Game Setan

Game Setan
Bab 45


Setelah kami pulang ke rumah kami mandi dulu dan istirahat dan aku capek sekali dan tidak mengikuti bapak kembali ke rumah paman karna aku sudah lelah bahkan lelah sekali." Bagaimana kami mengusir ular - ular hitam yang tidak boleh dipukul ataupun di bunuh dan bisanya itu sangat mematikan tetapi bapakku mengatakan jangan di bunuh ularnya nak dan biarkan mereka berkembang biak saja dan itu tidak akan menggangu kita katanya dan bapak juga ada - ada saja bagaimana mungkin tidak membunuh ular - ular sedangkan mereka susah untuk di usir dari peti mati itu dan benar saja ketika peti mati itu di bakar tidak ada satupun ular yang mendekati lubang jenazah itu dan akhirnya tugas kamipun sudah selesai


Bapak dan ibu pergi ke rumah bibiku untuk melihat ke keadaannya," apakah bibiku sudah bisa di ajak bicara ataupun di ajak komunikasi seperti sedia kala dan kami di suruh di rumah saja karna kata bapak aku itu kelelahan dan harus istirahat.


Menurut bapak serta ibuku , bibiku sudah sehat dan memar di kepalanya juga sudah membaik serta lembab di kakinya juga sudah di obati oleh bidan di desa kami dan untuk desa kami masih jauh dari kota besar untuk ke sekolah menengah saja ke kota dan masih terlalu banyak masyarakatnya yang masih kolot dan masih percaya kepada tetua dan hal - hal gaib lainnya dan memang benar apa yang di katakan si Lucifer bahwa sangat mudah untuk.membuat manusia ikut dengannya karna manusia sekarang sudah malas berusaha dan tentu saja miskin iman dan miskin hati.


Sebulan berlalu semenjak bibiku bangun dari tidurnya dan kini bibiku benar - benar sehat dan bibiku juga lebih lincah dari biasanya dan tentu saja membuat kami semuanya senang dan bahagia terutama pamanku bibiku katanya sudah tidak malas lagi dan sekarang bibiku lebih rajin ke sawah membantu pamanku.


Akupun sibuk untuk kenaikan kelas dan sekarang desa kami akan di tambah tiang - tiang listrik jadi ketika dulu kami hanya punya lampu saja dan memasak nasi. Sekarang kami boleh memakai apa saja yang penting jika boros listrik maka akan boros juga membayarnya begitu kata petugasnya. Ibuku mengatakan jangan boros memakai listrik jika tidak di pakai maka segera matikan, mencuci juga pakai tangan saja karna kami masih muda dan tenaga kami masih kuat sedang baju - baju yang mau di cuci semuanya baju ke sawah dan tentu itu tidak bisa membuat baju - baju itu bersih dan aku juga sudah mencuci bajuku sendiri apalagi kakakku marah jika bajuku kakakku yang mencuci nya.


Hari hujan deras sekali dan aku main di rumah bibiku dan bibiku sekarang membuat gorengan tahu, pisang dan tempe goreng yang di jual kepada kami dengan harga 3 potong gorengan 2000 rupiah saja dan bapakku selalu menyuruh kami membeli setiap sore padahal kami juga sudah bosan dengan gorengan bibiku.


Gorengan bibiku enak sekali tetapi jika tiap hari Kamis memakannya maka kami juga akan bosan dan tidak untuk bapak dengan ibuku karna katanya ikut membantu pamanku untuk dapurnya walaupun bibiku selalu tidak mengambil uangnya tetapi bapak pasti akan menyuruh kami membeli lagi dan memberikan uangnya dilebihkan agar bisa jajan dan untuk goreng itu di berikan kepada bibiku dan bibiku memang baik sekali bahkan Kadang orang juga utang saja tetapi beliu tidak marah malah tersenyum saja dan katanya biarlah daripada sisa di rumah juga tidak ada yang makan.


Paman Ismet mau menjemput sapinya yang yang bawah pohon karna hujan paman Ismet berhenti di warung goreng bibiku karna hujan deras sekali dan bibiku melarang paman Ismet ke kebun menjemput sapinya karna paman Ismet akan terkena petir nanti setelah membuka tali sapi - sapi itu dan paman Ismet tidak bisa pulang karna akan meninggal disana dan paman Ismet mengatakan kepada bibiku jangan jadi ahli ramal kamu dek, kata paman Ismet karna memang bibiku adik sepupunya.


Paman Ismet tidak mendengarkan apa kata bibiku dan pergi di tengah hujan karna sapi - sapi itu milik juragan jaya katanya jika hilang di curi orang maka paman Ismet akan akan menggantinya dan paman Ismet tidak punya uang untuk menganti sapi - sapi itu dan kembali lagi bibiku memberikan mantel dan tutupi kakimu supaya jangan basah serta kepalamu juga dan pergilah ! Jika petir itu ada cepatlah pulang dan segera mandi dengan air garam kata bibiku, kepada paman.


Setenggah jam berlalu dan petir benar - benar terjadi dan menghanguskan rumah penduduk serta tali listrik itu menyala mengeluarkan api yang sangat bisa membakar seluruh rumah dan aku melihat pohon jengkol yang di katakan bibiku juga terbakar dan bibiku hanya menggoreng saja dan diam tidak berbicara apapun kepada kami.


Lampu listrik padam dan orang - orang di warung sudah lari ke rumahnya masing - masing dan satu rumah yang terbakar dan satu rumah itu sudah mengungsi ke balai desa dan kemudian terdengar ledakan apa dan kami hanya diam saja menunggu sampai api itu padam karna hujan dan suasana di warung bibiku juga gelap hanya ada cahaya api kecil di tepat pembakaran api penggorengan dan rumahku kulihat dari jauh bapak melihat keluar bersama ibuku waspada agar api tidak masuk ke rumah.


Aku tidak melihat si Lucifer dan ini mungkin bukan kerjaannya dia tetapi kenapa bibiku tau akan ada petir dan bibiku juga diam seperti ketakutan dan bibiku yang tadi disana mengatakan " Kenapa bibi tau akan ada petir yang begitu kuatnya dan apakah kamu melihatnya ? Katanya kepada bibiku.


Aku tidak tau kak, setelah aku meninggal kemarin aku sepertinya melihat masa depan dan apa yang akan terjadi nanti ! Aku sudah mengatakannya tadi kepada kalian bukan ? Dan cuma keponakanku saja yang menurut untuk tidak pulang dan kalian semuanya pulang dan akhirnya rumah dan keluarganya selamat dan kalau dia pulang maka api juga menyambar rumahnya karna aku melihatnya demikian kak.


Aku hanya diam saja dan terduduk di tepi bangku bibiku dan masih melihat lilin yang di depan rumah.Aku yakin pasti bapak kwatir tetapi " bagaimana dengan rumah warga ini, kenapa setelah masuk listrik malah membawa bencana ? Kataku dalam hatiku.


Hujan reda akupun pulang ke rumah dan warga bergotong royong saling bantu satu dengan yang lainnya.