
Anah sekarang sudah berada dirumahnya. Setelah pulang dari klinik, Jeff mengantarnya pulang ke rumah. Dokter sudah memberi obat untuk menghilangkan rasa panas, untunglah bubuk cabe itu tidak terlalu merusak kulitnya, hanya sedikit terasa panas dan perih di mata. Tapi semuanya sudah ditangani oleh dokter sehingga tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Jeff berpamitan untuk pulang, tapi Anah dengan manja menahannya.
"Please ... temani aku sebentar saja." Pinta Anah sambil memegang lengan Jeff dan menyenderkan badannya.
Jeff melepas tangan Anah dan menjauhkan badannya.
"Aku akan menemanimu tapi lepaskan aku dulu."
Anah kemudian melepaskannya. Jeff tidak banyak bicara, dia hanya diam dan menunduk. Dia sedang memikirkan Nirmala, dia merasa sikapnya tadi terlalu berlebihan.
"Sebenarnya siapa yang memberi bubuk cabe itu?" tanya Jeff tiba-tiba.
Anah tersentak dan masih tidak mau jujur. Dia mengatakan kalau bubuk itu dia dapat dari tangan Nirmala.
Memang benar kan apa yang aku katakan, aku memang dapat bubuk itu dari tangan Nirmala. Walaupun sebenarnya aku tahu itu dari Salsa, Salsa ingin mencelakai Nirmala tapi malah aku yang kena. Batinnya.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau jujur, aku mau pulang." Kata Jeff yang sekarang mulai berdiri.
"Aku benar-benar mendapatkan itu dari tangan Nirmala. Mengapa kamu tidak percaya?"
"Karena aku tahu Nirmala bukan orang yang seperti itu, dia tidak mungkin melakukannya." Jeff membela Nirmala dan membuat Anah merasa kesal.
Tadi saat di sekolah, Jeff terlihat tidak peduli dengan Nirmala. Kenapa sekarang dia malah membelanya dan memojokkanku. Batinnya Anah lagi.
"Sudahlah, aku mau pulang. Jangan lupa minum obatnya. Semoga cepat sembuh, biar bagaimanapun kamu ketua di acara kemah kita nanti." Ucap Jeff sambil berlalu pergi meninggalkan Anah.
***
Sementara itu, Nirmala yang hatinya mulai tenang juga berpamitan kepada Kevin untuk pulang kerumah. Jika menunggu Kevin, itu bisa sampai sore atau bahkan malam.
"Kamu yakin udah mau pulang?" tanya Kevin.
Nirmala mengangguk. Mereka kemudian berjalan keluar dari kantin menuju ke lobby. Kevin mencarikan taksi untuk Nirmala, tidak lama kemudian taksi itu datang, Kevin membukakan pintu mobil taksi itu dan menutupnya kembali saat Nirmala sudah duduk di dalam. Dia meminta kepada supir taksi nya agar membawa Nirmala pulang dengan hati-hati. Dia juga membayar lebih dulu padahal belum tahu berapa tarifnya, tapi dia membayar cukup banyak sehingga supir taksi itu sangat senang.
"Saya rasa ini terlalu banyak Tuan." Kata supir taksi itu saat menerima uang dari Kevin.
Kevin hanya tersenyum lalu menyuruhnya untuk segera jalan mengantar Nirmala.
"Mala, hati-hati ya?" Ucap Kevin sambil tersenyum.
Nirmala membalas senyuman Kevin dan taksi itupun berlalu. Terlihat Kevin melambaikan tangannya masih di iringi senyumannya yang sangat manis.
Nirmala duduk di mobil itu sambil memainkan handphonenya. Tetapi tiba-tiba taksi itu berhenti.
"Ada apa pak?" tanya Nirmala penasaran.
"Tidak tau Non, sepertinya ada yang tidak beres dengan rodanya."
Supir taksi itu kemudian keluar dan memeriksa, benar saja rodanya bocor. Tidak tahu apa penyebabnya. Merasa tidak enak, supir taksi tersebut kemudian mengembalikan sebagian uang Kevin, tapi Nirmala menolaknya.
"Tidak apa-apa, itu rejeki bapak. Di depan ada halte, saya masih bisa naik bus. Terimakasih." Kata Nirmala lalu pergi meninggalkan taksi itu.
Nirmala terus berjalan dan mempercepat langkahnya agar bisa sampai di halte. Siang itu matahari bersinar cukup terik. Tiba-tiba sebuah motor berhenti di sampingnya dan mengagetkannya. Dia melihat motor itu sudah tidak asing lagi. Seseorang yang mengendari motor itu kemudian membuka helmnya. Jeff, tidak sengaja Jeff melihat Nirmala berjalan sendirian. Saat masih di jalan tadi, pikiran Jeff tidak ingin berhenti dan mengabaikannya, tapi tidak dengan hatinya. Hatinya memaksa dia untuk mendekati Nirmala dan mengajaknya naik motor bersama.
"Naiklah." Kata Jeff.
"Tidak usah." Nirmala menolak dan terus berjalan menuju ke halte.
Jeff kemudian mengejarnya dan masih terus memaksanya. Dia juga minta maaf.
"Aku minta maaf," Kata Jeff.
"Minta maaf untuk apa?" tanya Nirmala.
"Untuk semuanya, kamu juga harus minta maaf padaku." Kata Jeff lagi.
Nirmala mendadak menghentikan jalannya dan memandang Jeff.
"Kenapa aku harus minta maaf padamu?"
"Kemarin malam kamu membuat aku menunggu lama di restoran."
"Oh itu, aku memang sengaja melakukannya." Ucap Nirmala tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Tidak mungkin. Pasti ada yang dia sembunyikan. Batin Jeff.
Nirmala kemudian melanjutkan langkahnya hingga tiba di halte. Jeff masih terus mengejarnya. Dia kemudian memarkirkan motornya di samping halte dan berdiri di samping Nirmala. Jeff masih memaksanya untuk minta maaf.
Tiba-tiba bus yang di tunggu datang, semua orang di halte masuk ke dalam bus itu kecuali Nirmala. Nirmala tidak bisa ikut masuk karena Jeff tidak membiarkannya. Dia memegang tangan Nirmala dengan erat dan Nirmala merasa kesusahan untuk melepasnya.
"Ayo minta maaf." Jeff masih terus memaksanya dan mulai menatap Nirmala sambil terus memegang tangannya.
Wajahnya mulai ia dekatkan ke wajah Nirmala, membuat gadis itu sontak memundurkan kepalanya. Nirmala mulai memahami situasinya, ia kemudian tersenyum dan mencoba bersikap ramah kepada Jeff daripada terjadi hal-hal yang tidak dia inginkan. Akhirnya Jeff melepaskan genggaman tangannya.
Nirmala masih tetap tersenyum tapi matanya melirik ke sebuah taksi yang parkir tidak jauh dari halte. Jeff masih tidak menyadari kalau Nirmala berniat lari darinya. Dan benar saja, begitu Jeff lengah, Nirmala berlari ke taksi yang sedang parkir dan memintanya cepat-cepat pergi dari sana. Nirmala masuk ke dalam mobil taksi itu dan membuka kaca mobilnya lalu melambaikan tangan kepada Jeff masih dengan senyuman mengejek.
Jeff terlihat begitu kesal.
"Tidak mau minta maaf ya, lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan." Batinnya sambil kemudian menaiki motor, memakai helm dan menstarternya.
Tidak lama kemudian Nirmala sudah sampai dirumahnya dan setelah mengganti pakaiannya, dia pergi ke taman biasa. Di taman yang tidak jauh dari rumahnya, Nirmala kembali menikmati tempatnya menyepi.
Kali ini dia tidak duduk di bangku favoritnya, ia ingin merasakan suasana yang berbeda lalu ia memilih duduk di rerumputan dan memandang cakrawala, langit biru yang terbuka. Dedaunan dari pohon -pohon yang rindang membuat dia teduh dan tidak terkena sinar matahari secara langsung. Daun-daun yang segar itu terlihat menari-nari setiap ada angin yang bertiup dan terdengar bergemerisik. Membuat Nirmala semakin menikmati lokasi barunya.
"Nyaman sekali rasanya." Batin Nirmala sambil memejamkan matanya.
Angin yang berhembus sepoi-sepoi menyejukkan tubuhnya yang sedikit kegerahan karena ulah Jeff tadi yang memaksanya untuk berlari. Juga karena taksi yang pertama dia naiki memaksanya untuk berjalan kaki. Nirmala tersenyum saat mengingat wajah Jeff yang terlihat gusar saat memaksanya minta maaf tapi dia tidak mau melakukannya.
Permintaan Jeff tadi sempat membuatnya terkejut sekaligus merasa tidak enak hati.
"Baiklah, Jeff aku akan minta maaf demi Anah." Batin Nirmala sambil tersenyum.
Anah adalah sahabatnya sejak kecil. Walaupun terkadang merepotkan dan sering membuatnya kesusahan tapi Nirmala tidak mungkin melukai perasaan sahabatnya itu. Dulu sebelum Jeff si anak baru itu pindah ke sekolahnya, hubungannya dengan Anah tidak pernah ada masalah. Tapi cinta membutakan mata hatinya, setelah Jeff hadir dalam hidupnya, dia berubah dan lebih memilih mengejar cintanya daripada mempertahankan persahabatan.
Tentang pertemuan di restoran itu Jeff tidak perlu tahu kalau sebenarnya yang merencanakan pertemuannya adalah Anah, bukan dirinya. Batin Nirmala sambil terus memejamkan matanya, menikmati angin sepoi-sepoi.
"Hai, kau menyerobot tempat favorit ku!"
Suara teriakan itu mengejutkan Nirmala dan membuatnya terpaksa membuka matanya yang terpejam, Nirmala memicingkan matanya karena silau oleh sinar mentari yang menelusup di sela-sela dedaunan. Nirmala memperhatikan sosok yang berdiri tegap di hadapannya.
"Tirta?" Ucap Nirmala saat mengetahui sosok itu.
Nirmala tidak menyangka akan bertemu dengan Tirta di tempat itu, memang biasanya Nirmala duduk di bangku taman di lokasi yang lain. Tapi kali ini dia ingin bersantai di rerumputan. Dia tidak tahu kalau ternyata rerumputan itu tempat favorit nya Tirta. Anak jenius di sekolahnya yang biasa dekat dengan Bharata. Tapi sekarang dia terlihat datang sendirian.
"Maksud kamu, tempat ini adalah tempat favorit kamu?" Nirmala menoleh ke kanan dan ke kiri di rerumputan itu.
Tempat ini memang posisi terbaik di taman kecil ini karena di naungi dua pohon besar di sisi kanan dan kirinya.
"Aku sudah sering ke tempat ini sejak masih SD, tepat di lokasi tempat kamu duduk itu. Dan sekarang kamu menyerobotnya dariku." Kata Tirta dengan tegas masih sambil berdiri dan memegang gitar.
Wajahnya tanpa ekspresi dan dia terlihat seperti orang asing yang baru kenalan. Karena biasanya Tirta bersikap manis dan tidak kaku seperti itu.
"Maaf, aku tidak tahu kalau ini adalah tempat favorit mu. Aku menemukannya tanpa sengaja dan pilihanmu memang tepat. Tempat ini nyaman sekali." Ucap Nirmala.
Nirmala bangkit berdiri dan bergeser dari tempat duduknya. Dia kemudian mengucapkan maaf dan ingin pergi. Tapi Tirta menghentikannya.
"Sedang apa kamu disini? Dan mengapa kamu kemari?" tanya Tirta.
"Aku sedang ingin bersantai. Kamu sendiri ngapain kemari?" Nirmala balik bertanya.
"Ini memang tempatku dari dulu." Jawab Tirta.
"Menurutku ini tempat umum, siapapun boleh menempatinya. Tapi baiklah, kalau kamu menginginkan tempat ini, aku akan pergi." Kata Nirmala.
"Sudah aku bilang jangan pergi." Kata Tirta lagi.
Sepertinya suasana hati Tirta sedang kacau, tidak biasanya dia bersikap seperti ini. Batin Nirmala.
Kemudian Nirmala memutuskan untuk kembali duduk, Tirta duduk di sebelahnya sambil memainkan gitar. Angin yang sepoi-sepoi di iringi alunan musik membuat Nirmala tanpa sadar tertidur di tempat itu. Entah sudah berapa lama dia tertidur. Saat dia terbangun, Nirmala terkejut karena Tirta berdiri di depannya.
"A ... apa yang kamu lakukan?" tanya Nirmala cemas.
"Aku berfikir untuk membangunkan mu. Kamu tahu sekarang sudah jam berapa? hampir jam 6. Kamu mau tidur disini sampai malam? Sampai binatang-binatang buas menghampiri mu?" Jawab Tirta panjang lebar.
"Kamu bercanda kan? Mana mungkin disini ada binatang buas?" Sanggah Nirmala.
"Terserah kamu saja." Sahut Tirta.
Lalu ia melangkahkan kakinya menjauhi Nirmala. Nirmala segera bangkit berdiri dan mencangklong tasnya mengejar Tirta.
"Tirta ... tunggu aku!"
Udara mulai terasa dingin dan membuat Nirmala sedikit menggigil. Dia takut juga jika berada di taman sendiri menjelang malam.
"Terimakasih sudah menungguku." Kata Nirmala setelah dia berhasil berjejer dan berjalan di samping Tirta.
Tirta hanya tersenyum, mereka berjalan beriringan tetapi tak saling bicara. Tirta melangkah santai membawa gitarnya dengan satu tangan kanan saja dan memasukan tangan kirinya ke saku celana. Sikapnya benar-benar dingin, tidak seperti Tirta yang dia kenal. Tapi walaupun demikian, dia mengantar Nirmala pulang sampai ke depan pintu gerbang rumahnya.