
" Lusi, kenapa kamu menjadi siluman ular lagi ? "
Sebenarnya aku memang siluman ular atau apapun yang kumau dan aku sangat senang sekali mendatangimu anak kecil yang polos dan bisa menghasilkan banyak jiwa untuk diperbudak dan selamanya tidak akan kembali ke asalnya dan jalan hidupnya tidak akan di permudah jika sudah bergabung denganku anak kecil.
" Paman Lusi, apakah kau tau itu surga ? "
" Surga adalah tempat terindah buat orang - orang yang mengikuti Tuhan! "
" Lalu kau Lusi, apakah tidak kepengen masuk surga dan apakah kamu punya ibu dan bapak yang mengajarimu tentang neraka dan surga Lusi? "
Tidak, aku hanya menyesatkan manusia ke neraka dan jika mereka mau apapun akan kuberikan untuk mereka selagi masih hidup dan tentu saja selagi hidup dan tidak setelah mati bahkan sampai tujuh turunan pun aku akan memberikannya.
Sudahlah Lusi, tak guna berbicara denganmu, aku takut bapakku akan memarahiku lagi dan jangan kamu ke rumah karna makanan akan menjadi basi, aku belum makan sana pergi saja dulu dan jangan pernah datang kembali kepadaku kau dengar ular siluman.
Akupun langsung menjumpai bapak dan mengatakan bahwa kelapa sudah diantarkan ke rumah paman dan uangnya sudah ku kasihkan kepada ibu dan aku mau izin mau makan dulu karna sudah sangat lapar.
Untunglah si Lusi tidak datang dengan wujud ularnya dan membuat bapakku marah kepada iblis itu sehingga makanan tidak basi dan bapak membuat seperti itu kalau sudah datang setan mau yang niatnya baik atau tidak pasti makanan di rumah kami pasti basi.
Selesai makan aku mengangkat sabut kelapa ke luar agar cepat kering karna sering sekali sabut itu menjadi tempat ular untuk bersarang dan bisanya bisa membunuh dan cepat sekali apalagi ular hitam ujungnya merah itu sangat berbisa.
Tok ...tok....
Siapa lagi ini, apakah si Lusi yang datang dan mau apa si Lusi juga ketok pintu jelas dia bisa terbang mau jadi apa saja, mau jadi kupu - kupu atau jadi lalat juga Lusi juga bisa dan Lusi sudah mengatakan dia bisa jadi apa saja.
Aku buka pintu dan bertemu dengan anak tetua dan mengatakan bahwa bapaknya sudah meninggal karna sudah tua dan bapak di suruh ke rumahnya dulu dan besok akan di bawa balai desa.
Aku mengatakannya kepada bapak di belakang dan menghembuskan napas yang panjang seolah ada. masalah saja di kampung kamu ini dan tetua itu memang sudah sangat tua dan tidak bisa lagi di tolong.
Tetua itu sudah sepuh dan susah untuk meninggalnya karna ada yang mengikutinya, kemarin aja di suruh melepaskan semua yang mendampinginya waktu sakit dan anaknya sudah kesusahan membuang kotorannya setiap hari karna cuma bisa tidur dan makan saja.
Bapak berangkat bersamaku dan ibu di rumah tinggal bersama kakak dan adikku dan sampai disana aku melihat aneh sekali. Banyak sekali ular hitam seperti di hutan larangan sepanjang jalan kami lewati seolah ular hitam itu memberikan hormat kepada tetua dan mereka pergi tanpa mengigit dan tetua yang lain mengatakan jangan di bunuh ular hitamnya biarkan saja dia cuma sebentar dan pasti akan pergi kata tetua itu.
Aku diam saja melihat ular - ular melewati dan memberikan penghormatan kepada tetua itu dan tentu saja karna perjanjian seumur hidup yang di buat oleh nenek moyangnya hingga membuat tetua tidak bisa berangkat dengan semestinya padahal tetua orang yang baik semasa hidupnya dan cuma amal ibadahnya yang membuat tetua lepas dari kutuk itu.
Aku melihat Lusi duduk di atas kepalanya tetua dan tersenyum kepadaku seolah mengatakan bahwa dialah penguasa segala di dunia ini. Lusi mengelus kepala tetua dan kenapa tetua tidak berubah jadi ular hitam ketika mati dan kenapa juga Lusi yakin bahwa tetua jadi anak buahnya.
" Karna tetua orang baik dan kamu tidak bisa menyentuhnya Lusi ! '
Kamu benar anak kecil dan tetua mu orang yang baik dan ibadahnya dengan Tuhannya baik sehingga aku sudah untuk.membawanya pergi padahal semua mahkluk sakral dan yang tiada sudah menghormati padanya tetapi tetua tidak mau ikut padahal sudah melakukan perjanjian denganku kakek buyutnya dan dia tidak bisa kuambil dan aku sangat kecewa sekali.
Tetua orangnya baik tidak pernah mengambil apapun darimu dan yang membuat dirinya susah meninggal juga kau Lusi, kau tidak ingin tetua itu di bawa malaikat Gabriel dan kau ingin membawanya ke neraka Lucifer.
Ha....ha...ha...
Kamu benar anak kecil, aku mau semuanya orang yang bersekutu denganku akan kubawa pergi dan tidak bisa kembali ke jalannya tetapi tetua ini baik sekali tidak bisa menerima emas dan kekayaan dan hidupnya hanya untuk orang lain, kekayaannya juga di bagikan ke orang lain sampai dia miskin dan ilmu pengetahuan yang kuberikan juga dia buat untuk membantu orang susuh.
Lusi
" Pergilah ke rumahmu, aku letih dan pusing saat ini dan suruhlah ular - ular itu pergi tetua sudah pergi dari sini dan kau lihat rohnya sudah di ambil dan sudah tidak ada lagi, cepatlah pergi ! "
Bau apa ini..
Harum semerbak seperti bunga mawar dan harum sekali percampuran antara berbagai wangi - wangian yang sangat harum sekali dan seperti aroma buah dan bunga yang lagi mekar seperti wangi bunga melati.
Tetua senyum ketika meninggal dan sepertinya tidak ada beban lagi meninggalkan dunia dan anak - anaknya juga tidak ada yang menangis di samping jenazahnya. Mereka tersenyum seolah sudah lepas dari beban merawat tetua dan setelah di bersihkan dan di berikan baju baru dan pakaian yang baru, maka dimasukan ke peti karna besok pagi akan di bawa ke balai desa.
Setelah mayat di bersihkan bapak dan akupun pulang dari rumah duka dan akan kembali besok lagi ke balai desa. Tetua adalah orang yang sangat baik hati dan semasa mudanya bekerja keras untuk menghidupi keluarganya dan untuk yang menunggu badannya di berikan oleh orang tuanya.
Kamipun pulang ke rumah karna sudah jam 01.00 dini hari dan tentu saja ular - ular itu tidak ada lagi di jalan tetapi banyak sekali cicak menghalangi jalan kami pulang.
" Ada apa lagi ini ? "
Cicak yang kecil dan besar menghalangi jalan pak, " apakah kita akan lanjut jalan pak ? "
Jalan lah yang tidak ada cicaknya, kaku bisa jalan di rumput dan berjalanlah dengan cepat dan tidak memijak cicak - cicak itu.
" Baik, bapak mari kita jalan ! "