
Setelah acara makan malam dirumah Kevin selesai, Nirmala berpamitan pulang. Kevin mengantar hanya cukup dengan berjalan kaki. Tidak ada obrolan yang serius menemani malam mereka. Hanya saja, saat sudah sampai dirumah Nirmala, mereka duduk santai berdua di teras sambil memandang langit yang teduh.
Tapi tidak seperti malam-malam sebelumnya, malam ini Kevin nampak diam. Nirmala juga bisa melihat itu dari raut wajahnya yang seperti sedang memikirkan sesuatu hal yang berat, jelas terlihat tidak seperti biasanya. Tentu saja Kevin berbeda, itu karena dia sudah bisa memahami kalimat dari Wicaksana, ayah Nirmala. Kevin menyadari kalau dirinya tidak bisa diterima oleh keluarga Nirmala.
Tapi dia masih penasaran kenapa ayah Nirmala berkata seperti itu. Beberapa menit duduk bersama, mereka hanya saling diam dan sesekali tersenyum saling memandang. Nirmala mulai menguap, dia nampaknya mulai ngantuk.
"Sepertinya kamu sudah mengantuk. Istirahatlah." Ucap Kevin.
Nirmala mengangguk pelan.
"Sampai jumpa besok, Kevin." Ucap Nirmala seraya meninggalkan Kevin sendirian duduk di teras rumahnya.
Beberapa menit kemudian, Kevin mulai berdiri dan berjalan keluar dari rumah Nirmala. Saat baru sampai di pintu pagar, siapa sangka kedua orang tua Nirmala pulang dari luar kota. Dari dalam mobil, kedua orang tua Nirmala tanpa berkedip melihat Kevin yang sedang berjalan. Wicaksana nampak tidak sabar, dia segera turun dan mendekati Kevin.
"Rupanya ada tuan muda Kevin disini. Suatu kehormatan." Sapa Wicaksana dengan nada mengejek.
Kevin terdiam.
"Kevin, apa kata-kata saya kurang dimengerti waktu itu?" Tanya Wicaksana.
"Saya mengerti, permisi." Hanya itu kalimat yang Kevin ucapkan lalu pergi meninggalkan Wicaksana.
Anak muda itu bisa sekarang terlihat sombong. Ya tapi itu mungkin wajar karena di usianya yang masih sangat muda, dia sudah bisa menjalin kerjasama yang baik dengan berbagai perusahaan. Dia tidak bisa di anggap remeh. Batin Wicaksana.
Wicaksana kemudian berjalan memasuki rumah mewahnya dan tidak seperti biasanya. Biasanya setiap kali pulang ke rumah, dia akan langsung menuju ke kamarnya. Tapi malam itu dia masuk ke kamar putrinya terlebih dahulu, ke kamar Nirmala.
Nirmala terlihat sedang duduk di kasur sambil menonton acara televisi. Kedatangan ayahnya membuat dia kaget sekaligus senang. Kini ayahnya duduk di sampingnya.
"Papa." Nirmala menoleh ke arah ayahnya.
Ayahnya hanya menebarkan senyum lalu bertanya perihal sekolahnya.
"Bagaimana sekolahmu, sayang?" tanya nya dengan nada yang lembut.
"Bulan depan sudah mulai ujian Pa." Jawab Nirmala.
"Syukurlah, putri kesayangan papa sudah semakin besar sekarang." Kata Wicaksana sambil mulai berdiri dan keluar dari kamar Nirmala.
Nirmala melanjutkan menonton televisi acara favorit nya. Tiba-tiba handphonenya berdering, tanda pesan masuk.
Besok aku akan menjemputmu jam 8 pagi. Aku tunggu di depan pagar rumahmu. Jeff.
"Hah? Siapa yang peduli?" Batin Nirmala.
Naik mobil, aku tidak mau kalau naik motor. Balas Nirmala.
Jeff merasa sangat senang mendapat balasan dari Nirmala. Tapi dia tidak tahu kalau sebenarnya Nirmala sedang merencanakan sesuatu. Ya Nirmala mungkin akan membuatnya jengkel dengan aksi yang akan di lancarkan besok.
"Okey." Balas Jeff dengan penuh semangat kobaran api cinta.
"Akhirnya, dia mau juga aku ajak jalan." Batinnya.
Jeff merasa sangat senang tanpa merasa sedikitpun mencurigai Nirmala, padahal sebelumnya dia pernah janjian dengan Nirmala tapi yang datang justru Anah.
***
Minggu pagi tepat jam 8, Jeff sudah berada di depan pagar rumah Nirmala. Sebelum Jeff datang, ternyata Anah sudah lebih dulu mendatangi rumah Nirmala.
Nirmala memang berniat untuk mengajak Anah. Malam hari setelah mendapat pesan singkat dari Jeff, dia memberitahu Anah karena Nirmala tidak mau di anggap sebagai penikung maka dia melakukan itu, tanpa peduli dengan perasaan Jeff.
Nirmala memang tidak pernah peduli dengan perasaan Jeff, dia selalu mengedepankan perasaan Anah. Lagipula menurut Nirmala, hal itu tidak akan menyakiti hati Jeff. Jeff selalu terlihat bahagia dan tidak pernah sekalipun terlihat murung.
"Jika tidak bahagia, Jeff paling marah. Biar saja dia marah, toh dia memang pemarah." Batin Nirmala tanpa merasa bersalah sedikitpun kalau perbuatannya itu bisa menyinggung hati dan perasaan Jeff.
Jeff duduk di dalam mobilnya, tiba-tiba dia melihat dua gadis mendekati mobil, Anah dan Nirmala.
"Astaga Nirmala, jadi kamu mau main-main denganku ya. Liat saja akan ku balas." Batin Jeff saat melihat Anah dan Nirmala yang mulai mendekati mobilnya.
Dia kemudian membuka kaca spion mobilnya.
"Anah, kamu duduk di depan di samping Jeff." Kata Nirmala.
"Apa-apaan kamu Nirmala, ini kan mobilku? Anah duduk di belakang." Kata Jeff.
Enak saja mengatur-ngatur. Batin Jeff sambil memiringkan senyumnya.
"Tidak masalah Nirmala, aku duduk di belakang saja." Kata Anah.
Nirmala kemudian bergeser dari tempat duduknya, kini Jeff duduk di depan sendirian seperti seorang sopir. Dia kemudian menoleh ke belakang.
"Aku ini bukan sopir, Mala kamu bisa kan duduk di samping aku?" Ucap Jeff dengan nada yang sangat lembut.
Ini baru awal Nirmala, mengajak Anah sama saja kamu ingin membunuhnya secara perlahan. Akan ku buat Anah semakin tersiksa. Batin Jeff dengan jahatnya.
"Ayo, sini." Kata Jeff masih dengan nada yang lembut sambil tersenyum jahat.
Dasar penjahat, kamu kira aku tidak tahu isi hatimu. Rupanya Jeff cukup pintar juga. Batin Nirmala.
"Pak sopir, kalau gak mau jalan sekarang ya sudah. Kita batalkan saja rencana hari ini." Kata Nirmala tidak mau kalah.
"Mala, jangan di batalkan. Udah sana kamu duduk aja di depan. Please ...." Pinta Anah dengan tangan memohon.
Jeff terlihat tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Nirmala, Nirmala yakin tanpa harus duduk di samping Jeff pun, Jeff pasti akan tetap mengemudikan mobilnya. Tapi sayangnya Anah tidak mengerti akan hal itu dan membuatnya harus menerima kekalahan. Dia kemudian keluar dan pindah tempat duduk di samping Jeff.
"Nah, gitu dong." Ucap Jeff setelah Nirmala duduk dan menutup pintu mobilnya.
Jeff tertawa.
Tertawa saja sepuasnya. Batin Nirmala.
Jeff kemudian melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat.
"Kita mau kemana Jeff? Tanya Anah."
"Kita mau kemana, Mala sayang?" Ucap Jeff sambil menoleh ke arah Nirmala.
Rasakan kau Mala, berani-beraninya mempermainkan perasaanku. Batin Jeff.
Nirmala tertegun, tidak menyangka kalau kejadiannya akan seperti itu. Dia mulai takut kalau Anah sampai marah lagi kepadanya. Tapi dugaan Nirmala salah, Anah yang mendengar kalimat Jeff itu sama sekali tidak menunjukkan respon marah atau sakit hati. Dia sudah mulai pandai menyembunyikan rasa sakit hatinya dan mencoba berlapang dada walaupun kalimat yang Jeff keluarkan itu terasa seperti kilat yang menyambar tubuhnya. Begitu panas.
Nirmala tidak menjawab pertanyaan Jeff dan justru menoleh ke arah Anah lalu bertanya, " Anah, kamu ingin pergi kemana?" tanya nya sambil menebar senyum.
"Bagaimana kalau kita ke Sea World?" Kata Anah.
"Iya, aku setuju. Pak sopir, kita ke seaworld ya?" Kata Nirmala kepada Jeff.
Kali ini Nirmala yang merasa puas bisa tertawa jahat dalam hatinya.
Sea World adalah salah satu tempat wisata unggulan di Ancol Jakarta Baycity (sebelumnya bernama Taman Impian Jaya Ancol), Jakarta Utara. Disana terdapat puluhan ribu satwa laut. Dengan mengunjungi akuarium raksasa, kita dapat dengan mudah merasakan pengalaman dunia bawah laut yang yang sangat indah dan bisa melihat berbagai jenis biota laut yang unik serta mempelajari seluk-beluk mereka.
Tapi sebelum sampai ke lokasi tujuan, mereka harus bersabar karena mengalami kemacetan dalam perjalanan. Apalagi di hari minggu yang memang banyak orang ingin berwisata menghabiskan waktu liburnya bersama keluarga. Di tengah-tengah kemacetan, Jeff masih saja berpikiran untuk balas dendam dengan Nirmala. Membalas harinya yang dia pikir telah rusak karena kehadiran Anah di antara mereka.
Jeff sengaja melakukannya agar Nirmala kelak bisa berpikir ulang saat akan mengajak Anah di tengah-tengah mereka.
"Kamu cantik sekali, Mala." Kata Jeff sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Nirmala.
Anah terbatuk. "Uhuk ...."
Nirmala mulai berpikir bahwa keputusan yang di ambilnya adalah keputusan yang salah. Dengan mengajak Anah, dia seperti perlahan-lahan menusuk jantungnya. Tidak ingin terjebak semakin lama dalam permainan Jeff, Nirmala mulai berpikir keras.
"Apa yang harus aku lakukan?" Batinnya.
Jeff yang sejak tadi merasa berada di atas awan kemenangan, sementara Nirmala merasa dalam keadaan yang salah. Dia mulai menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah suatu kesalahan. Dia ingin membuat Anah senang, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Dia membuat Anah patah hati semakin tenggelam dalam kepahitan.
Walaupun demikian, Anah masih terlihat tegar dan tidak terpengaruh dengan kejadian-kejadian yang menyiksa batinnya. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan diri. Lagipula Nirmala tidak mungkin berniat untuk menyakitinya, maksud Nirmala adalah baik. Begitu pikir Anah.
Dan walaupun hatinya sakit melihat Jeff memperlakukan Nirmala dengan sangat lembut, dia berusaha menepis rasa sakit itu.
"Aku harus kuat." Batin Anah.
Entah sejak kapan, Anah mulai bisa mengendalikan diri. Biasanya dia akan terang-terangan memaki Nirmala setiap kali Nirmala dekat dengan Jeff. Tapi kali ini, jelas-jelas Jeff sudah menyakitinya secara terang-terangan tapi dia tetap bisa menjaga sikapnya, sangat tenang dan bahkan bisa mengembangkan senyumnya.
Anah, maafin aku. Kata Nirmala dalam hatinya.
Sedikit demi sedikit, mereka mulai menembus kemacetan. Jeff melajukan mobilnya dengan perlahan. Dia masih sesekali menggoda Nirmala. Tiba-tiba Anah kepikiran untuk menghubungi Kevin. Nirmala bahkan tidak berpikir sampai ke sana. Anah mendapatkan nomor Kevin saat acara berkemah, itu karena Kevin sendiri yang memberikan nomor itu kepada semua peserta kemah sebagai pembina untuk berjaga-jaga.
Anah mulai mengetik pesan singkat.
Kevin, jika ada waktu datanglah ke sea world sekarang. Aku Anah.
Anah pun mengirim pesannya dan tidak lama kemudian mendapat balasan dari Kevin.
Untuk apa?
Balasan pesan dari Kevin.
Nirmala, kekasihmu bukan? Jeff berusaha merebutnya darimu. Kami bertiga sedang menuju ke sana.
Membaca pesan dari Anah, membuat Kevin tersenyum dan geleng-geleng kepala. Sebenarnya dia yakin, Nirmala tidak mungkin tertarik dengan Jeff sehingga dia tidak perlu khawatir soal itu. Tapi sepertinya Anah, Anah yang membutuhkan bantuannya.
Baiklah, aku kesana sekarang. Balas Kevin.
Anah sedikit lega mendapat balasan dari Kevin.
Kevin yang awalnya hanya ingin dirumah saja menikmati waktu liburnya setelah seminggu bekerja keras di kantor, kini bersiap-siap untuk pergi.
"Pergi dulu ya Mam." Dia berpamitan kepada ibunya.
Kevin kemudian masuk ke mobilnya dan melajukan dengan pelan menuju ke lokasi yang Anah tujukan. Setelah melewati kemacetan ibu kota, akhirnya dia sampai di Sea World. Berbekal petunjuk pesan-pesan yang dikirimkan oleh Anah, akhirnya dia bisa bertemu dengan Nirmala.
"Kevin, kamu ada disini?" tanya Nirmala saat mendadak melihat Kevin.
Tanpa canggung Nirmala segera berpindah posisi, dia awalnya berdiri dan berjalan berdampingan di sisi Jeff. Kini dia justru terlihat manja berada di samping Kevin. Kevin hanya tersenyum dan menatap Anah, Anah pun membalas senyumnya seolah ingin mengucapkan terimakasih. Masih belum ada yang tahu kalau kedatangan Kevin ada kaitannya dengan Anah.
Jeff terlihat sangat tidak suka dengan kehadirannya, benar-benar merusak suasana hatinya. Kini mereka berjalan-jalan menelusuri terowongan bawah air sambil menyaksikan ribuan ikan berenang bebas di atasnya.
Nirmala terlihat sangat senang, Kevin juga bisa melihat senyumnya begitu mengembang. Sementara itu, Anah dengan erat terlihat memegang lengan Jeff. Walaupun Jeff berkali-kali mencoba melepasnya tapi Anah memegangnya justru semakin erat hingga akhirnya Jeff memutuskan untuk pasrah. Anah terlihat berkali-kali mengambil foto berdua dengan Jeff dengan background para ikan-ikan dari dalam kaca.
Sesekali Jeff menoleh ke arah Nirmala yang berjalan berdampingan dengan Kevin. Niat hati ingin membuat permainan seru gagal, permainan karena Nirmala juga mempermainkannya. Tapi kali ini justru Anah yang memegang kendali.
Darimana buaya itu bisa muncul. Merusak suasananya saja. Batin Jeff sambil mendengus.
Jeff memang terbiasa menyebut Kevin dengan buaya.
Sayang di sini nggak ada paus pembunuh. Batin Jeff.
Kalaupun ada paus pembunuh di sana, apa Jeff berniat melempar Kevin ke dalam lautan kaca itu? Tidak, Jeff tidak sejahat itu. Dia hanya kesal saja tapi tidak sampai berpikir untuk mencelakai orang lain.
Nirmala terlihat tidak berhenti tersenyum setiap kali melirik ke akuarium manapun di setiap sudut lokasi itu. Mulai dari ikan yang bentuknya menakutkan sampai yang lucu-lucu dan menggemaskan.
Begitupun dengan Anah, Anah terlihat sibuk memanggil-manggil ikan yang mirip dory keras-keras dari luar akuarium seolah-olah ikan itu akan mendengarnya.
"Dory ... Dory ...!" teriak Anah.
"Anah, kamu seperti anak SD saja, memangnya ikan itu bisa dengar apa?" Ucap Jeff sambil menunjuk ke arah ikan yang di panggil oleh Anah.
Anah menoleh ke arah Jeff dan tersenyum. Jeff kemudian membalas senyumnya, walau sedikit khawatir kalau Anah akan tersinggung. Tapi Anah tidak pernah merasa tersinggung dengan sikap maupun perkataan Jeff.
Anah terlihat semakin heboh saat melihat kura-kura.
"Jeff, mendekat kesini." Pinta Anah.
Karena Jeff tidak mau mendekat, akhirnya Anah memaksa dan menariknya lalu cekrek. Anah mengambil foto mereka berdua lagi dengan pemandangan kura-kura tua yang terlihat pilu berenang dengan lambat.
Jeff menghela napas, dia kemudian melepas genggaman Anah. Mereka berjalan-jalan lagi menikmati pemandangan biota laut. Tanpa di sadari, Jeff kehilangan jejak Nirmala dan Kevin. Dia berusaha menoleh ke kanan dan ke kiri tapi tak kunjung menemukannya, di tambah lagi sekarang keadaan di sana semakin ramai oleh pengunjung.