Getaran Hati Nirmala

Getaran Hati Nirmala
Pulang Sekolah


Tak terasa sudah waktunya pulang sekolah. Hari ini Kevin berjanji akan menjemput Nirmala dan mengajaknya ke kantor.


"Nirmala ...." Kevin melambaikan tangan sembari melempar senyum ke arah Nirmala yang baru saja keluar dari pintu gerbang sekolah. Dia terlihat begitu manis dan gagah berdiri di depan mobilnya.


Seketika semua mata terpana melihat ke arah Kevin. Penampilannya begitu elegant, tampan dan penuh pesona bak seorang bintang favorit ternama.


Nirmala berlari menghampirinya.


"Sudah menunggu dari tadi ya?" Tanya Nirmala.


"Tidak, aku baru saja sampai," Jawab Kevin.


"Maaf merepotkan," Ucap Nirmala lagi.


"Kamu sudah biasa merepotkan, jadi tidak usah sungkan," Kata Kevin mulai mengajak bercanda.


"Hm ... ," Nirmala mulai memajukan bibirnya lagi kedepan.


Membuat Kevin tertawa dan ingat akan kegagalan beberapa waktu yang lalu. Tapi hari ini dia belum ingin mencobanya lagi. Pikirannya masih teringat dengan tugas-tugas dikantornya yang akhir-akhir ini menguras tenaga dan waktu. Harusnya dia juga ada pertemuan dengan klien siang ini, tapi demi Nirmala dia membatalkan pertemuannya. Jarang-jarang Nirmala mau di jemput saat pulang sekolah.


"Jadi kamu mau kemana?" tanya Kevin.


"Makan siang," Jawab Nirmala singkat.


"Baiklah Nona besar, kita akan menuju ke rumah makan yang dekat-dekat saja," Kata Kevin sambil menyetir mobilnya.


"Tapi sebelumnya kita mampir dulu ke pom bensin," Lanjut Kevin lagi sambil tersenyum melihat ke arah Nirmala.


Kevin berhenti di salah satu spbu dan keluar dari mobilnya. Nirmala tetap diam di dalam mobil menunggu Kevin. Sebenarnya Kevin tidak perlu keluar mobil dan cukup duduk didalam saja karena petugas spbu pasti sudah tahu dimana letak tuas atu tangki untuk isi bensin mobilnya.


Itulah Kevin, dia memang orang yang sangat rendah hati, selalu menghormati dan menghargai orang lain. Dia akan mengucapkan tolong dan terimakasih ke petugas secara langsung tanpa terhalang sebuah mobil. Menurutnya, orang lain akan merasa lebih senang jika diperlakukan dengan hormat walaupun itu terlihat sepele.


Selesai membayar, Kevin mulai masuk dan menyetir mobilnya kembali menuju kerumah makan. Kali ini dia akan mengajak Nirmala menikmati seafood. Kevin sudah sampai di lokasi, dia mencoba mencari tempat parkir. Setelah memarkirkan mobilnya, Kevin keluar terlebih dahulu disusul oleh Nirmala.


"Tidak perlu repot-repot," Kata Nirmala sambil membuka pintu mobilnya.


Kevin tertawa.


Dia memang berniat untuk membukakan pintu mobilnya tapi kalah cepat dari Nirmala. Mereka mulai memasuki rumah makan seafood itu.


"Selain terkenal dengan nasi bakarnya yang enak, ikan bakar di sini juga oke banget loh Nirmala. Ikan dibakar tanpa bumbu dan kering, setelah ikannya kering dan matang barulah diberi bumbu rempah yang rasanya agak manis, kamu pasti suka," Kata Kevin.


"Iya keliatannya enak," ucap Nirmala.


Mereka mulai mencari tempat duduk, Kevin sengaja memilih tempat duduk yang di siapkan hanya untuk dua orang saja. Dia tidak mau saat makan nanti ada orang lain yang duduk disampingnya atau di samping Nirmala. Kevin mulai memesan makanannya.


Sambil menunggu menu pesanan siap, dia mengobrol dengan Nirmala. Dia menanyakan bagaimana kegiatan tadi di sekolahnya. Nirmala mulai bercerita dan Kevin terlihat tertawa setiap kali mendengar ceritanya, padahal menurut Nirmala cerita itu tidaklah lucu.


"Begitu lah, dia sendiri yang menantang Tirta tapi dia marah karena kalah," Nirmala menutup ceritanya sambil tertawa.


Kevin ikut tertawa.


Tak lama kemudian pesanan sudah tersaji di meja. Mereka mulai menikmati sajiannya. Tidak ada yang bicara lagi, di antara keduanya fokus makan mengisi perut yang lapar.


Setelah selesai makan siang, Kevin memutuskan untuk kembali ke kantor. Nirmala di ajaknya pula ke kantor masih mengenakan pakaian sekolah. Nirmala sudah sering di ajak ke kantor Kevin, jadi para pegawai di sana sudah tidak asing lagi. Mereka mengira Nirmala adalah adik kesayangan Kevin. Hanya beberapa orang saja yang mungkin tidak pernah melihatnya mengingat kantor itu sangat besar.


Setiap datang ke kantor bersama Kevin, mereka selalu memperlakukan Nirmala dengan baik dan ramah. Hanya sedikit karyawan yang benar-benar tahu kalau Nirmala adalah anak dari konglomerat di kota itu, tuan Wicaksana. Selebihnya mengira Nirmala adalah adik Kevin. Dan selebihnya lagi bahkan tidak tahu sama sekali mengenai Nirmala.


"Silahkan duduk," Kata Kevin mempersilahkan Nirmala duduk di sebuah kursi diruang kerjanya.


"Terimakasih," kata Nirmala.


"Hai kau ... !" seseorang terlihat menunjuk ke arah Nirmala sambil berteriak.


"Sebagai murid yang baru magang di kantor ini, beraninya kau bersantai-santai seperti itu, cepat kembali ke ruangan!" Seorang wanita setengah baya menarik paksa tangan Nirmala menuju ke ruangannya. Dia mengira Nirmala adalah salah seorang murid yang sedang magang.


"Cepat kerjakan tugas-tugasmu!" Bentak wanita itu.


"Ini apa?" Tanya Nirmala.


"Masih berani bertanya kamu ya?" Wanita itu semakin terlihat kasar dan mulai menarik rambut Nirmala.


"Cepat pergi sana, ambilkan semua yang aku perlukan. Sudah jelas kan catatannya?!" wanita itu mulai melotot.


Nirmala berjalan menuju ketempat yang di maksud oleh wanita itu, di sebuah ruangan milik seorang manager. Dia harus membawa berkas-berkas yang sudah ditanda tangani sesuai dengan catatan yang tertulis di selembar kertas tadi. Wanita itu terus memandangi Nirmala sambil berkacak pinggang, benar-benar terlihat angkuh dan sombong.


Nirmala menurut saja, padahal jika dia menolak atau langsung mengadu kepada Kevin maka dia tidak perlu mendapat masalah seperti itu. Tapi dia berfikir untuk tidak mengganggu pekerjaan Kevin, toh ini hanya untuk mengambil berkas saja bukan hal yang sulit.


Tok ... tok ... tok ....


Nirmala mulai mengetuk pintu sebuah ruangan.


"Masuk," Kata seseorang dari dalam ruangan tersebut.


Nirmala mulai melangkahkan kakinya masuk ke ruang itu. Sepertinya orang tersebut belum pernah melihat Nirmala sebelumnya. Dia mulai melihat Nirmala dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Tidak ku sangka ada anak magang secantik ini di kantor." Katanya dalam hati sambil tangannya mencoba memegang tangan Nirmala.


"Tangannya begitu halus," tambahnya lagi masih di dalam hati.


Nirmala dengan cepat melepaskan tangan pria itu dari tangannya.


Pria itu terus menerus memperhatikan tubuh Nirmala, membuat Nirmala tidak nyaman. Setelah gagal berusaha memegang tangan Nirmala, dia mulai bersikap tidak sopan lagi dengan menyuruh Nirmala untuk memijatnya. Nirmala menolaknya. Pria itu terlihat sangat marah dan menampar Nirmala.


Plak ...


Terdengar suara tamparan begitu keras mendarat ke pipi Nirmala hingga membuatnya tersungkur. Orang itu lalu menarik rambut Nirmala.


"Tidak tahu kamu berhadapan dengan siapa? Hah ...?! tidak usah sok cantik dan jual mahal !" Kata orang itu.


"Tidak ku sangka ternyata di kantor Kevin ada banyak tikus seperti kalian!" Nirmala melawan dengan mengeluarkan kata-kata itu.


"Kevin? Hahaha ..." orang itu tertawa dengan sombong.


"Sejak kapan anak magang berani memanggil nama bos besar dengan tidak sopan, seharusnya kamu memanggilnya bos, bos Kevin. Benar-benar tidak tahu sopan santun, kamu pasti akan mendapat nilai terburuk selama magang disini " Lanjut pria itu.


"Kau ini benar-benar tidak tahu siapa aku ya?!" Nirmala mulai terlihat marah.


"Memangnya kau ini siapa? kau hanya anak magang di sini. Kau kira akan ada yang membelamu?" Kata pria itu.


"Kalau kau mau selamat, pijat aku sekarang juga!" bentak pria itu lagi sambil berusaha memegang tangan Nirmala.


Nirmala menepis tangannya membuat pria itu semakin marah.


Plak ... !


Satu tamparan mendarat lagi di pipi Nirmala.


"Berani melawanku, kamu tidak akan selamat !" Pria itu terlihat semakin marah.