
Setelah acara tulang belulang yang dibersihkan kini giliran membuat bendera setan yang di buat gambar tulang dan tengkorak kepala manusia, serta beberapa gambar tentang tulisan setan yang berbahasa yang tidak kumengerti, kumudian di buat di bambu besar seperti bendera di kibarkan di atas balai desa itu, seperti bendera setan yang dikibarkan di atas balai desa itu,yang kalau di terbangkan oleh angin mungkin saja itu patah ataupun kainnya yang terkoyak kan oleh angin, gambar bendera putih di kain kapan yang berkibar seolah-olah mengatakan bahwa iblislah yang lebih berkuasa dari pada apapun, berkibar dan mengatakan keperkasaannya, dan para tetua itu tersenyum.melihat bendera itu berkibar dan seolah2 mereka menang, pernah kutanya ke ibu mengapa kita percaya kepada yang namanya hantu dan setan atau sejenisnya, mengapa kita harus menyembah mereka, sedangkan kita lebih tinggi derajatnya dari mereka, mereka adalah tidak bisa di sentuh dan tidak bisa dilihat dan sekali2 melihatkan muka jelek dan kita menjungjung tinggi mereka, kita ikuti saja kebiasaan desa kita ini nak kalau kita tidak mengikuti kita juga nanti akan di jauhi masyarakat, dan kita di kucilkan, Iyah itulah pandangan masyakarat kata ibu, aku tidak mengerti ibu, dan salah seorang tetua itupun memanggil untuk berkumpul dan melakukam.makan bersama, kepala sapi dan kambing itu ada dan diletakka. di atas Bubungan balai desa dan sore akan di ambil sama pak Kus untuk dimasak karna pak Kus yang memotong sapi dan upahnya di berikan kepala sapi itu, kamipun kembali makan dan ke dengar. tetua itu berkata mudah2an desa kita aman dari bahaya, dan kita sudah menjalankan ritual dan permohonan yang terbaik kepada leluhur kita, setelah makan dan mereka makan sirih merah kebiasaan tetua itu jika sudah makan maka mereka akan makan sirih dengan pinang dan kapur, dan ibu-ibu mengujah dengan bakau, dan Gambir, dimakan bersamaan, sering kali tiap ke ladang kulihat bapak naik pohon durian kami untuk mengambil daun sirih itu untuk dijual, karna banyak sekali di desa kami yang memakan daun sirih itu, tiap satu ketip dan sirih di jual harganya lumayan dan jika satu ikat lumayanlah kata bapak, dan biasanya bapak memberikanku jajan lebih dan untuk pinangnya mereka biasanya memakan sudah yang kuning kulit artinya, kalau yang masih hijau biasanya rasanya sepat dan kurang enak dimakan, bahkan jika dimakan dengan sirih itu, untuk pinang terkadang mereka suka pusing memakannya kalau pinangnya pas dan para tetua itu di beli di pasar desa, tembakaunya di beli di pasar serta kapur sirihnya dan tak jarang juga untuk sirih itu juga di masukkan di acara2 adat dan ritual ini juga, yang kulihat pinang muda dan pinang tua ada sisa serta sirih itu juga ada, dan para tetua memakan sirih itu sambil bercerita dan minum kopi, apakah acaranya sudah selesai Bu, bukankah sudah makan siang dan kita belum juga pulang, belum nak soalnya kita mau ada acara Gondang, dan biasanya memanggil roh yang sudah meninggal kalau kamu lelah pulang saja dulu ya, bapak dengan ibu nanti saja, mungkin ini selesainya sore, yah aku nunggu ibu saja, apa ibu tidak lelah, kita belum bisa pulang kalau acaranya belum selesai mungkin sore menjelang malam, ataupun selesai mau makan malam kata ibu. aku cuma mehela napas panjang