Getaran Hati Nirmala

Getaran Hati Nirmala
Amarah Kevin


Kevin masih duduk di depan komputernya, tapi pikirannya mulai merasa tidak tenang, dia teringat dengan Nirmala yang sejak tadi belum juga kembali.


"Nirmala pergi kemana? Lama sekali dia tidak kembali," Kevin mulai mempertanyakan keberadaan Nirmala seraya mematikan komputernya.


Dia mulai beranjak dari kursi kebesarannya, berdiri dan berjalan.


"Perasaanku mulai tidak enak, biar aku keluar dulu untuk mencarinya. Tugas ini bisa aku kerjakan lain waktu lagi,"


Kevin mulai keluar mencari Nirmala dari sudut ruang satu ke ruang lainnya.


Kemana gadis itu pergi.


Kevin menjadi semakin panik karena dia tak kunjung menemukan Nirmala, dia mulai bertanya kepada setiap orang yang di jumpai tapi tidak ada satu pun yang melihat.


"Apa kau melihat anak gadis berseragam SMA, wajahnya seperti ini." Kevin menunjukan foto Nirmala kepada setiap orang yang dia temui.


Masih belum ada yang melihatnya juga. Dia terus mencari kesana dan kemari, wajahnya terlihat sangat panik.


Saat Kevin melintas di sebuah ruangan, tidak sengaja dia mendengar seorang karyawan wanita sedang marah-marah.


"Dasar anak magang sialan, disuruh mengambil berkas saja lama sekali!" Karyawan wanita itu terdengar marah dan mendadak membuka pintu ruangannya lalu menutup kembali dengan keras bermaksud meninggalkan ruangan.


Kevin mendengarnya tapi tidak begitu menghiraukannya, dia masih berada di depan ruangan itu, membuat karyawan wanita itu kaget. Kevin memberikan senyumannya lalu menundukkan kepala sebagai tanda sapaan. Tentu saja wanita itu membalas senyuman Kevin karena biar bagaimana pun, Kevin adalah bos nya.


"Maaf Pak, saya tidak melihat anda tadi," Kata wanita itu.


"Tidak apa-apa," Jawab Kevin


Wanita itu lalu pergi dari hadapan Kevin, tapi kemudian Kevin menghentikan langkahnya.


"Tunggu," Kevin memanggil dan benar-benar menghentikan langkahnya.


"Kemari," Kata Kevin lagi.


Wanita itu berjalan kembali menuju ke arah Kevin.


"Apa kamu melihat seorang gadis? Wajahnya seperti ini?" Tanya Kevin.


Mendadak pipi wanita itu memerah dan dadanya terasa sesak melihat foto yang di tunjukan oleh Kevin. Foto Kevin berdua dengan Nirmala yang terlihat sangat mesra. Wajah wanita itu seketika pucat.


"Di ... Dia ini siapa Pak?" Tanya wanita itu.


"Dia putri tunggal Wicaksana pemilik perusahaan X yang sangat terkenal itu, apa kau tidak kenal?" Tanya Kevin lagi.


"Ma ... Maaf saya tidak tahu, permisi." Wanita itu ketakutan dan segera menuju ke ruang manajer umum.


"Oh ya tidak apa-apa, terimakasih." Kevin masih bisa tersenyum dan bersikap ramah.


Ada apa dengan karyawan itu, kenapa dia terlihat sangat gugup. Ah, mungkin dia sedang banyak urusan.


Kevin mulai mencari Nirmala lagi. Dia baru sadar kalau ternyata kantor perusahaan nya itu sangat besar dan luas. Dia lalu memutuskan untuk ke ruang pengawasan cctv agar pencariannya lebih mudah.


Sementara itu, karyawan wanita yang baru saja bertemu dengan Kevin berlari tergopoh-gopoh agar bisa secepatnya bertemu Nirmala. Dia mulai ketakutan karena merasa sedang dalam masalah besar. Dia menuju ke ruang manajer umum karena terakhir kali dia menyuruh Nirmala ke sana.


Sesampainya di depan ruang manajer, dia mendengar pertengkaran mulut antara Nirmala dan pria bengis itu. Sontak saja karyawan wanita itu mendorong pintu yang kebetulan tidak dikunci.


"Kenapa tidak ketuk pintu dulu? tidak tahu cara menghormati atasan ya?" Tanya pria yang kini terlihat sedang marah besar kepada Nirmala.


Karyawan wanita itu memperhatikan Nirmala dan merasa sangat kaget melihat Nirmala yang penuh luka lebam dan sedikit berdarah pada bagian bibirnya.


"Tidak usah kaget, bukan kah kamu senang melihat anak magang aku perlakukan seperti ini?" Pria itu masih bisa berkata-kata dengan santai bahkan sambil tersenyum.


"Gawat, ini gawat," kata karyawan wanita itu.


"Apa maksud bicaramu itu, kalau ngomong yang jelas," Pria itu sudah tidak sabar ingin mendengar nya.


"Gawat, anak ini ... anak ini ... dia ... dia adalah putri Wicaksana." Ucap wanita itu.


"Apa kau bilang?" Tanya pria itu lagi.


"Bos Kevin sedang mencarinya," Wanita itu menambah kan ucapannya lagi dan terdengar sangat jelas.


Nirmala kini bisa tersenyum. Dan mulai mengancam.


"Sudah aku bilang dari awal, tapi kau masih tidak percaya." Nirmala mengatakan kalimat itu dengan kondisi setengah sadar.


"Jadi ini yang sering kalian lakukan dengan anak-anak magang? Atau jangan-jangan kalian juga menindas karyawan yang lemah?" Kata Nirmala.


Nirmala memang masih gadis SMA tapi pemikirannya sangat luas dan dia juga sedikit banyak telah belajar tentang berbagai kondisi perusahaan orang tuanya.


Di ruang pengawasan cctv Kevin masih mencari keberadaan Nirmala. Terakhir kali Nirmala terlihat masuk ke ruang manajer umum. Tanpa berfikir panjang, Kevin langsung berlari menuju ke ruang manajer umum itu.


"Kita lenyap kan saja gadis ini," Kata pria itu kepada karyawan wanita.


"Tapi Pak, resikonya sangat besar, kita bisa masuk penjara," Wanita itu menolak karena merasa ketakutan.


"Jika kita biarkan, itu justru lebih berbahaya. Kita habisi sekarang dan tidak akan ada yang mengetahuinya," Kata pria itu.


Tiba-tiba Kevin datang dan mendobrak pintunya. Apa yang Kevin pikirkan benar, Nirmala ada di dalam.


"Kevin," Nirmala dengan sisa-sisa tenaga masih bisa melihat Kevin dan berusaha untuk berdiri.


"Nirmala," Kevin mendekati Nirmala dan mencoba membantunya berdiri.


Kevin yang melihat kondisi Nirmala seperti itu jadi tidak bisa mengendalikan emosi lagi. Dia yang biasanya terlihat sangat pandai menyembunyikan kemarahannya, kali ini benar-benar sudah tidak bisa terbendung.


"Manajer Hans, kau cari masalah denganku!"


Bugh ... !


Kevin melayangkan satu pukulan.


"Kau pikir kau ini siapa?! Berani sekali menyakiti Nirmala!"


Bugh ... !


Kevin memberi pukulan kedua.


"Kebetulan suasana hati ku saat ini sedang buruk dan kau sedang ada di depanku?"


Bugh ... !


Kevin memberi pukulan yang ketiga.


Saat Kevin hendak memberi pukulan ke empat, Nirmala tiba-tiba memanggil Kevin.


"Kevin,"


Kevin menghampiri Nirmala dan seketika itu Nirmala jatuh pingsan tepat di pelukan Kevin.


"Security !!!" Kevin berteriak memanggil security sambil menggendong Nirmala keluar dari ruangan itu.


"Bawa mereka berdua ke kantor polisi."


"Baik , Pak."


Security menangkap dua orang itu. Terlihat pria yang di pukuli Kevin itu tak berdaya dan memohon ampun kepada Kevin. Wanita itu pun memohon ampun dan mengatakan tidak tahu tentang masalah yang terjadi dengan Nirmala. Kevin tidak perduli dengan kata-kata permintaan maaf mereka.


"Kalian aku pecat dengan tidak hormat dan aku pastikan kalian tidak akan diterima di perusahaan manapun," Kata Kevin.


Semua karyawan berkumpul dan menyaksikan kejadian itu. Kevin masih menggendong Nirmala menuju ke mobilnya bermaksud untuk membawa kerumah sakit. Dia terlihat sangat khawatir.


"Apa yang harus aku katakan pada orang tuanya nanti," Kevin berbisik pada diri sendiri, menyetir mobil sambil sesekali melihat ke arah Nirmala yang masih belum juga sadarkan diri.


Tidak lama kemudian, mereka sudah sampai dirumah sakit. Kevin kembali menggendong Nirmala menuju ke ruang UGD. Dengan cepat para petugas medis memberi pertolongan. Mereka menyuruh Kevin agar menunggu di luar saja.


Kevin sangat gelisah sekaligus merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Nirmala dengan baik.


Apa yang harus aku katakan nanti pada orang tuanya. Semoga Nirmala baik-baik saja.


Kevin tidak berhenti memikirkan Nirmala. Dia yang biasanya terlihat sangat tenang dalam menghadapi persoalan, kali ini benar-benar tidak terlihat wajah yang seperti itu. Wajahnya terlihat sangat gelisah. Dia berjalan ke kanan dan ke kiri. Di terus Mondar-mandir, hanya sesekali duduk lalu berdiri lagi. Sama sekali tidak bisa tenang. Seperti itu terus sampai seorang dokter yang menangani Nirmala datang menemuinya.


"Pasien hanya mengalami luka ringan, sebentar lagi dia pasti akan sadar, kamu tenang saja. Permisi." Kata dokter itu sebelum pergi meninggalkan Kevin menuju ke ruangan yang lainnya.


Kevin masuk ke dalam dan terus berkata minta maaf kepada Nirmala sambil menggenggam tangan kanan Nirmala dengan kedua tangannya. Sesekali dia menundukkan kepalanya merasa sangat bersalah. Nirmala masih belum sadarkan diri.


Maaf kan aku Nirmala, maaf kan aku.