Game Setan

Game Setan
bab 34


Ada sebuah wajah yang menyeramkan kulihat menggantung di atas balai desa dan sosok ini berbadan besar dan matanya merah seperti marah kepadaku dan aku tidak tau kenapa sosok.mereh itu selalu melihatku dengan rambutnya yang panjang dan bajunya yang hitam dekil itu seakan mau.menelanku saja dan sosok ini membayangiku dari kemarin yang kami tersesat di kuburan dan aku juga tidak tau kenapa aku bisa melihat sosok itu dan jika aku melihat sosok yang menyeramkan itu sepertinya tetua juga mengetahuinya karna aku terus melihatnya dan tidak takut sama sekali.


" Pergilah ke tempatmu jangan menganggu kami lagi ? " kata tetua.


" Apa kakek melihatnya juga ? "


Kemudian dia menjulurkan lidahnya ke bawah dan lidahnya itu panjang berwarna merah darah dan mata yang merah serta mulutnya yang penuh belatung di ada lubang bekas tusukan dan sepertinya mulutnya juga busuk dan aroma yang tidak kelihatan yang keluar dari mulutnya.


" Apa yang kau mau, bukankah semuanya sudah ku berikan makananmu ? "


Sosok hitam itu belum.mau pergi juga dan tampaknya dia marah kepada tetua . Saat ini hari sudah mau malam dan kami masih ada di balai desa dan kulihat banyak maklum yang sakral mulai berdatangan kepada kami. Bagaimana kalau tidur disini tentunya aku gak akan pernah bisa kalau begini dan entah kenapa juga aku melihat semuanya ini buat aku merinding saja


Ada dua orang maklum sakral kecil sekali tetapi dia melesat cepat sekali berlari dan tiba - tiba saja mendekatiku dengan kepala kuning keriting, tangannya kecil dan kakinya juga kecil, badanya kecil juga berbeda dengan yang satunya rambutnya pendek dan berwarna hitam dan mereka menjulurkan lidahnya kepadaku seolah - oleh mengejek dan entah apa yang di lakukannya dan tiba - tiba saja aku kehilangan kata - kata dan kulihat ibu dan ayahku untuk minta tolong tetapi tidak mendengarkan ku


Kemudian aku juga berteriak kuat rasanya suaraku sudah habis dan aku berteriak kuat tetapi tidak ada yang mendengar dan kedua makhluk sakral mendekatiku kembali dan seolah - olah mengajakku ikut dengan permainan mereka .


Dan hari sudah malam saja, teriakku tidak ada yang mendengar sedangkan kaki dan seluruh badanku kaku serta semuanya badanku tidak bisa di gerakkan dan aku sudah mencobanya tetap tidak bisa di gerakkan. Aku sudah mencoba berteriak juga tidak bisa dan akupun menarik napas panjang kemudian berdoa sesuai agamaku dan berdoa seperti yang di ajarkan di kitab suci kami dan guncangan badanku yang berat dan kaku itu mulai lepas dan rileks kembali dan kedua makhluk sakral itupun lari ke belakang dan tidak kelihatan lagi.


Aku menarik napas panjang dan mungkin karna kelelahan dan efek mengantuk aku jadi kehilangan jati diriku dan sebentar saja aku terhenyak maka makhluk - makhluk itupun akan membawaku pergi dan badan ini kaku sekali dan hanya bisa mendengarkan suara orang orang lain.


" Pak, badanku seluruhnya kaku tadi dan tidak bisa di gerakkan seperti mati saja semuanya badanku pak ? "


" Kapan kita pulang ke rumah pak ? " kataku ke bapak lagi.


Nak, bukan kamu saja yang kaku badannya kami juga semuanya dan apapun yang kamu lihat dan kamu rasakan perkuat imanmu jangan sampai terjatuh ke dalam jurang dalam nanti setelah selesai kita akan pulang.


Aku melihat tetua itu melemparkan kemenyan dan membakarnya dan suasana menjadi bau kemenyan saja dan akupun keluar ruangan karna gak tahan dan sosok makhluk hitam besar tadi entah kemana dan aku tidak melihatnya dimana makhluk itu.


Tetua belum selesai membaca doanya dan kami masih menunggu disini dan entahlah kenapa kami belum bisa pulang dan karna aku sudah keluar dari balai desa dan aku sekarang dekat dengan rumah bibiku maka akupun masuk ke rumah itu dan jam menunjukkan belum magrib malam tetapi masih remang - remang


" Ada orang di dalam ? " Aku masuk lebih dalam lagi, Bik ada orang di dalam rumah dan kulihat bibik adeknya ibu tertidur pulas di dalam kamar dan akupun melanjutkan ke dapur untuk mencari air panas.


Kenapa semua piring bibik sepertinya kotor dan tak sengaja aku melihat ke tempat sayur dan kok basi semuanya dan rumah juga sudah kotor dengan debu dan aku melihat sapu terletak sembarangan dan di mana - mana ada debu dan sepertinya sudah dua hari belum di sapu dan kenapa bibik ini masih tidur dan tidak bangun- bangun dalam hatiku.


Karna berdebu aku tidak selera lagi memasak air dan kulihat bapak dan ibu serta adik dan kakakku sudah kelelahan mencari ku padahal aku cuma sebentar mau minta air panas ke rumah bibiku yang samping balai desa dan orang - orang kampung juga pada kemana ya kok gak ada pada kelihatan dan hanya kami disini.


" Kamu kemana saja nak, ibu dan bapak sudah mencari kami dari tadi dan sepertinya ibu kelelahan berbicara ! "


" Tidak kemana - mana ibu, cuma mau minta air panas saja ke rumah bibi ? "


" Disini saja nak, jangan kemana - mana ya ? "


" Kenapa Bu ? " apa yang akan terjadi kalau aku sebentar pulang Bu ! "


" Disini saja nak sampai ritual itu selesai ! " kata ibuku lagi.


Kamipun duduk kembali di aoi unggun yang di buat oleh bapakku dan kami belum di izinkan pulang dan mungkin menunggu sampai besok pagi atau sampai nanti malam Aku tidak tau kapan kami pulang ke rumah dan rasanya aku juga sudah gerah, panas dan juga lapar karna kami belum juga makan malam sampai sekarang dan tentu makanan yang kami buat tadi siang tidak boleh kami makan kembali.


Sosok makhluk kecil dengan rambut kuning dan hitam rambutnya tadi sudah tidak kulihat lagi dan sosok hitam dengan mata yang merah juga sudah kulihat lagi dan pada lari entah kemana dan tetua masih sibuk dengan kemenyan yang di bakarnya dan aku membayang jika tetua ini memberikan kemenyan itu sebagai makanan mereka.


Karna bisa kulihat makhluk itu menghirupnya dengan hidupnya yang besar dan berebut mendapatkan asap yang sudah di campurkan kemenyan itu.


Hari semakin larut dan tentu saja tetua sudah menyelesaikan ritual ini tetapi mengapa kami belum pulang juga aku sudah lapar sekali dan pengen mandi dan tentu saja mau makan malam.


Tuhan buatlah ini cepat berlalu maka kami akan pulang ke rumah dan aku juga bisa beristirahat kataku dalam hati.