
Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Anah sesegera mungkin menyamai langkah Jeff yang sedang menuju ke parkiran motor nya. Dia berlari kecil-kecil.
"Jeff ...!" Panggil Anah. Tapi Jeff sama sekali tidak menoleh, tidak pula menghentikan langkahnya.
"Jeff ...!" Anah memanggilnya sekali lagi. Jeff masih tidak bergeming.
"Jeff ... aku mau menemui Nirmala, kau mau ikut?" Tanya nya setelah berhasil menyamai langkah Jeff.
Mereka kemudian berjalan beriringan, tapi Jeff masih tidak berkata apa-apa.
"Mau ikut tidak? Nirmala sedang di rumah sakit."
Langkah Jeff tiba-tiba berhenti.
"Darimana kamu tahu kalau Nirmala sedang dirumah sakit?" Tanya Jeff penasaran.
"Aku baru saja menelponnya." Jawab Anah.
Dari tadi aku menelpon tidak di angkat, kirim pesan juga tidak dibalas. Tapi si pengganggu ini bisa dengan mudahnya menelpon. Kata Jeff dari dalam hatinya.
"Aku tidak percaya kalau tidak mendengarnya sendiri." Jawab Jeff masih bersikap arogan.
"Kalau kau tidak percaya, aku akan menelponnya lagi dan aku perbesar suaranya agar kau bisa mendengarnya." Ujar Anah seraya mencari nama kontak Nirmala di handphonenya.
Jeff hanya diam saja, tapi sorotan matanya seolah-olah mengucapkan 'cepat telepon dia'.
"Tersambung." Kata Anah.
"Hallo, Anah. Assalamua'laikum." Sapa Nirmala dari balik telepon.
"Wa'alaikumussalam, Mala. Aku akan datang ke sana. Tunggu ya?"
"Iya, Anah. Aku akan menunggumu di pintu masuk."
"Okey, bye."
"Bye."
Anah kemudian mematikan teleponnya. Dan menatap Jeff yang masih terdiam.
"Jadi, masih tidak percaya?"
"Iya, iya percaya."
Akhirnya mereka berdua menuju ke rumah sakit, Anah sangat senang bisa naik motor berdua dengan Jeff. Dia terus tersenyum-senyum kegirangan.
Aku terpaksa memberi tumpangan untuk cewek yang tidak waras ini, hanya demi bisa bertemu dengan Nirmala. Dan Nirmala, dia ngapain dirumah sakit? Batin Jeff penuh tanya.
Mereka masih berseragam anak SMA, naik motor membelah jalanan ibu kota yang padat. Tapi karena naik motor, kemacetan tidak terlalu menyulitkan perjalanan mereka. Jeff sesekali mengambil jalan pintas dengan memasuki gang-gang rumah warga.
"Jeff, kenapa kita lewat sini. Ih ... kumuh banget." Ucap Anah sambil menutup hidungnya.
Jeff hanya diam saja dan terus melanjutkan perjalanannya. Tidak sama sekali tidak peduli dengan kata-kata yang di ucapkan oleh Anah. Sebelumnya Jeff juga pernah mengajak Nirmala melewati jalan-jalan tikus dan gang-gang sempit seperti sekarang. Tapi Nirmala tidak pernah mengatakan sesuatu apapun mengenai jalan yang di lewatinya.
Benar-benar sangat berbeda dengan Nirmala, bagaikan langit dan bumi. Tapi kenapa Nirmala selalu menuruti Anah. Dia sangat peduli pada Anah. Padahal Anah bukan teman yang baik. Kata Jeff dari dalam hati.
Tidak lama kemudian mereka telah sampai di rumah sakit. Setelah memarkirkan motornya, mereka langsung menuju ke lokasi yang sudah di sepakati. Tak butuh waktu lama, mereka bisa langsung bertemu. Anah terlihat sangat riang dan memeluk Nirmala. Jeff memperhatikan pakaian yang di pakai Nirmala.
Dia mengenakan seragam sekolah, tapi mengapa dia tidak ada di kelas tadi? Apakah aku salah lihat?
Jeff mengucek-ngucek matanya. Anah dan Nirmala memperhatikan tingkah pola Jeff yang sedikit aneh.
"Kau kenapa Jeff?" Tanya Anah.
Jeff tidak menjawab, dia memang sulit sekali untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Anah. Nirmala kemudian mengajak Anah untuk masuk dan menemui pasien. Jeff mengikutinya dari belakang.
Anak itu sedang tidur siang. Nirmala kemudian mengajak Anah keluar dari ruangan dan mengobrol. Nirmala menceritakan kronologi kejadiannya. Jeff dan Anah mengangguk pertanda mengerti.
"Mala, aku minta maaf ya. Kemarin aku sudah salah paham. Jeff sudah mengakui semuanya di depan kelas tadi." Ucap Anah sambil memegang tangan kanan Nirmala.
Nirmala menatap Jeff, tatapannya langsung membuat Jeff gemetar. Seperti anak panah yang lepas dari busur dan tepat mengenai sasaran. Jantung hati Jeff terasa seperti tertusuk benda itu.
"Aku juga minta maaf ya Mala." Ucap Jeff sambil nyengir.
"Tidak masalah, tidak perlu di bahas lagi." Tukas Nirmala.
"Oh ya, kamu masih belum tahu siapa keluarga anak itu?" tanya Anah.
Nirmala menggelengkan kepalanya.
"Dia belum bisa di ajak bicara, tadi dia hanya makan lalu minum obat dan sekarang dia tertidur dengan pulas."
"Apa kau akan menunggunya sampai keluarganya datang?"
"Iya."
Jeff kaget bukan kepalang, Nirmala memang berhati malaikat. Dia rela menunggu pasien yang bahkan tidak dikenalnya.
"Nanti sore aku akan kembali ke rumah dan ganti baju, setelah itu aku akan kembali kesini lagi." Ujar Nirmala.
Jeff terus membantin, dia merasa tidak salah menyukai Nirmala. Selain cantik tiada duanya, dia juga seorang gadis yang berbudi luhur.
Setelah hampir satu jam mereka mengobrol, Anah kemudian berpamitan untuk pulang. Dia meminta Jeff untuk mengantarnya ke rumah, tapi Jeff menolak. Nirmala hampir menyuruh Jeff agar mau mengantar Anah, tapi Jeff lebih dulu menolak.
Aku tahu Nirmala pasti akan menyuruhku, tapi aku tidak akan mau.
Jeff kemudian berlalu meninggalkan Nirmala dan Anah. Itu dia lakukan agar menghindari perdebatan.
"Sudah ya, aku mau cari makan dulu." Ucap Jeff sambil berlalu.
Anah terlihat sangat kesal. Nirmala mencoba membuat Anah tenang tapi rasanya sangat percuma. Anah kalau sudah kesal tidak ada yang bisa membuat ia tenang kecuali dirinya sendiri, kalaupun ada orang lain yang bisa itu hanya Jeff seorang.
"Aku pulang dulu, Mala."
"Iya Anah, kamu hati-hati di jalan ya."
Anah berlalu dari pandangan Nirmala, dia pergi mencari taksi di sekitar rumah sakit. Sedangkan Jeff entah kemana sudah tidak terlihat batang hidungnya. Nirmala kemudian masuk kembali ke ruang perawatan. Dia membaca buku bacaannya sambil menunggu pasien.
***
Anah yang sedang kesal tanpa sengaja bertemu dengan Kevin, dia melihat Kevin baru saja naik ke mobilnya. Anah berlari dan berteriak, "Kak Kevin ...!"
Kevin yang sudah masuk ke dalam mobilnya tidak bisa mendengar suara Anah, tapi dia bisa melihat Anah daru kaca spion, Anah berlari-lari sambil melambaikan tangannya.
"Bukankah itu Anah? Teman Nirmala." Kevin kemudian turun kembali dari mobilnya.
Anah yang berlari-lari ngosngosan merasa capek dan juga kepanasan.
"Kamu Anah kan?" Tanya Kevin saat Anah berada tepat di hadapannya.
Anah masih belum menjawab pertanyaan Kevin dan Kevin menambah lagi pertanyaannya.
"Kamu sedang apa disini?"
"Aku ..." Tiba-tiba Anah berhenti bicara.
Kalau aku bilang disini ada Nirmala, pasti dia akan tetap disini juga. Sebaiknya aku berbohong saja.
"Aku sedang mengunjungi saudaraku yang sakit. Dan sekarang mau pulang."
"Oh, begitu. Hanya sendirian saja? Mau pulang naik apa?"
"Iya sendirian saja, mau pulang naik taksi tapi ... dari tadi aku tidak menemukan satu pun. Apa boleh aku ikut mobil Kakak?" Pinta Anah sambil tersenyum malu-malu.
"Tentu saja boleh, ayo naik. Aku antar kamu sampai ke rumah."
"Benarkah? Tidak merepotkan?" Kata Anah basa-basi.
"Tidak, ayo buruan." Ucap Kevin sambil mulai naik ke mobilnya disusul oleh Anah yang duduk di kursi sebelah kirinya.
Kalau di lihat-lihat, Kak Kevin ini tampan juga ya? Batin Anah.
"Kamu kenapa melihatku seperti itu?" tanya Kevin.
"Ah, tidak." Jawab Anah cengengesan.
Dia juga sangat ramah. Anah membatin lagi.
"Rumahmu dimana Anah?" tanya Kevin.
Anah kemudian menjelaskan arah untuk menuju rumahnya, dia memberikan alamatnya dengan sangat jelas. Tidak lama kemudian, mereka pun sampai.
Anah turun dari mobil dan mengucapkan terimakasih. Kevin membalas ucapannya dan tersenyum dengan ramah. Kevin langsung pergi dan Anah berjalan pelan menuju ke pintu rumahnya. Tidak tahu apa yang terjadi pada Anah, dia senyum-senyum sendiri membayangkan wajah Kevin yang teduh.
Nirmala sangat beruntung, Kevin sangat ramah dan baik hati.
"Hah .... Andai Jeff seperti itu, memperlakukan aku dengan lembut. Tapi ... Hah, sudahlah." Anah menghela napas panjang.
Setelah melepas sepatu dan memasuki rumahnya, terlebih dahulu Anah menuju ke ruang makan. Di bukanya penutup makanan di meja makan, dia ingin melihat ada menu apa saja yang tersaji. Setelah melihat menunya, dia merasa tidak berselera. Dia kemudian memesan pizza.
"Ah, sebaiknya aku pesan pizza saja." Gumamnya.
Sambil berjalan menuju ke kamar, dia mencari nomor kontak pizza hut. Setelah menemukannya, dia langsung menekan tombol oke dan tersambung. Dia pun memesan pizza yang di inginkan.
Dia mulai masuk ke kamarnya dan menjatuhkan badannya di kasur, bukannya mengganti seragamnya. Anah malah mainan handphobe dan tertidur. Dia lupa kalau dia pesan pizza dan belum di bayar. Kalau dia tertidur, siapa nanti yang akan membayar pesanannya? ART nya belum tentu punya uang karena setiap dapat gaji langsung di kirim ke kampung.
***
Satu jam kemudian ...
Ting ... Tong .... Assalamua'laikum. Itu adalah bunyi bel di rumah Anah. Kurir pengantar pizza sudah datang, tapi Anah masih tertidur dengan pulas. ART nya kemudian membuka pintu itu.
"Benar ini rumah Anah?"
"Iya, benar."
"Saya mengantar pesanan atas nama Anah, ini dan ini total yang harus di bayarkan." Kurir itu menyerah box pizza dan juga tagihan yang harus di bayar.
ART itu kemudian menuju ke kamar Anah yang tidak di kunci dan setengah terbuka. Anah terlihat sedang tertidur pulas, ART nya merasa tidak tega jika membangunkannya. Dia kemudian pergi dan menuju ke kamarnya sendiri, menghitung uangnya.
"Alhamdulillah cukup." Ucapnya pelan dengan penuh rasa syukur. Dia kemudian berjalan keluar menemui kurir yang sedang menunggu dari tadi.
"Ini mas uangnya."
"Baik Bu, terimakasih. Permisi."
"Iya, sama-sama."
Kurir itu pun berlalu dan ART Anah kembali ke kamarnya, pekerjaannya sudah selesai, jadi dia bisa bersantai sejenak.