Getaran Hati Nirmala

Getaran Hati Nirmala
Cemburu Buta


Kevin secara tiba-tiba menghentikan laju mobilnya. Membuat Nirmala terbangun dari lamunan. Dia menghentikan mobil itu di pinggir jalan raya tepat di depan sebuah toko roti. Dia sengaja tidak masuk ke dalam parkiran karena hanya sebentar saja. Dia membeli beberapa roti dan minuman untuk mengganjal perut. Selesai membeli semua itu, dia masuk kembali ke mobil dan menawarkan roti juga minuman mineral kepada Nirmala.


"Makanlah." Kata Kevin sambil memberikan roti itu.


Dia mulai menyalakan mobilnya kembali, mereka menuju ke rumah.


"Aku tidak lapar." Kata Nirmala.


"Kamu jangan seperti itu, kamu harus makan." Kata Kevin.


Nirmala terdiam.


Dia teringat akan kejadian di sekolah siang tadi. Jika tadi Jeff tidak menyelamatkannya, mungkin sekarang dia yang terbaring di rumah sakit atau mungkin juga sudah mati. Jika itu sampai terjadi, maka pencarian cinta sejatinya akan berakhir.


Dia yang selama ini di sekolah berpura-pura sebagai anak pembantu, mungkin sandiwaranya itu akan terbongkar jika dia mengalami kecelakaan tadi. Ayah dan ibunya pasti akan mengagetkan semua teman-temannya dan berakhirlah sandiwaranya. Maka akan semakin banyak laki-laki yang menginginkannya, tapi bukan lagi untuk mendapatkan cintanya melainkan harta orang tuanya.


Ya, Nirmala adalah gadis remaja yang berfikiran bahwa hidupnya cukup sempurna. Cantik, pintar, baik dan juga dari keluarga terpandang. Dia sering menonton film-film dengan peran seperti itu yang susah mendapatkan cinta sejati, kebanyakan dari film itu menceritakan kisah mereka yang kaya mencintai dengan tulus pasangannya yang ternyata pasangan mereka hanya ingin hartanya saja. Dia tidak ingin bernasib sama seperti di film-film yang biasa dia tonton. Biarlah orang menganggapnya begitu, terobsesi oleh sebuah film. Hanya Kevin yang tahu keturunan siapa dia sebenarnya.


Semoga Jeff baik-baik saja. Dia mengakhiri lamunannya dengan do'a.


Tiba-tiba dia mengambil roti dan memakannya.


"Lapar ya?" Tanya Kevin sambil terus menyetir mobilnya.


"Tidak, hanya ingin menggigit saja." Kata Nirmala membuat gelak tawa pada Kevin.


Kevin tertawa.


"Apanya yang lucu?" tanya Nirmala.


"Tidak, tidak ada yang lucu. Hanya ingin tertawa saja." Kata Kevin.


Kevin masih belum bisa menghentikan tawanya. Dia melihat ekspresi Nirmala saat memakan roti, itu terlihat sangat lucu menurutnya. Akhirnya mereka sampai di rumah. Nirmala bergegas untuk turun, Kevin menyuruhnya untuk mengambil roti lagi, barangkali Nirmala masih ingin menggigit.


Kevin masih berusaha menahan tawanya.


"Ambil, bawa semua saja." Kata Kevin sambil menyodorkan seplastik roti.


Nirmala tanpa canggung menerima pemberian Kevin dan mengambil sebuah roti untuk kemudian di berikan kepada Kevin.


"Aku bagi satu untukmu." Kata Nirmala sambil memberikan sebuah roti.


"Ya ampun, kenapa seolah-olah jadi kamu yang mentraktirku?" Tanya Kevin seraya tersenyum tipis.


"Terimakasih Nona cantik." Kata Kevin.


Terlihat Nirmala memanyunkan bibirnya dan membuat Kevin tertawa terbahak-bahak lagi.


"Bye." Kata Nirmala sambil melangkahkan kakinya masuk ke rumah.


Rumah terlihat sepi, tidak ada pakde Slamet maupun bi Sona. Nirmala tidak peduli, dia sudah terbiasa berada dalam kesendirian. Dia mulai menaiki tangga menuju ke kamarnya. Saat dia membuka bajunya, dia melihat ada bercak-bercak darah di seragamnya.


"Ini darah Jeff." Batinnya.


Selesai berganti pakaian, dia turun membawa serta seragam sekolahnya. Bermaksud untuk mencucinya, dia khawatir kalau terlalu lama darah itu di biarkan mengering akan sulit untuk di bersihkan. Sejak kecil, Nirmala sudah terbiasa mencuci pakaiannya, walaupun tidak setiap hari. Dulu dia sering membantu bi Sona mencuci pakaian, tapi lebih tepatnya mengganggu pekerjaan bi Sona bukan membantu.


Dia merendam baju seragamnya dan membiarkannya untuk beberapa menit. Sambil menunggu, dia menonton film remaja yang biasa di tayang kan oleh salah satu saluran televisi indonesia. Tak lupa juga dia memakan roti pemberian Kevin, sudah 2 bungkus roti dia habiskan tapi masih belum berhenti untuk memakannya lagi. Sambil terus mengunyah dia menyaksikan sebuah film di televisi.


*Kenapa tiba-tiba kau ingin putus denganku? Apa karena sekarang aku jatuh miskin dan bangkrut?


Ya, itu benar. Ngapain aku punya pacar kere tidak berguna seperti mu. Aku kira setelah ayahmu tiada, kamu akan jadi ahli waris dan menguasai semua harta peninggalan ayahmu. Tapi ternyata kau malah di usir dari rumahmu sendiri.


Jadi kau tidak mencintai aku dengan tulus? Kau hanya ingin harta ayahku?


Cinta? Hari ini ngomongin cinta. Hello ... Makan tuh cinta*.


Wanita itu mendorong kekasihnya, lebih tepatnya mantan kekasihnya dan pergi meninggalkan luka. Nirmala sangat fokus menonton adegan di film yang dia tonton itu. Tiba-tiba adegan seru itu berubah menjadi iklan, Nirmala beranjak dari tempat duduknya dan kembali ke tempat cuciannya.


Dia melihat bajunya bercampur darah, darah yang tadinya mengering sudah mulai terlepas dari serat-serat bajunya. Dia lalu mengambil baju seragamnya dan memindahkan ke ember lainnya, mengganti air dengan yang baru. Memberi sedikit deterjen lalu menguceknya pelan-pelan agar tidak merusak serat kain. Dia segera menyelesaikan cuciannya itu sebelum iklan berakhir karena dia tidak ingin melewatkan tontonan nya.


Selesai mencuci, dia bermaksud mengeringkan cuciannya di mesin cuci pengering pakaian. Dia memasukan ke dalam lubang pengering dan memutar tombol pengering itu. Tapi tidak mau berfungsi. Mesin cucinya diam tidak memberikan tanda-tanda pengeringan.


Apa mesin cuci nya rusak? Tidak mungkin, mesin cuci ini masih sangat bagus. Pikirnya.


Dia lalu berfikir juga kenapa tidak terdengar suara televisi, dia pun berjalan ke ruang tengah tempat dia menonton tv tadi. Tv nya mati, dia mencoba menyalakan lampu dan benar saja lampunya pun mati. Fix ada pemadaman listrik lagi.


Huft ...


Nirmala menghela nafas.


Di kompleks sebesar perumahannya itu, perumahan kelas atas tapi masih saja mendapatkan kesempatan pemadaman listrik.


Dia kemudian kembali ke tempat cuciannya dan mengeluarkan baju seragamnya kembali dari mesin pengering. Dia menaruhnya di ember dan membawanya naik tangga, menuju ke atas di lantai dua tempat yang biasa di gunakan bi Sona untuk menjemur.


Hari sudah sore, semoga saja seragamnya bisa cepat kering agar tidak bau apek walaupun hanya di angin-anginkan tanpa sinaran sang surya. Ya walaupun masih banyak seragam lainnya yang bisa aku pakai besok.


Nirmala mengibas-ngibaskan pakaiannya terlebih dahulu sebelum akhirnya dia tata rapi di jemuran. Selesai menjemur pakaiannya, dia turun dan keluar. Duduk di teras tempat favorit nya. Tidak lupa dia membawa handphonenya. Untuk mengisi kesendiriannya, dia menelpon Anah. Tidak pakai lama, Anah yang mendengar dering handphone nya itu langsung menerima panggilan masuk.


"Hallo, assalamua'laikum Anah." Sapa Nirmala dari balik telepon genggamnya.


"Wa'alaikumussalam Nirmala." Jawab Anah.


"Maaf ya Anah, hari ini tidak bisa kerumahmu."


"Ah, tidak masalah. Besok-besok kan bisa." Kata Anah.


Anah sudah mendengar rumor bahwa kecelakaan yang menimpa Jeff adalah karena dia menyelamatkan Nirmala. Ada sedikit rasa cemburu dan sakit di hati Anah, tapi dia tidak ingin Nirmala mengetahuinya.


Beruntung sekali Nirmala. Batin Anah.


"Tadi kamu menemani Jeff kerumah sakit, iya kan? Bagaimana kondisi terakhirnya?" Tanya Anah.


"Iya alhamdulillah kata dokter hanya luka luar dan tidak ada luka yang serius." Jawab Nirmala.


"Syukurlah." Kata Anah.


Nirmala merasa ada sesuatu yang berbeda dengan nada bicara sahabatnya itu. Apakah mungkin Anah cemburu pada nya?


Sejenak mereka berdua saling diam. Tidak ada kata-kata yang hendak dibicarakan lagi.


"Ya sudah Nirmala, kalau tidak ada yang ingin di bicarakan aku tutup teleponnya ya. Aku mau ke salon." Kata Anah.


Anah mengatakan itu untuk bermaksud pamer kepada Nirmala. Untuk menunjukan kelasnya berbeda dengan Nirmala, untuk menunjukan bahwa dia lebih pantas untuk Jeff.


Mau ke salon? Bukannya tadi siang dia bilang tidak boleh kemana-mana? Kenapa sekarang dia mau ke salon? Batin Nirmala.


"Oh iya Anah, bye." Kata Nirmala.


"Bye." Jawab Anah.


Anah merasa sedikit kesal dengan Nirmala. Dia yang merasa lebih terhormat dan kaya raya jika di banding dengan anak pembantu itu merasa tidak terima jika harus bersaing untuk mendapatkan Jeff. Sangat tidak selevel, selain itu Nirmala adalah teman dekatnya dan Nirmala tahu kalau Anah menyukai Jeff.


Tapi kenapa Nirmala terus saja menggoda Jeff. Pikir Anah.


Entah apa yang ada di pikiran Anah sekarang. Jika berkaitan dengan Jeff, pikiran dan hatinya mudah sekali berubah. Kecemburuannya sering tidak bisa terkendali. Kini dia berniat untuk pergi ke salon dan setelahnya dia ingin ke rumah sakit menemui Jeff. Dia yang baru saja sembuh dari sakitnya mendadak seperti sangat sehat dan bugar mendengar Jeff kecelakaan karena menyelamatkan Nirmala. Hati kecilnya tidak bisa menerima kenyataan itu.


"Bi ...!" teriak Anah memanggil pembantunya.


"Bibi ...!" teriaknya lagi karena pembantunya tak kunjung datang menghampiri.


"Kemana sih si bibi ... di panggil tidak ada sautan sama sekali." Gumamnya dengan wajah yang mulai memerah karen menahan amarah.


Akhirnya Anah turun dari kasur nya dan mencari pembantunya itu.


"Bi ... dari tadi di panggil gak denger ya?" Kata Anah dengan sedikit kesal.


Anah hanya sedang kesal, biasanya dia tidak pernah marah-marah dengan pembantunya itu.


"Tolong siapin baju pergi, aku mau mandi dan pergi ke salon." Perintah Anah.


"Baik Non."


Anah mulai mandi dan setelahnya dia berganti pakaian yang sudah di siapkan oleh pembantunya. Dia meminta supir pribadinya untuk mengantar ke salon sore itu juga dan setelahnya pergi ke rumah sakit. Supir itu dengan segera memenuhi semua perintah nona besarnya.


Anah ingin terlihat sangat cantik di depan Jeff nanti. Sesampainya di salon, dia turun dari mobil. Sebelum turun dari mobilnya, Anah menyuruh supir pribadinya untuk pergi membeli parcel buah untuk di berikan kepada Jeff nantinya.


Anah mulai memasuki salon itu dan memilih perawatan wajah yang paling ekslusif agar wajahnya terlihat lebih glowing, lebih segar, cantik cetar membahana seperti putri raja. Dia juga meminta agar rambutnya di tata seindah mungkin.


Semua ini untuk Jeff. Aku jelas lebih baik dari Nirmala, aku kaya dan juga cantik. Walaupun Nirmala adalah sahabatku, tidak mungkin aku menyerahkan Jeff begitu saja untuknya. Aku tidak rela jika dia menikungku dari belakang.


Nirmala seharusnya sadar diri, Jeff tidak pantas untuknya yang hanya seorang anak pembantu. Nirmala benar-benar tidak tahu diri, selama ini aku selalu menolongnya, aku selalu membelanya tapi dia malah ingin merampas Jeff dari genggamanku.


Tenang, tenang Anah tenang.


Anah menghela nafas mencoba menenangkan diri.


Aku tidak tahu harus membenci Nirmala atau tetap menjadi sahabat baiknya. Di satu sisi aku kesal padanya tapi di sisi lain aku tidak bisa membencinya, biar bagaimana pun dia selalu membantu mengerjakan PR ku dan terkadang dia juga membantuku untuk bisa bersatu dengan Jeff. Dia adalah mak comblang, tapi sebaiknya mulai sekarang aku tidak perlu memakai mak comblang lagi karena Nirmala bisa saja menikungku dari belakang, walau aku sudah memperingatkan nya.


Anah mulai mendapat perawatan wajah, sambil menikmati perawatan itu. Anah terus memikirkan Nirmala dan juga Jeff. Dia tidak mau kalau keduanya semakin dekat.