
Nirmala memandangi bunga mawar putih pemberian Jeff dengan posisi duduk di kursi yang biasa di gunakan untuk belajar. Sesekali dia menyentuh kelopak-kelopak mawar itu, begitu halus. Selain warnanya yang indah dipandang mata, aromanya juga harum menghiasi ruangan.
Nirmala kemudian berhenti menatap bunga itu dan berniat untuk melanjutkan mengerjakan PR nya, tapi tak berapa lama dia kembali mengarah ke bunga itu. Sambil memainkan bolpoint dia terus memandangi bunga mawar itu. Ttiba-tiba terbesit mata pelajaran biologi yang tempo hari dia baca.
"Hm ... sayang sekali jika bunga ini nantinya harus di buang juga saat sudah layu." Gumam Nirmala yang kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Dia mendekati bunga itu dan mengambilnya kembali, kemudian dia merebahkan badannya di kasur. Sambil terus memegang bunga itu, dia berguling ke kanan dan ke kiri. Sesekali dia memeluk bunga itu dan menciumnya, bukan karena bunga itu pemberian dari Jeff melainkan karena bunga itu memang menggodanya.
Kelopak mawar yang di ajak berguling kesana kemari kini mulai berjatuhan di kasur nya, tidak mau memberatkan tugas bi Sona, dia memungut kelopak-kelopak itu satu persatu lalu meletakkannya di meja.
Masih dia amati.
"Herbarium."
Ya, buku yang dia baca tempo hari adalah tentang herbarium. Dia kemudian mencari buku biologinya itu dan membuka dengan cepat untuk menemukan materi herbarium.
Setelah menemukan materinya, Nirmala kemudian mulai membacanya dan ingin segera mempraktekkannya.
Herbarium Menurut Wikipedia
Herbarium adalah suatu koleksi spesimen tumbuhan yang diawetkan dan data terkait yang digunakan untuk penelitian ilmiah. Istilah ini dapat juga merujuk pada bangunan atau ruangan di mana spesimen-spesimen tersebut disimpan, atau pada lembaga ilmiah yang tidak hanya menyimpan namun menggunakannya untuk penelitian.
Spesimen-spesimen tersebut bisa berupa tumbuhan utuh atau bagian tumbuhan. Biasanya tumbuhan ini dalam bentuk kering yang dilekatkan pada selembar kertas, namun tergantung pada bahannya, dapat juga disimpan dalam kotak atau disimpan dalam alkohol atau bahan pengawet lainnya. Spesimen-spesimen dalam sebuah herbarium sering digunakan sebagai bahan referensi dalam menjelaskan takson tumbuhan.
Setelah membaca buku biologinya, dia merasa sudah tidak sabar ingin segera mempraktekkan. Jiwa keingintahuan Nirmala seolah meronta untuk melakukannya secepat mungkin. Betapa malangnya nasib bunga pemberian dari Jeff, belum juga sehari, sudah dijadikan Nirmala sebagai bahan percobaannya, hanya dijadikan Nirmala sebagai bahan prakteknya. Pemuas rasa ingin tahunya.
"Tidak kusangka bunga dari Jeff ini berguna juga untuk ilmu pengetahuan, daripada kering sia-sia tak berguna. Iya kan?" Nirmala bicara sendiri.
"Bahan-bahan yang di perlukan adalah ...." Nirmala membuka bukunya sambil menghapalkan bahan-bahan yang di perlukan. Dia kemudian mulai mengumpulkan bahan-bahan itu, bahan yang akan dia gunakan untuk membuat herbarium. Dia berencana untuk mengeringkan bunga itu dengan cara yang benar agar lebih awet, terhindar dari binatang-binatang kecil dan bisa menghiasi dinding kamarnya.
"Menjadi hiasan dinding tentu akan jauh lebih berguna, daripada membiarkannya layu dan hancur sia-sia." Batinnya.
"Bahannya adalah buku tebal dan alkohol. Ya ampun, sepertinya di rumah tidak ada alkohol. Aku harus ke apotik untuk membelinya."
Nirmala kemudian pergi keluar menuju ke apotek hanya dengan berjalan kaki, kebetulan di dekat pintu masuk perumahannya ada apotek di sisi kanan jalan. Jadi dia juga tidak perlu menyeberang atau berjalan terlalu jauh. Setelah sampai di apotek, dia membeli alkohol 70% yang memang biasa di jual di apotek tersebut. Kemudian dia segera kembali kerumah.
Dia begitu fokus dengan eksperimennya kali ini. Setelah semua bahan-bahan terkumpul, dia berniat untuk mengeksekusinya di taman belakang rumah. Dia tidak bisa membawanya sekaligus, sehingga kegiatan itu memaksanya untuk bolak-balik naik turun tangga dari kamar menuju ke taman. Bi Sona yang melihatnya pun jadi penasaran.
"Non, sibuk amat." Kata Bi Sona yang sedang menggoreng ikan sambil nonton acara televisi.
"Enggak Bi, hanya mau bereksperimen." Jawab Nirmala sambil berlari menuju ke taman belakang.
Bi Sona melihatnya membawa bunga mawar putih yang cantik dan wangi menusuk hidungnya mengalahkan aroma sedap ikan goreng yang sedang ia masak. Merasa sangat penasaran, bi Sona akhirnya memilih untuk mematikan kompornya dan mendekati Nirmala.
"Itu bunga mau di apain Non?"
"Di bikin herbarium, Bi." Jawab Nirmala sambil menekan-nekan mawar itu di buku tebalnya.
"Herium apa Non?"
"Her-ba-ri-um, Bi ... bukan herium." Kata Nirmala sedikit mengeja kalimatnya.
"Ah pokoknya gitu lah Non. Apa nggak sayang tuh, Non?" tanya bi Sona sambil menunjuk bunga mawar itu.
"Ini buat Bibi satu." Nirmala tidak menanggapi pertanyaan bi Sona dan mengambil satu tangkai bunga mawar kemudian memberikannya untuk bi Sona.
"Akhirnya selesai juga." Nirmala menghela nafas dan menarik kedua tangannya ke atas sambil tersenyum bahagia karena pelajaran yang ia dapat dari sekolah bisa di praktekan dirumahnya.
Nirmala kemudian pergi dari taman itu dan kembali ke kamarnya, dia kemudian menyimpan buku tebal yang berisi bunga mawar itu di kamarnya dan menindihnya dengan buku tebal lainnya.
"Tinggal menunggu sampai benar-benar kering." Ucapnya lagi.
Dia kemudian mandi membersihkan diri, setelah itu bersantai di kamarnya sambil memainkan ponsel. Tiba-tiba bi Sona mengetuk pintu.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Masuk bi, gak di kunci." Kata Nirmala sambil gulang-guling di kasur nya.
"Makan dulu, Non." Kata bi Sona.
Nirmala kemudian meletakan handphonenya di kasur dan mengikuti bi Sona menuju ke ruang makan.
Nirmala makan sambil menikmati acara di televisi, seperti biasa dia makan di temani bi Sona dan pakde Slamet. Nirmala selalu satu meja dengan mereka, sudah seperti keluarga tanpa membeda-bedakan nasi maupun lauknya. Juga kursi dan mejanya.
Nirmala menonton sebuah film yang menayangkan adegan beberapa laki-laki memperebutkan seorang wanita. Dia jadi membayangkan itu mirip seperti yang terjadi padanya. Kemudian muncul seorang playboy yang sok ganteng.
Entah kenapa dia justru teringat pada Kevin, padahal di tayangan itu memperlihatkan playboy yang menggoda para gadis karena merasa memiliki kelebihan fisik. Sedangkan Kevin walaupun punya kelebihan itu semua, dia bukan pria yang seperti itu.
Pria playboy seperti itu kerap menganggap perempuan sebagai objek atau piala yang bisa diraih dengan mudah demi memuaskan superioritasnya. Semakin sulit di dapat, maka itu semakin bagus. Seakan tidak mempertimbangkan untuk menjadikan perasaan cinta yang murni sebagai dasar suatu hubungan.
Nirmala menggelengkan kepalanya. Merasa tidak suka dengan tontonannya, Nirmala mengganti channel televisinya. Kali ini acara mempersembahkan kisah sedih anak seorang pemulung yang bekerja keras demi sesuap nasi, membantu orang tuanya mengumpulkan barang-barang bekas.
Mendadak Nirmala menjadi merasa iba dan perasaannya dipenuhi rasa bersalah yang membuat dadanya merasa tidak nyaman.
"Bi, Mala ini termasuk manusia yang tidak bersyukur ya?" tanya nya tiba-tiba.
"Eh ... kenapa Non bicara begitu?" Bi Sona balik bertanya dan seketika pakde Slamet pun menghentikan suapan nasinya, menatap bi Sona.
Bi Sona dan pakde Slamet saling menatap satu sama lain, merasa keheranan. Kenapa Nirmala tiba-tiba berkata seperti itu?
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran, Non?" tanya bi Sona penuh selidik.
Nirmala mengangguk pelan.
"Mala baru menyadari kalau Mala ini bukan termasuk orang yang bersyukur. Dalam hidup Mala, berapa banyak anugerah yang Mala miliki. Ada mama, ada papa, ada bibi dan juga pakde. Juga rumah, mobil dan semuanya serba tercukupi. Tapi, Mala ini banyak lupa. Mala lupa untuk berterimakasih pada Allah. Setiap hari setiap kali berdo'a, Mala hanya meminta dan terus meminta. Bahkan kadang Mala meminta sesuatu yang Mala sendiri tidak yakin menginginkannya atau membutuhkannya. Astagfirullah."
Bi Sona dan pakde Slamet melongo. Ini mungkin kalimat terpanjang yang baru pertama kalinya mereka dengar dari bibir Nirmala. Melihat ekspresi Nirmala, bi Sona buru-buru menghiburnya.
"Bukan cuma Non, Bibi juga tergolong orang yang tidak banyak bersyukur."
Nirmala menggeleng pelan.
Bi Sona kemudian tertawa renyah di ikuti oleh pakde Slamet, mencoba menggantikan suasana yang terlihat muram agar segera berubah menjadi lebih santai. Bi Sona merasa gadis kecil yang kini di hadapannya mulai berpikir layaknya orang dewasa.
Nirmala tersenyum.
"Mala serius Bi." Ucapnya sungguh-sungguh.
Perbincangan dengan bi Sona hari itu membuat Nirmala banyak berpikir. Tentang banyak hal yang patut ia syukuri, termasuk kejadian yang menimpanya kemarin. Dia bersyukur masih di beri kesempatan untuk menjalani hidup setelah tertabrak mobil.
***
Malam itu setelah sholat isya, Nirmala menengadahkan tangan dan mengucapkan banyak bersyukur.
Dia bersyukur atas segala keberlimpahan hidup yang selalu menyelimutinya.
Bersyukur atas kasih sayang Allah yang di wakili oleh hadirnya orang-orang di sekitarnya.
Dan di akhir do'anya dia tidak lupa selalu mendoakan Kevin agar mendapat hidayah dan mau masuk memeluk agamanya, memeluk islam.
Kevin memang di lahirkan dari keluarga non muslim. Namun ada satu hal yang Nirmala tidak ketahui bahwa Kevin diam-diam juga mempelajari tentang islam. Agama yang Nirmala peluk, Kevin sengaja menyembunyikannya karena dia tidak ingin Nirmala mengira, dia belajar itu supaya bisa dekat dengannya.
Selesai melaksanakan kewajibannya sebagai muslim. Nirmala kemudian menyiapkan buku-buku untuk sekolah besok seperti biasa. Juga seragamnya dia siapkan agar besok tidak begitu merepotkan. Kemudian dia beranjak tidur.
Namun tiba-tiba dia mimpi kecelakaan itu lagi. Dan membuatnya terbangun. Sudah seminggu berlalu kejadiannya, tapi Nirmala masih sering memimpikan hal itu. Nirmala meraba keningnya yang dihiasi bulir-bulir halus keringat dingin. Dia juga bisa merasakan punggungnya basah meski suhu udara di kamarnya cukup rendah. Pendingin ruangan membantu agar suhu di kamarnya tetap nyaman.
Mimpi itu mungkin saja terjadi karena Nirmala masih terus memikirkan kejadiannya dan merasa ketakutan. Ketakutan akan kecelakaan itu. Tiba-tiba Nirmala merasa seperti menemukan ada secercah cahaya terang, cahaya yang bisa membantunya membuang rasa takutnya itu.
Nirmala membuka selimutnya dan duduk lalu melihat ke arah jam dinding di kamarnya. Jam menunjukan pukul dua dini hari. Nirmala kemudian menuju ke kamar mandi. Nirmala seperti tidak punya kendali atas raganya, tubuhnya terasa bergerak otomatis mengambil air wudhu. Rasanya tidak benar-benar nyata saat Nirmala menarik sajadah dan mulai mengenakan mukenah.
Pada dini hari yang dingin itu, untuk pertama kalinya dia merentangkan sajadah untuk melaksanakan sholat tahajud. Sholat yang selama ini dikiranya tidak akan pernah ia tegakkan. Nirmala hanya merasa cukup dengan melaksanakan sholat lima waktu yang di wajibkan.
Lalu dia berdo'a dengan sungguh-sungguh. "Ya Allah, aku tahu aku bukanlah hamba-Mu yang baik. Aku mungkin tidak memenuhi satu syaratpun untuk di anggap beriman kepada-Mu. Ya Allah, aku memohon janganlah Engkau meninggalkan aku. Karena aku sangat membutuhkan-Mu."
Nirmala tidak tahu berapa lama dia bersimpuh di hadapan Tuhannya dengan berlinang air mata yang membanjiri pipinya. Air matanya terus menerjang hingga membasahi mukenahnya.
Dering ponsel mengejutkan Nirmala yang baru saja melepas mukenahnya. Tanpa menyelidik lebih dulu siapa penelpon nomor rahasia itu, dia langsung saja mengangkat dan mengucapkan salam.
"Hallo, assalamua'laikum."
Jeff yang iseng menelponnya malam-malam dengan nomor rahasia dan mengira tidak akan di angkat ternyata justru dapat mendengar dengan jelas bahwa Nirmala menerima panggilannya.
"Hallo, wa'alaikumussalam."
Nirmala sangat mengenali suara Jeff. Dia kemudian melihat nama kontak yang sedang terhubung dengannya, tidak ada namanya. Tapi Nirmala yakin itu suara Jeff.
"Maaf Mala, aku tadi hanya iseng. Kalau aku mengganggu matikan saja tidak apa-apa."
Tanpa basa-basi Nirmala langsung mematikan teleponnya. Jeff pun mendadak hampir terserang penyakit jantung.
"Astaga, benar-benar di matikan." Jeff berkata pada dirinya sendiri.
Nirmala kemudian melanjutkan tidurnya dan berharap tidak bermimpi buruk lagi.
***
Pagi hari yang cerah Nirmala merasa sangat senang bisa kembali ke sekolah Bisa belajar di ruangan kelas yang sejuk bersama teman-temannya adalah waktu yang paling ia tunggu-tunggu. Hatinya begitu bersemangat seperti semangat pagi yang selalu merindukan kehadiran matahari.
Setiap hari Nirmala pergi kesekolah pukul 06.30 wib ,dulu dia berangkat sekolah selalu naik ojek atau bus tetapi sekarang dia berangkat sekolah diantar oleh pakde Slamet. Pelajaran baru akan dimulai pada pukul 07.00 waktu Indonesia Barat. Dia merasa senang bisa belajar dengan teman-teman yang kadang-kadang membuatnya kesal dan membullynya.
Nirmala tidak pernah terlambat datang ke sekolah. Dia adalah anak yang rajin dan selalu tepat waktu. Pada saat pelajaran, Nirmala biasanya memperhatikan apa yang diajarkan oleh gurunya dengan baik. Mencatat hal-hal pokok agar bisa buat belajar dirumah.
Nirmala yang duduk bersebelahan dengan Anah merasa sangat bahagia. Dia ingin Anah tetap menjadi sahabat terbaik nya. Waktu sudah menunjukan pukul 07.30 waktu Indonesia Barat, tapi belum ada satupun guru yang memasuki ruang kelasnya.
Sepertinya hari ini untuk pelajaran pertama kosong. Tapi walaupun kosong, biasanya akan ada guru yang datang memberi tugas. Tapi sekarang sudah hampir jam delapan dan masih belum ada yang masuk ke ruang kelasnya. Nirmala kemudian menghabiskan waktunya untuk membaca, sementara teman yang lain terlihat mengobrol kesana-kemari dengan teman sebangkunya.
Tiba-tiba Anah beranjak dari kursinya dan pindah ke dekat Salsa. Akhir-akhir ini Anah memang terlihat akrab dengan Salsa, padahal dulu mereka suka jambak-jambakan. Musuh jadi teman itu memang ada dan itu yang sekarang terjadi pada Anah dan Salsa. Mereka meluangkan waktu untuk bercerita.
Anah tanpa malu-malu bercerita tentang orang yang di sukainya, Jeff.
"Kamu dengar tidak? Anah bicara apa?" tiba-tiba Tirta berbisik di telinga Nirmala.
Melihat bangku di sebelah Nirmala kosong, Tirta kemudian pindah dan duduk di sebelah Nirmala. Jeff kaget melihat kejadian itu dan sedikit menyesal kenapa dia bisa ke duluan sama Tirta. Nirmala sedang membaca buku biologi.
"Hai, Nirmala." Panggil Tirta yang kini ada di sebelahnya.
"Iya." Nirmala menoleh.
Tirta sengaja ingin membuat Jeff panas.
"Nanti siang ada waktu tidak?" tanya Tirta.
"Kenapa?"
"Aku ingin mengajakmu makan di restoran mie. Restoran khusus yang menyediakan aneka mie. Kamu pasti belum pernah kesana kan?"
Nirmala berpikir sejenak.
"Okey, boleh deh. Kamu kasih tau aja alamat restorannya nanti aku kesana."
Tirta kemudian memberi alamatnya, dia tiba-tiba menarik buku dan bolpoint yang ada di tangan Nirmala.
"Boleh kan?" Sambil memberikan sebuah isyarat agar Nirmala mengizinkan dia menulis di bukunya, menulis alamat restoran tersebut.
Nirmala mengangguk pelan. Setelah selesai menulis, Tirta kembali ke bangku nya.
"Ingat ya? Sepulang sekolah." Kata Tirta sambil loncat melewati meja.
Tirta memang terbiasa bertingkah seenaknya di kelas. Padahal dia bisa berjalan dengan sopan tanpa harus melompati meja. Karena itu perbuatan yang tidak sopan dan tidak patut untuk di contoh.