
Aku melihat perut bibiku besar dan menurutku perutnya itu isinya apa ya, kok besar seperti orang melahirkan dan wajah bibiku pusat sekali menahan sakit dan bibiku berucap aku sungguh tidak sanggup lagi ya Tuhan katanya. Tetua sudah memberikannya obat tetapi tidak menpan dan tetua mengatakan bahwa bibiku kalau tidak bisa di tolong pasti akan meninggal dan sakitnya hanya bisa di sembuhkan oleh dirinya sendiri karna orang yang menyantet bibiku sudah terlanjur sakit hati dan sudah menjadi darah daging, bibiku memang orang kaya di desa kami dan punya banyak tabungan tetapi cuma bibiku yang tau dimana tabungannya dan jika memang bibiku punya tabungan banyak dan gak mungkin juga pamanku kesusahan mencari lauk untuk makan dan dasar memang bibiku mulutnya besar
Napasnya bibiku tinggal setenggah dan aku takut bibiku akan meninggal dan bibiku juga tidak tau siapa orangnya yang sakit hati padanya dan setiap orang bibiku sukanya bohong hingga semua orang sakit hati padanya dan dia minta maaf pada semuanya warga karna napasnya juga sudah tidak dapat kukatakan lagi susahnya dia bernapas.
Paman sudah lelah untuk.mengatasinsituasinyang bibik hadapi dan memohon maaf kepada kepada semua orang desa kami dan kepada ayah dan ibuku juga sungkem sambil memanggil dan mengatakan maaf yang setulus hatinya jika memang istriku yang berbuat dosa dan menyakiti hati kalian semuanya aku mohon maaf sambil di temani tetua desa kami. Aku dan ayahku menemani paman minta maaf ke semuanya warga dan menemani bibiku di rumahnya.
Kami sudah menemani paman dan meminta maaf kepada semua warga tinggal satu rumah yang belum.kami datangi dan rumah itu tertutup dan banyak sekali kelelawar di sana apalagi di atas rumah itu padahal hari ini belum malam.
Paman terus saja mengetuk rumah itu dan benar orangnya sangat misterius di dalam rumah kulihat Lusi sedang duduk di kursi kebesarannya dan kulihat kelelawar besar itu di sana juga duduk dengan Lusi dan mereka sedang makan dan minum di atas meja itu.
Di rumah ini adalah hidup seorang janda dan anaknya berdua, mereka jarang sekali keluar rumah karna mungkin mereka malu tetapi kata paman mereka sudah kaya di kota dan kenapa kembali lagi ke desa dan untuk apa juga mereka kembali lagi ke desa.
Lusi, janganlah kamu membuat manusia jadi korban keserakahan kamu lagi Lusi, kasihan orang yang tidak bersalah itu Lusi, bukankah kamu katakan kamu tidak akan membunuh manusia lagi kecuali mereka sudah tua dan bersekutu denganmu Lusi ternyata kamu bohong Lusi dan kamu tetap aja setan kataku di dalam hatiku dan Lusi pun.mendengarkan tanpa aku berbicara dengannya, seharusnya kami itu tetapi janji yang bersekutu denganmu saja bukan malah menghukum orang - orang yang tidak bersalah dan kamu malah makan dan minum di sini.
Bukan aku yang membuatnya anak kecil dan mereka dendam katanya ke bibi mu karna ucapan bibik mu yang sangat melukai hatinya dan dia itu sudah punya harta yang banyak denganku tetapi mengirimkan santet kepada orang yang melukai perasaannya dan kamu tau jika matipun kami tidak bisa membawanya karna dia percaya kepada Tuhan dan jika.manusia percaya kenapa kamu ganggu Lucifer dan kamu sudah merusak citra mu saja sebagai raja setan dan permainan game setan mu itu jadi tidak sempurna lagi.
Paman terus memohon maaf kepada ibu janda dan sungkem kepada ibu itu dan kulihat anaknya matanya merah dan tidak terima dengan maaf pamanku dan kulihat kelelawar siluman itu juga memerah matanya menahan marah kepada kami dan mungkin bibi disana sudah pingsan karna menahan sakit yang luar biasa. Lusi kelihatannya santai saja dan melihatku dia tersenyum.
Lusi sudah tidak ada di tempatnya sekarang, " apakah Lusi tersinggung dengan apa yang kukatakan dan segera meninggalkan ku disini dan kulihat dan ibu yang punya rumah juga melihatku dengan mata merah. Iblis pergilah dari tubuh ibu ini jangan membuatnya menjadi tempat untukmu bersarang kejahatan dan cepatlah pergi kataku lagi
Lusi kulihat sudah kembali dan kulihat Lusi senyum saja kepadaku dan tetua mengatakan kepadaku jangan melihatnya nanti matamu sakit dan dialah raja iblis itu nak, aku diam saja dan terus melihat Lusi dan kelelawar besar itu juga sudah tidak ada lagi menemaninya.
Kulihat yang punya rumah sudah sepertinya kepanasan dan kulihat banyak semut merah kecil yang mengigit kulitnya. " Apakah bapakku juga melihatnya dan tetua juga melihatnya dan kenapa.juga di Lusi senyum saja dari tadi sepertinya si Lusi ini sangat senang mempermainkan hati orang. Lusi kataku di didalam hati kamu sudah berjanji tidak membunuh orang sesuai ajalnya dan kenapa kamu mau membunuhnya dengan semut api yang panas dan Lusi kamu ini memang keterlaluan sekali.
Lusi berkata kepadaku dia sendiri yang memintanya kepadaku dan aku tidak pernah memberikan hukuman kepadanya biarkan saja anak kecil, pulanglah dan lihatlah bibirmu sudah sembuh dan jangan ulangi lagi aku akan membunuhnya lain kali.
Bawa orang tuamu itu juga, tinggalkan perempuan serakah itu dia akan sembuh nanti dan aku tidak akan membunuhnya sampai dia mempunyai keturunan ya yang serakah juga dan 8ni cuma hukuman untuknya jangan sembarangan menyuruh atau mengunakan perintah kalau tidak dia akan mendapat hukuman.
Baik, tapi jangan membuatnya tidak bernyawa Lusi dan ingatlah jika manusia tidak memintanya padamu jangan kau sesatkan manusia ini selagi masih ada jalan mereka akan mengikuti Tuhannya dan aku berharap jangan ada lagi manusia sesat mengikuti permainan game setan mu Lusi.
Kamipun.pulang setelah meminta maaf kepada yang punya rumah untuk.melihat kondisi bibiku di rumah paman dan tentu saja kami sudah melewati banyak rumah dan sampailah kami di rumah paman.
Kamipun ucapan salam dan membuka pintu rumah dan melihat bibiku sudah pulih perutnya sudah kempes dan wajahnya hanya kelihatan pucat dan sepertinya bibiku juga sudah tobat dan tidak berbuat tidak menyenangkan hati orang lain dan paman memarahi bibiku.
Kata paman kalua terjadi sesuatu kepadamu yang tidak di inginkan, " Apakah kamu masuk surga ? " dan kenapa kamu tidak pernah berubah selalu saja sombong dan tidak bisa berubah, kita sudah melihatnya apa yang kamu alami dan sekarang berubah lah.