
Setelah penebangan kayu berhenti beberapa lama dan orang - orang sudah mulai lupa dan pohon yang kami tanam juga sudah tumbuh.
Tiba - tiba bang Ali kembali ke kampung kami dan mengatakan kepada tetua di kampung kami untuk memotong pohon yang besar di hutan larangan karna juga sudah tua.
Tetua kembali mengumpulkan semua orang - orang desa dan mengatakan untuk kembali memotong pohon dan kembali menjual ke kota, tetapi penduduk desa tidak mau karna dulu saja sudah banyak memakan korban.
Tetapi bang Ali sepertinya tidak mau lagi mendengarkan para tetua, desa kita ini sudah aman Ali dari hal - hal yang tidak menyenangkan jangan kamu salah artikan semuanya nanti jadi kacau kata tetua.
Bang Ali marah dan mengancam para tetua itu, apalah yang kalian takutkan di hutan larangan itu, jika pohonnya sudah tua dan sudah layak kita bisa memotong dan menanam kembali agar kembali tumbuh kata bang Ali dengan keras.
Ali kamu jangan memaksakan kehendak kamu saja, pikirkan kembali orang - orang yang di bawah bukit ini, jika dipotong musim musim hujan maka semua yang ada di atas akan turun ke bawah dan akan banjir di seluruh desa.
Tapikan tidak semuanya tetua di potong cuma 1 pohon yang besar saja dan jikapun banjir tidak akan membuat banjir kata bang Ali kembali.
Ali kalau diberitahu yang baik tetapi kamu susah diberitahu, kami akan mendapat sangsinya nanti.
Begini saja tetua kami akan membagi hasil sama rata dengan penduduk desa dan jika kita taman pertanian pastinya itu juga sangat bermanfaat dan bisa menunjang kehidupan masyarakat desa kita ini lebih baik tentunya.
Terserah kamu saja Ali jika kamu kalau sudah diberitahu tetap saja masih melakukan pemotongan pohon, jangan salahkan jika nanti kamu di gigit ular hitam di hutan Ali sejak kamu mulai dari dulu mereka mengejar kalian.
Ali tidak takut tetua yang aku takutkan hanyalah tidak bisa memberikan makan keluargaku dan mati miskin karna kelaparan.
Ali kata bapak jika kamu potong itu pohon oksigen juga akan berkurang dan tentu saja jika sudah gundul pohon itu berproduksi lagi
Ali memotong cuma yang sudah tua bang kata bang Ali yang masih muda tidak dipotong dan tentu saja tidak akan mengganggu kelangsungan hidup hewan disana kata bang Ali, lagian kita juga butuh uang untuk kelangsungan hidup kita.
" apakah kalian semuanya tidak membutuhkan uang, membeli pakaian yang bagus dan mahal dan apakah kalian tidak ingin membeli makanan dari kota, seakan hanya aku saja yang dari dulu merusuhi desa kita ini, kata bang Ali " ?
Aku tidak percaya dengan mistik dan orang - orang yang percaya tentang apa yang tidak bisa di lihat itu semuanya tidak benar kata bang Ali lagi, sebentar siang teman - temanku dari kota akan datang dan akan memotong pohon - pohon yang besar tetua, aku Ali sudah minta izin kepada kalian semuanya dan untungnya nanti kita berbagi sama, setenggahnya akan kuberikan kepada tetua dan seluruh penduduk desa ini.
Rapat itupun dibubarkan oleh tetua dan kamipun pulang ke rumah masing - masing.
Siang hari rombongan dari kota masuk ke desa kami dengan mobil besar pengangkat kayu dan segala jenis mesin pemotong kayu yang sudah siap untuk memotong kayu - kayu itu dan mukanya seperti preman saja siap menerkam mangsanya, bapak mengatakan jangan sampai kejadian yang sama seperti dulu kata bapak, kami hanya diam saja dengan ibu, ibuku menghela napas panjang.
Pagi hari ini ketika matahari naik bang Ali dan rombongan naik ke atas bukit di atas desa kami, mobil - mobil itu sudah mulai bergerak dan beberapa orang dari kota.
Acara pemotongan pohon yang pertama dilakukan dengan ritual, bunga rampai yang di campur kemeyan dan beberapa yang lainnya, ada telor rebus, kelapa muda yang sudah di potong ujungnya serta persembahan lainnya, bang Ali mengatakan tidak usah dibuat persembahann kepada pohon karna melanggar aturan agama, para tetua itu diam saja.
Setelah semuanya selesai para tetua itupun pulang ke rumah masing - masing, tinggallah yang memotong kayu dan mereka mulai mengisi solar ke mesin itu dan bang Ali mengarahkan pohon mana duluan untuk di potong dan hati - hati katanya disini banyak ular hitam berbahaya dan bisanya bisa membuat kita halusinasasi kata bang Ali.
Ketika pohon sudah ditumbangkan banyak sekali ular hitam keluar dari sarangnya. Orang - orang kota itu pada lari semuanya ada yang memukul pakai bambu dan bang Ali sangat cepat memukul dengan bambu tetapi anak bang Ali dibawa kesana dan waktu tadi pagi di tinggalkan dirumah dia menanggis terus, sehingga anaknya dibawa ikut ke bukit, dan ketika anak bang Ali mau digigit bang alipun lari mengambil anaknya dan bang alipun terkena gigitan ular itu.
Warga desa langsung membawa turun bang Ali dan orang - orang kota tetap melanjutkan tetapi tetap waspada tentunya di sana.
Setelah bang Ali dirawat terntanya gigitan ular itu tidak hanya satu, bang alipun meminta segera dibawa ke rumah sakit biar segera diberikan anti bisa ular dan bang Ali mengatakan jangan terlalu lama karna akan sangat berbahaya sekali, mobil yang membawa bang alipun secepatnya berangkat dari desa kami ke kota.
Hari sudah malam tetapi bapak belum juga kembali dari kota sejak mengantarkan bang Ali dan kami sudah menunggu dengan ibu di rumah tetapi bapak belum juga muncul dari kejauhan dan suara kodok sudah mulai bersahutan dan mungkin bapak akan bermalam di rumah sakit nak, ayo masuk kedalam kalu besok bapak belum pulang kita akan ke kota saja melihatnya kata ibuku.
Pagi menjelang bapak belum juga pulang kami masih menunggu, paman Hasan datang dan memberitahukan bahwa bapak berjaga malam kemarin di rumah sakit karna bang Ali tidak ada yang menjaganya, mungkin kalau istrinya bang Ali datang pagi ini maka bapak akan akan pulang Kata paman Hasan.
Kami juga mau ke kota paman mau memberi baju salin bapak. Kalu begitu nanti ikut saja dengan mobil yang akan berangkat ke kota dengan istri bang Ali. Sudah lebih baiklah kondisi Ali bang kata ibuku ke paman, tadi malam Ali teriak - teriak seperti orang kerasukan dan dokter sudah memberikan penenang kata paman, hati - hati kalau kalian ikut berangkat mungkin tetua nanti ikut bersama kalian.