Game Setan

Game Setan
Bab 63


Ulat ini sepertinya marah ketika aku mulai datang dan aku mulai duduk di dekat paman yang sangat bai sekali seperti bangkai manusia yang sudah membusuk lama sekali dan tetap serta dukun itu saja sudah keluar rumah dan anak - anaknya juga sudah pergi meninggalkannya dan tanpa.menhiraukan paman sama.seperti bibiku waktu meninggal dulu dan tetua juga sepertinya sudah kelelahan dan aku heran melihat si Lusi ini terus saja keluar masuk rumah paman dan perut paman itu semakin meledak saja dan rumah paman terdengar suara bom meledak dan suaranya agak bising sekali dan kemana semua orang.


Bapak datang ke rumah paman, bapak duduk di samping paman dan perlahan ular putih keluar dari kepala paman dan bapak memasukan ular ke dalam botol dan segera menutup botol itu segera padahal paman kan dukun 6anh sakti kenapa paman di obati oleh bapak, paman tidak kesakitan lagi tetapi perut paman itu masih saja membesar dan ular putih itu di bakar oleh bapak di belakang dan aku melihat sendiri ular itu mati dan tinggal hanya botol saja tetapi kenapa rumah paman jadi seperti banyak burung yang datang dan bersuara padahal ini masih siang hari dan jarang sekali ada burung ataupun hewan di tengah hari begini karna cuaca panas dan tentu saja karna pamanku bukan orang sembarangan seorang dukun yang sakti padahal pamanku itu menyembah iblis dan lihatlah Lusi duduk dengan bangganya dan mengejek aku yang tidak mau bersekutu dengan si lusifer itu. Tetua mulai masuk ke rumah karna bau itu sudah tidak tercium lagi dan anak - anak paman juga sudah kembali dan membagikan makanan kepada kami tetapi bapak melarang aku memakannya karna nasi kurang maka punyaku kuberikan kepada tetangga yang belum mendapatkan nasi yang di bungkus.


Bapak mengambil.wadah lagi yang lebih besar dan entah apa yang di bacakan oleh bapakku yang kudengar bapak mengucapkan kembalilah ke asalmu dan jangan ganggu kami dan memasukkan semua hewan ke dalam wadah dan kembali membakar wadah itu karna di sudah tersedia api yang besar untuk malam jika kami berjaga - jaga, bapak langsung melemparkan wadah itu kedalam api yang membakar dan terdengar jeritan yang sangat sakit amat dan perut paman membesar sepertinya semua hewan itu belum keluar semuanya kembali lagi mengambil wadah yang besar dan lebih besar dari semula bapak kembali mengatakan kembalilah ke tuanmu dan jadilah penurut dan kembali membuang wadah itu ke api yang membara kembali bapak.membuang semua kemenyan dan ritual di rumah paman dan membakar semuanya ke apai yang membara tetapi paman belum bisa mengerakkan tangannya dan masih saja lemas, kulihat tetua tersenyum tersenyum melihat bapak dan paman belum bisa melakukan apapun bahkan untuk duduk saja tidak bisa, kemudian bapak mengatakan kepada tetangga kami agar segera menambah api pembakaran dan mulailah bapak membakar sesajen yang di kamar paman serta semua uang yang ada di kamar itu dan apai yang panas membakar semua kemenyan dan bunga tujuh rupa sepertinya sebelum sakit paman ada pasien kelihatan dari beberapa mahar yang ada di kamar dan entah kenapa juga bapak membakar semuanya tetapi.paman belum juga sadar dan kemudian bapak meminta cangkul kepada sepupuku dan mengajak beberapa orang warga untuk menggali tanah di sekeliling rumah paman tentunya.


Warga membantu bapak mengalir tanah dan benar saja banyak sekali kain kapan putih yang isinya berbagai macam dan bahkan ada masih baru dan ada yang sudah mulai pudar warnanya dan bapak juga membakar semuanya untuk membalikkan jiwa paman dan sebentar paman sudah berbicara kata tetua dan kamipun masuk ke dalam rumah dan anehnya semua burung sudah mulai tidak ada dan suara burung itu sudah tidak kedengaran lagi dan aku juga heran kemana perginya burung - burung hitam itu dan sepupuku juga ikut membakar semuanya kepunyaan bapak sampai baju putih yang biasa dia pakai untuk mengobati orang di bakarnya hingga tak tersisa dan untung saja kayu di rumah paman banyak yang kering jadi api itu juga tidak padam dan benar pamanku sudah mulai bisa duduk kembali dan mengatakan terimakasih.


Tetua ini apapun tidak tau hanya keturunan tetua yang sebelumnya saja yang pandai mengobati orang dan untuk sekarang ini mereka seperti tidak bisa lagi mengobati orang , entah karna mereka sudah menjadi petani dan tidak mengandalkan murni jadi tetua saja tetapi mereka sekarang sudah mempunyai lahan sendiri tidak seperti dulu, mereka hanya di rumah saja, untuk.makan warga banyak memberikan sumbangan ataupun rejeki sehingga tetua zaman dulu tidak usah bersusah payah untuk makan sehari - harinya dan jika sekarang tetua juga harus pandai bertani dan mengusahakan ladang untuk makan mereka sekeluarga. Tetua sudah tidak fokus mengobati orang ataupun melihat , menyembuhkan orang dan kini mereka pun hampir sama dengan warga lainnya berjuang untuk sesuap nasi.


Terkadang kalau ada rejeki bapakku sering memberikan kepada tetua bukan hanya tetua saja tetapi setiap orang yang membutuhkan karna dengan berbagi kita tidak akan pernah miskin kata bapakku lagi dan iya benar sekali kataku, tetua sudah mulai pulang satu persatu karna harus menjaga padi di ladang jadi nanti malam baru kembali kata mereka kepada bapak.


Paman sudah mulai membaik dan bapak mengatakan kepada paman jangan coba kami mengirimkan kepada kakak iparmu pengganggu karna kamu sendiri yang kena imbas dan untung saja kami cepat datang kalau tidak istrimu sudah dari tadi menunggu kematian dan sudah menjemputmu kata bapak lagi. Paman hanya diam saja, aku minta maaf bang, bapak kemudian menganggukkan kepalanya serta mengatakan mandilah biar tenang jangan lupa minun teh hangat.