
Setelah bibiku sembuh dan berubah dengan sikapnya perlahan perutnya yang besar kembali kempis dan perlahan aura iblis yang selalu ada padanya sudah hilang dan bibiku kembali menjadi baik dan tidak pernah melukai orang dengan perkataan mulutnya. Paman juga mengajari bibi agar selalu berbicara yang baik dan jangan pernah membuat kegaduhan lagi dan jangan pernah menyakiti hati orang.
Hari - hari di lalui bibi dengan melakukan pekerjaan rumah dan sekali - kali membantu pamanku ke sawah ataupun membersihkan ladang mereka dan bibiku juga tidak pernah meminta apapun kepada paman kata bibiku " Aku sudah jera dengan semuanya kesulitan hidupku, tetapi jika aku mati aku tidak bisa bertemu dengan anakku lagi dan aku sangat menyesal untuk itu, jadi bibiku banyak berubah untuk itu kamipun sering melihat bibiku.
Tetapi hari ini kami terkejut dengan kematian bibiku dan kelihatannya bibiku tidak bisa bertahan lagi dan kematian menjemput bibiku dan aku tidak tau kenapa bibiku bisa meninggal dengan cepat padahal bibiku sudah berubah dan setiap yang di lakukannya sudah berubah menjadi baik dan tidak ada lagi kesalahan yang di lakukannya yang buruk.
Bibiku pergi dengan terjatuh di kamar mandi waktu tadi pagi dan kami sudah membawanya
Ke puskesmas terdekat tetapi pendarahan di kepala bibiku tidak bisa di tolong kata dokternya dan akhirnya bibiku di bawa pulang kembali ke rumahnya dan mungkin ini adalah kecelakaan biasa dan aku tidak melihat hal yang aneh di rumah bibiku dan suasana di rumah bibiku juga biasa saja tidak ada apapun sampai malam ketika anaknya menaggis terus katanya bibiku terus menerus menggangunya bahwa bibiku katanya belum mati dan masih hidup dan adikku itu lari ke kuburan untuk membongkar kuburan bibiku.
Aku heran dan kami semuanya bapakku dan pamanku, bagaiman seorang yang sudah meninggal bisa hidup kembali dan karna adikku ini histeris terus-menerus akhirnya kamipun bersepakat untuk membongkar makan bibiku kembali di tengah malam yang dingin jam 12.00 malam karna dari sore hari Kamis harus mencari orang dan kepala kampung untuk bisa membongkar kembali dan kamipun ke kuburan tua di dekat kuburan para tetua malam itu itu dan tidak ada keanehan di manapun dan aku tidak melihat Lusi dan semua orang - orangnya.
Perlahan - lahan tanah kuburan itu di bongkar dan pelan - pelan sudah kelihatan papan mayatnya bibiku dan kembali di angkat ke atas dan kamipun membuka kayu perlahan - lahan dan tiba - tiba bibiku meminta minum dan kamipun heran karna bibiku memang masih hidup dan kelihatan lemas saja dan waktu sudah pukul 02.00 pagi hari dan kami semuanya menaggis disana terutama ibuku memohon maaf karna tidak tau bahwa bibiku masih hidup dan sehat saja di dalam tetapi aku heran kenapa bibiku seperti orang kehilangan ingatan karna tidak kenal dengan ibuku dan bapakku, bibiku cuma mengenal pamanku Sarah dan mungkin karna luka di kepalanya kata bapak.
Kamipun bibiku pulang ke rumah dan sebahagian tinggal di kuburan dan aku dengan ayahku tinggal di kuburan untuk membawa keranda dan kembali menutup lubang kuburan itu agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan dan tentu saja bapak harus bertanggung jawab karna bibi dan paman adalah keluarganya.
Banyak sekali ular di sana kata paman dan jika kita menutup lubang ini ular itu akan mati dan kasihan jika ular - ular itu mati dan jika ularnya mati kasihan bukan, kita tunggu saja sampai pagi karna sebentar juga sudah pagi pasti ular - ular itu akan pergi karna sinar matahari pagi dan kulitnya itu sensitif sekali pasti akan pergi kata paman.
Kita tunggu sebentar lagi kata bapak dan kita lihat situasi dulu dan itu sudah pagi dan matahari juga sudah muncul, jangan masuk ke dalam lubang itu karna tidak semuanya ular itu baik lihatlah ada yang berbisa dan ambillah bambu untuk mengeluarkan mereka satu persatu dan jangan di lukai badannya karna mereka juga makhluk ciptaan Tuhan. Kamipun mengeluarkan ular - ular dan ada beberapa ekor yang mempunyai.mahkota di kepalanya seperti berlian putih dan aku melihatnya.
Paman sangat tergiur dengan mahkota ular itu, tetapi kata bapak tidak boleh mengambil yang bukan hak kita besok ada rejeki yang lain dan paman pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda dia mengerti dan pagi hari ini selesai menutup lubang yang di kuburan dan ular - ular itu juga ada di peti mayat bibiku dan aku hanya merasa ini aneh kenapa banyak ular dan aku tidak menyangka ular di peti bibiku semuanya penuh dan bukan hanya satu ataupun dua tetapi berpuluh - puluh jumlahnya dan kamipun kembali melepaskan mereka dan membongkar kayu peti mati bibiku itu kemudian bapak berpesan agar di bakar saja supaya semua kesialan dan keburukan sirna sampai selamanya dan kamipun membongkar semuanya dan membakar bertemu isinya dan setelah selesai acara pembakaran itu ular - ular itu masih disana dan apa yang akan di lakukan mereka lagi pikirku karna peti itu sudah tidak ada lagi.
Pagi ini sinar matahari bersinar sangat terik dan acara pembakaran sudah selesai dan ular - ular ini belum juga pergi dan entah kenapa mereka sepertinya menunggu sesuatu dan aku tidak bisa memastikan apa yang mereka tunggu dan setelah abu peti itu dingin dan tidak ada bara apinya lagi.
Ular - ular itu mendekati abu pembakaran peti mati itu dan kemudian menjilat abu peti mati dan memakan debunya dan kemudian pergi dan bergantian dengan yang lainnya. Aku heran kenapa dari tadi banyak sekali ular dan memakan abu peti mati itu sampai habis dan mungkin makanan mereka sudah habis pikirku sehingga mereka memakan debu dari peti mati itu.
" Bapak, kenapa ular itu memakan debu dari peti mati sampai habis ? " apakah tidak membuat mereka keracunan ataupun membuat mereka dan turunannya mati kan itu debu kataku kepada bapakku
" Tidak nak, debu adalah makanan mereka dan mungkin mereka tidak perlu makan setelah makan debu kayu jati ataupun yang lainnya dan ular - ular itu ular biasa dan bukan siluman dan tentu saja mereka makan dan minum kata bapakku kembali
Mungkin, tetapi aku masih berpikir apa yang akan terjadi nanti setelah ini.