
Pagi hari seperti biasa Nirmala bersiap untuk pergi ke sekolah. Kali ini dia lebih sedikit santai. Bi Sona membantu menyisir dan merapikan rambutnya yang halus dan terawat.
"Non, kalau sudah lulus sekolah nanti mau kuliah dimana?" tanya bi Sona sambil menyisir rambut nona muda nya, sesekali bi Sona menatapnya melalui cermin.
Nirmala yang duduk di depan cermin menatap wajahnya penuh ke syukuran, dia pun menebarkan senyumnya saat melihat pantulan wajahnya sendiri.
"Masih belum tahu Bi, ada universitas yang bagus di tanah Jawa, di Semarang atau di Jogjakarta. Nirmala ingin kuliah disana."
"Tapi itu kan jauh Non. Nanti kalau bibi kangen gimana? Dan rumah ini akan semakin sepi kalau tidak ada Non." Ujar bi Sona dengan wajah memelas. Dia kemudian meraih ikatan rambut berwarna hitam dan mengikat rambut Nirmala.
"Itu kan baru rencana bi." Sahut Nirmala sambil tersenyum. Dia kemudian berbalik dan menatap bi Sona.
Bi Sona masih memegang sisir dan raut wajahnya seperti menampakkan kesedihan. Dia tidak bisa jauh dari Nirmala, meski bukan anak kandungnya sendiri. Dia yang telah merawat dan membesarkannya selama ini. Tentu saja melepasnya pergi seperti ada bagian yang hilang dari kehidupannya.
Nirmala mulai beranjak, dia kemudian meraih tas sekolahnya dan berpamitan dengan bi Sona.
"Mala berangkat dulu ke sekolah ya Bi."
Bi Sona mengangguk pelan.
"Hati-hati ya Non."
Nirmala kemudian masuk ke mobil yang sudah di siapkan oleh pakde Slamet. Di dalam mobil Nirmala meminum green tea kotak, minuman favorit nya. Dengan santai dia menyeruput minumannya sedikit demi sedikit sambil sesekali melihat kondisi jalanan.
Perjalanan kali ini sangat menyenangkan karena tidak terlalu macet seperti biasanya. Dia berangkat lebih pagi ke sekolah.
"Hah." Nirmala menghela napas.
Dia membayangkan suasana di sekolah.
"Apa yang akan terjadi nanti di sekolah, sebenarnya sudah terlalu sering mereka membullyku. Tapi itu bukan masalah besar yang memalukan seperti kejadian kemarin. Walaupun aku tidak melakukannya, tapi tetap saja gosip itu akan membuat kuping ku panas. Mereka pasti akan menganggap ku sebagai gadis murahan. Aku tidak suka sebutan itu." Batin Nirmala sambil terus memandang keluar dari balik kaca mobil.
Pakde Slamet menyetir dengan sangat hati-hati. Nirmala masih menikmati minuman kotaknya, kali ini pandangannya terfokus pada green tea ditangannya. Tiba-tiba Pakde Slamet menghentikan mobil, Nirmala menoleh dan tidak ada lampu yang menyala merah di jalan itu. Tapi dengan cepat matanya menangkap kerumunan di depan mobilnya. Sepertinya telah terjadi sesuatu yang buruk.
Tok ... Tok ... Tok ...
Seseorang dengan terburu-buru mengetuk pintu mobilnya.
"Tolong buka pintu mobilnya, ada orang kecelakaan. Tolong bantu dia bawa kerumah sakit!" Teriak seorang laki-laki paruh baya dari luar kaca mobil. Wajahnya terlihat sangat panik dan penuh harap.
Nirmala langsung menyeruput minumannya dengan cepat sampai habis. Kemudian berniat membuka pintu mobil itu. Dia juga menyuruh pakde Slamet untuk turun. Pakde Slamet terlihat kebingungan, di satu sisi dia harus menjalankan kewajibannya mengantar nona muda ke sekolah, tapi di sisi lain nona mudanya malah menyuruh untuk turun dari mobil dan membantu seseorang.
Lelaki paruh baya itu masih terus mengetuk pintu sampai Nirmala dan pakde Slamet turun. Setelah pintu mobil terbuka, mereka mengangkat korban kecelakaan masuk ke dalam mobil. Anak perempuan yang masih sangat kecil dan seharusnya dia masih duduk di bangku sekolah dasar, tapi sepertinya anak itu sedang berjualan koran sebelum akhirnya mengalami kecelakaan.
Nirmala menyusul masuk kembali ke dalam mobil, begitu pun dengan pakde Slamet. Orang di sana tidak ada yang mengenalnya dan tidak ada satupun yang mau menemani.
"Tolong bawa dia kerumah sakit secepatnya." Pinta orang-orang yang berkerumun.
Nirmala duduk sambil memegang gadis kecil yang masih pingsan.
"Pakde, buruan kita ke rumah sakit." Pinta Nirmala.
Pakde masih dalam pikiran yang bingung tidak menentu, tapi program di otaknya mengikuti perintah bos kecilnya. Nirmala duduk di samping korban yang berlumuran darah, dia mengalami banyak luka di sekujur tubuhnya. Orang yang menabraknya lari dari tanggung jawab. Hal itu mengingatkannya pada memori beberapa minggu lalu, dia juga sempat mengalami kecelakaan hebat.
Pakde Slamet melajukan mobilnya dengan sangat cepat dan tidak menunggu waktu lama, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Petugas medis sangat cekatan membawa korban ke UGD. Nirmala menunggu di luar ruangan.
"Non, Non nggak ke sekolah?" tanya Pakde dengan cemas. Dia cemas takut ketahuan tuan Wicaksana, ayah Nirmala. Cemas jika di anggap tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik, karena dia tidak mengantar Nirmala ke sekolah.
"Pakde tenang aja, hari ini Mala tidak akan masuk. Tapi Mala udah ijin kok. Jadi Pakde tidak usah khawatir." Kata Nirmala mencoba menenangkan kekalutan sopir pribadinya.
***
Sementara itu di sekolah murid-murid sudah mengikuti jam pelajaran pertama. Jeff tidak menemukan sosok Nirmala dan membuatnya panik.
Kenapa Mala tidak masuk hari ini. Batinnya dengan penuh kecemasan.
Apa mungkin dia malu karena kejadian kemarin? Ah, aku membuatnya malu. Apa yang harus aku lakukan?
Di tengah-tengah proses belajar yang sedang berlangsung, tiba-tiba Jeff mengangkat tangan dan meminta ijin kepada guru yang sedang mengajar bahwa dia ingin pergi ke toilet. Guru itu memberinya izin dan Jeff langsung keluar kelas, tapi bukan ke toilet melainkan ruang BK.
Dia merasa bersalah karena kemarin hanya diam saja saat Nirmala menceritakan kebenarannya, seolah menyanggah bahwa mereka memang benar melakukannya. Dan hari ini Nirmala tidak masuk sekolah, dia berpikir ketidak hadiran Nirmala adalah karena ulahnya. Sehingga membuat Nirmala malu dan tidak percaya diri untuk datang ke sekolah.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Masuk." Kata guru itu masih dengan fokus menulis tanpa memandang siapa yang datang.
"Permisi, Pak." Sambut Jeff membuat guru itu mendongakkan kepalanya.
"Kamu, Jeff, duduk dulu. Ada perlu apa kemari?" Tanya nya masih terus sibuk dengan menulis.
Jeff kemudian menarik sebuah kursi dan duduk dengan sopan. Kali ini wajahnya terlihat lebih bersahabat dari sebelumnya, biasanya walau berhadapan dengan guru BK dia tetap akan bersikap arogan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Lain dengan kehadirannya kali ini, dia menampakkan wajah penyesalan.
"Tentang kejadian kemarin Pak, saya ingin menceritakan yang sebenarnya." Jeff kemudian menceritakan dengan detail peristiwanya, guru itu hanya mengangguk-anggukan kepala dan sesekali geleng-geleng.
Setelah bercerita, Jeff menjadi sangat lega. Tapi jawaban dari guru itu membuatnya tercengang.
"Bapak sudah tahu." Hanya kalimat seperti itu yang di ucapkan oleh guru itu. Sangat santai dan membuat Jeff terperangah.
"Bapak sudah tahu? Lalu kenapa Bapak kemarin menyudutkan Nirmala!" Spontan Jeff berteriak di luar kendali, memang seperti itulah sifat asli Jeff. Dia mana bisa lembut?
"Pelankan suaramu, mau bapak suruh bersihkan gudang lagi?"
"Iya, iya maaf Pak." Ucap Jeff.
Dasar pak tua empat mata, sudah tahu tapi diam saja. Umpat Jeff dari dalam hati, mengatakan empat mata kepada gurunya yang berkaca mata itu.
"Bapak sudah tahu dari ketua kelas kalian, Tirta. Dia sudah menceritakan kejadiannya." Guru BK itu memberikan keterangannya.
"Tirta?"
Darimana dia bisa tahu kejadian yang sebenarnya. Apa dia mau sok jadi pahlawan untuk Nirmala? Hm ... tidak akan aku biarkan dia melangkahiku.
"Ada lagi Jeff yang mau kamu jelaskan? Tentang korek api kemarin, bisa kamu jelaskan juga?"
"Itu hanya iseng Pak, tidak perlu di permasalahan." Katanya membela diri.
"Apa kamu merokok di lingkungan sekolah?"
"Mana mungkin, saya ini menjaga kesehatan dan ketampanan. Tidak mungkin saya merusak ketampanan saya dengan asap rokok." Jawab Jeff dengan penuh percaya diri.
"Ya sudah, kembali ke kelas."
"Saya tidak akan kembali sebelum bapak membersihkan nama Nirmala." Pinta Jeff.
Guru itu menghela napas.
"Tentu, nama Nirmala akan bersih setelah ini. Tapi kemudian nama kamu yang akan buruk."
Aku tidak perduli jika namaku menjadi buruk. Apa peduli ku dengan omongan orang lain. Bodo amat. Kata Jeff dalam hatinya.
Guru BK itu berhenti menulis, dia meletakkan bolpoint dan menutup bukunya lalu berdiri.
"Ayo ke kelas." Ajaknya kepada Jeff.
Mereka berdua kemudian berjalan beriringan menuju ke kelas. Sesampainya di kelas, Guru BK meminta izin waktu sebentar kepada guru kelas yang sedang mengajar. Mereka menjadi tegang melihat kehadiran guru bk. Ini untuk ke sekalian kali kelas mereka kedatangan guru killer itu dalam beberapa hari terakhir.
"Anak-anak, bapak ingin mengumumkan sesuatu kepada kalian. Tapi sebelum bapak mengumumkannya, Jeff yang akan menjelaskan terlebih dahulu, silakan Jeff."
Jeff berdiri di depan kelas, dia kemudian memberanikan diri mengatakan hal yang sebenarnya tentang kejadian kemarin yang menimbulkan kesalah pahaman banyak pihak. Seketika kelas menjadi gaduh dan beberapa murid menyoraki Jeff.
Huh ... Payah kamu Jeff ....
Mereka bersorak membuat suara keras hingga terdengar ke kelas lainnya. Tidak lama kemudian bel istirahat berbunyi. Guru BK dan guru kelas kembali ke ruangan masing-masing. Sedangkan Jeff memilih duduk sendiri di dalam kelas, perasaannya kini menjadi lega. Dia juga berpikir untuk minta maaf lagi kepada Nirmala.
Semoga Nirmala mau memaafkan aku.
Jeff masih menyendiri dalam kekhawatiran. Kedua tangannya memegang kepala dan mengacak-acak rambutnya sendiri. Tiba-tiba Anah datang dan menawarkannya minuman.
"Minumlah agar kamu bisa tenang." Perhatian Anah sama sekali tidak mendapatkan respon positif. Jeff sama sekali tidak meraih minuman itu, dia justru pergi meninggalkan Anah. Membuat kecewa dan menggores luka di hati Anah.
Dalam kekecewaan, Anah menatap langkah Jeff yang semakin menjauh dari pandangannya. Dia berpikir betapa sulitnya meraih perhatian dari seorang Jeff. Tapi itu tidak membuatnya patah semangat. Dia kemudian berlari mengejar Jeff. Setelah langkahnya berhasil menyamai langkah Jeff, Anah memberikan senyumannya sambil menatap wajah pria tampan itu.
Menurut Anah, Jeff adalah sosok yang sempurna. Semua siswi di sekolahnya juga tergila-gila dengan ketampanannya dan sikapnya yang dingin. Kecuali Nirmala, dia tidak pernah tertarik sedikitpun dengan cowok yang hanya pamer ketampanan tapi otaknya kosong. Suka menyontek dan tidak pernah serius dalam belajar. Selain itu, menurut Nirmala, dia adalah murid paling arogan, pemarah dan egois. Tidak ada istimewanya sama sekali.
Anah masih terus bersikap manis walaupun Jeff sama sekali tidak bereaksi membalas senyumnya.