
Beberapa hari kemudian sama seperti dulu kembali lagi datang mobil - mobil yang besar dan sangat menggangu, suaranya sangat bising dan ada beberapa yang sudah siap untuk.membongkar tanah kebun bapakku dan tentu saja itu adalah kebun yang akan ku garap menjadi tanah pertanian yang akan memajukan desa nantinya dan mungkin pa.an ini merasa aku anak yang bodoh karna aku masih kecil tetapi desa kami ini butuh pembaharuan agar cepat maju dan berkembang, listrik saja baru masuk beberapa tahun yang lain dan perkembangan desa kami begitu - begitu saja.
Dan aku sudah meminta kepada paman dan yang lainnya jika mereka mencari di kebun kami maka paman akan mencangkul tanah yang ada di kebun kami dan akan membagi hasilnya menjadi setenggah - setenggah karna minyak dan ongkos sewa mobil juga di tanggung oleh mereka dan paman itu tidak mau dengan memberikan surat pernyataan jika tanah yang di ambil oleh mereka di berikan semuanya kepadaku hasil uangnya tetapi jika mereka mendapatkan emas dari kebun itu maka hasilnya akan menjadi 3 : 1, aku binggung paman dan jika memang emas ada tidak apa tetapi bagaiman nanti jika emas itu tidak ada dan pembongkaran tanah itu juga sia - sua bukan kataku kepadanya, paman itu hanya diam saja.
Mungkin menurut dari ahli tidak ada pikirku tetapi dari dukun paman itu mengatakan bahwa banyak harta disana tersimpan di dalam tanah dan di mulai dari bukit kecil itupun di bongkar dan tanahnya pun di bawa ke kota untuk di jual dan sekarang sebahagian bukit kecil itu sudah rata dengan tanah, aku yakin tinggal menambah kan tanah humus dan sudah bisa di tanami palawija tetapi paman masih mencari di mana letak harta kekayaaan itu tersimpan dengan membawa dukun yang paling hebat ke kampung kami dan mereka mengatakan ke sebelah timur sedangkan yang kerjakan sebelah barat tetapi warga kampung senang saja karna dengan bekerja maka mereka akan mendapatkan uang berarti , paman kalau mau satu - satu di benarkan dulu jangan pindah kesana dan kesini paman dan lihatlah becek dan jika begini maka akan memakan korban kataku kepadanya.
Apalagi kalau paman memasuki hutan ke sebelah dalam di sana banyak ular yang melebihi kepala manusia, memang disana ada emas terkubur tetapi bukan di dalam tanah paman di atas tanah paman, karna disana itu tempat pemujaan dan kalau paman mau juga boleh kesana tetapi bereskan dulu ini supaya bisa melewati hutan itu kataku dan kamipun membuatkan jalan , dan untunglah semua kebun sudah di buatkan sertifikat oleh bapak kalau tidak banyak orang - orang yang serakah dan memanfaatkan keadaan dan sertifikat sudah di masukkan ke bank di kota oleh bapak dan aku melihat paman ini serakah sekali padahal aku sudah mengatakan keuntungannya di bagi 2 saja dan kami bisa menghidupi warga desa nantinya dengan menanam palawija sehingga tidak di kirim dari kota lagi ke desa.
Memang desa kami ini subur sekali di tambah dengan cuaca yang dingin sehingga kalau di tanah palawija pun tentu sangat subur dan aku tinggal menambah humus saja, untuk beberapa tempat sudah ku buatkan kebun yang sangat rapi dan hasilnya di jual ke kota dan aku tidak pernah menemukan emas di sana dan disini, cuma ketika aku menanam dan menjual hasilnya ke kota, aku bisa membelikan ibuku emas yang asli karna selama ini ibuku selalu di hina karna tidak memiliki emas di badannya dan aku sungguh heran melihat orang kampung ini tidak ada emas di badan berarti orang yang susah begitu, sungguh pemikiran orang - orang ini sungguh sangat kuno ternyata.
Aku melihat ibuku menaggis, aku tidak mengerti kenapa ibuku menaggis yang ku tahu ibuku adalah ibu yang sangat baik, ketika di suatu pesta ibuku tidak memakai perhiasan di tubuhnya, saudara - saudaranya melihatnya hanya sebelah mata saja, ibuku menaggis menahan amarahnya, persaudaraan itu bukan untuk membuat kita semakin jauh tetapi membuat kita saling menyayangi satu sama lain.
Aku membelikan ibuku sebuah gelang sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 45 tahun dan aku juga sudah mempunyai uang untuk membeli perhiasan untuk ibuku dan saudaraku perempuan juga, penghinaan yang mereka berikan kepada ibuku berarti menghina diriku juga dan itu oleh adik ibuku sendiri, makanya ketika di bilang kebun kami menyimpan emas , semua orang terkejut dan tentu saja pikiran mereka kotor sekali, kalau saja kami mempunyai ladang emas tentu kami tidak perlu bersusah payah untuk hidup kata bapak kepada mereka.
Anak kecil, kamu yakin paman dukun itu bisa mendapatkan emasnya dan jika memang paman dukun itu akan membongkar rumah jin - jin itu di hutan, maka paman dukun itu pasti kerasukan karna rumah mereka sudah di bongkar kata Lusifer kepadaku,bukankah paman duku, Itu teman kamu Lusifer? Mengapa kamu bertanya kepadaku ? Apakah aku ini orang suruhanmu ? Sehingga seolah kita ini teman yang baik, padahal kita bermusuhan bukan? Jika kamu bertanya kepadaku berarti kamu pura - pura bodoh Lusifer.
Lusifer tertawa terbahak - bahak saking kencangnya tertawanya seolah semua pohon itu keluar dari tanah dan segera tumbang dan entah kenapa juga di Lusifer ini tertawa begitu dan untunglah cuma aku yang mendengarkannya, bagaimana kalau yang lain melihatnya pasti akan terkejut bukan?
Aku tau Lusi, teman - temanmu disana menunggu perintahmu saja untuk menyerang bukan? mereka sudah melihat dengan amarah yang sangat kuat dan kamu salah Lusifer, aku tidak takut kepadamu dan juga teman - temanmu itu dan bukankah mereka juga yang memaksa kemari dan serakah mencari emas?
Mereka bukan temanku, mereka ahli yang disewa oleh seseorang dan sekarang mereka sudah menggangu tidurku disini dan lihatlah aku akan membuat mereka menyesal, karna disanalah tempat pemujaan oleh pengikutku tetapi orang - orang pintar ini tidak takut sama sekali dan lihatlah aku akan menggulingkan peralatan mereka dan akan memakan korban nantinya biar mereka tau bahwa mereka bukan lah orang yang pintar.
Tetapi Lusi mereka dukun yang kaya raya tetapi masih saja kurang banyak uang mungkin maka mereka mau emas dan kemeyan lainnya dan mereka yakin di sana ada emasnya.