
hari aku diajak oleh anak bibiku untuk ke desa yang jauh disana dibawah gunung, dibawah pohon karet dan sawit yang jauh ke dalam pohinpohon yang besar dan disana masih banyak dukun yang bisa mengobati dan menyembuhkan ayah tulang dan kamipun berangkat kesana dengan naik angkot ketika pasar dan cuma karna ada pasar maka.kamipun akan kesana, kalau tidak ada pasar maka tidak ada angkutan yang kesana dan tentu saja aku hanya menemani saja dan sampai anak sekolah pulang angkutan yang menjual barang2 itu juga akan pulang pergi sampai sore hari, dan disinilah kami di ujung kampung yang listrik saja belum ada masuk serta mandi saja kami harus ke sungai yang sangat jauh dan kalau mau pipis, hadeh binggung mau kemana karna memang sama sekali tidak ada sumur bahkan untuk mandi saja mereka semuanya ke lubuk di bawah desa itu, pasien dari bapak itu juga banyak walaupun di desa tapi yang datang banyak sekali kami harus menunggu untuk giliran dan aku sudah bosan dan mau pipis kamipun turun ke bawah untuk buang air kecil tetapi disamping tempat mandi laki2 juga berdampingan gimana mau pipis, aku benar2 sangat kecewa susah sekali mau pipis sedangkan isi kantung kemih ini harus dikeluarkan, ya sudah aku pipis saja, dan mereka sudah terbiasa disana untuk saling tidak melihat dan sudah biasa juga mandi begitu sedangkan kami mandi di rumah tertutup semuanya, namanya Bik Lina dia yang kutemani untuk berobat kesana karna waktu jatuh tangannya mulai mengecil aku sudah sarankan ke dokter saja tapi bik Lina mengatakan mereka orang yang susah untuk dibawa ke rumah sakit itu mereka tidak.punya uang jadi bik.lina memutuskan untuk ke dukun dan mengobati tangan.bik Lina yang jatuh, aku cuma menemani saja dan menurutku ke rumah sakit lebih baik dan kita juga bisa mengurus ke kelurahan bahwa kita tidak mampu Bik kataku yang sok tau, tapi dek kita juga harus memberi makan orang yang menemani kita dan kita juga memikirkan tempat tidur dan lainnya, belum lagi operasinya berapa lama kita harus menunggu sampai selesai dan bolak balik ke rumah sakit, disini kita cuma di urut dan diberi obat saja, kalau sembuh baru kitanberi upah kalau tidak sembuh tidak, kata Bik Lina, tapi apakah bik.lina yakin kalau nanti sembuh dan tidak menyesal karna sudah kemari bolak balik dan hasilnya tidak ada, tidak dek, yang Bik Lina sudah mencobanya dan ayo ini sudah siang kita minta duluan saja nanti soalnya sudah sore nanti angkot pada gak ada lagi , kamipun pergi dari lubuk itu dan baik ke atas kembali, kulihat pohon yang besar itu pantesan airnya dingin dan menusuk kulit pohon itu2 bisa menampung air sampai beberapa liter dan tentu saja airnya melimpah ruah dan kenapa orang kampung ini tidak ada yang membuat kamar mandi ya, kok kayaknya pelit amat, dalam hati aku berkata nanti jangan buat aku menikah dengan orang kampung ini, soalnya pemalas semuanya kamar mandi saja tidak ada, Bik Lina pun tertawa dan berkata jangan berkata begitu nanti kamu jodohnya disini katanya, setelah di atas kamipun masuk dan benar saja Bik Lina langsung di urut oleh dukun itu, dukunnya sudah tua dan tidak seram, dia bertanya siapa namanya, dan mulai melakukan ritual ada semacam tulang yang yang di gerus sedikit, menurut ayahku itu tualang manusia yang sudah meninggal dan meninggalnya juga bukan karna sakit ataupun karna usia tua, meninggal karna bunuh diri atau dibunah orang ataupun meninggal karna kecelakaan, jadi bagaimana tulang di ambil pak kataku bukankah nanti hantunya akan marah dan datang ke dalam mimpinya tidak keluarganya yang membawa dan dibeli dengan harga tinggi dan biasanya juga mereka menjualnya tanpa diminta dukun itu, tapi bapak kok tau pak, ya dukunnya yang bilang ke bapak, selesai Bik Lina di urut tangannya masih kecil saja kulihat dan tidak ada perubahan aku takut Bik Lina marah kalau kukatakan kita buang2 waktu dan tenaga saja datang kemari dan tentu Bik Lina pasti marah, kemudian Bik Linapun masih menunggu minyak untuk di bawa pulang dan selesai semuanya kamipun pulang ke rumah dan akupun tidur karna lelah sekali, menurutku penduduk kampung itu pelit sekali karna tidak punya WC dan masih banyak ibu-ibu yang cuma pakai kain aja tidak pakai baju, dan dirumah saja ngerumpi dan tidak ada kerjaan lainnya selain berkumpul dan berkumpul, kalau di suruh kesana lagi gak mau Bu, kenapa kata ibu, capek nahan pipis Bu, gak ada WC. ibu cuma terdiam dan berlalu ke dapur, ya mungkin bagi ibu biasa gak punya WC tetapi bagiku kamar mandi dan WC itu adalah hal yang terpenting di hidup. baru yang lainnnya mengikuti seperti kebutuhan sandang ataupun pangan.