Getaran Hati Nirmala

Getaran Hati Nirmala
Gosip Murahan


Pagi-pagi seperti biasa, Nirmala bangun sebelum subuh. Dia mandi dengan air hangat sebelum melaksanakan sholat subuh. Biasanya setelah sholat, dia akan berjalan-jalan di sekitar rumahnya. Tapi pagi ini, dia sibuk di dapur. Berhubung bi Sona masih belum kembali, Nirmala harus menyiapkan sarapannya sendiri. Dia sudah terbiasa masak bersama bi Sona sehingga tidak kaget saat harus bergelut di dapur sendirian.


Nirmala keluar dari kamarnya menuju ke dapur, rasanya masih sangat sunyi sehingga bunyi air wastafel yang dia nyalanya sesekali untuk mencuci tangan terdengar sangat nyaring, begitupun dengan bunyi alat-alat perabotan dapur yang sedang dia siapkan untuk memasak sarapannya.


Kini Nirmala mulai menyiapkan bumbu nasi goreng. Tidak lupa dia juga mengambil 2 butir telur di kulkas sebagai pelengkap nasi goreng nya. Sementara Nirmala sibuk di dapur, Kevin masih berada di kamarnya. Nirmala berfikir kalau dia masih tidur, padahal sedari tadi Kevin sudah bangun dan hanya bermain handphone di kamarnya.


Mendengar suara dari dapur, Kevin kemudian keluar ke arah sumber suara itu. Dia keluar dari kamar menuju ke dapur, sesampainya di pintu dapur, dia menyenderkan badannya. Nirmala menyadari akan kehadiran Kevin. Dia melihat Kevin memakai baju tidur milik ayahnya.


"Ternyata baju papa pas di badan kamu ya." Kata Nirmala saat melihat Kevin datang sambil tangannya memegang wortel.


"Terimakasih, apa aku terlihat tampan?" Tanya Kevin mencoba menggoda Nirmala.


Nirmala hanya tersenyum dan mulai memotong-motong wortel untuk campuran nasi goreng.


"Kata orang kalau kita baru bangun tidur, wajah kita akan terlihat lebih menarik." Lanjut Kevin yang kini berada tepat di samping Nirmala.


"Menarik dari hongkong? Mendingan kamu bantuin aku potong-potong wortel ini." Pinta Nirmala sambil menyerahkan wortel dan pisau.


Sementara itu, dia menyiapkan penggorengan dan nasi yang akan di goreng.


Kevin memotong wortel itu sambil memandang wajah Nirmala.


"Fokus Kevin, nanti tangan kamu terluka loh." Kata Nirmala mengingatkan.


"Aw ...." Tiba-tiba Kevin mengangkat pisau nya dan meniup jarinya.


"Tuh ... Kan hati-hati makanya." Sahut Nirmala sambil penasaran memegang jari Kevin.


"Bercanda ...." Kata Kevin sambil tertawa.


"Gak lucu." Nirmala mulai ngambek dan melepas tangan Kevin.


Kevin rasanya sangat tergoda dengan Nirmala yang ngambek itu, batin nya ingin berontak dan memeluk Nirmala. Tapi dia tidak berani melakukannya, dia hanya bisa memandangi wajahnya saja. Semua persiapan untuk membuat nasi goreng sudah siap, dia menyuruh Kevin untuk menunggu di ruang makan saja karena jika Kevin masih berada di dapur itu akan sangat mengganggu konsentrasinya. Dia mendorong Kevin keluar menuju ke ruang Makan karena Kevin tidak mau beranjak.


"Udah cepetan keluar sana, tunggu di sini saja." Kata Nirmala sambil mendorong tubuh Kevin hingga sampai ke ruang makan.


Kevin hanya tersenyum melihat aksi gadis itu. Dia kemudian masuk ke kamarnya dan mengambil ponsel lalu duduk kembali di ruang makan. Sambil menunggu sarapannya tersaji, dia memainkan ponselnya. Dia melihat ada begitu banyak pesan masuk, terutama pesan dari sahabatnya, Chika.


Kevin mulai membalas pesan yang masuk satu persatu. Hingga tanpa ia sadari, Nirmala sudah selesai memasak nasi goreng nya dan menyajikannya di atas meja. Pagi itu Kevin merasa seperti seorang suami yang sedang di layani oleh istrinya. Tapi Nirmala tidak pernah berfikiran ke arah sana.


Dua piring nasi goreng sudah di hidangkan, Nirmala juga menuangkan air putih ke dalam gelas kemudian di berikan nya kepada Kevin. Dia menyuruh Kevin meletakan ponselnya dan meminum segelas air sebelum menyantap nasi goreng. Tapi Kevin masih saja memainkan ponselnya. Akhirnya Nirmala memberi gelas sekaligus meminta ponsel Kevin dengan paksa.


"Berikan ponselnya dan ambil minuman ini." Kata Nirmala.


Kevin tersenyum sambil memberikan ponselnya dan menerima gelas pemberian Nirmala lalu segera meminum air putih itu. Nirmala meletakan ponsel Kevin di meja. Kemudian memberikan nasi goreng Kevin.


"Selamat makan." Kata Nirmala sambil tersenyum manis.


"Sebelum makan, jangan lupa berdo'a dulu." Nirmala mengingatkan.


Kevin hanya tersenyum. Dia merasa pagi ini Nirmala sangat cerewet seperti istri-istri yang sering di ceritakan oleh teman-teman kantornya. Kevin memandang Nirmala sambil senyum-senyum bahagia. Nirmala tidak memperdulikan tatapan Kevin, dia masih fokus dengan makanannya.


Belum menikah saja dia sudah bawel sepagi ini. Batin Kevin.


Tapi kenapa aku jadi semakin menyukainya, gaya bicaranya dan semuanya. Semua yang ada pada dirinya, aku suka. Kevin masih membatin tanpa melanjutkan makannya. Dia hanya memegang sendok sambil menatap Nirmala yang masih mengunyah makanan.


Sesekali Kevin berfikir ingin cepat-cepat menikahinya. Padahal saat ini Nirmala baru berusia 18 tahun dan dia sendiri masih berusia 24 tahun. Masih sangat muda, tapi di usianya yang masih muda itu Kevin sudah bisa mengembangkan perusahaan keluarganya. Bahkan sejak perusahaan di serahkan kepadanya, perusahaan menjadi semakin berkembang. Dan orang tuanya pun sangat bangga terhadap kinerjanya.


Tidak terasa makanan di piring Nirmala sudah habis, sedangkan makanan di piring Kevin masih utuh. Dia belum menyentuhnya sama sekali dan masih melamun sambil memandangi Nirmala. Nirmala mengira Kevin tidak menyukai masakannya.


"Tidak enak ya?" Tanya Nirmala mengagetkan Kevin.


"Enak kok, enak."


"Belum juga di makan, udah bilang enak." Nirmala mengambil piringnya yang sudah kosong lalu membawanya ke dapur.


Kemudian dia mencuci piring itu dan semua peralatan di dapur yang baru saja di gunakan untuk memasak. Lagi-lagi Kevin memandangi Nirmala, dari belakang tubuh Nirmala nampak lebih indah membuat Kevin semakin mabuk kepayang. Sesekali Nirmala terlihat merapikan rambutnya. Kevin masih terus menatapnya hingga Nirmala selesai mencuci perabotan dapurnya. Nirmala kemudian kembali ke ruang makan.


"Ya ampun Kevin, masih belum di makan juga?" Nirmala menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.


"Santai saja." Kata Kevin.


"Cepetan makan Kevin, setelah itu kamu pulang, aku kan mau ke sekolah."


"Baik Nona."


Kevin kemudian mulai makan di temani Nirmala yang duduk di sampingnya. Selesai makan, Kevin kembali ke kamarnya mengambil pakaian kotor yang kemarin dia pakai lalu keluar dan memasukannya ke dalam mobil. Dia kemudian berpamitan dan mengucapkan terimakasih kepada Nirmala karena sudah di ijinkan menginap dan juga mendapat sarapan.


Setelah Kevin pulang kerumahnya, Nirmala membersihkan meja makan dan membawa piring serta gelas kotor yang di pakai Kevin untuk di cuci. Selesai mencuci, dia naik tangga menuju ke kamarnya. Dia memutuskan untuk mandi lagi sebelum berangkat ke sekolah agar lebih segar dan tidak bau bumbu dapur.


Selesai mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolah, dia keluar pergi berniat untuk mencari taksi. Tapi belum sempat dia mencari taksi, Kevin sudah datang menghampirinya dan menyuruhnya untuk masuk ke mobil.


"Mau berangkat bareng gak? Ayo masuk." Ajak Kevin dari balik mobilnya. Dia hanya membuka kaca mobilnya dan masih duduk di kursinya tanpa keluar dari mobil.


Tak terasa mereka sudah sampai di sekolah. Sebelum Nirmala turun dari mobil, Kevin berpesan agar pada saat pulang nanti hati-hati karena Kevin tidak bisa menjemputnya.


"Nanti pulang sendiri ya? Aku banyak pekerjaan di kantor."


"Iya, terimakasih sudah mengantar." Nirmala kemudian keluar dari mobil dan setelah menutup mobil itu, dia melambaikan tangan lalu Kevin pun berlalu.


Nirmala mulai berjalan masuk ke sekolah. Hari ini dia sedikit terkejut karena Anah terlihat akrab duduk berdekatan Salsa.


Mungkin Anah masih marah sama aku, jadi dia memilih berteman dengan Salsa. Batinnya.


Nirmala kemudian duduk di samping Anah, tapi Anah seperti tidak melihatnya saja. Dia justru memperlihatkan kedekatannya dengan Salsa dan sesekali tertawa sambil melirik ke arah Nirmala. Ruby terlihat membetulkan kaca matanya dan melihat ke arah Nirmala yang terlihat sedih.


Dia ingin mendekati Nirmala, tapi dia takut kalau Salsa akan marah. Bel berbunyi tanda masuk sekolah, tapi karena hari ini adalah hari senin, mereka di wajibkan mengikuti upacara bendera sebelum masuk ke kelas. Mereka kemudian berkumpul di lapangan dan membentuk barisan.


Biasanya Anah akan memilih baris di samping Nirmala, tapi berhubung dia sedang kesal jadi dia memilih barisan lain yang jauh dari Nirmala. Upacara pun selesai, mereka kemudian berhamburan masuk ke kelas masing-masing. Sebelum guru datang dan memulai pelajarannya. Mereka asyik mengobrol kesana dan kemari.


Nirmala mencoba mengajak Anah bicara tapi tak di hiraukan. Nirmala kemudian memilih untuk diam, tidak lama kemudian seorang guru datang ke kelas dan meminta Nirmala bersama dengan ketua kelasnya yaitu Tirta untuk ikut bersama guru itu ke kantor. Tirta terlihat sangat senang. Dia berdiri dan berbisik di telinga Jeff.


"Aku tidak melanggar janjiku, ini hanya hari keberuntunganku saja." Bisik Tirta sembari berjalan mengikuti guru itu bersama dengan Nirmala.


Sesampainya di ruang guru, mereka di minta untuk membantu menyampaikan kepada teman-temannya mengenai rencana berkemah yang akan di adakan sekolah khusus untuk anak kelas 3 minggu depan. Tirta dan Nirmala memang murid yang paling sering di andalkan di sekolah itu.


Tirta dan Nirmala kemudian mulai melaksanakan tugasnya menyampaikan dari kelas ke kelas lainnya. Para murid terlihat senang dan antusias menyambutnya. Acara berkemah akan menjadi ajang liburan yang paling menyenangkan. Bukan berkemah ala anak-anak pramuka, berkemah yang akan di adakan adalah semacam liburan seru di tempat wisata yang cukup menyenangkan bagi siapa saja yang mengikutinya.


***


Tak terasa, hari sudah siang dan jam sekolah telah usai. Semua murid berhamburan keluar kelas, hanya Anah, Salsa dan Ruby yang terlihat masih duduk santai di kelasnya. Saat Nirmala berdiri dan hampir meninggalkan ruang kelas, tiba-tiba Anah memanggilnya.


"Nirmala ... Tunggu."


Nirmala menghentikan langkahnya.


"Kesini aku mau ngomong." Kata Anah dengan wajah yang sedikit sombong.


"Aku sudah tahu semuanya, kamu diam-diam pacaran sama Jeff di belakang Kevin. Iya kan?" Kata Anah tiba-tiba.


Ternyata Anah juga percaya dengan gosip murahan itu. Akhir-akhir ini disekolah memang Nirmala di gosip kan berselingkuh dengan Jeff. Karena selama ini mereka mengira Kevin adalah pacar Nirmala, jadi saat Jeff dan Nirmala sering terlihat bersama, mereka bergosip ria dan menganggapnya berselingkuh, tidak setia. Nirmala yang kelihatannya alim dan sopan itu diam-diam punya banyak pacar. Benar-benar wanita murahan, seperti itu yang sering mereka katakan.


Nirmala tidak menyangka sahabatnya akan berbicara seperti itu juga. Padahal semua gosip itu tidak benar, Nirmala mencoba menjelaskan kepada Anah agar dia tidak salah paham. Tapi Anah tidak serta merta percaya begitu saja. Anah ingin bukti kalau memang Nirmala tidak ada hubungan dengan Jeff.


"Kenapa kamu berkata seperti itu Anah? Siapa yang bilang? Itu semua tidak benar." Nirmala mencoba membela diri.


Tapi Anah masih tetap tidak percaya dan justru semakin kesal dengan Nirmala. Rasanya dia ingin menjambak Nirmala tapi dia tidak bisa melakukannya karena selama ini mereka berteman baik.


Salsa yang sedari tadi duduk diam pun ikut membuka mulutnya, dia berdiri dan berjalan mendekati Nirmala yang sedari tadi masih berdiri di dekat pintu kelas.


"Mana ada maling ngaku." Kata Salsa sambil mendorong Nirmala hingga badannya menabrak daun pintu.


Nirmala tidak membalas, dia hanya diam saja. Akan tetapi Nirmala tetap tidak terima di anggap seperti itu oleh teman-temannya. Dia merasa gosip itu sangat mengganggu nya dan mencemarkan nama baiknya di sekolah. Dia kemudian menanyakan kepada Anah, bagaimana cara membuktikannya agar Anah percaya dia tidak berpacaran dengan Jeff.


Anah tidak segera menjelaskan caranya tapi dia justru mengajak Nirmala pergi ke butik.


"Sekarang kita pergi ke butik." Kata Anah.


"Tapi aku ingin pulang dulu ke rumah ganti baju, setelah itu aku akan menyusul." Pinta Nirmala.


Anah, Salsa dan Ruby saling menatap kemudian mereka mengangguk tanda setuju. Nirmala kemudian pulang kerumahnya, sementara Anah dan yang lainnya menuju ke restoran untuk makan siang sebelum pergi ke butik.


***


Beberapa jam kemudian mereka sudah berkumpul kembali di sebuah butik. Nirmala masih tidak mengerti mengapa Anah mengajaknya ke butik. Anah kemudian menjelaskan maksud dan tujuannya di sana.


"Aku ingin nanti malam kamu mengajak Jeff untuk ketemuan di restoran Salsa. Tapi kamu tidak boleh datang, aku yang akan datang menemui Jeff. Bagaimana? apa kamu bisa berbohong untuk mensukseskan pertemuan itu?" Tanya Anah.


Sebenarnya ini adalah rencana Salsa. Aku tidak tahu rencana ini akan berhasil atau tidak membuat Jeff membenci Nirmala. Tapi tidak ada salahnya di coba. Batin Anah.


Nirmala masih terdiam dan tidak bisa menjawabnya.


"Bagaimana Nirmala, kamu mau tidak?" tanya Anah sekali lagi.


Tiba-tiba Salsa ikut bicara dan memperkeruh masalah di antara Anah dan Nirmala.


"Tentu saja dia tidak akan mau, mana mungkin dia akan melepaskan Jeff calon direktur utama dari perusahaan besar di Indonesia yang berpusat di Jerman. Dia kan matre."


Nirmala masih tetap diam, dia mencoba tenang agar bisa berfikir dengan jernih untuk menjawab semua keinginan Anah. Dia tidak mau jika Anah terus salah paham.


Tapi apa tidak ada cara lain untuk membuktikan kalau aku dan Jeff memang tidak ada hubungan apa-apa? Kenapa Anah lebih percaya pada gosip itu daripada dengan aku, temannya sendiri?


Mungkin ini yang banyak di katakan orang, terkadang cinta bisa membuat rusak sebuah persahabatan.