Game Setan

Game Setan
bab 7


kemudian lanjut acara ritual.pemanggilan roh dan tetua tetua itu bisa berbicara memanggil roh itu dengan suara lehernya seperti orang yang bersiul, tetua bersiul dan terdengar siaulan seperti orang bersiul yang pelan dan cuma tetua yang mengerti, aku cuma melihat saja dan dia pun berkata dimana yang lainnya cuma itu yang kumengerti dan bersiul kembali lehernya dengan pelan dan lembut, dan kemudian dia bicara sendiri lagi , oh disana katanya sambil melihat ke arah samping, aku tidak melihat siapapun disana yang hanya orang duduk melihat tetua itu, kemudian dia bersiul kembali pelan dan masih kedengaran di telingaku dia berkata kamu siapa, orang orang cuma diam saja tanpa berkata apapun seolah2 sudah mengerti apa dan bagaimana tapi aku penasaran bertanya kepada ibu atau ayahku , sudah dengarkan saja katanya, kemudian tetua bersiul.kembali pelan dan masih kedengaran, dimana tetua ini, katanya hormat sama orang2 dan tangannya tetua di angkat ke atas kemudian hormat kembali, Gondangpun mulai dimainkan seperti Gondang kematian yang menyayat jiwa tanpa intonasi yang enak di dengar, gondangnya menhentak dan tetuapun manari serta melompat kesana dan kesini dan tidak merasa kelelahan, aku terdiam dan melihat dengan kagumnya, tetua itu sudah tua tetapi masih bisa menari dan melompat dan Gondangpun semakin kuat saja bunyinya dan kemudian di ikuti oleh semuanya orang menari dan melompat seperti orang kerasukan, aku diam dan masih mengaguminya, ayah dan ibuku juga cuma tidak melompat atau.menari hanya sekedar saja di bagian belakang panggung, mungkin sudah kelelahan tetua itu minum air kelapa langsung di buang dan meminumnyapun asal seperti bukan manusia saja yang minum air degan itu lebih banyak yang tumpah kulihat, mungkin anak2 lain sudah senang melihatnya tapi aku penasaran gimana ini nantinya, kumudian dia ambil telor lagi tanpa mengupasnya dulu langsung dulu, begitu juga pisang, kenapa seperti itu makannya sudah kerasukan roh itu jadi makannya kayak setan kata kakek yang disamping, apa tidak sakit perut kek kataku tidak apa, kan yang makan setan bukan manusia, aku melihat terus dan memperhatikannya ritual itu lagi, tetua itu bunga kembang kemudian melemparkan kepada semuanya dan wangi bunga kembang itu seperti bunga melati, orang2 diam saja dan menikmati semuanya sambil makan sajian kue2 yang disediakan disana, kemudian tetua berkata kampung ini sudah tidak sial lagi karna masih menjujung roh tetua terdahulu, leluhur pasti akan senang menjaga kalian dari kesialan katanya, kemudian tetua melemparkan beras yang di depan dan hilanglah kesialan dari kampung ini katanya, mari kita menari buang kesialan, tetua itu kembali menari dan melompat kembali sambil memegang bunga pinang muda yang wangi sekali, aku melihat ibu juga menari dan menyuruhku ke arahnya jangan didepan nanti mengganggu orang, akupun mundur ke belakang dan main dengan yang lainnya tapi masih penasaran dengan tetua membawa pisau dan menari sambil makan pisang dan pisau di sebelahnya, aku pikir dia membelah sesuatu tetapi cuma untuk menari saja, alunan musik itu semua orang ikut dan ketika sore hari tetua mulai mengangkat tangan ke atas, capek katanya, roh yang ada didalamnya sudah keluar dan dia mulai lelah kata yang lain, ada minum katanya, semua orang memberi makan dan minum seperti orang yang di tuakan tidak seperti tadi berbuat sesuka hatinya saja, itulah acara ritual selesai entah apa lagi nanti yang terjadi lagi.