
Salsa, Ruby dan Jeff menikmati makanannya, mereka terlihat akrab dan bercanda satu sama lain. Sesekali mereka tertawa, Salsa yang biasanya sangat kasar terhadap Nirmala bisa bersikap sangat lembut kepada Jeff. Tiba-tiba tawa mereka terhenti saat Jeff melihat sosok lelaki yang berjalan ke arahnya, Kevin.
Kevin memang sering datang ke restoran itu untuk bertemu dengan klien sekalian makan siang.
"Ada apa Jeff?" tanya Salsa.
Salsa melihat sorotan mata Jeff yang sangat tajam sedang memperhatikan seseorang. Salsa yang memang menyukai Kevin pun berbunga-bunga karena pria pujaan nya datang menghampiri, berjalan ke arahnya. Kevin semakin mendekati Jeff dan teman-temannya. Dia menyimpulkan senyum tipis kepada Jeff. Salsa memperhatikan senyum Kevin dan membuatnya meleleh, seperti es krim yang lumer Salsa menjadi tidak berdaya.
Ruby menggoyang-goyangkan badan Salsa agar Salsa segera tersadar.
"Salsa ... Salsa ... Sadarlah." Ruby terus menggoyang-goyangkan badan Salsa tapi Salsa tidak bereaksi apapun.
Kevin kemudian menatap Salsa dan menebar pesonanya, membuat Salsa semakin tidak sadarkan diri dan hampir pingsan.
"Dasar buaya." Gumam Jeff.
Kevin kemudian pergi meninggalkan mereka. Ruby masih sibuk berusaha menyadarkan Salsa yang menjadi semakin melemah.
"Jeff, bantu aku." Kata Ruby meminta agar Jeff membantunya memapah Salsa ke sofa sebelum dia benar-benar pingsan.
Terlambat, Salsa sekarang sudah pingsan.
"Merepotkan saja." Gumam Jeff.
Mereka kemudian memapah Salsa dan membaringkannya di sofa, tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ruby kembali berusaha menggoyangkan badan Salsa agar ia segera terbangun.
Jeff kemudian mencari kursi dan meletakan kursi itu ke dekat Salsa, dia kemudian duduk menunggu Salsa terbangun. Ruby duduk di samping Salsa di sofa yang sama.
"Bagaimana ini Jeff?" tanya Ruby panik.
"Mana aku tahu, cuma melihat lelaki buaya saja sampai pingsan." Kata Jeff sambil memalingkan wajahnya.
Tiba-tiba Ruby tertawa kecil.
"Hihihihi ...."
"Apanya yang lucu?"
"Tidak ada, aku hanya teringat pada Anah yang selalu bertingkah berlebihan jika melihatmu." Ucap Ruby.
Jeff terdiam tapi wajahnya begitu kesal.
Tidak lama kemudian Salsa bangun.
"Dimana ini?" tanya Salsa.
"Surga." Jawab Jeff.
"Salsa, sebaiknya kamu minum dulu, minum ini." Kata Ruby sambil memberinya segelas minuman.
"Melihat buaya saja bisa pingsan."
"Jeff, jangan membahasnya lagi, dia bisa pingsan lagi." Kata Ruby mengingatkan.
"Kaum wanita memang sangat aneh."
"Kaum laki-laki juga aneh, bukankah Nirmala tidak menyukaimu, tapi kamu masih sibuk mengejarnya." Kata Ruby.
"Ruby, apa yang kamu katakan? Apa benar Jeff, kamu menyukai anak pembantu itu?" tanya Salsa penasaran.
"Ups ... Keceplosan." Ruby mendadak menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
Huft ...
Jeff menghela nafas.
"Aku jatuh cinta dengan Nirmala sejak pertama kali melihatnya."
"Jadi selama ini kamu membohongi aku Jeff? Aku kira kamu di pihakku. Dan kau Ruby, kau juga sekarang lebih sering membelanya daripada membelaku." Salsa mulai merasa kesal pada Ruby dan Jeff.
Ruby mencoba membela diri, dia memijat tangan Salsa agar bisa lebih rileks.
"Bukan begitu Salsa."
"Kami tetap teman kamu, tapi kalau Jeff menyukai Nirmala bukankah itu hal yang wajar?"
"Laki-laki tentu saja menyukai perempuan." Kata Ruby.
"Sudahlah, kalian berisik sekali. Hanya seperti itu saja di permasalahkan." Kata Jeff.
Salsa masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Perasaan Jeff untuk Nirmala, pantas saja dia selalu membela Nirmala dan kemarin dia bahkan rela di srempet motor hanya demi menyelamatkannya. Ternyata anak pembantu itu sangat beruntung. Selain Kevin yang tampan, Jeff yang pemberani juga menyukainya. Batin Salsa.
"Sa, Salsa ... Kamu jangan melamun ntar kesambet loh." Kata Ruby.
"Aku mau bayar dulu makanannya." Kata Jeff seraya pergi meninggalkan mereka.
Salsa memandangi Ruby dan minta Ruby untuk memandang dirinya. Apakah ada yang salah dengan wajahnya? Apa bedanya dengan wajah Nirmala? Kenapa semua laki-laki lebih memilih Nirmala.
"Salsa, wajah kamu cantik tapi Nirmala lebih cantik, selain itu Nirmala juga lemah lembut." Kata Ruby dengan polosnya.
"Kenapa kamu malah membelanya? Kamu ini temanku apa temannya Nirmala!?" Salsa mulai tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Pergi sana, aku tidak mau melihatmu." Salsa menyuruh Ruby pergi.
Ruby hanya diam saja, dia tidak mau meninggalkan temannya dalam keadaan marah.
"Salsa, aku ini temanmu. Tidak mungkin aku pergi."
Tiba-tiba Salsa memeluk Ruby sambil terisak. Ruby membalas pelukan Salsa, kini mereka berdua saling berpelukan dan saling minta maaf.
Tiba-tiba Jeff datang.
"Kalian ini apa-apaan? Menangis di tempat umum."
"Oh ya, aku kesini hanya untuk berpamitan saja. Kalian teruskan saja drama kalian itu, bye."
Jeff kemudian pergi keluar dari restoran itu, dia mencari taksi tapi tidak berniat untuk pulang ke rumah. Dia masih mencoba untuk bisa bertemu dengan Nirmala. Dia pun mencoba ke rumahnya lagi.
Jeff menaiki taksi sambil sesekali melihat ke kanan dan kiri jalan. Saat melewati sebuah taman, tidak jauh dari rumah Nirmala. Dia melihat Nirmala sedang membaca buku di kursi panjang, kursi yang banyak berjejer di sebuah taman. Dia pun menyuruh taksi itu untuk berhenti.
"Stop ... Stop ... Pak, berhenti di sini."
Supir taksi menghentikan mobilnya, setelah membayar, Jeff langsung keluar dan pelan-pelan dia mendekati Nirmala. Lalu duduk di sampingnya. Nirmala menoleh dan menyadari bahwa itu adalah Jeff. Dia langsung berdiri dan bermaksud untuk pergi. Tapi Jeff menahan tangannya.
"Lepasin aku, Jeff." Desis Nirmala pada pria yang banyak di sukai oleh teman-teman wanita di sekolahnya itu.
Jeff tetap memegang nya dan tidak mendengarkan kata-kata Nirmala.
"Kenapa kamu menghindari ku? Apa salahku?" tanya Jeff.
"Lepasin aku Jeff, tanganku sakit."
Seketika Jeff melepaskan tangan Nirmala, dia tidak ingin menyakiti orang yang paling di cinta. Nirmala langsung pergi meninggalkannya tanpa sepatah kata pun. Jeff ingin mengejarnya tapi sepertinya itu percuma saja, Nirmala sedang tidak ingin bicara dengannya. Dia kemudian duduk di kursi taman sambil memegangi kepalanya.
Tiba-tiba Nirmala datang menghampirinya kembali, saat Nirmala berjalan sendirian tadi, banyak pemuda yang bergerombol di taman dan berusaha menggodanya. Itu membuatnya ketakutan dan tidak ada pilihan lain selain menemui Jeff. Biar bagaimana pun bersama Jeff akan lebih aman daripada berjalan sendirian.
Jeff masih belum menyadari kedatangan Nirmala. Kedua tangannya masih memegangi kepala nya yang menunduk. Terlihat lemah dan tidak bertenaga.
"Jeff." Panggilan Nirmala membuat Jeff mendadak kembali bersemangat.
"Nirmala." Jeff menatap Nirmala seolah tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Rombongan pemuda tadi yang mengikuti Nirmala tiba-tiba berbalik arah saat melihat Nirmala bersama dengan Jeff. Mereka mengenal Jeff, laki-laki berdarah dingin yang tidak takut dengan darah. Mereka tidak ingin berurusan dengan Jeff yang sangat tidak punya ampun jika sudah marah.
"Cabut." Perintah salah satu dari rombongan pemuda itu, mungkin itu ketua gengnya.
Rupanya karena itu. Batin Jeff sambil menatap rombongan yang mulai menghilang dari pandangannya. Dia baru sembuh dari sakitnya, jika tidak dia pasti sudah menghajar mereka. Lagipula sudah lama Jeff tidak berkelahi, dia merindukan masa-masa itu.
Nirmala duduk di samping Jeff diam tanpa kata. Jeff menatapnya tanpa berkedip sama sekali, membuat Nirmala tersipu malu.
"Ayo aku antar kamu pulang, rumah kamu sudah dekat kan?"
"Iya."
Mereka kemudian berjalan kaki bersama. Tanpa disadari, mereka mulai membuka pembicaraan sambil berjalan. Semakin lama berjalan, semakin banyak saja topik-topik pembicaraan yang dibahas bersama. Topik-topik yang mereka bicarakan pun beraneka ragam, mulai dari yang santai sampai pembicaraan yang serius, mulai dari yang lucu penuh tawa hingga ke hal-hal mengenai perasaan dan cinta.
"Sepertinya pembicaraan kita mulai tidak terarah." Kata Nirmala.
"Kenapa kamu selalu tidak mau membicarakan hal itu?" tanya Jeff.
"Karena aku tidak mau terlibat lebih jauh."
"Oke, baiklah. Kita bicara topik yang lain saja."
"Kita terlihat romantis ya?" Jeff mulai menggoda Nirmala lagi.
"Jeff, sudah berapa kali aku bilang. Aku tidak suka pembicaraan semacam itu."
Mereka terus berjalan kaki dari taman menuju ke rumah Nirmala. Hal itu membuat suasana hati Jeff yang semula mendung menjadi lebih cerah dan membuat suasana hatinya lebih bahagia. Berjalan di taman merupakan hal yang menyenangkan dan nyaman apalagi jika berjalan kaki bersama orang yang kita suka. Perasaan juga bisa jadi lebih rileks karena menghirup udara yang lebih segar.
Tidak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Nirmala. Jeff menatap Nirmala seolah tidak rela jika gadis idamannya itu masuk ke rumah dan hilang dari pandangan. Tiba-tiba Nirmala teringat bahwa dia pernah memakai jaket Jeff dan hari ini dia berniat untuk mengembalikannya.
"Jeff, tunggu sebentar."
"Ada apa?"
"Jaket kamu masih ada sama aku kan? Malam itu saat kamu mengantarku pulang, aku lupa mengembalikannya."
Nirmala langsung masuk dan buru-buru mengambil Jaket Jeff. Sementara Jeff jadi ingat dengan motornya, biar bagaimana pun motornya itu sering membuatnya bisa lebih dekat dengan Nirmala.
Tidak lama kemudian, Nirmala sudah berada di hadapan Jeff dan menyodorkan jaketnya. Jeff meraih jaket itu.
"Wangi sekali." Kata Jeff.
"Aku sudah mencucinya, jadi lebih bersih dan wangi."
"Terimakasih ya." Jeff tersenyum sambil memakai jaketnya.
Dia jadi terlihat lebih macho setelah memakai jaket kebanggaannya itu. Kepercayaan dirinya juga naik 100% apalagi sekarang suasana hatinya sedang berbunga-bunga karena akhirnya bisa mengobrol kembali dengan Nirmala.
"Besok di sekolah, jangan dekati aku." Kata Nirmala.
"Maksud kamu, kita backstreet?" Jeff mulai menggoda Nirmala lagi.
"Hari ini terpaksa, anggap saja tidak pernah terjadi." Kata Nirmala.
"Kalau aku tidak mau bagaimana? Aku tidak bisa jauh darimu."
"Sudahlah, pulang sana." Nirmala masuk ke dalam rumahnya tanpa menoleh lagi ke arah Jeff.
"Dasar wanita, pandai sekali mempermainkan perasaanku." Gerutu Jeff.
"Liat saja besok, aku akan mengganggunya di sekolah." Batin Jeff
Jeff mulai mencari taksi lagi, tapi sudah hampir satu jam dia menunggu tidak ada satupun taksi yang lewat. Tiba-tiba dia melihat Tirta dan Bharata lewat sedang berboncengan motor.
"Bukankah itu Jeff?" Kata Bharata sambil menunjuk ke arah Jeff.
Tirta yang mengendalikan motornya akhirnya mendekati Jeff yang sedang menunggu taksi.
"Sudah sembuh Jeff?" tanya Bharata.
"Apa aku terlihat seperti orang sakit?" tanya Jeff balik.
Tirta masih terdiam, kemudian dia menyuruh Bharata untuk turun.
"Tunggu aku disini." Kata Tirta setelah menurunkan Bharata.
"Aku ada urusan dengan Jeff."
"Ayo naik, Jeff."
Jeff naik ke atas motor Tirta dan meninggalkan Bharata. Di atas motor Tirta dan Jeff berbincang-bincang mengenai Nirmala. Di sekolah mereka berdua memang bersaing untuk mendapatkan hati Nirmala, hanya saja cara yang mereka gunakan berbeda.
"Malam minggu besok, kita balapan motor. Yang menang boleh dekati Nirmala dan yang kalah harus jauhi Nirmala." Kata Tirta.
"Kau pikir Nirmala itu piala?" Kata Jeff.
"Kamu takut?"
"Aku akan terima tantanganmu tapi jangan libatkan Nirmala." Jeff menegaskan.
"Kamu takut kalah, iya kan?"
Tidak terasa mereka sampai di depan rumah Jeff.
"Aku tunggu besok malam di tempat balapan." Kata Tirta lalu pergi meninggalkan Jeff.
Jeff masuk ke dalam rumahnya, kedua orang tuanya menyambut dengan penuh kasih sayang dan seolah tidak pernah terjadi apa-apa, padahal Jeff sudah membuat mereka khawatir karena kabur meninggalkan rumah sakit. Mereka juga tidak ada yang membahas atau sekedar bertanya kenapa Jeff kabur.
Mereka hanya menyuruh Jeff istirahat di kamarnya. Jeff pun menurut. Kini Jeff duduk di atas kasur dan memikirkan tantangan Tirta, dia kemudian teringat akan motornya lagi. Terakhir, dia ingat motor kesayangannya masih di sekolah, tapi ternyata saat dia turun dari kamarnya dan pergi ke garasi, motor itu sudah ada di sana.
Sekarang yang ada di pikirannya adalah Nirmala, tentang tantangan Tirta tadi. Dia sama sekali tidak takut kalah karena dia biasa mengalahkan Tirta di balapan. Tapi dia khawatir jika Nirmala tahu kalau dia di jadikan alasan untuk balapan, dia pasti akan marah besar. Tirta benar-benar membuatnya dalam keadaan yang sulit.
***
Sementara itu dirumah Nirmala, dia terlihat sedang sibuk mencari sesuatu. Nirmala sedang mencari gelang yang biasa dia pakai saat ingin pergi ke pantai. Nirmala mempunyai banyak aksesoris yang berbeda-beda yang biasa di pake untuk acara pergi berlibur atau ke acara resmi maupun pesta. Untuk hari-hari biasa, dia tidak menggunakan aksesoris gelang, hanya kalung dan anting saja.
Minggu besok Kevin akan mengajaknya ke pantai lagi, dia ingin memakai gelang yang waktu itu dia pake ke pantai juga. Gelang anti karat, walaupun terkena pasir dan air laut. Gelangnya tidak akan berkarat. Dia lalu duduk dan mengingat-ingat.
*Jaket, ya ampun. Di dalam kantong jaketnya Jeff. Waktu itu aku lupa memasukannya kedalam kantong jaket itu? Bagaimana ini? Itu gelang pemberian dari Kevin. Jika Kevin tahu aku tidak menjaganya dengan baik, apa yang akan terjadi? Kevin pasti marah.
Aku harus menelpon Jeff*.
Tiba-tiba telepon Jeff berdering, awalnya Jeff cuek saja dan tidak mencoba melihat panggilan dari siapa. Berkali-kali Nirmala terus menghubunginya. Akhirnya Jeff menoleh handphone nya dan mendadak dia kaget seneng.
Nirmala.
"Hallo sayang, kamu masih kangen ya sama aku." Jeff langsung saja berkata-kata dengan PD nya.
"Hentikan Jeff, aku sedang tidak ingin bercanda, bisa tolong liat di kantong jaketmu. Apakah ada gelang di sana?"
"Apa bagusnya gelang itu? Apa itu sangat penting?"
"Jeff, buruan."
"Ya ampun, apa seperti itu caramu minta tolong?"
"Iya, iya ... Jeff bisa tolong carikan gelang ku di jaket kamu, please ...."
"Bagaimana kalau aku tidak mau?"
"Jeff ...!!!"
Nirmala berteriak membuat Jeff secara refleks menjauhkan handphonenya dari telinganya.
Apa bagusnya gelang itu. Batin Jeff sambil merogoh kantong jaketnya satu persatu.
Akhirnya Jeff menemukan gelang itu.
Cuma gelang seperti ini saja, sampai teriak-teriak.
"Aku menemukannya sayangku. Mau aku pakaikan besok di sekolah?"
"Jangan memanggilku seperti itu. Tidak perlu di pakaikan, kamu serahkan saja pada Ruby, nanti Ruby yang akan memberikannya padaku. Besok aku akan bilang kepada Ruby."
"Aku tidak akan menyerahkannya kepada Ruby, aku akan menyerahkan gelang ini hanya jika kamu mau aku pakaikan di tanganmu. Kalau tidak mau ya sudah."
Nirmala terdiam.
"Bagaimana sayangku?" tanya Jeff.
Nirmala masih diam.
"Jangan harap, kamu pakaikan saja pada wanita lain, aku bisa membelinya lagi." Kata Nirmala berpura-pura seolah tidak perlu dengan gelang itu.
"Oke, kalau begitu gelangnya aku simpan saja, gelangmu akan menemani aku tidur malam ini."
Jeff ini benar-benar menyebalkan, bagaimana aku bisa mengambil gelangku itu. Kalau nanti Kevin bertanya mengenai gelangnya itu bagaimana?