
Waktu yang sudah lama di tunggu-tunggu akhirnya datang juga, berkemah. Betapa senangnya pagi ini. Nirmala dan teman-temannya akan menuju sebuah tempat perkemahan, tempat yang sejuk di puncak Bogor, lokasi yang tidak terlalu jauh dari ibu kota jakarta. Di sekolah sudah banyak berkumpul teman-teman Nirmala dengan bawaan yang cukup banyak.
Pembina perkemahan yang di datangkan oleh pihak sekolah sangat mengejutkan. Kevin, sebagai alumni yang berprestasi dan memang senang berkemah, Kevin di undang langsung oleh pihak sekolah untuk menjadi pembina di kegiatan itu. Kevin terlihat sangat mempesonan saat mengumpulkan murid-murid dalam suatu barisan dan memperingatkan mereka apabila sudah sampai di sana mereka harus menjaga sikap dengan warga sekitar dan menjaga nama baik sekolah.
Saat Kevin sedang memberi pengarahan itu, semua siswi terpana akan ketampanannya dan terpesona akan kepiawaiannya dalam berbicara menyampaikan pesan-pesan. Nirmala juga terlihat malu-malu karena dari tadi Kevin juga memperhatikannya.
Jeff yang mengetahui kalau Kevin juga memperhatikan Nirmala menjadi sangat cemburu. Kegiatan berkemah yang dia nantikan akan menjadi moment paling menyenangkan seketika berubah menjadi moment yang menurutnya akan menyebalkan.
"Menyebalkan." Gumam Jeff saat masih berada di dalam barisan sambil matanya menatap ke arah Kevin.
Tak lama setelah itu kendaraan bus yang akan mengantarkan ke bumi perkemahan sudah datang, setelah berdo’a mereka naik ke dalam bus, sedangkan barang bawaan berada dalam mobil lain yang sudah di siapkan khusus untuk barang-barang. Setelah sudah lengkap semua mereka berangkat ketempat tujuan.
Kevin tiba-tiba masuk kedalam bus yang di tumpangi oleh Nirmala, membuat semua siswi berteriak histeris. Kevin hanya menebar senyum kepada mereka, tapi senyumnya justru membuat mereka semakin histeris. Dia kemudian duduk di samping Nirmala yang memang kursi nya kosong. Itu karena Anah memilih kursi lainnya, Anah sedang tidak ingin berdekatan dengan Nirmala.
"Boleh aku duduk disini?" tanya Kevin mengagetkan Nirmala yang sedang menatap ke jendela.
Nirmala mengangguk pelan. Kevin tersenyum sembari memandanginya. Nirmala masih menatap ke arah jendela menikmati perjalanan dengan pemandangan yang menakjubkan, setelah menempuh perjalanan yang cukup lama akhirnya mereka sampai di tempat perkemahan. Perkebunan teh yang sangat luas terlihat menyambut kedatangan peserta perkemahan.
Setelah itu mereka menurunkan barang-barang dan meletakkannya dalam tempat yang sudah di tentukan. Kemudian melakukan apel pembukaan dan lanjut mendirikan tenda, mereka terlihat kesulitan dalam mendirikan tendanya sehingga membuat Kevin harus ikut turun tangan. Berkat bantuannya akhirnya tenda dapat berdiri dengan tegak, setelah itu mereka memasukkan barang-barang dan melepas lelah dengan memandang perkebunan teh yang sangat luas dan hijau.
Prok ... Prok ... Prok ...
Suara tepukan pembina perkemahan membuat semua murid berkumpul.
"Semua sudah berkumpul? Baik untuk sementara waktu ini kalian boleh beristirahat, boleh tidur, boleh jalan-jalan atau melakukan aktivitas sesuai keinginan. Tapi ingat, jangan jauh-jauh dari lokasi perkemahan. Sekian dan terimakasih." Ucap Kevin.
Mereka kemudian membubarkan diri, sebagian ada yang masuk ke tenda untuk tidur dan sebagian yang lain menikmati indahnya puncak Bogor, mereka di beri kesempatan untuk beristirahat sebelum melakukan kegiatan yang sudah di jadualkan. Nirmala terlihat duduk menikmati sejuknya udara di puncak, kevin tiba-tiba duduk di sebelahnya.
"Apa kamu senang, Mala?" tanya Kevin.
"Iya, aku sangat senang." Jawabnya singkat.
Tiba-tiba Jeff hadir tanpa di undang dan ikut duduk bersama mereka, kini di samping kanan Nirmala ada Kevin dan di samping kirinya Jeff duduk dengan santai. Kevin dan Jeff kemudian saling menatap.
"Kenapa? Tidak boleh aku duduk disini?" tanya Jeff pada Kevin.
"Boleh-boleh saja." Jawab Kevin dengan senyum khasnya.
Tiba-tiba Anah datang dan mengajak Jeff untuk jalan-jalan. Tapi Jeff menolaknya mentah-mentah.
"Jeff, ayo kita jalan-jalan. Mumpung masih istirahat dan kita masih disini, please ..." Rengek Anah sambil memohon.
"Jalan-jalan saja sendiri." Kata Jeff.
Nirmala kemudian bangkit dari duduknya dan berdiri.
"Anah, bagaimana kalau kita jalan berdua saja." Ucap Nirmala.
Sejenak Anah diam dan berfikir, tidak lama kemudian dia pun setuju.
"Ayo Mala." Ucapan Anah seketika membuat Nirmala senang, dia berharap Anah sudah tidak marah lagi dengannya.
Mereka kemudian pergi bergandengan tangan. Kevin mengingatkan agar mereka tidak jalan terlalu jauh dan bisa menghemat tenaga untuk kegiatan malam hari nanti. Kevin kemudian pergi menemui pembina yang lain. Tiba-tiba Jeff berteriak.
"Mala, tunggu!" Teriak Jeff.
Nirmala menghentikan langkahnya tapi tidak menoleh ke arah Jeff, dia justru menatap wajah Anah. Kini Jeff ada di depan mereka.
"Aku ikut." Ucap Jeff.
Akhirnya mereka bertiga jalan bersama menikmati pemandangan di sekitar puncak yang sangat menawan. Selain perkebunan yang luas, pemandangan langit yang cerah diantara rimbunnya pohon pinus juga menjadi daya tarik tersendiri. Sesekali terdengar suara pohon pinus yang merdu ditiup angin pegunungan menjadikan suasana semakin menyenangkan.
Mereka terus berjalan semakin jauh dari lokasi perkemahan. Tiba-tiba Anah terjatuh dan memegang kakinya.
"Aduh ... Aw .... Mala, please berhenti, kaki aku sakit." Kata Anah.
Kakinya terlihat baik-baik saja, tapi Anah mengeluh sakit.
"Bagaimana ini Jeff?" Tanya Nirmala yang kelihatan panik melihat Anah kesakitan.
"Merepotkan saja." Kata Jeff.
Mereka kemudian membantu memapah Anah kembali ke tenda. Tapi Anah merengek kesakitan lagi dan meminta agar di gendong saja.
"Berhenti, berhenti. Aku tidak bisa kalau harus jalan lagi, Jeff bisakah kamu menggendongku saja?" Rayu Anah.
"Astaga Anah ...." Jeff mulai kesal dengan drama Anah.
"Sudah lah Jeff, kamu gendong saja Anah biar kita bisa cepat sampai kembali ke tenda." Pinta Nirmala.
Jeff masih menolak dan tidak mau menggendong Anah. Dia kemudian membuka handphone nya bermaksud untuk menghubungi pembina, tapi tidak mendapatkan sinyal.
"Ya ampun, susah amat sinyalnya." Gerutu Jeff.
Anah masih tetap berharap Jeff mau menggendongnya di hadapan Nirmala walau sebenarnya kakinya baik-baik saja.
"Mala, kaki aku benar-benar sakit." Rengeknya lagi.
"Iya Anah, kita sabar dulu ya kali aja ada teman kita nanti yang lewat." Kata Nirmala sambil mengusap bahu Anah.
"Atau kalau enggak, kamu coba minta bantuan Mala. Kamu pergi ke tenda." Pinta Anah.
Nirmala langsung setuju dengan permintaan Anah.
"Baiklah, Jeff kamu jaga Anah baik-baik ya." Ucap Nirmala sambil berlalu.
Jeff mencoba memanggilnya tapi sudah terlambat.
Dasar Anah, ratu drama. Di kira aku gak tau apa kalau dia cuma pura-pura sakit. Batin Jeff.
Jeff kemudian berfikir sejenak bagaimana membuat Anah agar ketahuan sakitnya hanya pura-pura.
"Anah, di belakangmu ada ular besar." Kata Jeff membuat Anah panik.
Seketika Anah bangun dan berlari menuju ke arah Jeff.
"Mana ... Mana ... Ular itu?" tanya Anah.
Jeff tertawa.
"Kamu hanya pura-pura sakit, iya kan?"
"Karena sudah ketahuan mau bagaimana lagi." Ucap Anah.
Mereka kemudian berjalan berdua menuju ke tenda. Sementara itu Nirmala yang baru sampai di tenda langsung mencari Kevin.
"Kevin." Nirmala memanggil Kevin yang terlihat sedang sibuk mempersiapkan kegiatan untuk nanti malam.
"Mala, sudah kembali?" tanya Kevin.
"Anah kakinya sakit, dia tidak bisa berjalan."
Kevin merasa aneh dengan kata-kata yang di ucapkan oleh Nirmala karena dia melihat dari kejauhan ada Anah dan Jeff sedang berjalan menuju ke tenda.
Kevin tersenyum.
"Tidak usah di pikirkan, ayo duduk." Kevin justru terlihat santai, bukan tidak peduli dengan kata-kata Nirmala tapi karena Kevin melihat Anah baik-baik saja dan sedang berjalan ke arahnya.
"Kevin, ayo buruan." Ajak Nirmala.
"Anah, kamu ...." belum selesai Nirmala bicara Jeff sudah memotongnya.
"Anah bohong." Kata Jeff.
Kevin tersenyum kembali dan geleng-geleng kepala kemudian melanjutkan kesibukannya lagi. Dia lalu mengajak Nirmala mencari ranting-ranting yang sudah kering yang akan di pergunakan sebagai kayu bakar untuk membuat api unggun. Jeff pun ikut beranjak, tapi kemudian Kevin memberikan tugas yang lain untuknya. Mau tidak mau, Jeff harus mematuhi perintah pembina.
Nirmala dan Kevin kemudian mulai berjalan meninggalkan tenda. Tak lupa, Kevin membawa kamera digital. Mereka berjalan menikmati indahnya pemandangan.
"Kevin, katanya mau cari kayu bakar tapi sedari tadi kamu hanya asyik memotret?" tanya Nirmala.
"Kayu bakar nya sudah terkumpul, Mala. Aku hanya ingin jalan berdua saja denganmu sebelum kegiatan benar-benar di mulai." Kata Kevin sambil terus memotret Nirmala.
"Kenapa diam? Tidak suka ya?" tanya Kevin lagi.
"Bukan begitu." Ucap Nirmala yang sedikit bengong.
"Ya sudah, ayo kembali ke tenda. Istirahat."
Mereka kemudian kembali ke tenda untuk beristirahat.
***
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam, murid-murid kemudian di kumpulkan melingkari api unggun. Tiba-tiba Kevin mendekati Nirmala.
"Dingin banget ya?" Ucap Kevin tepat di telinga Nirmala.
Murid-murid lain yang melihat Kevin mendekati Nirmala jadi terbawa suasana. Salsa yang sejak pagi melihat Kevin mendekati Nirmala juga merasa kesal. Selama ini dengan berbagai cara Salsa sudah berusaha untuk mendekati Kevin. Tapi hati pemuda tampan itu sama sekali tidak tergerak.
Kevin seorang lelaki yang tampan dan memiliki kharisma tersendiri. Dia memiliki karakter dewasa, suka berorganisasi dan berjiwa pemimpin. Dengan segala kualitas yang dimilikinya itu, maka tak mengherankan jika banyak sekali gadis yang mengaguminya.
Merasa malu di dekati oleh Kevin, Nirmala menyuruhnya agar menjauh dan berkumpul saja dengan para pembina yang lain. Kevin kemudian pergi seperti apa yang diminta oleh Nirmala.
Acara api unggun masih belum selesai, tapi Nirmala kemudian berdiri dan bangkit. Dia berjalan hendak menuju ke tenda karena merasa udara di luar sangat dingin. Tiba-tiba seseorang menarik tangan kanannya tanpa permisi.
"Jeff, ah kamu membuat aku kaget saja." Ucap Nirmala pada Jeff yang kini menggenggam erat jemari tangannya.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Ucap Jeff tanpa memandang ke arah Nirmala, pandangannya hanya lurus ke depan.
"Ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Nirmala penuh keheranan.
"Mau gak kita minum di kedai teh, aku traktir kamu minum teh hangat dan semangkuk sop jagung." Ucap Jeff tanpa menjawab pertanyaan Nirmala.
Tanpa menunggu jawaban dari Nirmala, Jeff terus menarik tangannya menuju ke kedai. Anah diam-diam mengikuti mereka hingga masuk ke kedai itu. Wajahnya terlihat gusar hingga kedua alisnya bertaut. Bukan hanya Anah yang melihat adegan itu, Kevin juga melihatnya. Rasanya perih sekali hati Anah melihat Jeff masuk ke kedai bersama Nirmala.
Dia selama ini sudah berusaha mendekati Jeff tapi Jeff tidak pernah peduli padanya. Tapi pada Nirmala, Jeff sangat perhatian sekali. Jeff membawa masuk Nirmala ke kedai dan memesan teh hangat serta sop jagung. Anah yang diam-diam mengikuti mereka secara sembunyi-sembunyi juga berhasil mendapatkan tempat duduk tak jauh dari tempat duduk Nirmala juga Jeff. Nirmala dan Jeff sama sekali tidak mengetahui jika Anah mengikutinya.
"Apa yang ingin kamu tanyakan, Jeff?" tanya Nirmala mulai membuka percakapan.
"Aku ingin memberimu pertanyaan dan kamu tidak harus menjawabnya sekarang." Jawab Jeff kemudian dia meminum teh hangat sedikit.
"Mau tanya apa? Kamu jangan bikin aku penasaran, cepat katakan saja." Sahut Nirmala.
"Mala, maukah kamu menjadi kekasihku?" Tanya Jeff, wajahnya lekat memandang wajah Nirmala.
Tiba-tiba Nirmala terbatuk.
"Uhuk ..."
Anah yang mendengarnya pun menjadi penasaran akan jawaban Nirmala.
"Mala, apakah kamu menyukai ku?" tanya Jeff lagi.
Nirmala kaget, ia kemudian mengangkat cangkir tehnya dan meminumnya sedikit demi sedikit untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Ya ampun, kemarin Tirta dan sekarang Jeff. Batinnya.
Kenapa anak lelaki sangat aneh, mereka masih bersekolah tapi bicaranya sudah seperti orang dewasa. Batinnya lagi.
"Kamu tak harus menjawabnya sekarang, kamu bisa memikirkannya terlebih dahulu. Aku sedang tidak buru-buru." Jeff kemudian beranjak dari tempat duduknya dan membayar pesanannya.
Nirmala masih duduk diam, tiba-tiba.
Prank ...
Suara cangkir pecah, Nirmala menoleh ke arah sumber suara cangkir pecah tersebut dan dia melihat Anah. Merasa kehadirannya di ketahui, Anah buru-buru keluar dari kedai. Hatinya benar-benar hancur seperti cangkir yang baru saja terjatuh dari atas meja, pecah berkeping-keping.
Aku yakin itu Anah. Apa Anah mendengar semua yang Jeff katakan tadi? Batin Nirmala.
Nirmala kemudian berusaha mengejar Anah dan meninggalkan Jeff di kedai yang masih antri membayar pesanannya. Tapi sayang, langkahnya tidak lebih cepat dari Anah dan dia tidak bisa menemukan jejaknya di kegelapan malam.
Ponsel Nirmala berdering. Dia segera mengangkatnya saat melihat nama di layar ponselnya adalah Jeff.
"Mala, kamu dimana?" tanya Jeff panik.
"Aku di luar kedai." Jawab Nirmala.
Jeff kemudian mematikan ponselnya dan segera menyusulnya keluar. Mereka kemudian kembali ke perkumpulan teman-temannya melingkari api unggun. Terlihat Kevin duduk di sebelah Tirta yang sedang memainkan gitarnya. Salsa juga terlihat duduk di dekat Kevin dan terlihat sangat bahagia.
Nirmala masih mencari keberadaan Anah, dia tidak menemukannya di lingkaran api unggun itu. Dia lalu pergi ke tenda dan benar saja, Anah sedang berbaring di dalam tenda. Seperti sedang menahan tangis.
"Anah." Nirmala mencoba mendekati temannya, tapi Anah membuang muka.
"Kamu jahat, Mala." Kata Anah.
"Aku benci kamu, pergi kamu dari sini." Suara Anah terdengar sedikit terisak. Dia benar-benar marah dan sedang menangis.
Nirmala kemudian keluar dari tenda dan duduk di depan tenda itu. Dia tidak kembali ke perapian. Kevin nampak mulai resah karena tidak melihat keberadaan Nirmala, sedangkan Jeff sudah duduk di antara murid-murid yang lain. Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya. Salsa yang melihat Kevin mulai beranjak mencoba menahannya dengan manja.
"Kakak, kakak pembina mau kemana? Jangan tinggalin aku sendiri, aku takut." Ucap Salsa.
Kevin tersenyum.
"Bukankah disini banyak orang? Kamu tidak sendirian adik kecil." Ucap Kevin sambil berlalu meninggalkan api unggun.
Dia mendatangi tenda Nirmala dan benar dia ada disana. Tapi saat Kevin sudah mulai dekat, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya saat mendengar percakapan serius Nirmala dengan seseorang di dalam tenda. Dia merasa jika dia mendatangi Nirmala sekarang bukanlah waktu yang tepat, akhirnya dia pun kembali ke perkumpulan murid-murid sambil menikmati ayam bakar dan lagu-lagu yang Tirta bawakan.
Di tenda, Anah dan Nirmala masih belum selesai bicara dari hati ke hati.
"Aku benar-benar minta maaf Anah. Sungguh tidak ada maksud untuk merebut Jeff dari kamu." Ucap Nirmala.
Anah tidak mau mendengar apapun dari Nirmala, dia hanya menyuruh Nirmala pergi.
"Pergi ... Pergi ... Pergi ...." Anah terus mengucapkan kata-kata itu.
Tidak lama kemudian, acara api unggun selesai. Malam menjadi semakin gelap, Nirmala masih berada di luar tenda di bawah sinar rembulan yang temaram, memandang langit yang cerah tapi tidak ada bintang yang terlihat, mungkin ribuan bintang sedang bersembunyi di balik awan. Angin malam masih sepoi-sepoi berhembus menemani Nirmala yang masih menantikan ketenangan hati Anah, sahabatnya.
Tidak lama kemudian, Ruby dan Salsa datang. Mereka berempat tidur satu tenda. Tapi malam itu, Nirmala masih belum berani masuk ke tendanya. Sedangkan Salsa yang terlihat bahagia itu nampak tidak bersuara. Begitu masuk ke tenda, dia langsung tertidur. Di keheningan malam, Nirmala mendengar alunan petikan gitar dari tenda yang tak jauh dari tempat duduknya. Dia yakin itu petikan gitar Tirta. Sayup-sayup dia mendengar Tirta bernyanyi dengan merdu.
Sebagai pembina, Kevin bersama dengan pembina lainnya kemudian berkeliling untuk memastikan semua murid sudah masuk ke dalam tenda dan tidur, tapi saat sampai di tenda Nirmala, dia melihat Nirmala masih berada di luar. Dia pun menyuruh temannya agar berkeliling dulu sendiri, sementara Kevin menuju ke tempat Nirmala duduk.
"Masih belum bisa tidur?" tanya Kevin mengagetkan Nirmala. Dia kemudian duduk di samping Nirmala sambil memandangi wajahnya yang terlihat seperti habis menangis.
"Kevin, mengagetkan saja." Sahut Nirmala.
"Tidurlah, sudah malam." Kata Kevin lagi.
Nirmala kemudian masuk kedalam tendanya, dia melihat semua temannya sudah tertidur pulas. Dia pun ikut tidur di samping Anah.