
Pov Theo.
Seorang remaja duduk di bangku belakang mobil menatap lesu pemandangan di luar, dia sama sekali tidak ada semangat dalam perjalanan kali ini.
Mau tahu karena apa? Dia akan ke rumah neneknya di mana akan ada perkumpulan keluarga di sana. Tidak hanya nenek dan kakek tapi juga bertemu dengan para sepupu dan paman bibi.
“Hah pasti mereka membawa tumpukan PR untuk menyuruhku mengerjakannya.”
Beginilah nasib jadi anak Jenius, dia selalu dimanfaatkan oleh sepupunya.
“Apa yang kau keluhkan Theo?”
“Tidak ada Mah.”
>>>
Seperti dugaan, setelah sampai para sepupu mengerubunginya dengan mata seperti anj*ng memohon.
“Theo ini bagaimana?”
“Dek, kakak tidak mengerti ini.”
“Bang Theo coba lihat ini.”
Theo Theo Theo.....
“Aaaaa hentikan! Kerjakan sendiri!” Theo mendorong mereka semua menjauh, dia pergi menyalami nenek kakek dan para paman bibi yang sempat tertunda karena sepupu sepupunya.
“Heh kalian jangan ganggu cucu nenek ini, kerjakan PR sendiri,” peringat nenek pada cucu cucunya yang lain. Theo memang cucu kesayangan nenek.
>>>
Pada akhirnya Theo tetap berurusan dengan buku dan membacanya saksama untuk memahami apa yang menjadi kesulitan para sepupunya.
Oh Tuhan dia ingin lari sekarang, bisakah sesuatu menariknya dari sini?
“Pah! Papah mau ke mana?” Theo berdiri ketika melihat papanya ingin keluar, ini kesempatan.
“Jumpa teman papa di kantor polisi dekat sini.”
“Ikut!”
“Ya sudah ayo.” Papa Theo mengerti posisi anaknya, jadi tidak apa apa ikut lagian Theo paling suka ikut dia ke kantor mana pun.
Sementara papanya sibuk dengan obrolan orang tua, Theo duduk dekat polisi yang sibuk mendengarkan keluhan warga dari kasus pencurian hingga pelecehan.
Dua jam! Theo meletakkan kepala dia atas meja dengan mata yang mulai terpejam.
“Pak saya mau lapor hilangnya ibu saya.”
Sruk!
Kepala Theo tegap kembali mendengar suara wanita yang ia kenali.
“Kak Aria! Bang Izana.”
“Aku jalan-jalan ke rumah nenekku.”
“Kantor ini rumah nenekmu?” tutur Izana, ya kan mereka sekarang berada di kantor polisi.
“Enggak, aku cuman ikut papa ke sini. Ibu kakak hilang?”
“Iya, kata ayah tiri kakak dia jalan-jalan keluar negeri, tapi kami sudah cek penerbangan tak ada pun nama mama kakak di hari itu.”
Inilah yang Theo tunggu, sebuah kasus yang akan mengobati rasa suntuknya. Theo berdiri tegap dengan semangat mengatakan, “Biar aku yang menangani kasus ini.”
Polisi di sini yang tidak tahu akan Theo selain kata anaknya pak Agha, meragukan Theo.
“Dek ini pekerjaan orang dewasa kamu duduk saja.”
“Biarkan dia yang tangani beberapa orang ikutlah dengan anakku.” Agha yang duduk tak jauh dari sana membela Theo, tanpa babibu lagi laporan Aria langsung diterima dan ditangani.
“Kau dengarkan kata papaku?” sombong Theo, enak ya punya sokongan kuat. “Jadi kak Aria sudah berapa ibu kakak hilang?”
“Empat hari.”
“Empat hari ya.. jadi hanya papa tiri kakak yang mengatakan dia keluar negeri? Tetangga atau apa tidak ada yang tahu?”
“Ada mama mertuaku, ibuku tidak ada tapi mereka berduaan di rumah.”
“Heeee~ ini cukup aneh.” Mata Theo melirik Izana yang memasang wajah datar, sungguh konyol sekali mendapati mamanya dengan si mertua tiri. “Ya sudah ayo kita samperi orang dua itu,” lanjut Theo, pergilah mereka dengan dua polisi resmi mengikuti Theo.
Tbc.
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu.
Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.