
Setelah penguburan ulang jenazah kakek yang tinggal tulang belulangnya dan sesuai dengan permintaan kakek untuk menguburkannya di samping kuburan nenekku. Kamipun akan pulang sebelum hujan turun ke tanah.
Ayo segera kita pulang angin sudah mulai berhembus kencang dan kita harus kembali ke balai desa karna harus kita bersihkan supaya tidak di tegur bapak kepala dusun kata ibuku.
Setelah berpamitan dengan kakak dan nenek kami dan mengatakan kakek dan nenek kami pulang dulu ya, besok - besok kami datang lagi bawa bunga dan kakak pasti senang sudah bertemu dengan tulang rusuknya yang hilang kata ibuku lagi.
Sudah ayolah kata bapak hari sudah mulai gelap kita gak akan keburu kalau banyak yang mau di beritahu besok balik lagi Bu kata bapak kembali.
" iyalah, ayo kita pulang!" kata ibu dengan penuh tekanan.
Kamipun.pulang ke balai desa karna kami harus membersihkan semuanya agar ketika hujan tidak ada sampah yang di bawa hujan akan terjadi banjir.
Kemana semuanya kita sudah membersihkan dan balai desa sudah bersih tetapi orang - orang pada kemana ?
Ayo kita pulang saja dulu dan kita mandi dan membersihkan semua barang - barang ini,setelah itu kita kembali lagi nanti ke balai desa.
Kamipun pulang kerumah dan bergantian mandi serta makan, ibu memasak telur, selesai makan bapak mungkin kecapekan dan langsung tertidur begitu juga ibu serta adik - adikku.
Hari sudah mulai sore saja bapak sudah bangun dari tidurnya dan mulai memasak air karna ibu masih kelihatan capek dan bapak ingin membuat kopi tanpa sengaja menjatuhkan sendok dan ibupun terbangun.
Ibu kemudian memasak nasi dan membuat sambel serta merebus Banyan kemudian sudah selesai menggoreng pisang goreng, bapak ngopi di dalam ruangan karna baru bangun dan enggan untuk makan sore.
Tiba - tiba paman Hasan datang kerumah dengan baju kotornya seperti orang ketakutan saja dan kemudian terduduk di lantai seperti kelelahan saja, tetua menyuruhku memanggilmu ke balai desa tapi kamu makan dulu san kelihatan kamu lelah sekali. Kopi bapak juga sudah habis di minum paman Hasan.
Ibu mengambil gorengan kembali serta air teh manis di tambah gula biar paman tidak kelelahan dan mengambilkan makanan untuk dimakan. Paman makan dengan lahapnya
" enak kali, aku belum makan dari tadi pagi !"
" Pelan - pelan San !" kata bapak lagi.
Paman Hasan makan dengan lahapnya dan tidak mengisahkan apapun dan ibu tersenyum melihatnya.
kalau sudah ceritakan " kenapa aku di suruh kembali ke balai desa? "
Terjadi kerusuhan bang di balai desa, semuanya pada kesurupan hanya tinggal orang - orang yang waras saja serta merekapun memukul badanya sendiri, jadi para tetua jadi kewalahan.
Makanya kamu makan dulu san jangan sampai kenyang kemudian minum kopi biar kuat kita akan ke balai desa.
" Kamu di rumah saja nak, jaga ibumu ya ? "
" tidak bisa bang, lumayan anakmu membantu ambil barang - barang soalnya gak ada orang yang waras lagi, tapi anakku kasihan Hasan masih capek.
Minum kopi kamu nak dan ibunya juga dan adikmu juga nanti susah bapak kesana, jangan lupa makan tetapi jangan kenyang.
" baik pak ! Kataku, sambil melihat bapak pergi dengan paman Hasan
Bayu, ayo makan nak ! Kata ibu kembali, bukankah kamu mau membantu bapakmu?
" iya Bu, Bayu akan segera makan dan minum kopinya? "
Aku melihat bapak dari kejauhan lari kesana dan kesini dengan adik ibu serta paman Hasan dan tetua itu juga sibuk, dan tanpa sengaja aku memegang tangan ibuku.
' jangan takut nak ?" semuanya akan baik - baik saja.
" Ayo kita kesana, kita bantu mereka ! '
Akupun membantu bapak dan yang lainnya, ada yang sudah pingsan berteriak dan ada yang sudah buka baju semuanya dan para tetua menyarankan agar kaki dan tangannya di ikat saja.
Ada yang berteriak - teriak mengatakan " kenapa kau membongkar makam ku , kau menggangguku tidur dan kau akan merasakan akibatnya ! "
Nak kamu berikan kopi ini ke bibi saja dan jangan sampai keluar dari hidung nak, usahakan duduk memberikannya.
Akupun membantu memberikan minum ke yang lainnya serta memberikan minyak kayu putih tetapi tidak ada yang bangun, mereka malah seperti zombi saja dan tertidur kembali.
Setelah bangun diapun berteriak lagi, cepat kuburkan tulang belulang ku kembali kalau tidak aku akan marah seluruh keluargamu akan mati, katanya tertawa kembali.
Nak, bapak akan kembali ke kuburan sebentar lagi,orang - orang kampung sebelah akan kemari, kalau ada apa kamu secepatnya cari bantuan, lindungi ibumu dan adikmu, bapak dan tetua akan ke kuburan lama, bersama pamanmu ikat lah mereka semuanya jangan sampai lepas sebelum kami kembali dan jangan lupa memberikan kopi untuk semuanya, jika muntah berikan air manis saja.
Aku melihat bapak serta tetua kembali ke kuburan lama dan hanya kami tinggal disini di balai desa sedangkan hari sudah mulai gelap.
Aku melihat bapak tanpa berkedip begitupun adikku sedangkan ibu masih membuat ramuan dan benar saja desa sebelah sudah membantu kami, dengan cepat mereka membantu seluruh warga yang kerasukan dengan memberikan makan serta menyuapi mereka.
Satu persatu warga mulai sadar dan heran kenapa mereka ada di balai desa penuh dengan lumpur dan baju yang sudah tidak berwarna.
Ada juga merasakan ngilu seluruh punggungnya dan badannya serta ada yang masih tertawa mengatakan dada aku pergi dulu ya, nanti malam aku datang lagi katanya.
Kemudian ibuku mengatakan agar kami menjemput tetua di kuburan lama karna sudah gelap tetapi mereka belum kembali, kamipun bergegas beberapa orang menyusul ke kuburan dengan lampu seadanya karna desa kami listrik juga padam karna hujan.
' Bu kami berangkat ya ? " hari - hati jangan melamun ya Bu, aku akan segera kembali.
Aku dan paman Hasan berangkat serta beberapa orang ke kuburan karna hari sudah malam kamipun pelan - pelan, untung saja aku sudah makan dan minum kopi tadi sehingga mata ini awas kalau ada ular ataupun sesuatu di jalan.
Paman, kenapa kita jalannya jauh ya ? Perasaan tempatnya tidak jauh kalau siang hari kataku kembali ke paman Hasan.
Bisa terjadi begitu, makanya berdoa supaya semuanya di mudahkan.
Tetapi perasan kita sudah jalan tetapi belum sampai juga masih di bawah pohon beringin saja.
" Apa, kamu melihat pohon beringin? " kata paman.
" Bukankah ini pohon beringin paman ? '
" Benar, kita sudah sampai ? " tetapi dimana bapakmu nak ? "
Tetapi semuanya gelap, tidak ada kelihatan orang, kamipun terdiam tidak mendengar apapun.