
Hari ini aku ke rumah paman, karna memang paman memanggilku dan cuma aku saja yang di panggilnya ke rumahnya bukan bapak atau ibuku, aku juga heran melihat pamanku ini untuk apa pula dia memanggilku karna aku juga lagi bungkus buah pisang untuk di kirimkan ke kota, kebutuhan bapak di rumah dan paman memanggilku untuk pergi ke rumahnya, lagian buat apa paman memanggilku pak, pergilah ! Mungkin pamanmu memerlukan mu nak, ingat cepatlah pulang kalau sudah selesai ya, aku menganggukkan kepalaku kepada bapak dan langsung ke rumah paman.
Sampai di rumah paman, aku langsung menjumpainya dan menanyakan kenapa dia memanggilku, katanya kamu pernah mengobati Mak Ijah kemarin, paman minta obatnya apa katanya kepadaku, kalau obatnya mandi saja di air yang mengalir paman kalau mandi di sumur yang sama pasti tidak akan sembuh, kalau begitu untuk apa mereka datang kemari membayar mahal kalau cuma mandi di pancuran saja, bukan itu saja paman pakai salep gatal juga dan pak mantri kataku lagi.
Memang pak manti kasih apa? Bedak gatal sama salep gatal paman, kaku begitu aku pulang dulu paman soalnya lagi membungkus buah untukmu kirim besok, tunggu dulu nak, kamu bantu paman saja mengobati pasien paman ini dulu, nanti baru paman kasihkan uang untuk bantu paman, maaf paman kalau buah tidak di bungkus nanti bapak pasti akan marah, paman bisa di bantu abang saja paman.
Abangmu anak - anak paman tidak akan mau membantu, mereka cuma mau uang saja, bahkan jikapun mereka melihat kudis dan nanah sedikit saja langsung muntah. Maaf paman aku pulang dulu karna buah sudah sampai di gudang takutnya tidak bisa di bungkus dan nanti rusak, kamu ini memang susah di minta tolong padahal cuma membersihkan nanah saja itupun paman bayar bukan? Bukan aku malas paman, tetapi memang bapak menyuruh pulang kalau sudah selesai dan bukan aku tidak mau uang juga, karna kejar waktu bungkus paman buah, akupun langsung pulang ke rumah dan masih kudengar dia mengatakan aku itu sombong sekali padahal orang miskin.
Sampai di gudang akupun langsung membantu bapak, apa yang di katakan pamanmu nak, kenapa dia datang marah begitu ke ibumu di rumah, kita memang miskin tetapi bukan untuk melakukan hal yang tidak benar, paman menyuruhku membantunya untuk mengobati pasiennya yang sakit gatal itu pak, tetapi aku sedang bungkus buah juga untuk di kirim ke kota, tapi paman langsung marah ke ibu.
Aku tidak mengerti pak, kenapa paman begitu sombong? Aku sudah mengatakan anaknya saja yang membantunya karna aku juga membantu bapak membungkus buah, nanti - nanti aku malas pak kalau di panggil lagi.
Aku kembali ke rumah, Mak Ijah datang ke rumah membawa seorang anak kecil yang masih berumur 5 tahun, tolonglah nak, ibunya juga sudah terkenal wabah itu dan mereka satu keluarga kena semuanya, Mak kira mereka tidak kena karna sudah Mak katakan jangan mandi di sumur yang di balai desa, tetapi kemarin pamanmu memberikan makanan dan hari ini timbullah ruam dan nanah di kulitnya, tidak deman sama sekali tetapi kalau di garuk semakin menyebar, adik jangan di garuk dulu dengan tangannya karna akan menyebar kataku dan mungkin juga akan infeksi dan akupun mengoleskan salep sambil memakai sarung tangan dan sepertinya adiknya tidak gelisah lagi dan tidak menggaruk pakai tangannya lagi, Mak Ijah pulang ke rumahnya.
Ibu selalu mengajarkan kepadaku, jangan pernah membalas orang yang berbuat jahat kepada kita karna pengadilan yang tak terlihat yang menghukum orang itu, biar saja nanti juga mereka kena karma, aku terdiam sesaat ketika ibu mengatakan itu kepadaku dan ibu tau kalau aku selalu saja berargumen ke paman karna memang paman sudah keterlaluan, jika ingin membuat dirinya di hormati dan kaya jangan seperti itu caranya, mungkin orang tidak akan percaya bahwa dia yang menyebarkan obat gatal ke seluruh mata air, aku sangat tidak setuju.
Siang hari ini, kami akan ke sawah, di sawah mungkin juga sudah di beri paman abat gatal itu, bapak mengatakan kalau gatal jangan di garuk dan bersihkan dulu di air mengalir , mandilah kalau kamu takut kata bapak kepadaku.
Karna tak tahan akupun pulang sambil mau minum obat, kenapa banyak sekali jin yang berkeliaran di jalan ya, seperti mereka sengaja di lepaskan oleh yang punya, jinnya bertubuh besar dengan mata yang merah , kuku hitam.panjang dan muka yang jelek, buakn hanya satu, dan bahkan di setiap jalan mereka ada, kenapa lagi ini pikirku! Apa mereka akan mengantarkan mayat pangeran lagi, dan aku tidak melihat Lusifer, sungguh pemandangan ini membuatku mual saja.
Mereka berebut makanan lagi, makanan yang sudah membusuk dan sepertinya akan ada pesta poro di lingkungan jin ini, paman ada disana, rupanya mereka sudah menjadi bagian dari paman, aku berjalan saja dan cepat pulang karna memang aku sudah merasakan panas di tubuhku, aku bertahan tidak mengaduknya tetapi gatalnya ini sungguh, sampai di rumah langsung ku minum obat dan segera mengoleskan salep ke seluruh badanku dan memang benar gatalnya mulai berkurang, aku masih penasaran dengan jin itu, mengapa sampai berkeliaran di luar, sungguh paman ini tidak punya muka saja, kulihat tetua datang ke rumah kami dan mencari bapak.
Tetua, ada apa? Kenapa tetua datang ke rumah kami! bapak sedang tidak di rumah lagi di sawah, iya saya sedang mencari bapakmu ada persoalan yang harus di di bicarakan dengan bapakmu. Masih di sawah tetua mungkin nanti kalau sudah pulang kami akan ke rumah tetua sekalian ada yang mau di titip bapak di gudang, nanti aja tetua aja ya, soalnya berat ada beras dan kebutuhan pokok lainnya, bukan untuk itu tetua datang nak, ada hal penting yang mau tetua sampaikan, kalau tetua pulang takutnya tetua sudah terlambat apalagi mereka sudah makan dan berkeliaran.
Apakah yang tetua maksud jin yang makan di kasih bangkai itu, jin hitam besar yang berkeliaran banyak di kampung Kuta ini tetua, aku melihatnya tadi waktu pulang ke rumah, karna di sawah aku merasakan gatal sekali jadi aku duluan pulang ke rumah.