
Entah kemana Lusifer pergi, setelah dia pergi mendung itu benar - benar menghitam dan gelap seperti mau hujan badai saja, langit hitam sekali dan petir saling bersahut - sahutan dan aku tidak melihat si Lusifer dan entah kemana dia, Hujan mulai turun dan aroma hujan sudah memenuhi udara dan akupun segera membersihkan selokan di rumah biar air hujan segera pergi dan tidak menimbulkan banjir dan kebetulan rumah kami di atas bukit dan air akan cepat mengalir kebawah tentunya air hujan tidak menimbulkan banjir karna rumah - rumah di sini rata - rata di ketinggian dan kalau memang angin kencang memang setiap kali hujan banyak rumah warga yang atapnya yang terbang kalau banjir tidak mungkin dan itulah yang aku pelajari di sekolah, air akan mengalir ke bawah bukan ke tempat yang tinggi dan ada - ada saja si Lusifer ini, banjir katanya, mungkin saja tetapi di bawah aku tidak percaya kepadanya dan aku yakin Tuhan pasti membantu orang - orang di bawah apalagi mereka adalah orang baik.
Hujan semakin deras saja dan aliran dari atas menuju ke bawah sangat deras dan pohon - pohon di depan rumah sudah mulai tumbang dan angin kencang menerbangkan semua benda yang ada, aku hanya tertidur menunggu hujan lebat turun dan tentu saja di bawah selimutku, tetapi petir ini seperti menghukum manusia dan siap membawa korbannya.
Sudah dua jam aku tertidur dan hujan belum juga berhenti dan ini sudah sore hari tetapi hujan itu belum juga berhenti dan pohon - pohon sudah rata dengan tanah dan bagaimana kebun ya, di sini saja pohon pada tumbang dan aku tidak tau mengapa semuanya pohon tumbang dan aliran listrik di rumah kami juga mati dan mungkin sampai besok pagi karna pohon - pohon itu itu menyeret kabel - kabel listrik sampai ke bawah dan agar tidak terjadi hal - hal yang tidak di inginkan maka semua lampu di padamkan dan akhirnya kamipun harus menunggu sampai listrik itu kembali nyala padahal dulu kami juga hanya pakai lampu teplok saja dan rumah sudah terang sekarang kami di manjakan oleh listrik dan jadilah kita menunggu listrik hidup jadinya.
Aku tida k.ingin mengacaukan pikiranku dengan apa yang di katakan oleh si Lusifer tadi siang, Lusifer kadang hanya mengancam agar aku percaya kepadanya dan tentu saja agar ada orang kepercayaannya dan semua manusia harus menyembah Dia karna dengan begitu maka Lusifer akan sama dengan Tuhan, Lusifer salah kalau menyamakan dirinya dengan Tuhan, manusia masih banyak yang percaya kepada kepada Tuhan, tetapi mungkin ada juga percaya kepada si Lusifer karna dia itu licin dan selalu memberikan apa yang manusia mau, aku tidak akan mau menjadi pengikutmu Lusifer karna aku sangat hormat kepada Tuhanku dan jikapun harus dan tidak ada pilihan lagi, aku tetap cinta akan Tuhanku dan aku yakin dia akan menolong kami hari ini , besok dan selamanya karna burung di udara juga di pelihara tanpa harus berpikir sedangkan kita manusia adalah makhluk yang sempurna, kenapa mesti takut akan kelaparan ?
Aku tidak melihat Lusifer lagi, aku hanya melihat malam sudah mulai gelap dan bapak dimana Bu ? Kenapa bapak tidak kelihatan dari tadi ? Kataku kepada ibuku!
Bapak membantu penduduk untuk membuat balai desa layak untuk di huni malam ini, karna hujan yang deras banyak penduduk yang atap rumahnya terbang dan tidak bisa di tinggali dan untuk sementara mereka akan tinggal di balai desa dan dari tetua meminta kita untuk memasak makan malam mereka malam ini nak, hujan terus dan mati lampu ibu binggung mulai dari mana sedangkan dapur gelap dan ibu juga takut petir, kita harus membantu mereka Bu, kasihan kalau nanti malam mereka tidak makan dan lagi ini belum terlalu sore dan disana ada ubi biar sebagian di rebus di samping dan ibu membuat sambelnya dan kakak yang akan memasak nasinya biar kami bantu Bu kataku ke pada ibuku.
Ibu kalau ibu mengomel saja juga hujan tidak akan berhenti dan lihatlah Bu bunga surga itu berkembang dan memberikan cahaya yang sangat terang dan biasakan ibu melihatnya dia menerangi kita dan mulai berjalan dan ayolah Bu, jangan mengeluh terus dan mungkin ada rencana Tuhan di balik ini semuanya dan aku sudah selesai mengupas ubinya Bu, ibu tinggal memasak nasi dan lauknya biar aku antarkan ke balai desa.
Bunga - bunga sorga itu harum sekali dan entar kenapa mereka masuk ke rumah padahal aku sudah memasang api untuk penerangan dan harum bunga sorga ini sungguh sangat harum sekali dan rumah kami juga terang sekali seperti lampu penerangan dan tentu saja orang - orang yang khusus yang bisa menikmatinya, ibuku saja cuma sekali - kali bisa melihatnya dan mungkin bunga - bunga itu menerangi kami karna ada niat hati kami yang baik dan tentu saja bunga - bunga itu mau berkerja sama, sungguh betapa indahnya itu Tuhan.
Ibu sudah selesai memasak dan aku juga sudah selesai merebus jagung dan ubinya dan sudah kuberikan semuanya ke balai desa dan disana kelihatan bapak yang sangat lelah memasang tirai bambu supaya tidak merembes terkena hujan, baju bapakku juga sudah basah semuanya dan bapak menahan hawa dingin di badannya untuk menolong orang, sungguh mulia hatimu pak kataku di dalam hati melihat bapakku seperti itu selalu saja ringan tangan membantu orang lain.
Kebetulan sekali kamu sudah datang nak, bawa kopi untuk bapak gak? Dan bapak memang lapar sekali dan duduklah disini temani bapak makan jagung dan minum kopi sebentar nanti baru pulang ambil makanannya ke rumah. Aku tersenyum kepada bapakku dan aku sudah yakin pasti bapak kelaparan sama seperti bapak - bapak yang lainnya, kami memang di ajarkan oleh bapak untuk saling memberi dan jika ada rejeki itu juga adalah titipan dan sudah ada haknya masing - masing.
Aku melihat semua orang kelaparan dan hanya Kamilah yang membantu saja dan yang lainnya alasan saja hujan tidak ada listrik menyala jadi tidak bisa membantu padahal mereka kelaparan juga.