Getaran Hati Nirmala

Getaran Hati Nirmala
Jam Kosong di Sekolah


Pagi yang indah di kota Jakarta. Matahari bersinar terang, burung-burung berkicau dan semilir angin yang menerpa pepohonan semakin menambah ke indahannya. Selama ini orang selalu mengenal Jakarta sebagai kota yang macet dan banyak polusi. Padahal suara air jernih yang mengalir dan sejuknya udara di pagi hari masih bisa kita rasakan.


Jeff sudah bersiap untuk ke sekolah, dia mulai mengeluarkan motor kesayangannya dan berteriak berpamitan kepada kakaknya. Sudah terbiasa seperti itu, kakaknya pun terbiasa masih bersembunyi di balik selimut pada saat sang adik mau berangkat ke sekolah.


"Kak ... Jeff berangkat ke sekolah dulu ya." Teriak Jeff.


Kakaknya yang masih berselimut tebal di ruang kamar yang ber ac itu menjawab teriakan adiknya. Tidak kalah keras suaranya hingga siapapun yang mendengarnya akan langsung menutup telinga. Tak terkecuali Jeff, adik semata wayangnya.


"Iya ... Jeff!" balas Chika dari dalam kamarnya.


Hal itu membuat Chika tidak bisa melanjutkan tidurnya, dia lalu membalik selimut itu dan mulai duduk di kasur nya. Mencari handphone dan mulai mengecek pesan-pesan yang masuk, dari sekian banyak pesan dia berharap bisa menemukan pesan masuk dari Kevin, sahabatnya. Namun, ternyata tidak ada, Kevin sama sekali tidak meninggalkan pesan untuknya.


"Kevin sama sekali tidak peka, kenapa setiap hari harus aku yang mulai duluan menyapanya. Berteman juga sudah bertahun-tahun, usia juga sudah 24 tahun. Apa dia tidak memikirkan aku sama sekali, mengajak menikah gitu."


"Semua ini gara-gara Nirmala, bocah ingusan itu seharusnya tidak perlu lahir ke dunia ini. Sejak ada dia, Kevin selalu lebih mementingkan nya. Tidak seperti dulu lagi yang waktunya bisa dia habiskan bersamaku seharian penuh."


Chika mulai beranjak dari tempat tidurnya, dia mencari handuk yang masih berada di jemuran. Dia meraih handuk itu dan meletakannya di pundak, terlihat sangat malas tapi dia harus memaksakan diri untuk mandi. Selesai mandi, dia bergegas turun ke ruang makan. Asisten rumah tangganya sudah menyiapkan sarapan. Dia mulai menikmati sarapannya dan menutup dengan segelas air putih.


Selesai sarapan dia pergi mencari taxi, tidak ada satupun taxi yang lewat. Sekalinya ada yang lewat, taxi itu tidak mau berhenti meskipun Chika sudah mencoba menghentikannya.


"Taxi itu sombong sekali, tidak butuh uang ya sudah." Gerutu Chika.


Dia masih menunggu dan berharap masih ada taxi yang lewat. Chika harus segera ke kantornya. Chika merupakan direktur utama di perusahaan milik orang tuanya. Orang tuanya tinggal di luar negri sehingga dia yang harus mengurus perusahaan. Sebenarnya Chika tidak begitu menyukai profesinya itu, oleh sebab itu lah dia jarang berada di kantornya dan lebih senang belanja atau jalan-jalan. Dia selalu berharap Jeff cepat tumbuh besar dan bisa menduduki posisi yang sekarang di tempatinya.


Chika yang mulai kesal karena tak kunjung mendapatkan Taxi akhirnya berjalan pelan kembali kerumahnya. Ada mobil dirumah itu, tapi Chika memang malas jika harus menyetir mobil sendiri.


"Harusnya tadi aku suruh Jeff untuk membawa mobil saja dan mengantar aku ke kantor." Kata nya pelan


Chika terus berjalan menuju ke arah rumahnya. Tiba-tiba sebuah mobil terdengar seperti mendekatinya dan membunyikan suara klakson.


Tet ... Tet ...


Chika kaget dan menoleh ke belakang. Dia memperhatikan sebuah mobil yang berhenti di belakangnya.


"Seperti mobil Kevin." Kata Chika.


Chika lalu balik arah menuju ke mobil itu dan benar saja, itu Kevin.


"Kevin," Kata Chika yang terlihat sangat senang melihat seseorang yang tadi pagi dia pikirkan.


"Kamu mau kemana Chik?" Tanya Kevin.


"Mau ke kantor tapi dari tadi aku menunggu taxi gak ada yang lewat, makanya aku mau kembali kerumah untuk bawa mobil sendiri." Kata Chika.


"Udah bareng aja yuk, naik." Kata Kevin.


"Serius?" Chika masih tidak percaya Kevin mau mengantarnya ke kantor sedangkan kantor Kevin sendiri berlawanan arah.


"Tapi nanti kamu ke kantornya jadi telat." Kata Chika lagi.


"Udah gak usah di pikirin, aku lagi gak ada kerjaan kok. Lagi santai." Kata Kevin.


Chika semakin terlihat senang, dia mulai naik ke mobil dan duduk di samping Kevin. Dia terlihat malu-malu tidak seperti biasanya.


"Kamu kenapa Chik? Wajah kamu itu seperti kita baru kenal saja." Kata Kevin yang melihat wajah Chika terlihat tersipu malu-malu.


Kevin mulai menyetir mobil kembali, dia mencari jalan untuk putar balik ke arah kantor Chika. Sepanjang perjalanan Chika terus memandang Kevin, sementara Kevin fokus menyetir ke depan. Berbeda saat Kevin naik mobil bersama Nirmala, Kevin akan lebih fokus menatap Nirmala ketimbang menyetir mobilnya.


Perjalanan menuju ke kantor Chika cukup jauh, itu butuh waktu 1 jam 15 menit jika kondisi lalu lintas lancar. Tapi kalau macet, bisa memakan waktu berjam-jam, bisa sampai 3 jam perjalanan. Namun sebagai direktur utama, tidak ada yang perlu Chika khawatirkan jika terlambat setiap hari pun tidak akan menjadi masalah.


***


Di tempat lain, di sekolah Nirmala. Terlihat para siswa sudah mulai masuk ke kelas masing-masing. Hari ini mata pelajaran di kelas Nirmala kosong. Mereka bersorak gembira, mereka memang lebih menyukai jam kosong ketimbang belajar. Padahal dengan belajar akan menambah pengetahuan mereka, sedangkan jika jam kosong mereka hanya bermain-main saja meskipun guru akan memberi mereka tugas.


"Tenang ... Tenang ... Anak-anak dengarkan Ibu, kalian hari ini jam kosong karena kami para guru akan mengadakan rapat sampai siang."


"Jadi kalian belajar sendiri dan kerjakan soal-soal di lembar kerja siswa mulai halaman 46-52, kerjakan dan tidak boleh ramai. Kalian mengerti?" Kata Bu guru.


"Mengerti, Bu." Mereka menjawab serentak.


"Baik kalau kalian bisa mengerti, Ibu tinggal dulu. Tirta, tolong kamu jaga kelas kamu." Pesan ibu guru lagi.


"Siap Bu." Jawab Tirta.


Baru beberapa langkah Ibu guru keluar dari kelas, mereka sudah mulai ramai. Hanya beberapa orang yang mengikuti nasehat guru dengan belajar dan mengerjakan soal-soal.


Jeff mulai beraksi dan mengganggu Nirmala yang sedang fokus mengerjakan tugasnya. Tiba-tiba Jeff berbisik di telinga Nirmala.


"Juliet, kerjakan juga dong pekerjaan ku." Kata Jeff meledek Nirmala dengan sebutan Juliet sambil memberikan lembar kerja siswa ke pada Nirmala.


Tirta datang dan memberi peringatan kepada Jeff agar tidak mengganggu siswa yang sedang konsentrasi belajar. Tirta juga mengambil lembar kerja siswa milik Jeff dan meletakan kembali di bangku Jeff.


"Kau ini tidak mengerti kesenangan ya?" Kata Jeff kepada Tirta.


Tirta hanya diam dan kembali mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru. Tiba-tiba Anah membalikkan badannya ke belakang ke arah Jeff. Anah duduk di depan Tirta, sementara Jeff ada di sebelahnya lagi, sebelah Tirta.


"Berikan padaku saja Jeff, biar aku yang mengerjakannya." Kata Anah sambil memberikan senyum kepada Jeff.


"Tidak perlu, aku bisa mengerjakannya sendiri." Kata Jeff.


"Kalau ada yang kamu tidak mengerti, tidak usah sungkan. Tanyakan saja padaku ya Jeff." Kata Anah lagi.


Jeff hanya diam pura-pura tidak mendengar dan berpura-pura fokus mengerjakan soal-soal itu. Suasana kelas yang tadinya ramai mendadak hening. Semua siswa terlihat mengerjakan tugasnya masing-masing. Tapi itu hanya sebentar saja, tidak lama kelas menjadi ramai kembali. Mereka lebih senang berbincang-bincang dan membicarakan hal-hal di luar topik belajar. Ada yang membicarakan film, ada yang membicarakan kesuksesan orang tuanya dan tidak sedikit yang berbicara tentang pesta ulang tahun.


Tiba-tiba seorang siswa meminta perhatian.


"Teman-teman ... Teman-teman ... Nanti malam hadir ya ke pasta ulang tahunku, wajib datang semuanya ya." Kata seorang murid perempuan.


"Semua boleh hadir, kecuali Nirmala." Kata Salsa dengan nada setengah mengejek.


"Tanpa terkecuali kok, Nirmala juga boleh hadir. Aku kan baik." Kata murid perempuan itu.


Salsa merasa sangat kesal karena anak murid itu lebih membela Nirmala daripada dirinya.


"Sudahlah Salsa, kamu tidak boleh seperti itu." Kata Ruby mencoba menasehati temannya.


"Diam kau Ruby, kau ini temanku atau teman anak pembantu itu?" Kata Salsa dengan nada masih menahan amarah.


Kelas mulai hening kembali, tidak lama kemudian bel berbunyi. Tanda istirahat, mereka mulai berhamburan keluar. Sementara itu, Nirmala lebih memilih untuk melanjutkan tugas-tugasnya mengisi lembar kerja siswa.