunyi membangunkan mimpi indahnya dan itu sangat membuatnya kesal. Dia kemudian pergi mandi dan bersiap untuk sarapan.
"Selamat pagi pangeran tampan." Sapa Chika yang sudah lebih dulu duduk di ruang makan.
"Selamat pagi putri raja yang cantik." Balas Jeff tapi dengan ucapan yang tidak bersemangat.
Chika yang sedang mengunyah makanannya jadi bertanya-tanya.
"Eh ... Sepertinya tidak bersemangat."
"Entahlah, hoam ..." Kata Jeff sambil menguap dan mengeluh ingin tidur lagi.
Mereka kemudian makan bersama, awalnya Chika ingin menanyakan soal semalam, tapi dia mengurungkan niatnya. Lalu Chika membahas topik yang lain.
Selesai sarapan, Jeff berpamitan untuk berangkat sekolah, tapi Chika melarang Jeff memakai motor ke sekolah karena dia terlihat mengantuk.
"Kakak akan mengantarmu ke sekolah, ayo semangat."
Jeff tetap tidak bersemangat tapi dia setuju untuk di antar ke sekolah oleh kakaknya. Mereka langsung berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah, betapa bahagianya Chika karena tanpa sengaja bertemu dengan Kevin. Tapi Kevin tidak sendirian, dia datang ke sekolah mengantar Nirmala, seketika hati Chika hancur tapi mencoba berpura-pura untuk tenang.
Chika berdiri di depan mobilnya bersama Jeff, sedangkan Kevin berdiri di samping Nirmala di depan mobilnya.
"Kebetulan sekali," Kevin menghampiri Chika.
"Selamat pagi kak Chika," Sapa Nirmala.
Chika tersenyum dan membalas sapaannya. Nirmala melirik ke arah Jeff, tapi Jeff terlihat membuang muka. Nirmala kemudian masuk ke sekolah di susul oleh Jeff di belakangnya. Nirmala diam, dia melangkahkan kakinya lebih cepat. Jeff ingin bertanya tentang janjinya, kenapa semalam tidak datang. Tapi egonya melarang hal itu, dia pun melangkah dengan diam di belakang Nirmala tanpa suara.
Sesampainya di kelas, Nirmala duduk di samping Anah seperti biasa. Anah masih tidak ingin menyapanya. Nirmala pun hanya menatap tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Jeff juga sudah duduk di kursinya, tapi dia menyembunyikan wajahnya di atas tas yang dia taruh di atas meja. Dia masih sangat mengantuk. Dia tidak yakin bisa mengikuti pelajaran sekolah pagi itu.
Baru sebentar ia terpejam, bel berbunyi tanda masuk kelas mengagetkannya. Mau tidak mau dia harus bangun dari tidurnya dan tidak lama kemudian, guru kelasnya sudah berdiri di depan kelas.
Hari ini guru kelas itu mengumumkan tentang beberapa acara yang akan digelar di perkemahan. Beberapa siswa ada yang protes dengan kegiatan yang disampaikan. Akan tetapi guru menjelaskan bahwa itu sudah menjadi kesepakatan dan tidak boleh ada yang protes.
Dan setiap kelas harus ada yang menjadi ketua perkemahan. Awalnya guru itu menunjuk Tirta, tapi Tirta menolak, dia bilang ada yang jauh lebih pantas. Padahal alasan sebenarnya adalah dia tidak mau di repotkan. Guru itu kemudian menunjuk Anah, Anah memang satu-satunya siswi yang paling senang dan bersemangat jika berkemah.
"Anah, kamu akan menjadi ketua di kegiatan berkemah nanti. Kamu harus siap."
Anah dengan senang hati menerimanya.
"Tirta, Jeff dan Darrel. Kalian harus bisa membantu Anah menyiapkan semua kebutuhan untuk acara."
Astaga, aku? Batin Jeff sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Saya tidak mau ada yang protes lagi, sekarang buka lembar kerja siswa kalian dan kerjakan halaman 21-23 lalu kumpulkan sebelum jam istirahat." Guru itu kemudian pergi meninggalkan ruang kelas.
Seketika kelas menjadi gaduh, Anah terlihat sangat bahagia dan memandang Jeff tanpa henti membuat Jeff merasa risih. Tirta yang menyaksikan pemandangan itu terlihat sangat menikmati, sesekali dia tersenyum meledek dan membuat Jeff kesal.
"Jeff, sepulang sekolah nanti kita cari tenda ya." Ajak Anah.
Jeff diam sejenak dan melirik Nirmala, Nirmala hanya menunduk. Tapi kemudian dia menjawab, "Iya."
Anah merasa tidak percaya dengan jawaban Jeff dan memintanya untuk mengulangi jawaban itu lagi. Jeff pun mengulangi nya sambil terus menatap Nirmala yang masih menunduk fokus mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya.