
Nirmala sudah lama ingin menanyakannya, sejak undangan makan malam di rumah Kevin waktu itu. Nirmala mendapat pertanyaan dari ibunya Kevin, sama seperti pertanyaan untuk Chika. Bedanya Chika tidak suka dengan pertanyaan itu, sedangkan Nirmala justru berjanji akan mencari tahu jawabannya dan melaporkan kepada ibu Kevin setelah mendapatkan jawabannya.
"Tapi kamu jawab jujur ya?" Pinta Nirmala.
"Apa aku pernah berkata bohong sama kamu?" Sahut Kevin sambil terus menyetir mobilnya dan fokus menghadapi ramainya jalan raya.
Tiba-tiba Kevin menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kenapa berhenti?" tanya Nirmala dengan wajah polosnya.
"Aku khawatir pertanyaan kamu itu bisa membuat aku mendadak kena serangan jantung, untuk jaga-jaga sebaiknya aku berhenti dulu." Jawab Kevin yang mulai serius menatap Nirmala.
Tatapannya membuat jantung Nirmala berdetak sangat kencang dan merasa gugup. Kini mereka saling menatap satu sama lain.
Dia sangat tampan. Batin Nirmala.
"Ayo katakan, apa yang ingin kamu tanyakan." Kevin memajukan wajahnya.
Nirmala nyengir langsung mendorong lengan Kevin dengan pelan agar posisi wajahnya menjauh. Kevin kemudian duduk dan menyenderkan kepalanya di kursi. Nirmala masih terus menatap pesona pria tampan di hadapannya.
"Kevin ...." Suara Nirmala yang menyebut nama Kevin membuat senyumnya langsung tertarik sempurna di bibir pria itu. Ia melihat Nirmala yang sedang duduk tepat di sampingnya, di dalam mobil. Terlihat sangat bersinar karena pantulan sinar matahari dari kaca, sinar yang tiba-tiba muncul setelah mendung mulai menghilang.
Gadis itu masih mengenakan seragam SMA putih abu-abu dengan atasan lengan pendek dan rok selutut. Riasan wajahnya tipis, tak mengurangi aura kecantikan yang tampak dari wajahnya. Model rambutnya yang panjang terurai, membuat penampilannya sederhana tapi memberikan efek yang tidak sederhana bagi detak jantung Kevin.
Pria itu menghirup napas panjang. Ia masih mempertahankan senyumnya dan berusaha mengontrol dirinya.
"Kevin." Nirmala menatap wajah Kevin untuk kesekian kalinya.
"Iya." Kevin menoleh ke arah gadis itu.
Nirmala sepertinya sangat gugup, dari tadi dia hanya menyebut nama pria itu saja, sedangkan Kevin masih penasaran menunggu pertanyaannya.
"Kevin, kenapa hari ini kamu terlihat tampan sekali?" Nirmala seketika menutup mulutnya. Dia benar-benar sangat gugup sampai-sampai dia salah berbicara.
Aduh, kenapa aku malah bicara seperti itu. Batinnya dengan wajah memerah nampak malu-malu.
Kevin tertawa.
"Mala ... kamu ini bisa saja. Memang kapan aku tidak terlihat tampan di hadapanmu?" Balas Kevin dengan semangat.
"Aku kira ada pertanyaan serius apa?" Lanjut Kevin yang mulai menyetir mobilnya kembali.
"Kevin, hari ini kamu benar-benar tidak sibuk kan? Terimakasih sudah menjemputku di sekolah." Nirmala mengajukan pertanyaan basa-basi.
Ayo Nirmala, tanyakan saja pertanyaan yang sebenarnya. Katanya dari dalam hati sambil menepuk-nepuk kepalanya sendiri.
"Kepalamu pusing?"
"Eiy ... tidak."
Ya ampun, kenapa aku gugup sekali. Nirmala masih membantin.
"Kamu tenang saja. Aku punya banyak staf, mereka akan mengerjakan semua pekerjaan dengan baik. Aku hanya tinggal memastikan semua berjalan dengan lancar." Balas Kevin sambil terus menyetir mobilnya.
"Kamu bilang mau menanyakan sesuatu, aku yakin bukan pertanyaan yang tadi itu kan?" Kevin berdeham.
"Ngomong-ngomong, ada yang ingin aku tanyakan juga padamu." Ujar pria itu pada akhirnya.
"Apa yang ingin kamu tanyakan? Apakah sangat serius?" Nirmala menjadi sangat penasaran.
"Hahaha ... tidak juga." Kevin tertawa. Ia menyentuh rambut di belakang telinganya. Gerakan-gerakan kecil yang tidak ia sadari menunjukkan kegugupannya.
"Sekarang, aku ingin mendengar pertanyaanmu lebih dulu, setelah itu baru aku."
Nirmala mengatur pernapasannya.
"Kevin, kamu dan kak Chika. Kalian berdua .... Apakah kalian berdua pacaran?" Nirmala memberanikan diri untuk bertanya.
"Tidak." Jawabnya dengan sangat tegas dan jelas.
Syukurlah, Nirmala kemudian menghela napas.
"Tapi ada seorang gadis yang aku sukai. Mau tahu?" Tukas Kevin.
"Mau tahu tidak?" Kevin menegaskan sekali lagi.
Tiba-tiba saja jantung Nirmala berdetak sangat kencang, membuat dadanya terasa berdenyut karena aliran darah yang semakin deras.
Jadi sudah ada gadis yang ia sukai ya, tapi bukan kak Chika. Apa aku harus menanyakan siapa gadis itu? Biar informasi yang akan aku sampaikan kepada Mami makin jelas dan lengkap. Batin Nirmala.
"Oh, begitu. Pantas saja kamu menjawabnya dengan sangat yakin." Nirmala berdeham dan merapikan rambutnya yang sama sekali tidak berantakan. Fokus matanya mulai buyar, dia sebenarnya ingin bertanya tentang gadis yang Kevin suka, tapi rasanya ia tidak terlalu yakin untuk menanyakannya sekarang.
"Kamu tidak bertanya, siapa gadis itu?" Kevin seperti bisa membaca pikiran Nirmala dengan tepat.
Kenapa lama-lama Kevin itu semakin menyeramkan, dia bisa membaca pikiranku dengan tepat.
"Ti ... tidak, itukan privasimu." Nirmala berusaha mengalihkan rasa ingin tahunya yang meluber.
"Okey, baiklah. Jika kamu tidak ingin mengetahuinya, maka aku tidak akan mengatakannya." Balas Kevin di iringi cengiran.
"Ah, itu .... Aku rasa kita sebaiknya cepat-cepat sampai di rumah." Nirmala mengusap lehernya karena gugup.
"Sekarang, kamu ingin bertanya soal apa?" tanya Nirmala masih dengan nada gugup.
"Soal kejadian hari ini yang kamu alami di sekolah. Apa Jeff benar-benar melakukannya?"
Tiba-tiba jantung Nirmala seolah berhenti berdetak. Darimana Kevin bisa tahu tentang kejadian itu.
"Salsa yang memberitahu ku, tapi aku yakin kamu tidak melakukannya iya kan? Tapi aku tidak yakin dengan Jeff. Apa dia benar-benar melakukannya?" Nada bicara Kevin seperti menghakimi tidak seperti biasanya, kali ini dia terdengar sedikit kaku dan menakutkan.
"Itu tidak benar, Jeff tidak melakukan apa-apa." Jawab Nirmala dengan jelas.
"Kamu percayakan Kevin sama aku, aku dan Jeff tidak melakukan apa-apa. Mereka semua salah paham."
Kevin sedikit lega mendengar jawaban dari Nirmala, tapi dia mulai mengkhawatirkan kedekatan Nirmala dengan Jeff. Padahal sebelumnya dia merasa yakin kalau Jeff tidak akan membuat Nirmala dalam masalah, tapi semakin hari Jeff semakin terlihat lebih pintar memanfaatkan situasi dan itu jelas menguntungkan baginya, tapi tidak untuk Nirmala.
"Kevin, kamu percayakan sama aku?" Nirmala bicara dengan nada memelas, dia takut kalau Kevin termakan omongan Salsa yang tidak benar.
"Aku ... aku tidak tahu kesalahan apa yang aku buat. Tapi ciuman itu benar-benar tidak pernah terjadi, sungguh." Ucap Nirmala dengan gugup.
Kevin menahan tawa, membalas ucapan Nirmala. Wajah Nirmala yang acak-acakan membuatnya semakin terlihat sangat lucu.
"Sebenarnya aku juga tidak ingin menanyakan hal itu." Kevin masih berusaha menahan tawanya melihat ekspresi Nirmala yang begitu menggemaskan.
Nirmala tersenyum, tapi senyumnya terlihat sedih. Kevin melihat ada sesuatu yang tidak beres, dia kemudian kembali menghentikan mobilnya. Dia mencari tempat untuk parkir, mungkin butuh waktu yang lama untuk berhenti.
Kevin menatap ke langit melalui kaca mobilnya. Langit sudah kembali terang, awalnya dia berpikir akan turun hujan. Tapi sepertinya awan itu pindah ke wajah Nirmala dan nyaris menurunkan hujan disana. Kevin melihat mata Nirmala yang berkaca-kaca seperti hampir menangis tapi di tutupinya dengan senyumnya. Dia jadi merasa bersalah, tidak seharusnya dia menanyakan pertanyaan yang akan membuat gadis idaman nya itu bersedih.
Bodohnya aku. Kevin mengutuk dirinya sendiri.
Apa yang Kevin takutkan benar terjadi. Nirmala tiba-tiba keluar dari mobil dan melangkah mencari tempat yang sunyi. Kevin mengejar dan mendekatinya. Tanpa sadar sebulir air mata mengalir dari sudut-sudut mata Nirmala. Kevin tersenyum, dia menghapus air mata itu dengan jari-jarinya yang kokoh.
"Jangan menangis, tetaplah ceria seperti biasanya." Ucap Kevin dengan pelan.
Nirmala menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak ! Aku tidak mau mendengarmu bicara yang membuatku sedih. Kamu harus janji, kamu tidak akan mengatakan sesuatu yang akan membuatku sedih lagi." Ujar Nirmala dengan manja ,tapi sedikit emosional.
Nirmala tak bisa lagi menahan rasa sesak yang memenuhi dadanya sejak tadi. Ia menangis hebat. Tiba-tiba Kevin memeluk tubuhnya dengan erat. Tapi Nirmala sudah merasakan sakit yang amat sangat di hatinya, belum lagi dia pasti akan sangat malu jika besok berangkat ke sekolah. Nirmala takut sekali nama baiknya akan tercemar.
"Mala, aku minta maaf. Kamu bisa mendengar kata-kata ku kan, aku benar-benar minta maaf."
Nirmala kembali menggelengkan kepalanya, ia mempererat pelukannya pada tubuh Kevin. Ia sandarkan kepalanya di dada Kevin yang bidang. Ia tumpahkan tangisnya disana. Kevin membiarkan Nirmala menumpahkan segala emosinya. Ia dengan sabar menunggu sampai Nirmala merasa lega dan emosinya kembali stabil.
Setelah lebih dari tiga puluh menit barulah Nirmala berhenti menangis. Pakaian Kevin basah oleh air matanya.
"Kamu sudah selesai menangis, Mala? Sudah kamu tumpahkan semua perasaanmu?" tanya Kevin saat kemudian Nirmala melepaskan pelukannya dari tubuh Kevin.
Nirmala hanya mengangguk.
"Ah, kamu ini hebat sekali. Sanggup menangis sampai hampir satu jam lamanya. Bagaimana kamu bisa punya cadangan air mata sebanyak itu?" Ucap Kevin dengan nada sedikit bercanda untuk menghibur Nirmala.
Nirmala tersenyum tipis, lalu ia menundukkan wajahnya. Rasanya tak sanggup lagi melihat wajah Kevin. Kevin kemudian merangkulnya dan menuntun Nirmala kembali masuk ke mobilnya. Kevin merasa sedikit lega, walaupun masih merasa bersalah juga. Dia tidak pernah menyangka kalau pertanyaan yang dia ajukan akan menyakiti hati Nirmala.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanannya untuk pulang. Nirmala masih terlihat menghapus sisa-sisa air matanya dengan tissu yang tersedia dimobil dan dia berusaha untuk tersenyum walaupun dia tidak tahu bagaimana menghadapi hari esok di sekolahnya. Jeff benar-benar membuatnya dalam kesulitan.